KLG 12 - (SADAM CEMBURU, DAN AYUNA YANG SALAH TINGKAH)

1390 Kata
"Lo masih naksir cowok tadi?" tanya Sadam kepo. Mereka masih bersandar di mobil, Ayuna tak berminat masuk lagi kedalam gedung, tak peduli sedang melakukan apa teman-temannya di dalam. Ia masih ingin diluar, ingin mengajak Sadam masuk lagi, tapi dia malu karena tadi dia lah yang menyuruh Sadam pergi. Dasar perempuan, maunya menang sendiri, dan yang pasti.... Labil. "Kepo lo Bang" ucap Ayuna. "Enggak kepo sih, tapi kalau lo emang beneran masih naksir dia, gue orang pertama yang enggak dukung perasaan lo itu" ucap Sadam. "Namanya juga perasaan, siapa yang bisa maksa Bang" ucap Ayuna. "Terus, lo masih naksir dia? Serius lo Ay?" tanya Sadam lagi. "Ayuna Bang, Ayuna. Jangan panggil dengan sebutan itu lagi, please!" ucap Ayuna. "No, selamanya gue akan tetap manggil lo dengan kata Ay, gak akan keganti sama yang lain" ucap Sadam. "Apa kata lo deh Bang". ~ "Salah gak sih gue masih berharap sama cowok tadi?" tanya Ayuna buka suara setelah mereka selama beberapa menit bungkam tanpa suara. "Ya salah lah, masih banyak cowok lain" ucap Sadam. "Gue bingung Bang, padahal dulu dia salah satu orang yang ngebully gue pas sekolah, bahkan bikin malu gue" ucap Ayuna, "Tapi kenapa perasaan ini tetap buat dia yah?". "Menurut gue sih lo bukannya masih ada perasaan, lo terobsesi buat dapetin dia. Menurut gue sih, karena dulu kan lo enggak sama-sama dia" ucap Sadam. "Ya kali gue gila gitu? Anjir lo Bang!!!" ucap Ayuna. "Gue gak bilang lo gila Ay, jangan negatif melulu deh sama gue" ucap Sadam terkekeh. "Dia udah punya pacar" ucap Ayuna. "Itu tandanya Tuhan ngasih tahu lo diwaktu yang bagus, jadi lo gak perlu berharap sama laki-laki kayak dia" ucap Sadam. "Gue malah kepikiran jahat Bang. Gue pengen kurus buat rebut Arka dari ceweknya, terus habis itu gue tinggal lagi si Arka". "Jangan berpikiran yang jelek-jelek, gak baik yah Ay" ucap Sadam "Lo udah turun beberapa kilo, belum kelihatan banget, tapi malam ini.... Lo cantik". Ayuna tersipu mendengar pujian Sadam, baru kali ini lelaki itu memujinya cantik. Dan itu terdengar.... Lucu. "Thanks" ucap Ayuna, "Tumben lo muji gue Bang? Biasanya enggak". "Mau gue puji setiap hari Ay? Gue gak keberatan" ucap Sadam tersenyum. "Enggak, bukan gitu maksud gue, enggak biasanya lo gini" ucap Ayuna. "Gue mau puji lo dari kemarin-kemarin takut lo gak suka" ucap Sadam. "Suka, kalau Arka yang ngomong" canda Ayuna terkekeh. Raut wajah Sadam berubah, Ayuna bisa melihatnya, apa Sadam sedang cemburu? Dengan Arka? Jadi, firasat Ayuna selama ini benar kah? Kalau Sadam memang ada hati dengannya?. Rasanya Ayuna ingin sekali memutar waktu untuk tidak mengizinkan Sadam repot-repot direcokin ya dengan minta snack, dan yang lainnya yang membuat Sadam mungkin berpikiran Ayuna naksir Sadam dengan cara mencuri perhatian Sadam. Padahal Ayuna tak berpikiran sampai sana. Aneh sekali rasanya. "Lo cemburu Bang?" tanya Ayuna. Sadam berdehem lalu salah tingkah, tanpa menjawab pertanyaan Ayuna Sadam memilih melangkah menuju pintu gedung kembali. "Lah masuk ke sana lagi Bang?" tanya Ayuna sedikit kencang karena jarak mereka sudah agak berjauhan. "Iya, cari minum, seret!" tanpa berbalik Sadam kembali melangkah dan tanpa repot-repot menunggu Ayuna menghampirinya. "Seret apa seret Bang?" goda Ayuna yang segera menyusul langkah Sadam. Ayuna berjalan mundur dihadapan Sadam, berusaha menggodanya, Sadam hanya berusaha menahan tawanya agar tak terlihat oleh Ayuna. Jujur, dirinya malu, tak ingin Ayuna mengganggunya dengan menyebut kata 'cemburu' Sadam tidak ingin Ayuna tahu sekarang, karena ia tak ingin dirinya dan Ayuna canggung. Lebih baik begini saja dahulu, nanti ketika waktunya tiba, ia bisa saja menjadi agresif dan banyak kode cinta untuk Ayuna. Untuk sekarang, lebih baik begini. Tak disangka Ayuna tersandung tangga yang membuatnya terjungkal, dan Sadam refleks hendak menolong namun mereka malah jatuh berdua dilantai, posisinya pun tidak enak dilihat, Ayuna dibawah Sadam. Jantung Sadam sudah dag dig dug, sementara Ayuna menahan tawa, ia hanya bisa memejamkan matanya dan menahan napasnya, terlalu malu untuk menatap wajah Sadam. Dengan refleks, Sadam mencium dahi Ayuna. Cup!. Mata Ayuna terbuka dan tatapannya pun saling mengunci dengan Sadam. Mata Sadam coklat dan itu.... Sangat indah dimata Ayuna. Bulu mata lelaki itu pun lentik melebihi Ayuna ketika menggunakan mascaara. Sadam terlalu sempurna untuk menjadi pacar Ayuna. Ayuna merasa minder jika harus ke-pede-an untuk menerka perasaan Sadam, mungkin terlalu berlebihan jika ia menebak perasaan Sadam sebenarnya. Tidak, tidak mungkin Sadam menyukai bahkan mungkin mencintai Ayuna. Tidak mungkin! Lelaki seperti Sadam lebih pantas bersanding dengan wanita cantik, langsing, dan glowing diluaran sana, bukan Ayuna si gendut dan suka ngerepotin Sadam. "Jangan marah, maaf gue gak bermaksud m***m sama lo" ucap Sadam yang ternyata sudah berdiri dan mengulurkan tangannya untuk Ayuna, membantu Ayuna. "It's ok Bang, gue gapapa" ucap Ayuna menyambut uluran tangan Sadam, Ayuna pun segera bangkit. "Jangan pacaran sama cowok dulu yah Na" ucap Sadam. "Kenapa?" tanya Ayuna oon. "Nanti gue seret, eh maksudnya, gue dulu yang pacaran. Baru lo sama Dea!" hampir mati Sadam mengucapkan perasaannya. Ayuna tertawa. "Ya kali gue sama Dea duluan nge langkahin lo Bang? Gue mau jadi bridesmaid lo sama Dea, biar gue sama dia sama-sama traveling dulu, baru Dea, terus gue deh habis itu yang nikah!" ucap Dea. "Wedding dream kayak gimana Ay?" tanya Sadam kepo. "Kepo ah, nanti lo ngikut-ngikut gue lagi" ucap Ayuna sewot. "Enggak, kalau lo punya wedding dream, biar gue yang wujud-in sedemikian rupa, sesuai keinginan lo" ucap Sadam. "Ya kali lo yang biayain resepsi gue" ucap Ayuna. "Ya enggak lah, kan gue yang nikahin lo!" ucap Sadam. "Ogah!" ucap Ayuna mendorong pelan tubuh Sadam dan meninggalkan lelaki itu ditempatnya. "Gue becanda Ay, jangan marah dong!" ucap Sadam segera menyusul Ayuna. "Kalau gue nikah sama lo, tiap hari lo gue repotin, dan yang pasti wedding dream gue gue tambah-tambahin biar duit lo abis!" ucap Ayuna hilang dari balik pintu gedung, ia sudah masuk ke dalam acara reuni. "Demi nikah sama lo, bangkrut pun gue rela Ay" ucap Sadam pelan, tak akan terdengar oleh Ayuna, "Demi lo dan wedding dream kita". Sadam tersenyum lalu masuk ke dalam acara lagi, dilihatnya Ayuna sudah bersama Dea, saling berpelukan, Sadam yakin tadi Dea menasihati Ayuna. Makanya mereka sedang maaf-maafan. Ya, itulah fungsinya sahabat, ada yang melakukan kesalahan, ditegur baik-baik dan dirangkul. Bukan malah meninggalkan sahabat hanya karena satu kesalahan yang dia perbuat. Sadam segera menghampiri Ayuna, Dea, dan Valdo. "Lama banget kalian, dari mana sih Bang? Mesra-mesraan kah?" tanya Dea terkekeh. "Mentang-mentang yang punya cowok bisa mesra-mesraan. Ya kali gue mesra-mesraan sama Abang lo" ucap Ayuna melirik ke arah Sadam. "Maunya sih mesra-mesraan, cuma belum waktunya" canda Sadam. "Sikaaat Bang!!!" canda Valdo. "Gila kalian!" ucap Ayuna berlalu dari sana, membuat Dea, Valdo, dan Sadam tertawa pelan melihat tingkah Ayuna. "Kakak Ipar gue sensi bangetttt" celetuk Dea. "Aamiin. Calon Kakak Ipar aku juga nih" goda Valdo. "Aamiin.... Do'ain biar cepat bersertifikat halal" ucap Sadam. "Kayak makanan aje" ucap Dea. ~ Jam setengah dua belas malam lewat beberapa menit, acara baru selesai. Ayuna sebenarnya sudah ngantuk sejak tadi, cuman ia tahan karena malu jika pulang duluan dari yang lain. Setelah acara benar-benar selesai dan ada sesi foto bersama yang terakhir, barulah Ayuna bisa pulang bersama Sadam. "Tidur di rumah gue aja, takut ganggu Bibi kalau lo balik ke rumah lo" ucap Sadam. Ayuna yang sudah memejamkan mata dan bersandar di kursinya, dan kepalanya ia tempelkan dikaca pintu mobil tak menjawab ucapan Sadam. Hanya gumaman 'hmmm' yang keluar dari mulut wanita yang Sadam cintai ini. Sadam tersenyum lalu segera tancap gas menuju rumahnya. Sesampai di garasi rumah, Ayuna tak kunjung bangun juga, Sadam belum menemukan Dea pulang, karena pagar baru terbuka ketika Sadam datang. Sadam segera mengetikkan pesan untuk Dea memberi nasihat jika jangan pulang larut malam, kasian orang rumah, dan mengatakan membawa Ayuna ke rumah mereka dan Ayuna akan tidur bersama Dea. Setelah memasukkan hapenya ke tasnya, Sadam mencoba membangunkan Ayuna, tapi wanitanya tak kunjung bangun juga. Ingin menggendong tubuhnya, takut dikira lancang dan gak sopan. Jadi Sadam biarkan Ayuna tidur dan ia membenarkan posisi kepala Ayuna bersandar ke kursi mobil, kepala Ayuna tergoyang dan pas diposisi berhadapan dengan wajah Sadam. Dekat, sekitar 10 cm lagi maka wajah mereka berbenturan. Dipandangi Sadam wajah teduh dan tenang Ayuna ketika tidur. Tersenyum, ia usap wajah Ayuna yang cantik sekali dimatanya. "I love you" ucap Sadam pelan nyaris tak terdengar. Sadam melepas kemeja lengan panjangnya dengan ia masih mengenakan kaos polos lengan pendek, kemejanya ia letakkan ditubuh Ayuna. Setidaknya ini menghangatkan Ayuna yang masih asyik tertidur. Sadam pun bersandar di kursinya, ikut larut dalam mimpi. ~BERSAMBUNG~
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN