Seperti biasa, Ayuna dan Sadam ngegym setiap hari senin, rabu, dan jum'at. Ini sudah 1 bulan rutin mereka lakukan olahraga tanpa menimbang berat badan Ayuna.
Dan di hari ini, Sadam mengizinkan Ayuna untuk melihat timbangan berat badannya.
Bisa dilihat secara signifikan sih, selama satu bulan Ayuna juga tidak memakan makanan junkfood, ataupun yang menjadi penyebab gemuknya dulu.
Sudah tidak ada camilan lagi baik di lemari Sadam, maupun lemari Ayuna. Yang ada hanya camilan buah dikulkas, yang selalu Sadam berikan sticker nama 'Ay' di kotak buah tersebut.
Bi Sumi selalu menjadi orang kepercayaan dirumah Sadam untuk memberikan kotak berisi buah potong yang memang sudah Sadam sediakan khusus dengan cinta untuk Ayuna.
Buah itu jadi teman camilan disaat Ayuna sedang menulis cerita. Dan Ayuna dalam bulan-bulan ini bahagia sekali. Karena ceritanya mendapatkan sponsor dari perusahaan Drimi tempat Ayuna menulis.
Semua aplikasi berbau banyak jangkauan orang-orang terpampang foto cover cerita Ayuna yang on going. Ayuna sangat bangga sekali dengan pencapaiannya di bulan ini. Meski tertatih-tatih dia diet untuk menahan nafsu makannya, ia malah mendapatkan dua bonus.
Yang pertama ceritanya ramai dikunjungi orang, sudah berbayar jalurnya, mendapatkan tawaran cetak resmi dari Drimi untuk di pasarkan kembali ke khalayak ramai.
Dan yang kedua Ayuna setelah menimbang berat badannya dengan mengusir Sadam terlebih dahulu untuk tidak mengintip berat badannya hari ini berapa.
69 kilogram. Ayuna turun enam kilo dalam satu bulan ini. Ayuna berjingkrak kegirangan, dan semua tingkah Ayuna itu tak luput dari pandangan Sadam yang sedang duduk santai di depan meja receptionist gym. Disana juga ada perempuan yang sebulan lalu membantu Ayuna dan Sadam jadi member disini.
Salsa namanya, Ayuna serta Sadam sudah akrab dengan Salsa. Gadis berusia 21 tahun, yang 2 tahun dibawah Ayuna. Jadi lah mereka akrab. Karena setiap menuju ke tempat gym Ayuna sengaja membeli makanan contohnya martabak ataupun martabak manis, ia berikan itu kepada Salsa untuk diberikan lagi kepada yang lain jika ingin. Setiap mereka ke sana Ayuna tak pernah absen tanpa buah tangan.
Karena ia tak bisa memakan makanan itu, jadilah ia memuaskan keinginannya dengan membeli dan memberikannya kepada temannya.
Ya, Salsa sudah akrab dengan Ayuna, bahkan saling bertukar nomer w******p.
"Bang Sadam, itu Mba Nana kenapa?" tanya Salsa setelah melihat Ayuna jingkrak-jingkrak.
"Habis timbang berat badan Sa, mungkin udah turun banyak" ucap Sadam tersenyum memandangi Ayuna yang sekarang kembali melakukan aktifitas gym-nya lagi.
"Tapi emang sih, udah cukup nampak perubahan Mba Nana. Eh iya Bang, Mba Nana penulis di Drimi yah?" tanya Salsa setelah melihat cerita Ayuna dipromosikan, lengkap dengan foto Ayuna di slide terakhir aplikasi Insta di akun resmi Drimi.
"Iya Sa, udah lama dia nulis. Udah cetak banyak buku, gue salah satu fansnya" ucap Sadam, "Tapi fans diam-diam. Dia enggak tahu soal ini".
"Loh, kenapa harus diam-diam Bang? Kan Abang pacarnya Mba Nana?" tanya Salsa polos.
"Gak mau dia tahu aja Sa.... Biasalah, gue mencintai dia diam-diam gak perlu orang-orang tahu" ucap Sadam lagi.
"Enak yah, punya pacar kayak Bang Sadam dan sebaliknya juga. Kalian emang pasangan positif vibes banget buat aku yang masih muda. Kayak jadi, contoh banget buat aku kalau nanti punya cowok" ucap Salsa tersenyum tulus.
"Cari pacar yang kayak gue Sa, tapi jangan gue. Selamanya cinta gue cuma buat tuh cewek. Bucin banget gue sama dia" Sadam terkekeh memandangi Ayuna kembali.
"Iyalah Bang, masa iya jadi pelakor. Lawannya Mba Nana lagi, udah pinter, baik hati, dan enggak sombong. Bagai langit dan bumi kalau Mba Nana sama Salsa mah" ucap Salsa tertawa.
Ayuna menghampiri Sadam yang sejak tadi terlihat asyik dengan Salsa.
"Ayo lanjut lagi, masa iya duduk lihatin gue doang!!! Katanya mau temenin sampai jadi cantik langsing?" Ayuna sudah tersenyum ramah pada Salsa.
"Iya Ay, yuk kita lanjut lagi. Emang lo gak capek?" tanya Sadam.
"Enggak. Eh lo tahu? Gue turun enam kilo" ucap Ayuna kegirangan.
Sadam tersenyum mengusap lembut rambut halus Ayuna. Rambut yang dicepol tinggi, lalu poni yang tetap on, membuat pipi chubby Ayuna yang sekarang lumayan tirus semakin membuat Sadam ingin mencubit nya.
"Awal yang baik, jangan cuma stuck disini, kalau bisa bulan depan turunnya sepuluh kilo" canda Sadam.
"Oke aja kok!" ucap Ayuna menerima tantangan Sadam.
"Mba Nana udah banyak perubahannya itu. Udah berkurang chubby nya, dan badannya juga kebentuk sekarang. Semangat Mba Nana! Salsa fansnya Mba Nana di Drimi" ucap Salsa menggebu-gebu.
"Hah? Kamu tahu Drimi, terimakasih ya Sa do'a nya. Do'ain lagi biar makin bagus karyanya dan membanggakan Indonesia" ucap Ayuna tersenyum, "Oh iya, yang on going yang lagi kamu baca Sa?".
"Iya Mba, dan itu bagus banget! Salsa sampai mengkhayal-khayal jadi Zefanya" ucap Salsa menyebutkan nama tokoh cerita Ayuna.
"Aku juga berkhayal jadi Zefanya. Itu ceritanya bakal di pasarkan Sa. Kamu nanti aku kasih yah, kalau udah cetak. Khusus!" ucap Ayuna.
"Hah? Seriusan Mba? Alhamdulillah, terimakasih Mba, dari fans membawa rezeki. Makasih banyak yah Mba Nana, udah baik banget sama aku!!!" ucap Salsa terharu.
"Sama-sama nanti yah, aku gak sabar mau bagi-bagi buat fans" canda Ayuna.
"Gue dapet gak Ay?" tanya Sadam.
"Enggak lah, emang Bang Sadam baca cerita Ayuna?" tanya Ayuna meledek Sadam.
"Baca lah, Bang Sadam juga punya...." ucapan Salsa dipotong Sadam.
"Punya aplikasi Drimi juga Ay! Gue baca kok cerita lo" ucap Sadam.
"Oke, kalau gitu Abang juga dapet yah, khusus! Terimakasih sudah baca cerita Ayuna yah Bang" ucap Ayuna tersenyum yang membuat Sadam makin sport jantung.
"Nanti kasih tanda tangan, sama kasih bentuk love yah khusus buat gue?" canda Sadam.
"Gatel lo!" ucap Ayuna meninggalkan Sadam yang terkekeh.
~
"Selamat yah Bilqis, sudah launching buku cetak aja nih besok" ucap Tante Dewi mengusap bahu Ayuna.
Ayuna tersenyum, sudah beberapa bulan ini Ayuna lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah Dea, dari pada di rumahnya sendiri. Bahkan besok acara launching buku dan jumpa fans di Gramedia saja, ia memilih menginap disini.
"Terimakasih Tante, do'ain Bilqis yah lancar besok buat acaranya. Dan Bilqis makin semangat buat berkarya lagi" ucap Ayuna.
"Aamiin, semangat yah sayang, kamu pasti berhasil" ucap Tante Dewi.
Ayuna memandangi Tante Dewi dengan mata yang berkaca-kaca, dia merasa.... Akan sangat beruntung jika menjadi anak Om Har dan Tante Dewi. Orangnya baik, perhatian, dan enggak neko-neko untuk urusan pribadi anak.
Ya, andai saja Tante Dewi adalah Mamanya Ayuna, pasti Ayuna sangat bahagia sekarang. Gambaran sosok keluarga Dea adalah impian Ayuna. Besok keluarga Dea akan mengantar Ayuna dan ikut launching buku Ayuna yang akan resmi dipasarkan besok.
"Bilqis nangis?" tanya Tante Dewi yang melihat perubahan wajah Ayuna kaget.
"Terharu aja Tante. Pengen banget punya keluarga kaya keluarga Dea, yang hangat, perhatian satu sama lain" ucap Ayuna.
"Kamu sudah Tante anggap Anak Tante juga. Tapi kalau kamu mau yang resmi jadi menantu Tante beneran aja Bil" ucap Tante.
"Menantu? Maksudnya Bilqis nikah? Nikah sama.... Bang Sadam?" tanya Ayuna sedikit kencang ketika menyebut nama Sadam.
"Iya, jadi menantu Tante mau? Tante pengen banget sebenarnya kamu yang jadi menantu Tante" ucap Tante Dewi.
"Hah, oh, emm...." Ayuna tak bisa lagi menjawab ucapan Tante Dewi.
Shock sekali mendengar Tante ingin sekali menjadikannya menantu. Kalau dia menikah dengan Sadam.... Emang dia bisa bikin Sadam nyaman dengannya? Bawaannya saja kadang ingin marah-marah kalau Bang Sadam sudah usil sekali dengannya.
Rasanya sangat tidak mungkin jika Ayuna bersama Sadam. Mereka terlalu bar-bar untuk bersatu, Ayuna sih yang pasti lebih bar-bar. Sadam cuma bisa manggut-manggut karena Ayuna yang pasti sering suruh-suruh Sadam melakukan hal-hal aneh.
"Bilqis enggak akan masuk kriteria Bang Sadam buat jadi Pacar apalagi Istri Tante...." ucap Ayuna nyengir.
"Ada Bil, ada. Percaya sama Tante" ucap Tante Dewi, "Kamu mau coba dulu gak lihat Sadam bukan sebagai Abang Dea, tapi sebagai Cowok, cowok yang kamu kenal dari kecil".
"Maaf Tante, tapi Bilqis enggak bisa jawab" ucap Ayuna.
"It's ok, gapapa sayang. Ya sudah, kalau nanti kamu kepikiran soal ini ajak Tante bicara yah?" Tante Dewi memastikan Ayuna mengerti soal pembicaraannya.
Menunggu Sadam seperti siput, lamban tak bergerak sama sekali. Belum lagi Ayuna yang terlampau polos, enggak peka dengan perhatian yang diberikan Sadam. Sinyal-sinyal yang diberikan pun enggak bikin Ayuna peka. Memang wanita polos dan lugu susah diajak bicara serius.
Ayuna yang payah, dan Sadam si siput.
~
Acara launching buku Ayuna ramai di datangi para pembaca setia nya, dari remaja, bahkan perempuan seumuran dengannya. Ayuna juga melihat beberapa pasangan yang datang bersama ke acara ini. Ternyata pasangan itu sama-sama suka membaca cerita Ayuna.
Ayuna menilai dalam kaca matanya biasanya perempuan lah yang banyak suka membaca novel dan cerita bergenre yang biasa Ayuna tulis, yaitu romance. Ternyata ada lelaki juga yang suka.
Mata Ayuna juga terhenti pada fokus seorang Sadam yang duduk anteng sambil melambai ke arahnya. Lelaki itu terlihat membawa poster cover cerita Ayuna, Ayuna hampir tertawa kencang melihat beberapa remaja perempuan melirik aneh pada Sadam.
Lucu jika melihat Sadam se-gokil ini. Setelah mengucapkan beberapa kata sambutan dan ucapan terimakasih Ayuna pun mulai mempersilakan teman-teman yang sudah membeli bukunya di Gramedia ini untuk mendatangi Ayuna dan mendapatkan tanda tangan resmi dari Ayuna. Serta diberikan waktu beberapa menit untuk berbincang atau berfoto dengan Ayuna.
Acara santai dan nyaman bagi Ayuna.
Sampai tepat di giliran Sadam yang maju membuat Ayuna deg-degan, entah deg-degan karena apa, Sadam hari ini terlihat sangat tampan, tersenyum Sadam duduk berhadapan dengan Ayuna.
"Cantik" puji Sadam tersenyum.
Tanpa menjawab pujian Sadam, Ayuna fokus menandatangani buku yang Sadam bawa.
"Ini buat kamu" ucap Sadam menyerahkan 2 batang coklat, silverqueen coklat, dan silverqueen coklat putih.
"Tumben gak pakek lo gue" ucap Ayuna matanya bertatapan langsung dengan mata Sadam.
Ya Tuhan.... Demi apa Sadam auranya beda banget hari ini.
"Gak baik aja kalau pakai lo gue. Pakai aku kamu aja, mau gak?" tanya Sadam menaikkan sebelah alisnya.
"Ok deal. Thanks yah Bang, buat coklatnya" ucap Ayuna tersenyum tulus, "Dan.... Terimakasih udah datang kesini buat dukung Ayuna".
"Gak masalah selagi buat kamu" ucap Sadam segera berdiri, "Thanks Ay".
Remaja dan pasangan yang sedang duduk dan mendengar ucapan Sadam langsung heboh dan berisik.
"Kak Ayuna ternyata punya pacar" ucap salh satu dari mereka.
Sadam tersenyum kesenangan dan kembali ke tempat duduknya, Ayuna sudah melotot pada Sadam.
'Tuh kan, orang-orang pada salah paham lagi!' batin Ayuna.
"Yang tadi pacar Kakak?" tanya gadis berumur sekitar 19 tahunan yang sudah duduk di hadapan Ayuna, ini giliran gadis itu berhadapan dengan Ayuna.
"Bukan, bukan" ucap Ayuna pelan sambil menggeleng.
"Tapi Kakak tadi ganteng Kak" ucap gadis itu polos sambil tersenyum malu-malu.
"Tapi dia emang bukan pacar aku" ucap Ayuna tersenyum canggung lalu fokus menandatangani buku gadis itu.
"Aku bisa baca masa depan. Dan masa depan Kakak sama Kakak tadi itu menikah, punya Anak kembar, lalu bahagia" ucap gadis itu.
"Terimakasih, tapi aku kurang yakin soal Masa Depan aku sendiri. Terimakasih ya, sudah datang kesini, terimakasih sudah baca cerita aku" ucap Ayuna ramah.
"Sama-sama Kak Ayuna" ucap gadis itu berdiri mengambil bukunya lalu berbalik menuju kursi tempat duduknya.
Masa depan? Dengan Sadam? Rasanya amat sangat tidak mungkin! Sadam itu cocoknya jadi bodyguard-nya Ayuna. Kalau untuk jadi Suami yang ada Ayuna darah tinggi setiap hari.
Tapi, kalau benar-benar menjadi kenyataan ramalan gadis tadi? Ayuna harus bagaimana? Apa dia harus senang, bahagia, berjodoh dengan Abang sahabatnya sendiri? Ah tidak mungkin!.
"Bisa dilanjut Kak Ayuna?" tanya MC yang membuyarkan lamunan Ayuna.
Ayuna kaget hingga mengangguk-angguk cepat. Gara-gara Sadam fokus Ayuna buyar, dasar Sadam.
Sadam hanya tersenyum melihat Ayuna yang melamun dan kebingungan ia menoleh ke arah gadis di sampingnya.
"Makasih yah, udah bantuin" ucap Sadam tersenyum.
"Sama-sama Kak Sadam" ucap gadis yang meramal Ayuna menikah dengan Sadam.
Gadis itu orang yang Sadam mintai tolong untuk mengatakan ramalan masa depan tentang dirinya dengan Ayuna. Ternyata Ayuna benar-benar mengkhayal menikah dengannya, buktinya perempuan itu sampai tidak fokus dengan acaranya.
Sadam senang, ternyata Ayuna memikirkannya.
Langkahnya untuk bergerak menjadikan Ayuna kekasihnya rasanya semakin dekat, kedua orang tuanya dan orang tua Ayuna mendukung, Adik perempuannya juga mendukung, bahkan semesta juga mendukung. Untuk apalagi Sadam bergerak lambat? Kalau bisa agresif Sadam akan mencoba agresif.
Karena Ayuna, enggak akan mengerti dengan kode-kodenya. Ayuna yang memang tidak pernah pacaran, jadi kelebihan Ayuna dimata Sadam.
Sadam pernah pacaran satu kali di masa SMA, waktu itu sudah cukup lama. Tapi nama perempuan itu, masih tercetak dan teringat di otak Sadam. Bukan untuk mengingat kenangan dengan mantan terindah bukan, melainkan jadi bukti nanti bahwa Sadam bukan lelaki yang suka mempermainkan hati wanita.
Dan yang memutuskan hubungan mereka juga mantan Sadam itu sendiri, namanya adalah Calista. Calista Rania Putri, perempuan yang masih sesekali menghubungi Sadam. Namun tak Sadam gubris, karena pantang bagi Sadam jika kembali dengan mantan.
Sudah ada Ayuna, perempuan yang lebih baik daripada Calista.
~BERSAMBUNG~