6. PERJODOHAN?

1788 Kata
“Lo gak ada niatan mau ngantar gue pulang?” Zevanya menatap Aldan penuh tanya bersamaan dengan ekspresi pemaksaannya berharap dengan begitu Aldan akan bangkit dari tempatnya dan segera mengantarnya pulang. Sebenarnya, tidak masalah untuk pulang sendiri jika ia tahu alamat di mana dirinya berada sekarang. Masalahnya adalah ia tidak tahu di mana mereka berada. Terlalu asing dan juga sepi. Mungkin dan bahkan bisa jadi hanya rumah Aldan yang tidak layak disebut rumah itulah satu-satunya di sini. Lagian, Aldan yang menyeretnya ke sini. Jadi, lelaki itu punya tanggung jawab untuk mengantarnya pulang. Jangan lepas tangan begitu saja secara memang itu sebuah tanggung jawab. Ah, belibet! Intinya, Aldan harus mengantar dirinya pulang. “Woi! Kenapa lo diam aja, Kulkas?” Aldan menoleh. “Pulang ya tinggal pulang. Gak mesti gue gendong!” Astaga! Jawaban macam apa itu? Siapa yang minta digendong? Tidak ada! “Gue gak minta lo gendong! Tapi setidaknya lo harusnya punya tanggung jawab sama gue.” Aldan menaikkan alisnya. “Tanggung jawab?” Zevanya menggelengkan kepalanya lalu mengangguk kemudian menggeleng lagi. “Maksud gue itu, lo harusnya ngantar gue pulang ke rumah, secara lo yang bawa gue ke sini. Gue gak tahu jalan pulang. Gimana kalau gue diculik, lalu di anu kemudian gue dibunuh dan jasad gue dibuang ke tebing.” Berlebihan? Bisa jadi. Namun, bukan Zevanya namanya kalau sesuatu itu berjalan normal. “Lo punya GPS.” Zevanya menghela napas pelan. Tangannya mengepal sempurna di sini tubuhnya. Bolehkah ia marah? Bolehkah ia mencincang Aldan saat ini? Ah, seandainya dirinya punya jiwa psikopat pasti sudah ia langsungkan niatnya itu. “I-iya. Gue emang punya GPS, tapi lo tetap punya tanggung jawab, kan? Lo jangan jadi pengecut dong!” Zevanya mulai panas karena Aldan. Lelaki kulkas itu memilih pindah dari bangku ke ranjangnya. “Jangan serakah.” Zevanya atau Zee hanya melongo saja. Serakah? Dia serakah dari mananya? “Eh, Tuan Aldan yang terhormat. Gue serakah itu dilihat dari mana?” Berkacak pinggang. Aldan benar-benar cari ribut kepadanya. “Lo udah gue kasi makan. Udah gue kasi tempat untuk tidur siang yang berjam-jam. Sekarang lo Minta diantar pulang.” Zee menepuk jidatnya. Astaga! Manusia macam apa yang menilai dirinya serakah hanya karena minta diantar pulang. Seandainya ia tahu di mana ia berada sekarang sudah pasti ia pulang tanpa meminta diantar. “Lo ngeselin, ya!” Zevanya mengambil tasnya di atas nakas lalu mengentakkan kaki ke lantai berkali-kali. Percuma saja dirinya meminta Aldan mengantarnya pulang. Itu tidak akan terjadi dan bisa jadi yang ada adalah rasa kesal yang mendalam. Tampan, tapi mengesalkan bukan main! “Awas lo! Gue bunuh lo lama-lama!” Benar-benar berlalu dari hadapan Aldan. Aldan memejamkan matanya lalu menaikkan sudut bibir. Entah itu sebuah senyum atau sebuah seringai mematikan. Entahlah! *** “Kenapa? Kenapa lo tiba-tiba berubah pikiran dan mau menyusul gue keluar? Lo mau ngantar gue pulang? Dasar lelaki kulkas pembohong ulung. Katanya gak mau ngantar pulang, gak mau peduli. Cih, nyatanya apa? Lo menghampiri gue juga. Dasar manusia setengah punya hati setengah lagi gak punya.” Zevanya menggerutu panjang lebar saat Aldan tiba di dekatnya dan mendorong tubuhnya masuk ke dalam mobil. Zevanya tidak jatuh ke kursi sopir saat Aldan mendorongnya, melainkan ke kursi penumpang. Zevanya membulatkan matanya saat posisi menyetir diambil alih oleh Aldan. “Pelan-pelan, Nyet!” teriak Zevanya saat bahunya terbentur pada sandaran kursi. Aldan tidak peduli sama sekali dengan apa yang dialami oleh Zevanya bahkan ia seolah-olah tidak mendengar kalimat-kalimat yang keluar dari mulut Zevanya. Ia hanya fokus menyalakan mesin mobil tanpa melirik pada Zevanya sama sekali. Ia harus segera mengantar Zevanya pulang agar hatinya lebih baik. Hati Zevanya semakin memanas. Bagaimana ia bisa berurusan dengan Aldan si manusia super cuek dan dingin? Seumur hidup ia hanya mengharapkan lelaki tampan nan baik, ramah dan romantis layaknya pangeran kuda putih dalam bayangan selama ini. Lalu kenapa Tuhan malah mempertemukan dirinya dengan Aldan walau jujur dirinya sempat terpesona pada ketampanan lelaki itu. Jika diteliti lebih lanjut. Wajah Aldan memang tidak memiliki kekurangan apa pun. Bisa dibilang terlalu sempurna layaknya seorang CEO di perusahaan besar atau bisa dikatakan seperti pangeran di dunia dongeng. Sayangnya, itu hanya luar saja atau tepatnya hanya penampilannya saja, sebab kenyataannya Aldan adalah seorang pengawal di keluarga Herdiandra. Untuk sementara lupakan soal Aldan yang terlalu sempurna, mari kembali fokus pada Zevanya yang mulai memasang wajah cemberut lantaran Aldan hanya diam tanpa mengatakan apa pun kepada dirinya saat ia bertanya. Ya, kulkas dua pintu akan selamanya menjadi seperti itu. Memangnya pernah melihat kulkas memberi senyum? Oh, No! Mobil milik Zevanya meninggalkan area depan rumah Aldan. Sepanjang perjalanan keduanya hanya diam. Zevanya memilih fokus pada ponselnya sedang Aldan fokus menyetir. “Sial! kenapa susah banget daftarnya, sih? Kalau gini kapan gue bisa ikut terpilih?” Zevanya mengomel sembari melotot pada layar ponselnya. Sesekali jarinya telunjuknya menekan kuat layar ponsel mahal itu. Aldan yang tadinya fokus menyetir akhirnya oleng dari itu dan sekilas melirik ke Zevanya. Seperti biasa, hanya melirik tanpa senyum sama sekali. Ajaib memang! Ting Ponsel Zevanya berbunyi sekali menandakan ada sebuah pesan w******p masuk ke ponsel dan dengan cepat Zevanya segera membuka pesan itu dan terkejut saat tahu itu adalah pesan dari sang kakak. ‘Pulang lebih awal hari ini! Jangan banyak alasan. Hari ini di rumah kita akan kedatangan tamu. Dia rekan kerja suamiku.’ Zevanya menghela napas pelan membuat Aldan lagi-lagi menoleh ke Zevanya. Demi Tuhan, itu pesan paling menjengkelkan yang datang dari kakaknya hari ini. Sungguh Zevanya tidak ingin dijodohkan seperti itu. Ia lebih suka mencari jodoh sendiri meskipun harus melalui aplikasi perjodohan. Lagian, emang dia gak laku sampai harus dicarikan jodoh oleh keluarganya? Halo! Dia itu cantik dan juga seksi. Satu hal lagi, ia adalah primadona semasa SMA dan juga saat kuliah. Mantan pacarnya berjibun bahkan banyak lelaki antri dulu untuk mendapatkan cintanya. Sekarang? Ah, sebenarnya … sekarang pun sama. Ia memiliki mantan hanya saja dari sekian mantannya yang sudah ia buang di tempat terbaik, tidak ada satu pun yang menurutnya layak untuk dijadikan pendamping hidup. Apalagi, sebelum Naina menikah dengan Lay, Zevanya tidak memikirkan soal komitmen untuk serius dan menikah. Namun, sejak sahabatnya menikah, akhirnya ia membuka matanya lebar dan yakin jika menikah adalah jalan menuju kebahagiaan yang lebih sempurna. Nyatanya, sang sahabat bahagia dengan suami berondongnya. Kalau ditanya, apakah Zevanya ingin menikah dengan berondong juga? Jawabannya tentu saja tidak. Kenapa? Karena bagi Zevanya, yang cocok dengannya itu adalah lelaki yang umurnya di atas umur dirinya. Ya, walau ia sempat kagum pada Lay si berondong biji timun. Ting! Kembali pesan masuk dan dari orang yang sama yaitu mama dari Orion. ‘Ingat, ya … pulang cepat! Jangan telat.’ Zevanya menarik napas panjang. “Menyebalkan!” Kemudian menutup ponselnya tanpa membalas pesan dari sang kakak. “Apa gue terlihat seperti bocah remaja yang gak bisa nyari pasangan?” Zevanya masih merasa kesal bukan main pada kakaknya itu. “Dasar keluarga! Semau mereka aja.” Zevanya kembali mengomel sendiri. “Bisa diam?” Zevanya yang tadinya terlalu fokus pada ponselnya kini mengalihkan atensinya kepada Aldan. Demi apa pun yang bernyawa di muka bumi ini, Zevanya ingin sekali menendang adik kecil Aldan yang terletak di antara kaki kanan dan kiri lelaki itu. Bagaimana bisa berbicara sedatar itu sampai membuat bulu kuduk Zevanya merinding seolah iblis terkejam dari neraka datang menghantui. “Ya Tuhan. Demi dewa dewi dan para bidadari, gue gak habis pikir kenapa gue bisa berurusan dengan manusia kulkas seperti lo.” Zevanya menggelengkan kepalanya lalu membuang tatapan keluar melalui jendela. “Lo kira … gue juga mau?” “Serah lo deh. Mumet otak gue berdebat sama lo. Yang ada nih, ya … gue kalah mulu. Dan mungkin sampai lebaran monyet hingga lebaran kuda poni, gua juga bakalan kalah sama lo.” “Lo mengomel, ya?” Sial! Tolong beri kesabaran seorang Zevanya. Ia bisa khilaf dan menghantam Aldan dengan heels miliknya jika lelaki itu terus membuatnya kesal setengah mampus. “Au ah. Mending gue berurusan sama kantor polisi dari pada berurusan sama lo.” Fix, Zevanya tidak mau lanjut berdebat dengan Aldan karena pada akhirnya dia yang akan kesal sendiri lantaran Aldan yang selalu seperti itu tingkahnya. *** Zevanya hanya bisa menghela napas pendek saat sang kakak memberikannya dress berwarna merah hati dengan tali spageti dan ia yakin belahan dress dalam yang sudah pasti akan menampakkan melon miliknya jika ia mengenakannya nanti. “Kenakan itu. Di depan sudah ada Damar.” “Damar?” Zevanya mengernyitkan keningnya. Ia bangun dari tempat tidur dan menuju cermin. Mengusap wajahnya dengan tangannya dan kemudian melirik sang kakak. “Aku baru aja tergelak di tempat tidur, masa iya harus keluar lagi. Capek, Kak.” “Capek apanya? Kamu itu kan hanya jalan-jalan gak jelas di luar sana,” sahut sang kakak. “Gini ya, kakak kasih tahu ke kamu, Damar itu lelaki memiliki bakat luar biasa. Kaya sudah pasti. terlebih lagi adalah dia lajang dan dia menyukaimu.” Zevanya memutar bola matanya kesal. Kenapa semua orang hanya memikirkan kekayaan dan juga ketampanan? Inilah juga alasan kenapa dia malas pulang ke rumah sang kakak dan memilih tinggal sendiri di rumahnya. “Cepetan ganti baju, Zee.” “Kak, kalau aku tahu, Kakak akan memaksa seperti ini, mending aku gak pulang ke sini deh. Mending ke rumahku aja dan aku bisa istirahat sejenak.” Zevanya memasang mimik tidak suka dengan rencana gila sang kakak. “Kamu butuh pekerjaan, kan?” Zevanya diam. Dia memang butuh pekerjaan, tapi dia tidak ingin seperti ini. “Kamu bisa menjadi apa aja di perusahaan Damar nantinya jika kamu bersamanya. Atau kamu bisa bersantai jika sudah menjadi istrinya. Uang akan mengalir ke rekeningmu tanpa harus capek-capek kerja.” Sekali lagi, Zevanya menghela napas. Bisakah ia menolak untuk keluar dan bisakah ia membuat Damar tidak menyukainya? Ting Zevanya menoleh pada ponselnya yang ada di atas nakas dan segera meraihnya cepat saat ia melihat dengan jelas jika bunyi yang terdengar barusan adalah email dari salah satu aplikasi biro jodoh yang ia ikuti dan jelas ia mendaftarkan diri beberapa saat lalu. [‘Selamat! Anda salah satu klien yang berhasil diterima dalam kencan buta yang akan terlaksana dalam dua hari lagi. Kami telah memilihkan pasangan yang cocok dengan Anda sesuai umur Anda dan juga kriteria yang telah Anda sebutkan saat mendaftar.’ Nama : Devandra Reiner Usia : 27 Tahun Pekerjaan : CEO sebuah perusahaan yang bergerak di bidang jasa] Zevanya tersenyum dan kemudian memasukkan ponselnya ke saku celana dan mengambil dress. “Aku akan menemui Damar. Namun, jika kami gak cocok, aku akan berhenti detik itu juga.” Mengganti pakaiannya di depan sang kakak tanpa rasa malu. Hanya anggukan kepala yang bisa diberi sang kakak sebagai respons. Mau bagaimana lagi, Zevanya terlalu sulit dibujuk dan jika terus membujuk bisa-bisa hubungan mereka renggang dan dianggap sebagai kakak yang tidak bertanggung jawab yang terlalu ikut campur dalam urusan kehidupan seseorang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN