Melihat apa yang ada di depan matanya saat ini, Zevanya hanya bisa menggerutu dalam hati.bagaimana tidak, yang tadinya dia dan Damar bertemu di rumah sang kakak dan akan mengobrol di sana malah sekarang berakhir di sebuah restoran dan parahnya lagi tempat yang mereka pesan termasuk private dan seolah mereka sedang makan malam romantis. Lihat saja, lilin-lilin di seluruh sudut ruangan dan di atas meja. Lampu padam dan cahaya hanya didapat dari bias lilin. Ada alunan music romantis dan parahnya lagi, lagu yang diputar adalah lagu dari film Titanic. Zevanya langsung merinding membayangkan kisah cinta pemeran utamanya yang tragis. Damar membuatnya pusing seketika. “Lo suka film apa?” tanya Damar sembari menyendokkan makanannya ke mulut. “Korea, mungkin.” Zevanya asal saja menyahut. “Apa film dari Negara pecinta plastik itu seru?” Halo …! Pecinta plastik? Itu mulut kok lemes banget. Rasanya Zevanya ingin sekali membungkam mulut itu menggunakan heels yang ia kenakan. “Lo gak nanya apa film kesukaan gue?” Dengan senyum lebar lelaki itu berbicara. Zevanya menghela napas pelan kemudian memutar mata jengah. Kenapa bisa ada lelaki se pede Damar di dunia ini. “Ayo tanyain, dong.” Selain pede, lelaki itu juga pemaksa banget. Oke, bukan idaman seorang Zevanya. “Jadi, lo suka apa?” Akhirnya Zevanya bertanya juga meskipun bukan dalam hati alias terpaksa. “Suka apa ini?” tanya Damar balik. Ya Tuhan. Beri Zevanya kesabaran. Lelaki itu tadi menyuruhnya bertanya dan ketika dia sudah bertanya kenapa malah ada pertanyaan lagi? “Ya … apa lagi kalau bukan film. Tadi lo nyuruh gue nanya. Ini gue udah nanya kenapa lo balik nanya?” Zevanya kesal bukan main. “Gue nanya karena lo nanya gak lengkap.” Sabar, sabar dan sabar. Jika tidak ada kesabaran mungkin lelaki itu sudah melayang karena tendangan Zevanya. Namun, Zevanya harus menjaga image di depan khalayak ramai. “Bodo!” gerutu Zevanya. Demi apa pun, ia berharap ada yang menolongnya sekarang untuk lepas dari hadapan Damar. “Gue jawab deh,Cantik. Jangan ngambek gitu, dong. Cantiknya ntar luntur loh.” Gombal? Ayolah, Zevanya tidak butuh gombalan saat ini yang ia butuh adalah lepas dari Damar sekarang juga. “Gue itu suka film Titanic, gak suka Korea gitu. Alay banget menurut gue gitu. Terus,gue juga merasa,penyuka drama Korea atau film-nya itu terlalu … em … ya, kayak bukan laki aja. Lebih cocok yang menonton itu pake rok aja jika dia laki-laki.” Damar berucap tanpa peduli pada ekspresi wajah Zevanya yang kesal bukan main. Zevanya heran sekali, bagaimana ada lelaki yang mulutnya lemas banget layaknya perempuan. Jika Boleh jujur,Zevanya sangat ilfil akan itu. Damar bukan tipe calon suami idamannya. “Gue harap, setelah lo menikah dengan gue nantinya, lo berhenti menyukai semua hal yang berbau Korea. Jangan juga minta bulan madu ke Negara itu.” Pernyataan itu membuat Zevanya semakin yakin jika Damar bukan pilihan yang terbaik untuk dirinya. Lagian, siapa yang akan menikah dengannya? Zevanya? Tentu saja tidak. Bermimpi sampai bulan jadi biru dan matahari jadi abu-abu. “Selera masing-masing orang itu beda, Tuan Damar. Lo gak bisa menghakimi siapa pun yang suka sama yang namanya drama Korea atau film-nya. Lo juga gak bisa menghujat begitu aja apalagi mengatai bahwa lelaki yang menyukai semua hal yang berbau Korea itu gak laki.” Zevanya mulai menampakkan taringnya pada Damar. Demi apa pun, ia tidak suka dengan lelaki yang terlalu ikut campur dalam hal yang ia suka. “jadi … berhenti berpikir bahwa apa yang lo katakan barusan adalah hal yang benar. Karena nyatanya adalah para lelaki dari Negara Korea itu, toh menyukai perempuan juga dan bisa punya anak juga.” Damar hanya melongo mendengar kalimat Zevanya. Ia kira Zevanya akan menyanggupi dan menyetujui apa yang ia utarakan tadi. “Gue gak bisa maksa lo buat suka sama apa yang gue suka. Gue juga gak bisa maksa lo harus memahami hidup gue. Serta, lo juga gak bisa memaksa gue menyukai apa yang lo suka termasuk menyukai diri lo.” Senyum mengejek Zevanya terlintas di pipi. “M-maksud lo apa?” Zevanya masih memamerkan senyum mengejeknya. “Maksud gue adalah lo gak bisa memaksa gue menyukai lo dan menjadi istri lo. Atau lebih jelasnya lagi adalah gue menolak lo dalam hidup gue. Jadi, lo jangan bermimpi kejauhan, ya.” Zevanya memasang mimic pura-pura merasa bersalah. Damar masih diam dengan mulut menganga. Ia tidak menyangka jiika Zevanya menolaknya secepat itu bahkan di saat ia baru saja menyusun kalimat romantis di kepalanya. “Kenapa? Coba kasih alasan ke gue kenapa lo nolak gue? Apa karena gue gak suka Korea? Atau karena gue ngelarang lo menyukai Korea jika sudah jadi istri gue nanti?” Damar benar-benar tidak tahu alasan kenapa Zevanya menolaknya. Jadi, ia harus menanyakan itu agar ia bisa mengubahnya. “Jika itu alasannya, gue minta maaf dan gue akan memperbaikinya. Gue janji akan membebaskan lo menyukai Korea bahkan gue juga akan berusaha menyukainya. Kasih tahu gue, Zevanya biar gue bisa mengubahnya.” Damar memohon. Zevanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.”Itu salah satu alasannya. Tapi alasan yang lebih jelasnya adalah gue emang gak cinta sama lo. So, gue gak mau menikah sama lelaki yang gak gue cintai sama sekali. Ditambah, mulut lo lemas amat! Udah kayak ibu-ibu komplek yang belanja pagi di tukang sayuran keliling. Lemes banget, Say.” “Tapi, gue suka sama lo. Gue udah jatuh cinta pada pandangan pertama. Lo gak bisa mainin perasaan gue kayak gini dong.” Makin menyebalkan! “Gue gak minta sama lo buat suka sama gue apalagi sampai jatuh cinta sama gue. Itu salah lo sendiri. Urusan lo sama hidup lo. Gue mah memang gak doyan ama lo. Intinya itu derita lo!” Zevanya bangkit dari duduknya. Dengan gaya yang sangat anggun, Zevanya berlenggak meninggalkan Damar dan itu sengaja dibuat oleh Zevanya. Ia sengaja memanaskan hati lelaki itu. Terserah jika nantinya si mulut lemas itu mengadu kepada keluarganya. Bodo amat! “Ah, akhirnya gue bebas juga!” Dengan semringahnya Zevanya berteriak saat ia sudah berada di depan restoran. Lepas dari Damar sama aja lepas dari kandang buaya. Iya, lega bukan main. Zevanya menghentikan taksi yang kebetulan lewat di depannya. “Tolong antar saya ke alamat ini, ya, Pak.” Menyodorkan ponsel miliknya yang menyala ke depan sopir taksi. Alamat yang dituju tertera di sana. Percayalah itu bukan alamat rumahnya atau alamat rumah sang kakak melainkan rumah keluarga Herdiandra alias rumah mertua dari Naina yang merupakan sahabat karibnya itu. “Baik, Mbak.” Sopir taksi menjawab dengan ramah. Tanpa banyak basa-basi, taksi itu segera meluncur membelah jalan raya. Zevanya memilih menurunkan kaca jendela dan menyandarkan kepalanya ke sana, membiarkan angin sepoi sedikit menerpa wajahnya. Karena terlalu sejuk, akhirnya Zevanya tertidur.
**
“Tolong! Tolong! Ambulan. Ya, telepon ambulan!” Karena teriakkan yang menggema menusuk telinga itu, Zevanya terbangun. Ia mengucak matanya dan melirik sana sini untuk memastikan di mana di sekarang ini. Ia hanya menghela napas pelan saat menyadari ia masih di taksi. Lalu, Zevanya melirik jam tangannya dan ternyata waktu sudah berjalan terlalu jauh dan menjebaknya dalam perjalanan. Sudah setengah jam dari sejak ia masuk ke taksi di depan restoran dan gilanya, ia belum tiba juga di rumah Naina. Sejenak, Zevanya berpikir kenapa ia sangat lama di perjalanan? Padahal jika ia membawa mobil sendiri tidak selama ini padahal rumahnya lebih jauh jaraknya dari pada restoran ke rumah Naina. “Pak, kok lama, sih?” tanya Zevanya pada akhirnya. Apalagi, rasa penasarannya makin menjadi lantaran telinganya mendengar teriakan orang-orang menyuruh menelepon ambulan dan meminta tolong dengan suara yang terdengar terisak. Ada apa? Apa yang terjadi di depan sana?
“Gak tahu juga, Mbak. Sepertinya ada kecelakaan gitu atau hal yang lain. Pokoknya, di depan sana itulah yang bikin macet, Mbak. Hampir tiga puluh menit kita di sini dan tidak ada pergerakan sama sekali,” jelas si sopir taksi. Zevanya menarik napas kasar dan mengusap wajahnya frustrasi. Ia paling tidak suka terjebak macet karena menurutnya itu membuang waktunya dalam banyak hal. Ditambah lagi menurutnya macet bisa bikin kecantikannya luntur karena ia bisa berkeringat tanpa ampun meskipun mobil atau taksinya sudah dilengkapi AC. Namun, jika ia berjalan kaki dalam situasi di mana ia mengenakan heels dan dress yang melekat di tubuhnya itu terlalu seksi. Ya, meskipun dirinya menyukai hal yang berbau seksi, tapi bukan dirinya mau menunjukkan lekuk tubuhnya sedemikian rupa di depan orang lain. Lalu setelah itu kakinya akan terluka karena heels yang menjulang tinggi di tapak kakinya. Em, tidak apa jika ia mengintip sebentar, kan? Atau lebih baik saja ia berjalan kaki tanpa peduli pada risiko yang terdampar padanya nanti. Oke, keputusannya sudah bulat dan itu adalah ia akan berjalan kaki saja sembari mengintip kejadian yang ada di depan sana.
“Pak.”
“Ya, Mbak?”
“Gue turun di sini aja, ya. Gue mau jalan kaki aja. Sekalian lihat-lihat sekeliling gitu.” Zevanya berucap seraya memamerkan senyumnya lantas setelah itu ia membayar taksi dan kemudian ia keluar dari taksi itu. Berjalan di bawah terik matahari membuat Zevanya mengeluarkan keringat yang tidak sedikit. Ia sesekali melirik kanan dan kiri lalu ke depan di mana kerumunan semakin menjadi. Zevanya juga tidak semudah itu melewati kerumunan itu, ia harus berjuang berdesak-desakkan dengan pejalan lainnya yang memang sengaja ingin melihat kejadian di depan sana. “Mbak, di depan sana kejadian tabrakan, ya?” Zevanya bertanya pada seseorang yang sepertinya baru dari kerumunan itu.
Perempuan itu mengangguk. “Iya, Mbak. Tapi aneh sebenarnya.” “Aneh kenapa?” Zevanya penasaran. “Dibilang tabrakan, tapi kok sepertinya dihajar babak belur dulu, baru deh dibuat pura-pura ditabrak gitu.” Zevanya menganga. Masa iya ada yang tega melakukan hal yang sekeji itu.
“Kalau diperhatikan sepertinya, em …. Itu orang dihantam pake palu gitu.” Perempuan itu kembali menjelaskan. Bulu kuduk Zevanya merinding. Namun, satu hal yang terlintas di otaknya saat ini adalah Aldan. Entah kenapa ia merasa jika ucapan perempuan yang mengatakan bahwa korban dihantam pakai palu langsung bayangannya menuju ke Aldan. Apa benar lelaki itu pelakunya? Secara ia pernah mendengar simpang siur tentang Aldan yang suka menyiksa siapa saja yang bermasalah dengan keluarga Herdiandra dengan palu. Buang pikiran buruk tentang lelaki itu. Misalkan Aldan adalah pelakunya, tidak ada urusannya dengan dirinya. Toh, mereka hanya kenal seperti itu saja tanpa ada keakraban sama sekali walau pernah memuji ketampanan lelaki yang layaknya es itu.
“Gak ada lagi yang mau ditanyakan, kan, Mbak?” Perempuan itu menyadarkan Zevanya dari lamunannya.
Segera menggelengkan kepalanya dan tersenyum.
“Tidak! Em … thanks, ya.” Zevanya menyampaikan kata terima kasihnya. Setelah itu ia maju ke depan dan kembali menerobos kerumunan. Ia sudah memutuskan untuk melihat apa yang terjadi lebih jelas karena sungguh dirinya sangat penasaran. Betapa terkejutnya Zevanya melihat seorang lelaki yang tergeletak di aspal serta bersimbah darah. Zevanya sempat menarik napas secara kasar saat melihat ada banyak luka lebam serta kaki yang menjadi korban itu hancur remuk layaknya di hantam palu.
“Tolong lepaskan saya. Saya tidak menabraknya. Ketika saya tiba di sini, dia memang sudah tergeletak di aspal dengan keadaan seperti itu. Lepaskan saya!” Zevanya hanya bisa menatap lelaki yang umurnya sekitar 40 tahun itu dengan nanar. Ia merasa iba saat polisi memborgol tangan dan menyeret menuju mobil patrol itu.
“Ya Tuhan, bagaimana kalau memang bukan dia pelakunya?” Zevanya bermonolog. Melirik ke kanan kiri yang di mana kerumunan mulai melonggar lantaran polisi dan ambulan sudah tiba di lokasi. “Aldan,” cicitnya saat netranya menangkap bayangan Aldan di tengah kerumunan. Segera Zevanya meninggalkan lokasi dan mengikuti Aldan yang lebih dulu meninggalkan area itu.
“Astaga, apa dia?” Zevanya kembali bermonolog. Terus saja mengikuti Aldan yang jaraknya sekitar empat meter dari depannya. “Ya, kenapa dia membelok ke gang sempit, sih?” Zevanya berhenti saat tahu depannya itu adalah gang kecil di mana saat melewatinya harus memiringkan tubuh. Zevanya tidak mungkin ikut masuk ke sana. Selain alasannya terlalu sempit, ia juga tidak mungkin memakai heels, yang ada ia bisa tersungkur karena jalan setapak itu becek. Kepala yang tidak gatal menjadi korban jahilnya tangan Zevanya. Ia menggaruk sampai rambutnya berantakan.
“Menyebalkan!” teriaknya sembari mengentakkan kakinya di tanah. “Kenapa gue jadi sekepo ini, sih? Harusnya aku biarkan saja karena itu bukan urusan gue. Mau dia bunuh orang mau gak, itu gak ada urusannya dengan gue.”
“Lo ngikutin gue?” Deg Zevanya membulatkan matanya dan kemudian mengembungkan pipi saat mendengar suara dari belakangnya. Suara Itu tidak asing sama sekali di rungunya.
“Aldan,” cicitnya pelan sembari memutar tubuhnya menghadap lelaki yang ia yakini adalah Aldan. Zevanya melongo dan merasa ia sedang dikuliti hidup-hidup saat ini karena tebakannya itu benar. Di depannya saat ini memang Aldan. Pertanyaannya adalah bagaimana lelaki itu sudah di dekatnya padahal jelas ia lihat berjalan di depannya cukup jauh. Apa aldan menyadari jika ia mengikuti lelaki itu? Ah, bodo amat! Mumpung Aldan di depannya kenapa ia gak nanya aja sekalian.
“Elo yang bunuh lelaki tadi, kan?” Tanpa basa basi dan jawaban sama sekali, Aldan menarik tangan Zevanya, menyeret paksa dan tentu saja sangat kasar. “Ya! Lepas!” teriak Zevanya.
“Lo mau mati?” Pertanyaan yang keluar dari mulut Aldan seperti obat bius yang mampu membuat Zevanya diam tanpa memberontak. Ya, Zevanya spontan terdiam membungkam mulutnya tanpa mengeluarkan sedikit pun suara. Ah, pertanyaan itu mungkin lebih cocok seperti pernyataan yang akan terwujud jika dirinya terus memberontak. Lebih baik ia diam saja dulu sampai ada kesempatan untuk kabur dan lapor polisi. Untuk sementara ia harus bersikap seperti anak baik demi nyawanya. Siapa yang mau mati di saat belum merasakan yang namanya surga dunia alias belah duren di malam hari!