11. ASA YANG TERJERAT LUKA

1348 Kata
Zevanya menatap jam dinding yang ada di kamarnya dan membulatkan mata saat mendapatkan jarum jam sudah menunjuk pada angka delapan. “Sial!” gerutu Zevanya meninggalkan ruang makan di mana makanannya masih tersisa setengah. Tujuannya itu adalah ke kamar mandi untuk mencuci muka. Tidak ada waktu lagi untuk mandi! Jika ia terlalu lama di dalam sana, bisa-bisa Damar sudah sampai ke rumahnya dan bisa berabe urusannya. Zevanya malas berurusan dengan lelaki bermulut lemas itu. Jujur, selain Zevanya tidak suka dengan Damar karena mulut terlalu lemas, ia juga trauma soal makan malam. Kenapa? Karena ia berkaca pada pengalaman Naina yang selalu mendapat masalah dulunya tiap kali Atheo mengajak makan malam keluarga. Zevanya tidak tahu apa ia sanggup menghadapi keluarga Damar jika ia dimaki-maki. Oke, sebenarnya Zevanya tidak perlu khawatir akan itu lantaran ia bukan perempuan lemah. Namun, ah … lupakan saja. Namun, pertanyaannya adalah berapa lama ia melamun sampai tidak menyadari jika jam sudah terlalu jauh melangkah dari peraduannya. Astaga, apa yang ia pikirkan sampai sejauh itu lamunannya. Baru saja Zevanya keluar dari kamar mandi, bel rumah terdengar nyaring. Dengan kesal, Zevanya meraih ponselnya lalu keluar dari rumah melalui jendela kamar. Bahkan wajahnya belum sempat ia lap menggunakan handuk, apalagi memakai pelembab wajah dan bibir. Lupakan! Pakaiannya saja masih seperti tadi. Celana pendek berbahan kaos warna abu tua dengan corak tulisan-tulisan kecil dan bajunya hanya kaos oblong warna putih yang bisa dikatakan sedikit besar dari ukuran tubuhnya. Alas kaki hanya sempat sandal jepit berwarna merah maron. Demi menghindar dari Damar, ia rela berpenampilan amburadul. "Yak! Sial!" teriak Zevanya, saat kakinya tersandung kayu ketika ia melompat dari jendela. Kemudian ia menutup mulutnya. "Zee, lo harus diam. Bisa ketahuan jika lo ribut." Menghela napas lalu menatap jempol kakinya yang mengeluarkan darah. "Tapi ini sakit," cicitnya lagi. Akhirnya, mau tidak mau, Zevanya harus pergi dari sana setelah menutup jendela kamar. "Selamat tinggal, Damar. Lo pencet itu bel ampe lo jamuran. Ntar gue jual.di museum lo." Dasar Zevanya. Masih sempatnya mengejek Damar di sela rasa sakit kakinya. "Gue ke mana malam ini? Tempat Naina?" Menyeret langkahnya. "Tidak punya pilihan selain ke sana. Gue gak mau berurusan dengan Damar. Gue gak doyan sama mulut lemas gitu." Zevanya mempercepat langkahnya saat menangkap bayangan Damar di depan pintu rumahnya. Apaan itu? Buket bunga super besar? Damar pikir seorang Zevanya akan luluh begitu saja pada lelaki yang tidak banget sikapnya? Oh, tidak bisa! Dari pada menjadi istri si mulut lemas lebih baik menjadi istri si mister kulkas. Mengingat Mister Kulkas, hati Zevanya teriris membayangkan wajah Orion seketika. Ah, keponakannya itu sungguh kasihan. Saat tiba di jalan raya, Zevanya mencoba menyetopkan taksi, tapi saat ia sadar tidak membawa dompet, akkhirnya terurungkan. Memilih jalan sampai ia menemukan cara untuk tiba di tempat Naina tanpa susah payah berjalan jauh. "Apa sebaiknya gue telepon, Naina atau Lay?" Bermonolog sembari terus berjalan melewati malam yang dilalui kendaraan. Ting Ting Zevanya bergeser saat mobil dari belakangnya mengelekson. Namun, kening Zevanya mengerut saat mobil. Itu memilih berhenti dan lampu depan mobil menyorot mata Zevanya. "Lo mau mati?" tanya Zevanya berteriak. Seseorang membuka pintu mobil. Zevanya menyipitkan matanya untuk memastikan siapa orang yang keluar dari sana. "Ah, lo benar-benar membuat gue semakin penasaran sama lo." "Damar?" Lelaki itu semakin maju hingga wajahnya terlihat jelas. "Iya, Sayang. Ini gue." Zevanya menarik napas panjang dan kasar. Bagaimana bisa Damar menemukannya? Padahal lelaki itu tadi masih di depan rumahnya sembari menekan bel berkali-kali. "Gue ke rumah lo, malah lo di sini. Berkeliaran di jalan layaknya gembel." Mulut oh mulut. Kenapa bisa setajam itu? "Lo juga belum berdandan. Apa ini? Menyentuh rambut Zevanya. "Ayo ikut. Kita udah telah!" Menarik tangan Zevanya menuju mobil. "Lepasin!" Zevanya berteriak sembari mencoba untuk melepas genggaman tangan Damar dari lengannya. "Gue gak mau ikut ke acara keluarga lo!" "Lo harus ikut! Lo itu calon istri gue." Zevanya membulatkan mata. "Calon istri! Ogah! Gue udah bilang ke elo kalau gue menolak lo. Gue gak mau nikah sama lelaki yang mulutnya lemas kayak lo. Gue gak cinta sama lo." "Ayo!" Masih terus menyeret Zevanya dengan kasar. "Gak mau! Lepaskan tangan gue, Bajingaan!" Plak Tamparan mendarat di pipi Zevanya. "Lo bawel! Gue bisa lebih kasar dari ini jika lo terus memberontak." Zevanya menatap Damar tajam sembari memegang pipinya yang ditampar oleh Damar. Lelaki kasar dan semakin membuat Zevanya ilfil akan Damar. "Lo berani menampar gue?" "Iya! Kenapa?" Lalu menarik rambut Zevanya memaksa masuk ke dalam mobil. "Gue gak mau ikut!" Menendang perut Damar kuat, meskipun begitu, ia tetap tidak bisa lepas dari lelaki itu. "Lo harus bertemu orang tua gue untuk membicarakan pernikahan kita." Astaga! Damar itu benar-benar membuatnya emosi. Kenapa bisa keluarganya memilih Damar menjadi calon suaminya? Belum jadi saja, sudah berbuat kasar dengan memainkan tangan ke tubuh Zevanya, apalagi jika sudah sah menjadi suaminya. Bisa-bisa ia makan tangan tamparan tiap hari. Ogah! "Tolong! Tolong!" Zevanya masih sempat berteriak sebelum Damar menutup pintu mobil. Ia berharap seseorang menolongnya. Bug Zevanya menajamkan penglihatannya saat di luar mobil ada seseorang yang terbanting di pintu mobil yang tertutup. Zevanya memeluk tubuhnya. Ia takut jika itu adalah rampok. Bisa-bisa ia akan menjadi korban dan mungkin akan lebih parah dari pada berurusan dengan Damar. Zevanya harus kabur. Ia. Yakin, yang terbanting itu tadi adalah Damar. Dengan pelan membuka pintu mobil. Samar-samar ia mendengar kalimat yang membuat Zevanya melotot. "Lo mau mati?" Pikiran Zevanya langsung mengarah jika itu adalah Aldan. Benarkah? Ia langsung mendekat dan ia.merasa kasihan saat melihat Damar yang babak belur. Benarkah pelakunya Aldan? "Tante Zee gak apa-apa?" Zleeppp Mata penuh binar sekaligus bibir yang menyengir layaknya kuda menyapa Zevanya. Seseorang yang menghajar Damar bukanlah Aldan melainkan Lay, suami dari Naina. Ada rasa syukur sekaligus rasa kecewa. Zevanya, apa yang lo harapkan? Aldan? Lupakan! "Lelaki ini siapa, sih, Tan?" Lay mencengkeram leher Damar kuat. "Gue lihat dari jauh kalah dia menyeret Tante makanya gue bawa motor secepat angin biar bisa menolong Tante." Zevanya bersembunyi di belakang Lay. "Dia psikopat, Lay." Lay terkekeh lalu menoleh pada Damar. "Lo psikopat? Serius? Kenapa gue gak takut sama sekai." "L-lo bakalan mati di tangan gue." Damar mengancam. Lay masih terkekeh. "Coba aja. Lo mencari masalah sama gue, lo bakalan berurusan dengan pengawal mengerikan gue." Bug Lay menghadiahi sekali lagi pukulan di wajah Damar. "Jangan coba ganggu Tante Zevanya lagi, atau lo tinggal nama. Gue gak bercanda." Membuka pintu mobil Damar.lalu mendorong lelaki itu ke dalam. "Pulang sana," katanya sembari menarik tangan Zevanya menuju motornya. "Gue antar pulang, ya, Tan?" Zevanya menggeleng. "Jadi?" Zevanya menatap mobil Damar yang mulai menjauh. "Gue mau ketemu Naina." Lay tersenyum. "Tentu!" *** "Zee, jangan nangis lagi, ya." Naina mengelus punggung Zevanya yang sejak sepuluh menit lalu memeluknya. Zevanya menarik napas panjang lalu berkata, "Gue gak habis pikir aja, Nai. Kenapa keluarga gue menjodohkan gue dengan lelaki seperti Damar. Selain mulutnya lemas, dia juga pemaksa dan juga main fisik ke gue." Naina melepas pelukan Zevanya darinya. Menghapus air mata Zevanya dan kemudian berkata, "Mungkin keluarga lo gak tahu sifat aslinya. Kalau gini, kan lo bisa bilang ke keluarga lo kalau Damar bukan lelaki yang pantas jadi suami lo." "Kakak gue itu keras kepala." Zevanya terus saja terisak. "Biarkan Lay membantu lo untuk melepas Damar." Zevanya awalnya menolak bantuan Lay, tapi setelah berpikir cukup lama, akhirnya iya mengiyakan. "Sekarang jangan menangis. Lo nginap di sini aja untuk malam ini." "Mertua lo?" "Mertua gue pasti senang. Tenang aja. Selagi itu teman gue, mereka gak akan melarang." "Makasih." Zevanya kembali memeluk Naina. "Gue juga ingin bercerita banyak hal ke elo." "Wah, apa itu?" Naina sangat semangat mendengar Zevanya mau curhat. "Soal kencan buta yang diadakan biro jodoh." "Lo ikutan?" Zevanya mengangguk. "Hanya itu?" Zevanya menggeleng. "Apa lagi?" "Aldan," cicit Zevanya. "Aldan?" Naina membeo. "Gue kenapa?" Deg Zevanya dan Naina menoleh ke lelaki yang keluar dari ruang kerja Zafran, papa dari Lay. Aldan terus berjalan dengan tatapan membunuhnya. "Lo mau mati?" Zevanya menggigit bibir bagian bawahnya dan kemudian menatap Naina penuh harap untuk membelanya. Aldan, si iblis sedang mengeluarkan taringnya saat ini dan entah kenapa rasanya Zevanya ingin pipis dari celananya saat itu juga. Aldan meresahkan hidupnya. Bagaimana ia bisa menerima tawaran Orion jika begini? SAma saja ia membawa hidupnya dalam bahaya. Mister Kulkas!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN