Tangis keluarga Ibram masih terdengar jelas di telinga. Tidak ada henti-hentinya sang ibu menyesali diri karena terlalu percaya pada kebohongan yang diciptakan oleh seseorang sehingga putranya sengaja dibuat lumpuh. Ia sangat berterima kasih kepada Aldan yang datang jauh-jauh dari Indonesia untuk menjelaskan kebenaran sehingga putranya yang lumpuh akibat dipaksakan mulai membaik bahkan bisa menggerakan tangannya untuk menulis surat kepada Aldan. Perempuan itu pikir, putranya akan semakin membaik, tapi ia tidak menyangka jika satu hari itu digunakan untuk berpamitan semata lalu kemudian kritis dan setelah itu mengembuskan napas setelah mengucapkan nama Aldan. Sang ibu bahkan tidak percaya, putranya menyebut nama Aldan sepanjang dia kritis bukan nama sang ibu atau memanggil sang ayah. Keba

