10. MAAF, GUE GAK BISA

1293 Kata
"Seandainya mencintaimu adalah jalan untuk membuat hidup setara,, aku ingin tetap berada di sana." Zevanya Ayudia *** Zevanya terbaring manis di atas sofa sembari mendengarkan musik dengan volume pelan melalui ponselnya yang ada di sampingnya, niatnya menghayati lagu yang mengalun indah itu. Tangan kanannya terulur ke meja kaca sembari meraba-raba untuk menemukan cemilan yang sudah disediakan olehnya sebelum berbaring dan memakai masker wajah. “Ehhh ...,” geramnya saat tidak menemukan cemilannya itu. “Kiri. Ya … kiri. Ah, kanan. Jangan terlalu lebar geraknya. sedikit lagi!” Zevanya mengikuti arahan dari seseorang. “Iss … terlalu lebar!” Awalnya zevanya tidak peduli siapa yang bersuara memberi arahan padanya asalkan ia bisa meraih cemilannya. Namun, berselang beberapa menit kemudian dirinya sadar jika ada orang lain di rumahnya selain dirinya. “Woi! Maling!” Zevanya berteriak sembari berdiri dari posisi berbaringnya tanpa peduli pada masker yang sedang ia kenakan. Paling risikonya adalah wajahnya yang akan menampakkan kerutan dan mungkin akan banyak di bagian bawah mata nantinya. “Maling apaan, sih, Tan? ini gue loh. Orion!” Orion ikut berteriak lantaran sang tante mengira dirinya maling. Zevanya menghela napas lalu mengambil bantal sofa dan melemparkan ke Orion. Buk “Dasar ponaan sotoi lo. Suka banget ngagetin tantenya sendiri. Gimana kalau gue jantungan? Atau gimana kalau gue berlari ke arah nakas dan mengambil vas bunga lalu ngelempar ke elo? Gak jadi orang lo!” Zevanya sungguh tidak peduli pada maskernya lagi. “Iya, maaf. Ya, Tante itu lucu banget, sih. Cemilan di atas meja aja susah banget ngambilnya.” Orion duduk di sofa. Zevanya ikut duduk. “Gue pake masker, bego! Gimana kalau wajah gue berkerut hanya karena melihat ke arah cemilan?” Masih mencoba membela diri. Orion terkekeh. “Apa bedanya sekarang, Tan? mungkin lebih parah. Tante ngomong panjang lebar bahkan berteriak di saat masih memakai masker. Gue yakin banget, kerutan di wajah Tante itu udah savage melebihi tripel kill lagi. Zevanya melongo! Kemudian ia menatap Orion dengan mimik wajah hendak menangis. “Masker gue,” cicitnya sembari menyentuh wajahnya di mana masker itu sudah retak. “Wajah gue.” tambahnya lagi. “Ini semua gara-gara lo, Orion. Ponaan macam apa lo ini, sih? tega banget bikin tantenya jadi tua dan penuh kerutan!” Menangis layaknya bocah. Orion menggelengkan kepalanya tidak menyangka kalau tantenya yang sudah berumur tiga puluh satu tahun itu bertingkah seperti bocah setahun. Bagaimana bisa ia memiliki tante yang aneh bin ajaib seperti Zevanya? “Jangan dramatis, Tan.” “Ke-kenapa?” tanya Zevanya sembari menarik napas kasar lantaran hidungnya yang mulai mampet. “Lebai tahu. Udah kayak artis aja, gak sensasi, ya … gak naik.” Zevanya menghapus air matanya yang berderai sembari melepaskan masker dari wajahnya. “Ya, gak apa-apa kali. Namanya juga drama Quen. Gak drama, ya … gak terkenal.” Zevanya menimpali. “Berarti, Tante ratu drama, dong. Boleh nih ikut audisi jadi pemain sinetron yang episodenya ampe ribuan.” Zevanya menaikkan sudut bibirnya lalu kembali membaringkan tubuhnya di sofa lagi. “Ngapain lo ke sini siang-siang gini? Lo gak kuliah?” tanya Zevanya saat tahu Orion datang ke rumahnya di jam yang biasanya keponakannya itu masih di kampus. “Pulang lebih awal. Gue permisi pulang tadi karena lagi males.” “Trus. ngapain lo ke sini kalau lo lagi males?” tanya Zevanya heran. Ponakannya itu aneh bin ajaib walau sebenarnya Lay lebih aneh. Orion bangkit dari duduknya lalu bergerak ke dapur di mana kulkas berada. Ya, seperti biasa setiap kali ia ke rumah Zevanya adalah menguras isi kulkas sang tante. “Tan, ini serius?” teriak Orion dari dapur. “Apa?” tanya Zevanya balik dengan nada berteriak juga. “I-ini loh. Isi kulkas Tante. Hanya ada dua buah jeruk dan sebotol jus siap saji. Ada apa gerangan? Udah jadi miskin betulan?” Zevanya menatap Orion yang kini sudah kembali dari dapur dengan tajam. “Udah tahu tante lo ini pengangguran, masih aja lo kuras isi kulkas gue. itu buah jeruk dan jus untuk jatah makan malam gue.” Orion terkekeh. “Astaga. Tante gue meresahkan!" Plak Zevanya melemparkan cemilannya tepat di jidat lebar Orion. Kue cokelat kering itu sungguh membuat jidat mulus itu merah merona akibat perbuatan Zevanya. "Aw … sakit, Tan." Orion mengeluh karena sakit. Zevanya memutar bola matanya kesal. Keponakannya itu sungguh mengalahkan dirinya dalam hal lebai dan drama. Lihat saja, jidat hanya memerah, ya … bisa dibilang tidak terlalu memerah dan bisa juga dikatakan itu tidak sakit, tapi reaksi Orion layaknya dilempar menggunakan vas bunga bersama isi-isinya. "Dramanya udahan dulu." Zevanya mencoba menghentikan drama lebai Orion. "Bahas soal mengapa lo ke sini?" Orion menghela napas pelan. "Gue … em … gue mau nagih jawaban Tante soal ajakan gue kemarin." "Ajakan lo?" Alis Zevanya sebelah kiri naik. "Ajakan apaan, sih?" Orion menggaruk kepalanya. Tantenya benar-benar sudah tua. Nyatanya, sekarang saja sudah pikun padahal pembicaraan mereka itu baru terjadi kemarin. "Please deh, Tan. Jangan sampe ini sofa gue makan juga." Orion kesal. "Makanya lo kasih tahu ke tante. Emang gue itu cenayang apa?" "Ya, Tuhan. Sabarkan gue menghadapi tante yang pikun ini." "Monyong!" "Oke. Tante jangan marah lagi. Ntar keriput dari wajah Tante Naina pindah ke wajah Tante, loh." "Elo yang mancing, Orion." Orion menyengir. "Maaf. Lanjut pada pembahasan aja." Zevanya mengangguk. "Ini soal ajakan gue ke Tante kemarin. Di mana gue minta Tante deketin Mas Aldan supaya Mas Aldan gak tertarik ke Kanaya dan sebaliknya, Kanaya melupakan Mas Aldan lantaran tidak direspons. Gitu!" Kini Zevanya yang menarik napas. Ia ingin mengiyakan, tapi tidak mungkin untuk melakukan itu. Kenapa? Karena dirinya sudah terpilih sebagai salah seorang peserta kencan di biro jodoh. Bukan tidak tertarik pada Aldan. Sangat tertarik, walau lelaki itu menakutkan. Namun, Zevanya sendiri tidak yakin bisa mendekati Aldan yang notabenenya terlalu masa bodo akan dirinya. Mereka selalu bertengkar layaknya kucing dan tikus. Dari pada berurusan dengan Aldan dan bisa membuatnya makan hati serta dalam bahaya, lebih baik ia menjalani kencan buta dari biro jodoh. Siapa tahu jodoh, kan? "Gimana, Tan?" Mimik wajah Orion penuh harap. Zevanya diam tanpa menjawab. Orion menyandarkan punggungnya di sofa kemudian menghela napas pelan. "Gue tahu jawabannya. Gak apa kalau Tante gak mau bantu gue. Mungkin gue emang ditakdirkan jadi lelaki yang hanya bisa mencintai tanpa memiliki. Tidak apa." Zevanya menggigit bibir bawahnya. Kenapa hatinya seperti teriris mendengar kalimat itu. "Pertama kalinya jatuh cinta dan pertama kalinya juga merasakan sakit yang mendalam." Menoleh pada Zevanya. "Tante tahu gak gimana rasanya ditolak bahkan sebelum mengungkapkan perasaan itu sendiri ke orangnya." Apa yang harus Zevanya katakan? Keponakannya itu benar-benar terlihat terluka. "Entah apa salah gue, Tan. Kanaya sangat membenci gue, tapi entah kenapa perasaan gue ke dia semakin membesar." Diam masih melekat pada Zevanya. "Kanaya tidak membuka hatinya ke gue. Bahkan sekedar berteman juga gak." Orion tertawa bersamaan air matanya. "Apa jatuh cinta sesakit ini? Apa jatuh cinta memang harus menderita?" Menghela napas lalu menghapus air matanya. "It's, oke, Tan. Gak apa." Masih tersenyum miris. "Gue pulang dulu." Menyalami Zevanya yang seperti patung. Namun, saat ia hendak menggapai kenop pintu. Orion membalikkan wajahnya ke Zevanya lagi. "Tadi Mama berpesan kalau malam ini tepat jam delapan, Damar akan menjemput Tante untuk ikut bersamanya ke acara keluarga. Jangan membuat masalah. Itu pesan Mama." Zevanya memejamkan mata. Kenapa hidupnya jadi ribet banget belakangan ini. Berurusan dengan Aldan, mendengar curhatan Orion dan sekarang ia harus kembali berurusan dengan Damar yang menyebalkan itu. Orion tertawa. "Apa Damar adalah pilihan terbaik Tante sampai gak mau bantu gue?" tanya Orion. "Lupakan saja." Lalu menghilang di balik pintu. Zevanya menghela napas panjang. Rasa sesak mendera. Seandainya saja harapannya semulus apa yang ia bayangkan, mungkin tidak akan jadi begini. Seandainya Aldan itu adalah lelaki yang tidak menakutkan! Ah, sialnya, meskipun menakutkan, tapi entah kenapa jantungnya selalu berdegup tiap dekat dengan lelaki kulkas itu. "Tuhan, apa yang harus aku lakukan sekarang?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN