Ayuna pulang ke rumah setelah mendapat telepon dari Bi Yayuk tentang kedatangan Papa dan Mamanya yang ingin bertemu dengan Ayuna.
Segera Ayuna diantar Sadam karena Ayuna sudah mengambil motornya, ia dijemput dan diantar oleh Bang Sadam.
Sesampainya di rumah Ayuna, Ayuna mengajak Sadam masuk ke rumah, karena Sadam tidak enak jika langsung pulang, akhirnya ia mengikuti langkah Ayuna.
"Assalamu'alaikum Om, Tante" sapa Sadam menyalami takzim kedua orang tua Ayuna.
"Wa'alaikumsalam Dam, kebetulan kamu disini. Ayo, silahkan duduk" ucap Om Galih.
"Terimakasih Om" ucap Sadam segera duduk di hadapan Om Galih dan Tante Ria.
"Ayuna, duduk juga" ucap Tante Ria pada anaknya.
Ayuna yang tak bicara hanya menurut saja dan duduk disamping Sadam.
"Selamat sayang, untuk launching bukunya" ucap Om Galih memandang anak semata wayangnya yang terlihat banyak perubahan pada anaknya setelah ada urusan bisnis selama beberapa bulan ini. Dan selama itu juga mereka tak pernah bertemu.
"Makasih Pa" jawab Ayuna singkat.
"Ayuna diet yah?" tanya Om Galih lagi.
"Iya".
"Sudah kelihatan banyak perubahan. Lanjutkan yah sayang, biar tubuh kamu lebih sehat" ucap Om Galih.
"Jadi menurut Papa, aku kemarin enggak sehat? Menurut Papa aku kemarin gak cocok jadi anak Papa?" Ayuna tersulut mendengar ucapan Papanya.
"Bukan gitu Ayuna, Papa kamu benar. Kalau kamu berat badannya stabil ideal, kamu mau ngapain juga enak. Kalau kemarin? Kamu agak susah bergerak" ucap Tante Ria menengahi.
"Aku kemarin kayak gitu juga karena Papa dan Mama, yang sibuk sama kerjaan masing-masing sampai lupa tugas sebagai Ayah dan Ibu" ucap Ayuna.
"Ayuna!" ucap Tante Ria tegas.
"Karena Papa dan Mama yang enggak mau berbagi waktu, untuk aku. Untuk kita, emang Papa dan Mama pikir yang ada di otak aku ini cuma bisa minta duit aja gitu? Aku udah besar Ma, Pa! Udah bisa cari duit sendiri. Papa sama Mama enggak usah capek-capek kerja lagi buat keluarga kita. Iya kalau aku punya banyak waktu, kalau aku nanti nikah kapan lagi kita bareng-bareng?".
"Kamu mau nikah? Sama siapa?" tanya Tante Ria menaikkan alisnya.
"Seandainya Ma, seandainya nanti aku nikah, emang Mama dan Papa bisa mutar waktu buat kita bertiga habisin waktu bersama? Enggak akan bisa lama Pa, ada Suami, bahkan nanti anak aku juga. Enggak akan mungkin kan, waktu diulang? Mau sampai kapan egois dan mementingkan kerjaan terus?".
"Mama nanya, kamu mau nikah? Kok jadi panjang lebar sih Ayuna?".
"Iya! Aku mau nikah! Sama siapa aja yang ngelamar aku nanti!".
"Kenapa enggak sama Sadam? Kebetulan dia udah disini, biasa diajak bicara serius" ucap Tante Ria.
"Bang Sadam itu Abang aku! Orang yang nggak pernah ninggalin aku pas aku perlu dia" ucap Ayuna menatap Sadam yang hanya duduk dan tidak berani bicara sepatah katapun.
"Sadar gak sih, coba kamu buka pikiran kamu. Kamu itu orang lain, bukan Adeknya Sadam. Dipikir dong Ayuna, kenapa Sadam bisa sampai sebegitunya sama kamu".
"Bang, kamu emang anggap aku sama kayak Dea, bener kan?" tanya Ayuna memegang tangan Sadam.
Sadam menatap Ayuna sambil tersenyum. Sadam mantap menggeleng.
"Kamu itu terlalu polos Ayuna. Sadam kayak gitu karena dia punya perasaan. Perasaan sayang dan cinta, masa kamu enggak bisa baca sih?" tanya Tante Ria, "Kamu pikir, Sadam enggak punya perasaan ke kamu hah?".
"Aku gak minta Bang Sadam suka sama aku atau apapun itu. Yang aku minta itu waktu Papa dan Mama. Itu Ma, bukan perasaan Bang Sadam!" ucap Ayuna berdiri dari duduknya.
"Astaga Ayuna, enggak paham juga yang Mama kamu bicarakan? Jangan bahas soal Waktu Papa dan Mama, yang kita bicarakan ini bukan itu tapi soal Sadam!" ucap Om Galih.
"Langsung ke intinya, enggak usah bertele-tele deh Pa!" ucap Ayuna.
"Papa dan Mama akan mengizinkan Sadam melamar kamu" ucap Om Galih.
"Ngelamar? Aku? Bang Sadam ngelamar aku?" tanya Ayuna keheranan menatap Sadam, "Bang, ini maksudnya gimana sih? Aku enggak paham deh!".
Sadam berdiri, meminta izin membawa Ayuna sebentar, ditariknya pelan Ayuna yang menurut saja mengekor dibelakangnya menuju tangga ke kamar Ayuna.
"Kamu ke kamar kamu aja yah, biar aku yang bicara sama Om sama Tante" ucap Bang Sadam.
"Enggak, aku bingung Bang. Emang kamu beneran ngelamar aku? Kamu cinta sama aku, Bang? " tanya Ayuna.
"Nanti kita bicara soal ini, kamu ke kamar yah, sudah sana" ucap Sadam.
"Heran sama Papa dan Mama, sama kamu juga Bang. Bikin pusing aku aja tau nggak sih!" ucap Ayuna kesal lalu berlalu dari hadapan Sadam naik ke tangga menuju kamarnya.
Sadam segera berbalik dan kembali duduk dihadapan Om Galih dan Tante Ria.
"Maaf Om, Tante, biar Ay ke kamar tenangin pikirannya dulu yah. Biar Sadam aja yang bicara" ucap Sadam.
"Dam, itu anak lemot banget. Emang kamu belum bicara sama Ayuna? Tante kira kamu udah bahas ini sama dia" ucap Tante Ria keheranan.
"Sadam belum berani Tante, banyak pertimbangan yang harus Sadam pikirkan matang-matang, bukan karena berniat main-main Om, Tante. Maksudnya kalau misalnya Sadam gegabah dan enggak pikir panjang, takutnya Ayuna ilfeel dan malah menjauh" ucap Sadam, "Sadam belum bisa kalau Ayuna menjauh".
"Om ngerti maksud kamu Sadam. Ok kalau gitu biar kamu aja yang bicara sama Ayuna yah, Om percaya sama kamu Sadam. Om berikan restu untuk kalian berdua" ucap Om Galih.
"Ok Om, terimakasih banyak Om. Kalau gitu, Sadam pamit pulang yah Om, Tante" ucap Sadam segera berpamitan kepada kedua orang tua Ayuna.
"Kamu enggak minum dulu Dam? Makan bareng yuk?" ajak Tante Ria.
"Enggak usah Tante, langsung aja. Pamit yah Om, Tante. Assalamu'alaikum" ucap Sadam.
"Wa'alaikumsalam, Hati-hati Sadam" ucap Om Galih.
"Ok Om" ucap Sadam.
Setelahnya Sadam pun segera pulang menuju rumahnya. Sesampainya di rumah Sadam, Tante Dewi Mamanya Sadam sudah menunggu di ruang tamu bersama Om Har Papanya Sadam.
"Om Galih sama Tante Ria ngajak kamu bicara Dam?" tanya Om Har.
"Iya Pa, dan Ay enggak ngerti-ngerti juga. Sadam bingung mau bicara dari mana" ucap Sadam.
"Terus gimana? Bilqis setuju nggak?" tanya Tante Dewi kepo.
"Gimana mau setuju, dianya enggak ngerti Ma" ucap Sadam.
"Bilqis gak bakalan ngerti kalau kamu enggak kasih kode Bang" ucap Om Har.
"Jangan sekarang Pa, Sadam belum bisa" ucap Sadam.
"Ya sudah, kalau kamu lamban keduluan orang jangan salah kan Papa dan Mama yah Bang?" ucap Tante Dewi.
"Inshaa Allah enggak Ma. Enggak akan keduluan orang" ucap Sadam.
"Yakin Bang?" tanya Tante Dewi.
"Yakin 100 persen Ma" ucap Sadam.
~
"De, gue bingung deh, Mama sama Papa gue bilang Bang Sadam mau lamar gue. Emang beneran De?" tanya Ayuna yang sedang ber telepon dengan Dea.
"Iya kali" ucap Dea yang kini di hadapannya sudah ada Bang Sadam.
"Emang iya Bang Sadam naksir gue?" tanya Ayuna, "Soalnya kayak gak mungkin aja gitu loh De" ucap Ayuna.
"Ya mungkin aja, cuma lo gak paham dan peka kali" ucap Dea.
"Bang Sadam udah di rumah? Soalnya tadi habis ngantar gue, gue disuruh ke kamar, gak tahu dia balik jam berapa" ucap Ayuna uring-uringan diatas kasurnya.
"Lo pikirin baik-baik deh Na, soalnya takutnya Bang Sadam ntar berubah pikiran" ucap Dea bercanda yang langsung dipelototi oleh Sadam.
"Hah? Emang bisa langsung berubah pikiran? Ya kalau Bang Sadam suka sama cewek lain ya lebih bagus lagi" ucap Ayuna santai.
Sadam menepuk jidatnya.
Dasar Ayuna, polos dan memang enggak akan peka!. Harus dengan cara apalagi dirinya memberikan sinyal biar Ayuna mengerti tentang perasaannya?.
Sadam hampir saja putus asa.
~BERSAMBUNG~