4. PLEASE, JANGAN BAPER

1509 Kata
Zevanya menyeret langkahnya memasuki sebuah perusahaan yang menurutnya mampu memperkerjakan dirinya yang sudah berpengalaman di berbagai posisi. Meskipun Zevanya tidak yakin apakah di usianya yang sudah menginjak 31 tahun akan diterima atau tidak. Namun, saat ia mencari lowongan pekerjaan itu di internet, tidak ada batas usia yang menjadi syarat Yang tertera di sana. Saat tiba di depan meja resepsionis, Zevanya memamerkan senyum pada dua perempuan yang ia yakin jauh lebih mudah darinya hanya saja terlihat tua lantaran memakai make-up yang terlalu tebal. Layaknya dempulan semen sehingga membuat Zevanya merinding. Itu wajah atau tembok cina? “Selamat pagi, Mbak.” Zevanya menyapa dengan ramah pada dua resepsionis itu. Keduanya menatap Zevanya dengan mimik seolah mengatakan ‘Iri? Bilang, Bos’. Zevanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Lalu kembali memamerkan senyum manisnya walau ia tahu kedua perempuan di depannya tidak menyambut dengan hangat sama sekali. “Saya Zevanya Ayudia. Mau melamar pekerjaan di sini. Saya mendapatkan informasi dari internet.” Menunjukkan berkas lamarannya yang terbalut map cokelat. Salah satu dari keduanya menjawab. “Oh, gitu. Letakkan aja di sini. Ini semua surat lamaran pekerjaan yang datang dari seminggu lalu hingga hari ini.” Menunjuk pada tumpukan map cokelat yang mungkin sudah lebih dari seratus. Zevanya mengerjapkan matanya berkali-kali. Ia tidak salah lihat, kan? Surat lamaran itu tidak langsung diproses malah dibiarkan menumpuk. “Tidak jadi melamar? Letakkan saja.” Si baju ungu menyahut. “Maaf, Mbak. Sudah seminggu surat lamarannya kenapa tidak diproses gitu ya? Maksud saya, dari pada ditumpuk di sini mending di beri ke HRD atau ke atasan langsung deh.” Zevanya jadi ragu untuk melamar pekerjaan di perusahaan itu. Yang baju merah menyahut. “Kalau menumpuk, ya ... tinggal diletakan di tong sampah atuh, Mbak. Gak ribet, kan?” Zevanya menelan salivanya lalu menoleh pada tong sampah yang ada di sudut meja. Benar saja, di sana ada tumpukkan map cokelat. Teronggok dan terabaikan bahkan masih terlihat sangat mulus tanpa ada yang menyentuh mungkin selain pemiliknya. “Jadi, itu ....” Zevanya menggantungkan kalimatnya. “Kalau kalian membuang surat lamaran pelamar lalu buat apa membuka informasi lowongan pekerjaan?” Baju ungu terkekeh. “Bos kami hanya ingin pencitraan. Biar namanya semakin terkenal memenuhi majalah bisnis di mana setiap beberapa bulan membuka lowongan pekerjaan besar-besaran.” Zevanya mendengkus kasar. “Bos kalian gila. Baiknya suruh segera ke rumah sakit untuk periksa otak.” Setelah mengatakan itu, Zevanya langsung meninggalkan kedua resepsionis itu. Lebih baik ia mencari pekerjaan di tempat lain yang lebih menghargai para pelamar bukan sekedar pencitraan semata. “Apa gue perlu melamar di perusahaan mertuanya Naina aja kali, ya?” Zevanya masuk ke dalam mobilnya, meletakkan surat lamaran di kursi sebelahnya. Setelah memakai sabuk pengaman, Zevanya segera meninggalkan area perusahaan yang membuat hatinya kesal bukan main. Sekitar sepuluh menit melewati jalan raya yang tidak terlalu ramai, Zevanya menangkap bayangan lelaki yang ia kenal memasuki sebuah tempat hiburan yang biasanya dibuka di malam hari. Zee menajamkan matanya lalu menghentikan mobilnya di pinggir jalan tepat di depan klub malam itu. “Aldan! Ngapain dia di klub pagi gini? Apa klub itu buka dari pagi?” Zee segera keluar dari mobilnya dan berjalan mendekati klub yang pintunya tertutup rapat. Zevanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Ini klub ditutup rapat pintunya. Lalu, Aldan lewat mana? Lagian dia ngapain dia ke sini?” Zevanya mondar-mandir di depan klub. Sesekali menggigit kuku jarinya dan kemudian menggaruk kepalanya yang masih tidak gatal. Cukup lama Zevanya di situ, hingga ia mendengar suara pintu terbuka dan segera berlari menuju mobilnya. Ia melihat Aldan keluar dengan rambut acak-acakan dan juga pakaian yang berantakan serta terlihat ada darah di sudut bibir lelaki itu. “Ada apa dengannya? Apa yang terjadi di dalam sana?” Zevanya bertanya-tanya. Ia penasaran bukan main. Apa lelaki itu menghajar seseorang di dalam sana? Saat Aldan berjalan ke arah mobil Zevanya, segera Zevanya menunduk. Ia berharap Aldan tidak melihatnya sehingga hanya sekedar lewat saja. Namun, sepertinya perkiraan Zevanya salah besar karena nyatanya Aldan ada di samping mobilnya sekarang. Tok Tok Tok Tiga kali ketukan di kaca jendela mobil. Zevanya menengadah dan menggigit bibirnya saat wajah Aldan tampak di kaca itu. “Astaga! Kenapa dia tahu, sih?” Zevanya salah tingkah. “Gue harus jawab apa kalau dia nanya yang aneh-aneh coba? Masa ia gue bilang kalau gue penasaran apa yang dia lakukan di dalam sana? Mau taruh di mana muka gue ini?” Tok Tok Tok Kembali Aldan mengetuk jendela kaca mobil Zevanya. Terpaksa Zevanya menurunkan kaca mobilnya. “Ada apa, sih?” tanya Zevanya ketus. “Buka pintu!” pinta Aldan. Zevanya melotot. “Buka pintu? Ogah! Emang lo siapa? Main nyuruh-nyuruh aja!” Zevanya keras kepala tidak ingin membuka pintu mobilnya. Bagaimana kalau Aldan menculiknya? Tidak mungkin, sih! Namun, ia harus tetap memiliki pemikiran buruk agar ia bisa hati-hati. “Buka atau gue buka paksa!” ancam Aldan. “Ogah! Coba aja buka kalau lo bisa.” Zevanya tidak mau kalah. Ia malah menantang Aldan untuk itu. Aldan menyeringai. “Lo yakin?” Zevanya mengedikkan bahunya. Aldan mengeluarkan palu kecil dari balik jas yang ia pakai dan juga obeng. “Dua benda ini yang akan bicara.” “Lo mau apa?” tanya Zevanya saat melihat Aldan mulai meletakkan obeng di sela pintu mobil dan palu sudah siap beraksi. “Mau membuka mobil lo secara paksa.” “Gila lo!” pekik Zevanya. “Buka pintunya kalau begitu!” Zevanya menghela napas panjang. “Iya!” Akhirnya dengan berat hati Zevanya membuka pintu mobilnya. Aldan menyeringai. Lalu tanpa basa-basi masuk ke dalam. “Jalan!” “Mau ke mana?” tanya Zevanya heran. “Ke mana aja yang penting pergi dari sini.” Lagi, Zevanya menghela napas panjang. “Ini mobil gue, tapi kenapa gue kayak sopir.” Melirik ke Aldan yang masih memegang obeng dan palu kecil. Zevanya bergidik ngeri. Kenapa lelaki itu terlihat sangat santai padahal dua benda itu bisa menghilangkan nyawa. Atau ... Aldan sudah terbiasa bermain dengan alat itu? Kenapa Aldan mirip psikopat? Ya Tuhan! “Buruan, jalan!” perintah Aldan. “Iya. Dasar bawel!” Segera menyalakan mobil dan meninggalkan area klub yang biasa dibuka di malam hari itu. Zevanya yang tidak paham ke mana tujuan Aldan terpaksa menghentikan mobilnya di depan sebuah klinik. Aldan mengernyitkan keningnya. “Kenapa?” “Kenapa apanya?” Zevanya membeo. “Berhenti di sini?” “Mau memeriksa otak lo. Siapa tahu kegeser pas di sana tadi.” Aldan tidak merespons. “Secara gue bingung mau bawa lo ke mana. Tujuan lo gak lo kasih tahu ke gue. Gak mungkin gue bawa ke rumah gue. Apa kata dunia? Lagian, gue ini perempuan yang punya harga diri tinggi.” Zevanya berucap angkuh. Aldan melirik sekilas. “Meskipun lo berdiri tanpa sehelai benang di depan gue, gue juga gak akan nyentuh lo. Bagian bawah gue gak akan berkedut minta dijamah sama lo. Jadi lo tenang aja.” Kalimat paling terpanjang yang pernah Aldan keluarkan dari mulutnya. Seketika darah Zevanya mendidih. Apa seburuk itulah dirinya? Apakah dirinya tidak menarik sampai Aldan berucap seolah ia hanya barang rongsokan? Astaga, kenapa Zevanya merasa harga dirinya terluka parah? Ah, tunggu! Ia marah karena apa sebenarnya? Karena Aldan tidak tertarik padanya meskipun ia tanpa sehelai benang pun atau karena hal lain? Menyebalkan! “Udah sana! Mending lo naik taksi aja. Lagian, mobil lo mana, sih? Sampai harus numpang di mobil gue?” Aldan keluar dari mobil Zevanya. Senyum puas perempuan itu terukir karena berhasil mengusir Aldan. Namun, sedetik kemudian ia menggertakkan giginya lantaran Aldan membuka pintu di bagian kemudi lalu melepas sabuk pengaman dari tubuh Zevanya dan mendorong perempuan itu bergeser ke kursi penumpang. Posisi saat ini adalah Aldan yang mengemudi. “Apa-apaan ini! Ini mobil gue!” “Yang bilang mobil curian siapa?” “Ya, Mister Kulkas sialan!” maki Zevanya. “Pakai sabuk pengaman.” Aldan menyuruh Zevanya untuk segera memasang sabuk pengaman. Dengan terpaksa Zevanya menurut. Ia masih sayang nyawa dan sayang dengan uangnya. Ia tidak ingin ditilang polisi hanya karena melanggar aturan berkendara. Setelah itu, mobil yang dikemudikan Aldan membelah jalan raya. Zevanya menurunkan kaca jendela membiarkan angin pagi yang sepoi menerpa wajahnya. “Mobil lo ke mana?” Pertanyaan yang sama ia keluarkan lagi lantaran Aldan belum menjawab tadi. “Nabrak pembatas jalan!” “Ha?” Zevanya menggelengkan kepala. Menabrak pembatas jalan? Itu lelucon atau kenyataan? Jika lelucon, itu tidak lucu. Lalu, jika itu kenyataan, kenapa Aldan terlihat baik-baik saja? “Gue gak semudah itu terluka.” Zevanya menoleh pada Aldan. “Kekhawatiran lo gak mendasar.” Aldan kembali berucap. Zevanya melotot. Apa katanya? Khawatir? Meresahkan! “Woi! Jangan baper. Gue gak khawatir sama sekali. Gue hanya penasaran!” “Baper? Hanya orang bego yang suka baper pada hal-hal yang tidak bermanfaat sama sekali.” Zevanya mengepalkan tangannya. Bolehkah ia menyumpal mulut Aldan dengan heels yang ia kenakan saat ini? Emosi! “Serah lo deh.” Membuang tatapan kembali ke luar melalui kaca jendela. Percuma berbicara pada Aldan, yang ada ia akan emosi sendiri. Lelaki itu tidak bisa diajak kompromi dalam hal mengobrol atau apa pun itu. Mister Kulkas akan selamanya dingin!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN