9. OH. MY GOD

1416 Kata
“Jika mencintaimu sesakit ini, mungkin aku akan memilih meminta kepada Tuhan untuk melepas rasaku tanpa engkau tahu.” Orion Tamajaya ** Orion menghentikan langkahnya tepat di depan sebuah kafe. Menatap tepat ke dalam sana melalui dinding kaca di mana seorang perempuan cantik yang sangat ia kenali bahkan bisa dibilang ia cintai sedang bersama seorang lelaki. Ada rasa cemburu mendalam yang dia rasakan tepat di ulu hati meskipun lelaki yang bersama sang pujaan adalah orang yang ia kenal atau tepatnya adalah sahabatnya sendiri, Lay Herdiandra. Namun, Orion tidak bisa memungkiri jika ia tetap merasa ada yang tertusuk dan perih seolah tersiram air garam di atas luka yang membusuk bernanah. Ah, seandainya dirinya yang berada di dekat perempuan cantik itu dan seandainya ia tidak ditolak saat menyapa. Astaga, ia butuh ketenangan hati untuk menghadapi amarah cinta! Ini pertama kalinya seorang Orion jatuh cinta dan ini pertama kalinya orang yang ia cintai sangat membenci dirinya. Kenapa? Berulang kali Orion mencari jawaban dari tanya itu, tapi tidak juga ia temukan dengan jelas. Kenapa ia harus jatuh cinta pada perempuan yang tidak mencintainya. Kanaya oh Kanaya! Kenapa dan kenapa? Astaga, ia butuh ketenangan hati untuk menghadapi amarah cinta! Ini pertama kalinya seorang Orion jatuh cinta dan ini pertama kalinya orang yang ia cintai sangat membenci dirinya. Kenapa? Berulang kali Orion mencari jawaban dari tanya itu, tapi tidak juga ia temukan dengan jelas. Kenapa ia harus jatuh cinta pada perempuan yang tidak mencintainya. Kanaya oh Kanaya! Kenapa dan kenapa? “Oke. Orion, lo harus kuat menghadapi kenyataan. Lo masih punya kesempatan! Lo pasti bisa meluluhkan hati Kanaya.”Orion mencoba menyemangati dirinya sendiri. Lantas setelah itu, dia mengubah ekspresi wajahnya menjadi tersenyum meskipun sesungguhnya banyak kepalsuan di sana. Ting Ponsel Orion berdering sekali menandakan ada pesan yang masuk. Segera merogoh saku jaket yang ia kenakan dan helaan napas terdengar menemani gerakan tangannya. “Lay.” Orion bergumam saat membaca nama sang pengirim pesan. Sahabatnya itu mungkin merasa jika dirinya terlalu lama tiba di kafe yang mereka sepakati untuk bertemu. ‘Woi!’ Hanya satu kata, tapi mampu membuat Orion kembali menghela napas. “Orion, please, lo harus bisa atasi perasaan sementara sampai lo dapat waktu yang tepat buat dapetin Kanaya.” Keputusan Orion sudah bulat untuk masuk ke dalam sana. Langkahnya diayun terlalu pelan dan saat tiba di samping Lay dan Kanaya, Orion hanya bisa mengatakan satu kata. “Maaf.” Lay mengerutkan keningnya menatap Orion. Lelaki itu tahu jika Orion menyukai Kanaya dan Kanaya menyukai orang lain. Bukan sebuah rahasia lagi karena Orion selalu menunjukkan secara terang-terangan. “Lo kesambet apa?” tanya Lay. Orion menarik bangku di samping Lay dan itu tepat di depan Kanaya. “Kesambet hantu di jalan kali. Atau kepalanya kejedot tembok kampusnya.” Kanaya menimpali dengan senyum penuh mengejeknya. Hati Orion terasa diiris. Namun, bukan Orion kalau menyerah mendapatkan apa yang ia mau. Ya, walau jujur ia selalu kalah jika itu berurusan dengan Lay. “My Baby Boo, gak boleh gitu, dong.” Senyum kembali merekah. “Gue itu hanya ingin terlihat baik di depan lo.” Ah, Orion menahan rasa sesak saat Kanaya menatapnya dengan senyum meremehkan. “My Baby Boo lo itu siapa? Gue gak sudi kali. Gue udah naksir seseorang dan dia jauh lebih dari lo. So, lo jangan coba deketin gue lagi deh. Apalagi sampai lo ngirim barang-barang ke rumah gue. Gue gak butuh.” Orion menggigit bibir bawahnya sembari tersenyum pilu. Oh My God, apa salahnya? “Woi! Gue ngajak lo berdua ke sini bukan untuk berdebat, ya!” Kanaya menoleh pada Lay. “Ngapain, sih? Kalau gue tahu ada ini orang, gue jamin bakalan gak datang. Dasar lo, Lay!” Kanaya protes. Lay mengusap wajahnya frustrasi. Niat awalnya, ia ingin Orion dan Kanaya berhenti bertengkar dan lebih baik menjalin hubungan pacaran. "Lo bisa kalem sikit gak, sih? Bar bar banget jadi cewek." Lay menatap Kanaya dengan tajam. "Eh, Biji Timun! Lo jangan sok kejam sama gue. Gue aduin lo ke Naina, berabe lo. Ginjal lo melayang!" "Anjai. edan lo! Lo mau ngaduin gue soal apa?" tantang Lay. "Soal tadi pagi di sekolah. Lo ngerayu cewek dari sekolah lain yang datang tadi ke sekolah kita." Kanaya mengancam. "Sotoi lo! Lo nambahin masalah dalam hidup gue namanya itu. Bisa-bisa heels andalan Naina melayang ke kepala gue anjim!" "Bukan urusan gue." Orion hanya bisa menatap keduanya dalam diam. Ia tidak menimpali walau sangat ingin. Menjadi penonton yang diabaikan seolah tidak ada dan tidak berguna. Ah, kenapa sakit? Padahal ia tahu jika Lay sudah punya istri dan tidak mungkin juga sahabatnya itu menyukai Kanaya secara Lay cinta mati kepada Naina. Cukup lama juga Orion terabaikan hingga pada akhirnya ia merasa bosan dan memilih untuk pergi saja. "Gue pamit pulang, ya. Sepertinya gak ada yang penting juga." Lay dan Kanaya menoleh pada Orion. Seolah mereka tersadar seketika jika ada orang lain di tengah mereka. "Kok cepat? Emang harus ada yang penting baru kita kumpul?" tanya Lay. Orion menggeleng. "Gak harus ada yang penting memang. Hanya saja, gue merasa ada yang lebih penting yang harus dikerjakan di rumah." "Tumben? Lo gak lagi cemburu, kan?" tebak Lay. Deg Orion menutupi rasa yang mendalamnya dengan kembali menggeleng. "Ya, gak lah. Secara lo sahabat gue dan gue percaya, My Baby Boo bakalan jadi jodoh gue." "Percaya diri lo!" ketus Kanaya. "Kalau dia mau pergi, ya … biarin aja kali. Emang gak ada yang penting juga, kan? Dia itu bikin semak tahu." Mulut oh mulut. Kenapa bisa setajam itu? Orion tersenyum. "Suer deh. Kalau lo kesal gitu, lo makin cantik dan gue makin cinta." "Mimpi lo!" bentak Kanaya. "Dengerin baik-baik! Gue rasa ini udah kesekian kalinya gue bilang ke elo kalau gue gak tertarik sama lo. Gue udah punya pilihan sendiri." "Mas Aldan, kan? Gue tahu, kok. Tapi, apa berharap itu dosa, Nay? Gak, kan?" Orion tersenyum miris. "Gue pulang, deh, Lay gue tahu kok, niat lo baik sama gue. Lo sengaja ngundang gue ke sini biar gue bisa deket dengan Kanaya. Makasih, Bro. Tapi, kayaknya, gue punya cara sendiri deh buat dapatin hatinya si tomboi." "Mimpi aja lo ampe bulan ijo. Gue gak akan jadi milik lo! Paham!" Orion mengangguk. "Paham! Tapi gue akan berpura-pura tidak mendengar apa yang lo katakan soal penolakan ke gue itu." "Sehat gak sih lo? Kayaknya butuh periksa otak." "Naya, udah dong." Lay pusing bukan main. Ya, salahnya karena mengajak Orion untuk ikut makan siang bersama mereka di kafe. Ia memang berbohong dan mengatakan hanya dirinya sendiri di sana tanpa Kanaya. Meresahkan! "Gue pulang duluan." Orion benar-benar pamit. "Kenapa bisa ada cowok kayak dia itu, ya?" Kanaya "Awas lo jatuh cinta aja ntar." *** "Bagaimana bisa kamu membenciku sebesar itu? Bagaimana bisa aku mencintaimu sebesar ini?" Orion Tamajaya *** Orion hanya bisa menatap foto Kanaya yang menjadi wallpaper ponselnya. Otaknya kacau lantaran terlalu mencintai Kanaya, tapi perempuan itu terus membuat luka di hatinya. Dirinya sadar, mencintai itu tidak harus memiliki, tapi tidak juga seharusnya Kanaya menolaknya dengan cara kasar. Ah, Orion mengusap wajahnya. Ia laki-laki dan ini pertama kalinya ia jatuh cinta, kenapa dirinya menyerah hanya karena ditolak berkali-kali bahkan sebelum mengutarakan perasaannya dengan serius. Mungkin saja, Kanaya mengira dirinya main-main selama ini. "Sepertinya, gue harus bertindak lebih jauh. Mungkin seperti apa yang dilakukan Lay. Pura-pura tidur bersama." Lantas terkekeh kemudian menepuk jidatnya. "Bego! Kenapa ide gue harus sama seperti Lay? Kreatif dikit dong." Terus bermonolog. "Gue harus ketemu Tante Zee untuk menanyakan keputusannya." Lantas mengambil kunci mobil dan keluar dari kamarnya. "Mau ke mana?" Sang mama tiba-tiba menahan langkah Orion ketika melewati ruang tamu. "Rumah Tante Zee. Ada pesan, Ma?" tanya Orion. "Katakan ke tante kamu itu. Nanti malam jam delapan tepat Damar akan menjemputnya untuk mengajak ke acara makan malam keluarga. Dia harus berdandan cantik." "Tunggu, Damar siapa?" tanya Orion penasaran. "Calon jodoh tante kamu." "Hah?" Orion menghela napas. Calon jodoh tantenya? Astaga, itu berarti tantenya akan menikah dengan lelaki bernama Damar. Lalu rencananya mendapatkan Kanaya akan gagal lantaran Zee tidak bisa membantunya menjauhkan Kanaya dari Aldan. Menyebalkan! "On, kamu dengar mama gak sih?" "O … dengar, Ma." "Jangan lupa, ya." "Oke, Ma." Orion terpaksa mengiyakan padahal otaknya berpikir untuk tidak mengatakan apa pun pada Zevanya. "Satu lagi!" "Apa itu?" Orion yang tadinya sudah sempat melangkah beberapa langkah akhirnya berhenti. "Katakan ke dia. Jangan sampai meninggalkan Damar di tengah acara dan jangan bikin malu." Orion mengangguk. "Tapi, Ma." "Hem." "Yang barusan bukan satu, Ma. Tapi dua." "Orion!" Menggeram tertahan lantaran Orion tertawa terbahak. "Awas kamu!" Orion berlari keluar rumah tanpa peduli pada emosi sang mama yang tidak stabil saat ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN