8. BENAR BUKAN LO?

1848 Kata
Tidak ada yang bisa dikatakan Zevanya selain menganga lebar. Ia kira dirinya akan berakhir di sebuah kamar atau tempat gelap dan pengap di mana sarang laba-laba serta debu yang membuat hidung gatal dan bisa jadi pernapasannya akan terganggu karena itu. Ah, tapi nyatanya itu hanya pemikiran tidak waras yang tidak terwujud sama sekali. Pemikiran yang muncul di saat ketakutan mendera. Nyatanya apa? Ya, nyatanya adalah Aldan membawanya ke taman. Zevanya yang terlalu parno! Zevanya yang terlalu sibuk dengan pemikiran kotornya! Namun, tunggu! Zevanya tidak boleh langsung senang akan keadaan yang menyapa. Bisa jadi Aldan hanya membuat sebuah perangkap tipu muslihat di mana saat Zevanya lengah akan langsung membawa ke tempat yang sudah direncanakan sebelumnya. Bisa jadi saat itu terjadi, maka dirinya akan dijadikan kambing guling oleh Aldan. Dikuliti hidup-hidup mungkin. Lalu setelahnya akan disantap bersama minuman berkadar alkohol tinggi. Astaga, pemikiran apa itu? Ah, tapi memang saja itu bisa jadi bukan! Saat ini untuk menjadi jahat, salah satu caranya adalah berpura-pura baik pada mangsa agar tidak mudah tertangkap basah. Sial! Dia tidak boleh tertipu akan keadaan, walau jujur Zevanya merasa suasana saat ini terkesan romantis. Bagaimana tidak romantis jika saat ini Aldan membiarkannya duduk manis di bangku taman dan Aldan sempat mengelap bangku sebelum Zevanya duduk. Walau bisa jadi, Aldan melakukan itu lantaran dirinya juga hendak duduk. “Tunggu! Jangan ke mana-mana.” Kalimat itu diucapkan dengan tegas dan dingin bahkan tanpa ekspresi. Ya, di sisi lain, Zevanya merasa seperti sedang kencan dan di sisi lain lagi, ia merasa kalau dirinya sedang di rantai dengan tali gaib tanpa rupa, tapi jika ia bergerak sejengkal saja bisa membuat dirinya terjatuh dalam kobaran api dahsyat. “Lo mau ke mana?” Zevanya terlalu kepo. Hidupnya seakan tidak lengkap tanpa mencari tahu apa pun yang menurutnya wajib ia ketahui. Aldan tidak menoleh, tapi tetap menjawab dan lagi-lagi dengan nada suara yang datar. “Ngerampok.” Lantas terus berlalu dengan cepat. Zevanya yang masih tinggal di bangku taman hanya bisa menggelengkan kepalanya. Aldan memang aneh dan jalan pikiran lelaki itu terlalu sulit ditebak. “Haruskah gue kabur?” Zevanya bertanya pada dirinya sendiri saat menyadari jika saat ini ia punya kesempatan untuk kabur dari Aldan sebelum lelaki itu menunjukkan taringnya. “Tapi, gimana kalau ntar dia nyariin gue? terus dia kebingungan gitu? kan kasihan dianya.” Helaan napas terdengar keluar dari mulut Zevanya. Bagaimana bisa ia kasihan pada seseorang yang bisa saja mengancam nyawanya. Dasar Zevanya bodo! “Oke. Gue nunggu dia aja. Lima menit! Seandainya dalam waktu lima menit, dia belum muncul juga di sini, itu berarti kesempatan gue buat kabur.” Senyum tipis Zevanya terlukis di bibir. “Gue juga pengen tahu dia dari mana dan bawa apa ke sini.” Ya, itu keputusan Zevanya. ia akan menunggu Aldan dalam waktu yang sudah ia tentukan tadi. Sudah lima menit lewat atau tepatnya waktu berlalu selama tujuh menit dan Zevanya masih setia duduk di taman tanpa berniat kabur. Padahal, niat awalnya ingin pergi diam-diam setelah lima menit berlalu jika Aldan belum kembali juga, tapi apa ini? Ia masih setia menunggu Aldan. "Elo emang bego, Zee. Dasar!" Memukul keningnya sebanyak dua kali lantaran ia masih berharap Aldan segera kembali. Tunggu! Apa Aldan meninggalkannya di taman? Oh, tidak bisa dibiarkan! "Gue bakalan bikin perhitungan ke elo, Mister Kulkas. Gue bakalan panasin kuali, terus masukin lo ke dalam biar lo meleleh kayak jeli." Berdiri dari duduknya. Baru saja ia berpikir untuk mencari Aldan, tapi lelaki itu seperti memiliki kekuatan mendengar mata batin. Nyatanya, Aldan sedang berjalan menuju padanya dengan gaya sangat memuaskan mata. Seolah Aldan berjalan dengan lambat bersamaan angin yang menerpa rambutnya. Cielah, kenapa lelaki dingin itu terlihat seperti seorang CEO dengan pakaian jas hitam serta celana yang senada warnanya dan dalaman kemeja putih. CEO atau Pengawal? Zevanya terkekeh karena pemikirannya yang mulai ngawur. "Ambil!" Aldan menyodorkan es krim ke arah Zevanya. Saliva Zevanya mulai memberontak ingin keluar dari rongga mulut. Lelehan cokelat yang berada di atas es krim itu sungguh membuat dirinya tertarik untuk segera mencicipi. namun, pikiran buruk selalu datang di saat yang tidak tepat. Otaknya seketika seolah mengatakan kalau es krim itu bisa saja sudah dicampur dengan obat yang bisa membuat masalah dalam hidupnya nanti. Bagaimana kalau Aldan memasukkan obat tidur, bius atau lebih parahnya obat perangsang. bisa-bisa ia akan berakhir di tempat yang tidak diharapkan olehnya dan mungkin juga nantinya dalam keadaan tanpa sehelai benang. Oh, tidak bisa! “Mau atau gak?” Aldan bertanya tanpa ekspresi sama sekali. Zevanya menginginkan itu, tapi ia tidak ingin terjebak. maka dari itu ia memilih menggelengkan kepala. “Lo yakin?” Sekali lagi Aldan bertanya. Zevanya menjilat bibir bagian bawahnya. Astaga, godaan terbesarnya adalah melihat es krim dengan lelehan cokelat ditambah yang memberikan kepadanya adalah lelaki super tampan dan mungkin dengan otot-otot di tubuhnya. ya, walau dirinya dan Aldan selalu bertemu dengan segala drama yang mengerikan dan kadang terkesan lebai juga. Ya, memang dirinya mengakui kalau Aldan itu tipe idamannya banget jika hanya melihat luarnya alias melihat wajah tanpa menilai karakter. Oke, lupakan soal wajah memesona seorang Aldan. Fokus dan fokus! “Hilangkan pikiran buruk lo itu tentang gue.” Alldan duduk di samping Zevanya. melirik sekilas lalu kembali menjadi datar. “Hah?” Zevanya melongo. “Maksud lo apa?” Aldan kembali menyerahkan es krim yang ada di tangannya ke Zevanya. “Gue gak seburuk apa yang ada di pikiran lo.” Deg Damn it! Bagaimana bisa lelaki itu membaca pikirannya? “Emang apa yang gue pikirkan?” Zevanya pura-pura tidak tahu apa yang dibahas Aldan. “Obat tidur. obat bius. obat yang bikin lo pengen indehoi.” Oh My God Setepat itukah? “Gue gak tertarik menyakiti orang lain tanpa perintah dari majikan gue.” Oke. Sepertinya pembahasannya akan seru jika dirinya menggali lebih lanjut. Ia perlu mengaktifkan rekaman dari ponselnya dan bertanya soal kejadian beberapa menit lalu yang mengakibatkan kemacetan panjang. Segera mengambil ponselnya dan merekam percakapan mereka. “Gue mau nanya ke elo.” Aldan mengalihkan atensinya ke Zevanya tanpa mengeluarkan suara. “Em … elo ya yang … astaga, gimana cara ngomongnya.” Zevanya kebingungan sendiri. “Tabrakan tadi.” Itu suara Aldan. “Tabrakan tadi gak murni dikatakan sebagai kecelakaan lalu lintas.” “Itu maksud gue. Kecelakaan itu lebih mirip seperti dihilangkannya nyawa duluan setelah itu, ya … lo pasti paham maksud gue.” Zevanya memancing pembicaraan agar Aldan mau mengungkap kenyataannya. “Lo mau gak es krim ini?” Aldan kembali bertanya soal es krim. “Gue mau.” Demi mendapatkan informasi, Zevanya mau menerima es krim itu. “Jadi, menurut lo gimana?” tanya Zevanya sembari menjilat es krim yang sudah mencair itu. “Dihantam menggunakan benda keras.” “Kita sepemikiran.” Zevanya berpikir sejenak. “Dan gue merasa benda yang digunakan adalah palu.” “Lo benar!” “Hah? Benar? gimana lo bisa yakin?” tanya zevanya lagi. Sedikit lagi ia akan mendapatkan bukti yang kuat. Lalu setelah itu, ia akan menyerahkan bukti itu ke polisi dan dengan begitu, orang yang tidak bersalah bisa bebas dari tuduhan yang mendera. Zevanya rela terjebak bahaya demi kebenaran. ya, setidaknya ia bisa berbuat baik untuk saat ini. “Lo mikir buruk lagi!” tebak Aldan. Zevanya tersenyum atau tepatnya menyeringai. “Lo yang menghilangkan nyawa lelaki itu, kan?” Aldan menyipitkan matanya. “Palu!” tukas Zevanya. “Gue yakin lo pelakunya.” “Atas dasar apa?” “Karena hanya pelakunya saja yang bisa yakin kalau benda yang digunakan itu adalah palu.” Aldan menatap tajam kepada Zevanya. “Gue yakin bukan berarti gue pelakunya. Gue yakin karena luka yang dialami lelaki itu persis–” “Jangan bohong, Tuan Aldan yang terhormat.” “Bagaimana lo bisa seyakin itu kalau gue pelakunya?” “Pertama, lo tahu soal luka dan lo juga tahu kalau itu bukan tabrakan murni. Seterusnya, lo juga ada di sana.” “Pantas aja lo ngikutin gue.” “Lo gak bisa menyangkal lagi. Gue udah rekam percakapan kita ini.” berdiri dari duduknya lalu menunjukkan ponselnya kepada Aldan dan sedikit menjauh. “Lo mau mati?” tanya Aldan pelan tepat di telinga Zevanya. “Yak!” Zevanya mendorong Aldan saat napas lelaki itu menerpa area telinganya yang sensitif. “Apa-apaan lo!” “Lo meresahkan gue!”seru Aldan. “Yak! Ponsel gue!” teriak Zevanya saat sadar kalau ponselnya sudah berada di tangan Aldan. “Tangkap!” Aldan melempar ponsel itu ke arah Zevanya setelah berhasil menghapus rekaman itu dan gilanya, Aldan melempar melewati Zevanya dan akhirnya ponsel itu berakhir ke kolam ikan yang tidak jauh dari mereka. “Maaf,” cicit Aldan tanpa rasa bersalah. “Ponsel gue! Dasar edan lo! Lo kira itu beli pake daun apa?” sudut bibir Alda naik. “Gue gak peduli.” “Gue bakalan laporin lo ke polisi.” Melangkah menjauhi Aldan. “Bukan gue pelakunya.” Zevanya menghentikan langkahnya. “Gue gak percaya.” “Terserah lo mau percaya atau gak.” Zevanya menjilat bibirnya. “Serius?” “Hhmm!” helaan napas Zevanya terdengar. Entah kenapa ia luluh dan seketika percaya jika bukan Aldan pelakunya. “Jangan ikut campur. Lo bisa dalam masalah nantinya.” Aldan menegur Zevanya. “Gue belum tentu bisa menolong lo.” Deg Kalimat itu membuat pipi Zevanya memerah seketika hanya karena kalimat yang sebenarnya tidak ada romantisnya atau manis-manisnya. Ah, pengaruh Aldan sangat besar pada jantung dan juga pipinya. “Gue antar pulang!” Seketika juga Zevanya kembali ke dunia nyata. “Jangan geer.” Deg Manusia Kutub Utara itu benar-benar membuatnya emosi, bahagia bahkan berbunga di waktu bersamaan. Aldan gila! *** “Ngapain lo ke sini kalau ujung-ujungnya itu membuat gue bangkrut?” Zevanya menatap keponakannya dengan tajam. Sungguh ia sangat kesal melihat tingkah Orion yang katanya sedang galau dan ujung-ujung menguras isi kulkas miliknya. Orion menghela napasnya secara dramatis. “Tan, keponakan lo ini lagi sedih plus galau. apa susahnya berbagi rejeki sedikit biar galau gue berkurang gitu.” “Eh, Monyet Albino! Gue bukannya gak mau berbagi ke elo. aduh, ponakan gue tersayang, tante lo ini pengangguran saat ini. Jadi, ya … gue perhitungan bod0h!” “Tante menyebalkan sejak jadi PENGACARA.” “Hah? Sejak kapan gue jadi pengacara. ah, keponakan gue ini stres ternyata.” “PENGACARA alias Pengangguran banyak acara.” Plak Zevanya memukul pundak Orion. keponakannya itu semakin menjadi-jadi padanya. Oke, ia akan mencoba bersabar dan mencoba memahami keadaan Orion yang galau dan sad boy itu. “Oke. Em … lo jujur ke gue apa masalah lo. Kalau tante bisa bantu … tante bakalan bantu.Ya, setidaknya memberi solusi.” “Gue suka atau tepatnya cinta ke Kanaya.” “Tante tahu,” sahut Zevanya. Orion mengerutkan keningnya. “Sejelas itu?” Zevanya mengangguk. “Di kening lo tertulis jelas kalau lo cinta ke Kanaya.” Orion menghela napas. “Sayangnya, Kanaya jatuh cinta ke lelaki lain.” “Siapa? Aldan?” Zevanya memejam mata sesaat. Orion mengangguk. “Bantu gue, ya, Tan?” “Apa itu?” “Dekati Aldan!” Deg Damn it! Ah, itu namanya melempar diri ke kandang beruang kutub walau ia tidak memungkiri memiliki rasa kagum pada Aldan. Haruskah?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN