Ayuna memicingkan matanya ketika menyadari tubuhnya sedikit sakit ketika bergerak. Ayuna masih di dalam mobil. Ditengok nya kesamping Sadam masih terlelap sangat damai.
Dengan hati-hati ia menggoyang pelan lengan kiri Sadam berharap lelaki ini bangun sesegera mungkin.
Ayuna juga segera melihat layar ponselnya, pukul 2 dini hari. Sudah beberapa jam merek berdua tertidur disini, dan ini semua pasti karena Ayuna penyebabnya.
Sadam menggeliat, dan akhirnya membuka matanya.
"Udah lama bangunnya?" tanya Sadam.
"Baru aja Bang, maaf yah.... Gara-gara gue lo tidur disini" ucap Ayuna.
"Gapapa, yasudah lo masuk duluan gih" ucap Sadam.
Mengangguk, Ayuna segera berjalan dan membuka pintu utama rumah. Tidak dikunci, segera Ayuna masuk, disusul Sadam.
Ruang tamu sudah gelap lampunya, hanya lampu kecil yang sengaja dinyalakan, karena keluarga Sadam terbiasa untuk tidak mubadzir, jadi lampu penerangan yang terang hanya di teras rumah, dapur, dan kamar mandi. Sisanya jika malam ruangannya gelap hanya lampu kecil warna kuning saja yang menyala.
Ketika pintu utama ditutup oleh Sadam, lampu utama ruang tamu menyala terang, membuat Ayuna memicingkan matanya berusaha terbiasa dengan cahaya yang cukup menyilaukan matanya.
Ternyata Tante Dewi yang bersedekah d**a memandang mereka penasaran.
"Kok baru pulang?" tanya Tante Dewi, "Jam berapa ini Bang Sadam? Habis ngapain kamu bawa anak gadis malam-malam begini hah?".
"Kita tadi tidur Ma, tidur doang" ucap Sadam gelagapan, bukan karena dia salah, tapi ucapannya yang ambigu "Tidur di mobil. Itu, Ay ketiduran di mobil maksudnya".
"Tidur di mobil? Mobil kamu maksudnya? Kenapa mesti tidur disana? Kenapa enggak gendong Bilqis langsung ke kamar Adek?" tanya Tante Dewi.
"Gak enak Ma, gak sopan jadi sambil nunggu Ay bangun, Sadam tidur juga. Kita enggak ngapa-ngapain Ma, sumpah" ucap Sadam.
"Bukan salah Bang Sadam Tan, ini salahnya Bilqis, karena kecapek-an Bilqis ketiduran. Bang Sadam, kita berdua enggak ngelakuin yang aneh-aneh Tante. Sumpah demi apapun"
"Ok Mama minta maaf sudah berpikiran yang enggak-enggak soal kalian. Sekarang, kalian kembali ke kamar masing-masing. Istirahat" ucap Tante Dewi.
"Ok Tante, maaf yah Tante. Bilqis enggak bermaksud bikin Tante khawatir, dan bikin Tante begadang begini" ucap Ayuna merasa bersalah.
"Tante enggak begadang, bangun dan turun buat ambil air minum, soalnya minum di kamar habis. Jadi Bilqis, gak usah berpikiran yang macam-macam Tante maklum dan mengerti" ucap Tante Dewi.
"Terimakasih Tante, kalau gitu Bilqis ke kamar Dea yah. Good night Tante" ucap Ayuna bergegas berlalu dari sana.
"Bang, jangan sampai berpikiran yang aneh-aneh sebelum halal sama Bilqis yah. Mama enggak ridho kalian aneh-aneh sebelum nikah" ucap Tante Dewi kembali menuju dapur, diiringi Sadam yang membuntuti nya dari belakang.
"Sadam bukan cowok gak waras Ma, Sadam masih punya akal. Dan enggak akan mungkin ngerusak sebelum lamar Ay" ucap Sadam.
"Siapa yang bilang Abang enggak waras? Kamu sendiri yang bilang Mama mah enggak bilang gitu" ucap Tante Dewi terkekeh, "Pokoknya Mas, Mama enggak mau kamu lama yah dalam bergerak. Kalau enggak Mama sama Papa yang turun tangan. Kamu enggak takut Bilqis diambil orang?".
"Enggak segampang itu Ma, Sadam perlu waktu. Emang bisa gitu cinta tumbuh setelah Sadam bilang cinta ke dia duluan? Enggak Ma. Yang ada malah Ay ilfeel dan ngejauh dari Sadam. Dari keluarga kita, emang Mama mau Ay gak kesini lagi?".
"Ya enggak lah, Mama udah terbiasa dengan 2 anak perempuan, dan 1 anak lelaki. Ya kalian bertiga" ucap Tante Dewi.
"Makanya Mama percaya sama Sadam" ucap Sadam lalu berlalu ketika ia selesai mengecup pipi Syurga-nya itu.
~
"Lo kemarin dimana Na? Subuh baru balik lo?" tanya Dea ketika mereka berlima sedang ada di ruang makan. Om Har, Tante Dewi, Sadam, Ayuna, dan Dea.
"Nanti aja bahasnya, makan dulu yang anteng" ucap Tante Dewi.
"Iya Mama yang cantik" ucap Dea segera melanjutkan makannya.
"Tadi malam gue sama Ay ketiduran di dalam mobil" ucap Sadam.
Membuat Om Har tersedak dan segera meminum air putih yang disodorkan oleh Tante Dewi.
"Hah? Di mobil? Kok bisa sih kalian?" tanya Dea kaget, "Kenapa gak masuk pintu rumah enggak dikunci ya ampunnnn".
"Bukan karena masalah pintunya dikunci Bambang" ucap Ayuna buka suara "Gue ketiduran, dan Bang Sadam baik ngehargain gue sebagai wanita dia tunggu sampai bangun sendiri, dan dia ternyata tidur disebelah gue. Jangan pikir kita ngelakuin yang aneh-aneh".
"Ya gue kira lo berdua ngapa-ngapain sih" celetuk Dea bercanda.
"Ngomongnya kok gitu sih Dek?" tanya Tante Dewi, "Nggak boleh, pamali".
"Hehehe, becanda Ma. Becandaaa" ucap Dea mengacungkan jari telunjuk dan tengah membentuk huruf V untuk peace.
"Papa percaya sih Bang Sadam enggak akan ngapa-ngapain Bilqis, sampai mereka berdua ha.... Aduh Ma, sakiiiiit" ucap Om Har yang kesakitan kakinya diinjak oleh Tante Dewi.
"Sampai mereka berdua harusnya masuk langsung ke rumah dan tidur di kamar masing-masing, itu maksud Om Har Bilqis...." cengir Tante Dewi, "Buktinya kalian tidur di kamar masing-masing kan? Itu lah maksud Om Har".
"Oh gitu Tan.... Ini Om kenapa? Apa yang sakit Om?" tanya Ayuna khawatir.
"Kaki Om kram Bil, kram" ucap Om Har.
"Hah? Kram? Kalau gitu kita ke kamar duluan aja Pa, biar Mama pijitin" ucap Tante Dewi, "Ayo Pa".
Mau tak mau Om Har mengikuti langkah Istrinya.
"Jangan bicara soal hubungan Bang Sadam dan Bilqis Pa, biar Bang Sadam saja yang urus semuanya. Kalau nanti Abang enggak bertindak ketika Bilqis diambil orang, Mama yang akan bertindak. Papa jangan sampai keceplosan atuh Pa!!!" ucap Tante Dewi memperingati suaminya ini.
"Kelamaan Ma, Papa udah kepengen banget gendong Cucu" ucap Om Har.
"Tunggu waktunya tiba Pa, kita bakal gendong Cucu kita yang lucu-lucu, ganteng, dan cantik terus membanggakan keluarga kita" ucap Tante Dewi.
"Aamiin.... " ucap Om Har meng-aminkan do'a Istrinya.
"Jangan keceplosan lagi yah Pa, awas loh Pa".
"Iya sayang maaf, aku gak akan ceroboh lagi. Maaf yah sayang?" ucap Om Har segera menarik tubuh istrinya hingga duduk di pangkuannya.
"Ya sudah, kalau gitu Mama tinggal ya, Papa kan mau berangkat ke Kantor?".
"Nanti dulu Ma, kita bikin Adek buat Dea sama Sadam sebentar. Biar nanti Tante kecil Cucu kita enggak jauh umurnya sama Cucu sendiri" canda Om Har.
"Aduh Pa, kita udah bau tanah. Enggak usah mikir nambah anak, cukup fokus nabung buat amal ke Syurga. Udah sana siap-siap, aku mau cuci piring!" ucap Tante Dewi segera berdiri dan meninggalkan suaminya itu sendirian dengan bibir yang maju sekitar lima centimeter.
"Maaf Joni, kita harus puasa dulu pagi ini, nanti malam kita coba bujuk lagi" ucap Om Har mendengar kelakarnya membuat dirinya sendiri tertawa, dasar humor Bapak-bapak, garing sekali.
Sudah bau tanah memang harus ingat dengan waktu kita yang mungkin akan makin sedikit, waktunya berpisah dengan dunia. Jadi, akan lebih baik memang dengan memperbanyak amal sholeh dan sholehah nya. Biar gampang masuk Syurga, hidup di dunia hanya sementara, sementara di akhirat akan selamanya kekal abadi.
~BERSAMBUNG~