5. BERTAMU

1802 Kata
Zevanya melongo saat mobil yang dikendarai Aldan berhenti di sebuah rumah kosong bahkan terkesan terabaikan. Matanya membulat sempurna ketika Aldan keluar dari mobil dan berjalan mendekat pada pintu kayu yang satu-satunya terlihat baru. Dengan hati yang penuh pertanyaan, Zevanya ikut turun dan kemudian menghampiri Aldan. “Ngapain ke sini? Jangan bilang kalau lo mau culik gue!” Aldan hanya merespons dengan ekspresi dinginnya yang kentara. Zevanya mengentakkan kakinya mengikuti langkah Aldan yang terus masuk ke dalam rumah terabaikan itu. Bulu kuduk Zevanya merinding! Untuk pertama kalinya ia penasaran pada hal yang bisa saja membuatnya kehilangan nyawa. “Aldan. Gue serius, ngapain lo bawa gue ke sini?” Aldan menghentikan langkahnya pada anak tangga yang menuju lantai dua. Menoleh pada Zevanya yang berjarak semeter darinya. “Gue gak minta lo ikut gue ke dalam, kan?” Zevanya mengernyitkan keningnya. “Lo emang gak ngomong. Tapi, lo ngajak gue ke sini sama aja lo meminta gue ikut sama lo.” Aldan memejamkan mata. Berurusan dengan Zevanya membuat otaknya buntu dan juga sekaligus mengesalkan. Seharusnya ia tidak menumpang mobil Zevanya agar tidak berakhir dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak ingin ia jawab. Namun, ia tidak punya pilihan lain selain menumpang. Kenapa? Ya, karena mobilnya menabrak pembatas jalan dan itu semua ada sangkut pautnya dengan pemilik klub malam yang tadi ia datangi. “Kalau lo merasa takut, tinggal lo pergi, kan?” Aldan menunjuk pintu yang sudah tertutup. “Pintu di belakang lo.” Zevanya mengeraskan rahangnya sekaligus mengepalkan jari-jarinya. “Elo itu manusia yang gak tahu terima kasih banget, ya. Udah numpang di mobil gue, terus bawa gue ke tempat sepi gini dan sekarang main usir.” “Bawel!” dengkus Aldan. Ia kemudian melangkah menaiki tangga yang membawanya ke lantai dua. “Yak! Gue belum selesai ngomong!” Zevanya ikut melangkah mengikuti Aldan. Ia tidak mungkin pulang begitu saja lantara ia tidak tahu daerah mana dirinya berada sekarang. “Kenapa lo mengikuti gue?” tanya Aldan yang sudah siap membuka pintu di depannya. “Gue takut pulang. Gue gak tahu ini daerah mana. Gimana kalau gue nyasar? Lo mau tanggung jawab?” Krek Aldan membuka pintu di depannya dan segera masuk lalu membiarkan begitu saja menunggu Zevanya ikut masuk ke dalam. Setelah berpikir panjang, akhirnya Zevanya ikut melangkahkan kakinya ke dalam dan betapa terkejut dirinya saat melihat dekor ruangan yang kakinya mendarat sat ini. Sangat bersih, rapi dan juga sangat nyaman meskipun ranjang, ruang tamu dan dapur berada dalam satu ruang tanpa pembatas. Yang lebih mengesankan adalah terdapat banyak layar komputer yang menunjukkan sisi luar kota Jakarta seolah disadap dari CCTV di setiap sudut jalan. Benar-benar peretas sekaligus tukang pukul yang bisa diandalkan. Pantas saja keluarga Herdiandra begitu mengandalkan Aldan dalam segala hal yang berkaitan dengan suruh menyuruh, selidik menyelidiki. Tampan sih, tapi menakutkan! Namun, entah kenapa pipi Zevanya memerah secara tiba-tiba. “Jangan ke sana!” peringat Aldan sembari menunjuk ke ruang kerjanya yang dibatasi oleh dinding kaca tepatnya di mana layar komputer sedang menyala semua. Ada sekitar lima dan semua menampilkan sisi kota Jakarta yang berbeda bahkan juga menampilkan luar dari tempat mereka berada. “Lo tinggal di sini?” tanya Zevanya tanpa memedulikan ancaman Aldan tadi. “Selama ini gue pikir lo tinggal di apartemen mewah nan megah. Tahunya di sini.” “Kenapa?” tanya Aldan balik. Ia membasuh muka di wastafel. “Ini gak layak disebut rumah,” kata Zevanya. Kemudian ia menutup mulutnya saat Aldan melirik padanya dengan tajam. “M-maksud gue, ini terlalu jauh dari kerumunan orang dan juga sangat sulit dijangkau oleh kendaraan umum.” “Siapa yang butuh kendaraan umum?” Zevanya menggaruk kepalanya. Ia lupa jika sedang berurusan dengan lelaki super dingin di dunia. “Gue gak butuh itu. Gue punya mobil, punya motor.” Zevanya memutar bola matanya jengah bersamaan sudut bibirnya yang naik lantaran kesal. Ada saja jawaban yang keluar dari mulut Aldan membuat dirinya ingin sekali menepuk lelaki itu dengan heels yang ia kenakan. Menyebalkan! Zevanya berjalan ke arah ranjang super mewah milik Aldan yang berwarna hitam dengan seprei putih membalut. Menyentuh pelan dan tersenyum saat merasakan kelembutan dari ranjang itu. Dengan pelan meletakan benda kenyal nan montok miliknya di sana lalu tertawa sehingga membuat Aldan yang sibuk di dapur menoleh. “Sorry!” Zevanya menyengir. “Kalau butuh rumah sakit jiwa, gue bisa menghubungi petugasnya.” Dasar iblis berwujud manusia! Tidak bisa melihat orang bahagia sesaat saja. Tidak ada percakapan lagi yang terjadi setelah kalimat itu keluar dari mulut Aldan. Zevanya mengeluarkan ponselnya dan mulai sibuk di dunia sosial media. Jika boleh jujur, sebenarnya perutnya sudah mulai keroncongan lantaran ia tidak sempat sarapan tadi pagi saat keluar mengantar lamaran pekerjaan. Namun, ia tidak berani meminta makan pada Aldan. Bisa-bisa ia akan dipanggang oleh lelaki itu. “Gue pesan online aja kali, ya. Tapi apa iya ada yang tahu alamat ini? Gue aja kagak tahu. Masa ia gue nanya ke Mister Kulkas itu?” Menoleh pada Aldan yang entah sedang apa di dapur itu. Zevanya mengubah posisinya dari duduk menjadi berbaring. “Mending gue rebahan aja,” monolognya lagi. “Setidaknya dengan begitu, perut gue yang lapar bisa teratasi.” Tersenyum miris sembari menatap perutnya yang keroncongan. Dalam hitungan beberapa detik berikutnya, Zevanya tertidur pulas. Di sisi lain, Aldan yang sedang berada di dapur tidak menyadari jika Zevanya tertidur di ranjangnya. Ia terlalu sibuk memasak omelet dan juga memanaskan ayam panggang sisa tadi malam yang tidak habis ia makan. Mungkin terdengar tidak baik lagi karena memanaskan makanan yang di mana gizinya akan berkurang, tapi bagi Aldan tidak baik membuang makanan begitu saja. Selagi masih bisa dikonsumsi kenapa harus masuk ke lubang sampah? Aldan juga mengambil dua mangkuk nasi siap saji dari lemari pendingin lalu memanaskan di microwave. Meskipun dirinya terlihat tidak peduli pada Zevanya, tapi ia tidak mungkin membiarkan anak orang kelaparan di rumahnya apalagi jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Misalkan kehilangan nyawa karena kelaparan! Ah, bisa-bisa ia akan masuk dalam berita televisi yang membuatnya tidak bisa nyenyak tidur. Lupakan saja! Setelah selesai dengan urusan panas memanaskan makanan, Aldan langsung membawa makanan ke meja ruang tamunya. Ia sempat melirik ke ranjang di mana Zevanya berbaring dengan ponsel di tangan. Aldan menggeleng dan rasanya ia ingin sekali marah lantaran perempuan itu tidur di singgasananya. Aldan melangkah mendekat dan menghela napas saat tahu ternyata Zevanya tertidur pulas. Amarahnya yang tadi memuncak kini mereda begitu saja ketika melihat cara tidur Zevanya yang menurutnya sangat imut. Mulut sedikit terbuka dan entah kenapa kedua pipi perempuan itu memerah. Apa terlalu banyak memakai perona pipi? Aldan menggelengkan kepala! Masa bodo! Namun, ia tetap berjongkok di samping Zevanya. Menatap fokus dan seulas senyum tersungging di bibir yang biasanya hanya menampakkan wajah dingin dan beringas. “Sial! Ada apa dengan gue.” Aldan memejamkan mata saat menyadari ketidakwarasan dirinya yang tersenyum hanya karena melihat Zevanya yang tertidur. “Dari pada gue kerasukan setan, gue mending kerja.” Meninggalkan Zevanya yang tertidur dan berjalan menuju ruang kerjanya yang hanya dibatasi dinding kaca. Aldan menjatuhkan tubuhnya di kursi kebesarannya dan mulai mengutak atik laptop yang tersedia di depannya. Entah apa yang sedang ia kerjakan, yang jelas hanya orang yang memiliki IQ tinggi yang paham karena pada dasarnya yang terdapat di layar itu hanya berupa sandi atau kode yang susah dipahami oleh orang awam. *** Sekitar sejam lebih Zevanya tertidur. Seandainya ponselnya tidak berdering, mungkin ia masih enggan untuk bangun. Segera mengintip layar yang menyala dan nama Naina terselip di sana. Panggilan tidak terjawab karena terlalu lama Zevanya menjawab. Ting Lalu selang beberapa detik kemudian pesan dari orang yang menelepon tadi masuk ke ponsel Zevanya. Segera membuka tanpa menunggu aba-aba dari siapa pun. Toh, itu ponselnya dan pesan memang dikirim sahabatnya itu untuk dirinya. ‘Gimana? Apa lo diterima di perusahaan itu?’ Zevanya menghela napas panjang. Ah, ia lupa jika Naina tahu kalau hari ini ia melamar di perusahaan ternama di Jakarta. Sayangnya, terlalu dramatis apa yang ada di sana. Kembali, Zevanya menghela napas. Ia harus jawab apa pada? Mengatakan kebenaran atau sebuah kebohongan agar sahabatnya itu tidak berpikiran yang tidak-tidak lalu bisa saja mengadu pada sang mertua dan masalahnya akan memanjang. Berbohong tidak masalah selagi itu demi kebaikan bersama. ‘Gue gagal sebelum bertarung, Nai. Gue telat! Pas gue datang, lowongannya udah tutup lantaran terlalu banyak yang melamar melebihi apa yang mereka prediksikan.’ Mengirim ke Naina. Kebohongan yang sangat lancar tertulis di pesan itu. Zevanya menggelengkan kepalanya atas apa yang baru saja ia kirim ke Naina. Kenapa bisa otaknya selancar itu berbohong. Apa ia memang memiliki bakat untuk itu? Berbohong itu bakat? Mengerikan! Ting Tidak lama menunggu, balasan kembali muncul dari Naina. ‘Tidak masalah. Mungkin lo punya rezeki di tempat lain. Harus kuat!’ Zevanya mengulum senyum. Naina percaya dengan apa yang barusan ia katakan. Sedikit lega walau ia harus memutar otak untuk langkah selanjutnya di mana ia harus melemparkan lamarannya. HARD GROUP? Patut ia coba! ‘Lo tenang aja. Lo tahu gue, kan? Gue gak akan menyerah semudah itu.’ Setelah membalas pesan itu, Zee menghela napas panjang. Lalu turun dari ranjang, melangkahkan kakinya menuju ruang tamu. Ia melirik kanan kiri dan tidak menemukan Aldan sama sekali. “Ke mana lelaki kulkas itu?” Zevanya kebingungan. Terlalu sepi bahkan yang terdengar hanya detak jarum jam yang terdapat di dinding. “Apa dia ninggalin gue di sini?” Lalu duduk di sofa dengan raut wajah hendak menangis. Bagaimana kalau Aldan membawa kabur mobilnya dan meninggalkan dirinya di tempat asing ini? Astaga! Menakutkan sekali. Namun, matanya menangkap dua mangkuk nasi di atas meja dan dua omelet serta ayam panggang yang diyakin Zee sisa. “Tidak mungkin ia ninggalin gue. Mungkin dia pergi keluar sebentar.” Lalu Zevanya mulai tersenyum setelah berpikir positif. Ia membuka nasi di mangkuk itu dan mulai memakan meskipun sudah dingin. Perutnya semakin lapar ketika terbangun. “Em, tidak buruk!” Itu keluar dari mulut Zevanya saat mencicipi omelet buatan Aldan. “Gue kira dia hanya bisa memukul orang dan memasang aura dingin mengerikan, ternyata busa juga memasak walau hanya omelet.” Terus saja menikmati makanannya hingga tidak menyadari Aldan yang berdiri di belakangnya. Lelaki itu baru saja dari kamar mandi dan diam-diam mendekati Zevanya saat matanya menangkap bayangan Zee yang sedang menikmati makanan yang ada di atas meja. “Nikmat?” Zevanya mengangguk. “Mau nambah lagi?” Zevanya kembali mengangguk. “Bagus!” Zevanya mengernyitkan keningnya lalu menoleh ke belakang dan sejurus kemudian ia menyengir. “Lapar,” cicitnya dengan wajah imut. Aldan berjalan ke sofa dan duduk di samping Zevanya. Meraih nasi di mangkuk yang masih utuh dan membukanya. Lalu memberikan separuh ke mangkuk Zevanya yang sudah mulai tandas. “Jangan ada sisa.” Aldan memperingati dan kemudian mulai menikmati makannya. Zevanya mengangguk. Ternyata di balik wajah dingin dan sifatnya yang mengerikan, ada sisi baik yang terpendam. Kalau begini, Zevanya bisa-bisa akan terpesona lagi dengan lelaki itu. Tidak! Ia tidak boleh jatuh cinta pada tukang pukul itu! Tidak!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN