13

2036 Kata
 "Mama masakan aku ayam betutu?" tanya Sraya ulang, meski sudah melihat secara langsung hidangan yang sangat disukai tersaji di atas meja makan kediaman Ibu Ayu. Sraya tampak memamerkan senyuman cerah. Tentu, dilakukan dengan tulus. Hampir seminggu sekali, selama sebulan terakhir, ia menyempatkan diri berkunjung ke rumah ibu Arnawa. Beliau pasti akan memasakkannya makanan yang enak dan selalu lezat di lidah. Sraya sungguh senang. "Iya, Nak. Karena, Mama tahu kamu gemar ayam betutu dan juga sambal matah seperti Mama. Kesukaan kita sama, Sayang. Mama jadi gampang membuatkan makanan." Selesai menjawab, Ibu Ayu lalu memberi afeksi di bagian kepala wanita yang telah beliau sangat anggap putri sendiri. "Makan banyak, Nak. Habiskanlah semua ayam betutu supaya kamu lebih berisi sedikit, Sraya. Kalau kurang harus tambah." "Badan kamu semakin hari kurus Mama lihatnya, Nak." Ibu Ayu sedikit berguyon dalam ucapan beliau lontarkan. Diiringi pula suara tawa keluar yang lumayan keras. "Mama tidak bisa melihat putri kesayangan Mama tubuhnya kurus. Mama merasa harus membantu membuat kamu tambah berisi." "Iya, Mama. Aku akan makan banyak." Sraya pun menanggapi dengan santai seraya tersenyum lebih lebar. "Aku juga nggak tahu persis kenapa berat badanku menurun. Aku nggak diet. Aku sudah makan yang teratur." "Makan teratur itu wajib, Nak. Porsinya juga harus ditambah lebih banyak. Misal kamu hanya makan dua sendok nasi. Sekarang harus minimal tiga sendok. Mengerti?" Sraya mengangguk dengan cepat. "Iya, Ma. Aku paham. Aku akan makan yang banyak." "Terima kasih, Mama." Wanita itu berucap tulus, lalu. Dengan segenap keseriusannya Kemudian, Sraya memeluk Ibu Ayu. "Aku senang bisa kenal Mama yang perhatian padaku. Terima kasih banyak, yah." "Aku sangat menyayangi Mama. Sayang banget." Sraya berujar sungguh-sungguh. "Semoga Mama juga dapat sayang padaku, ya. Terus baik denganku," tambah Sraya penuh harap yang tinggi dan tak ragu mengekspresikan perasaannya. "Tentu, Nak. Mama juga sayang. Kamu itu sudah Mama anggap anak, meski kamu bukan putri yang Mama kandung sendiri. Tidak penting ikatan harus mempunyai hubungan darah. Tapi, tidak jadi masalah. Sebentar lagi, kamu juga akan resmi sandang status sebagai menantu Mama." Sraya seketika melepas pelukan pada tubuh Ibu Ayu. "Apa? Resmi jadi menantu, Mama?" tanyanya dengan cukup lirih. "Iya, Nak. Jadi menantu Mama. Hmm. Kamu menikah dengan Arnawa segera bagaimana? Mama ingin sekali kamu cepat resmi menjadi menantunya Mama." Ibu Ayu pun ungkapkan keinginan beliau dengan antusiasme tinggi. Harapan pun juga besar. "Kamu dan Arna, jangan pacaran yang terlalu lama lagi. Kalian sudah dewasa dan pantas menikag. Lebih cepat, akan baik menurut Mama. Bagaimana dengan kamu, Nak? Apakah mau segera menikah bersama putranya Mama? Tahun ini baik bagi kalian." Sraya tetap diam, bibir dikatupkan rapat. Jawaban untuk menyahuti permintaan Ibu Ayu tidak terpikirkan di dalam kepalanya. Tak bisa dimunculkan satu patah kata pun. Ia benar-benar kehilangan kemampuan menyusun kalimat, walau sederhana. Yang Sraya pilih hanyalah bungkam saja. Belum dapat diberikan jawaban pasti. Sebab, ia sendiri merasa cukup kebingungan. "Nak, ada apa? Kenapa bengong dan juga melamun? Kamu kenapa, Nak? Apakah Mama sudah salah berbicara dan membuat kamu menjadi risi? Mama sudah salah, ya?" Sraya lekas menggelengkan kepala, begitu ibu kandung Arnawa selesai berkata. Ia turut memerlihatkan senyum selebar mungkin guna hilangkan kerisauan yang sedang dirasakannya. Sraya pun tak ingin sampai ketahuan. Ia enggan pula sebabkan Ibu Ayu jadi kecewa. Bagaimanapun juga Sraya memikirkan perasaan beliau. Baginya penting kebahagiaan Ibu Ayu yang sudah dianggap seperti ibu kandung sendiri. "Nggak, Mama. Nggak salah Mama bicaranya. Cuma aku kaget disuruh menikah secara cepat dengan Arna," sahut Sraya jujur. Mengungkapkan isi pikiran apa adanya. Ia ingin utarakan tanpa terkecuali. "Kenapa kaget, Nak? Kalian berdua sudah sama-sama dewasa menurut Mama. Tidak ada salah juga jika kalian serius. Hubungan kalian harus dibawa ke jenjang lebih tinggi lagi. Seperti adanya ikatan suci pernikahan, Nak. Mama yakin Arna sudah siap." Sraya kembali tak tunjukkan reaksi secara cepat. Hanya memilih menggigit bagian bawah bibir seraya pandangi Ibu Ayu yang tengah tersenyum hangat padanya. Rasa cemas menaungi diri Sraya pun tidak mau berkurang juga. Walau sudah dilakukan pengaturan napas dan turut menerapkan pula ketenangan. Nyatanya, ia gagal. "Apa alasan kamu kurang setuju menikah cepat dengan anak Mama, Nak? Apa Arnawa kurang baik, ya, Nak? Dia memang bukan pria yang sempurna. Tapi, Mama yakin dia dapat menjadi pendamping hidup yang baik dan bertanggung untukmu nanti, Sayang." "Mama bilang begini bukan mau membela Arnawa yang memang anak Mama. Namun, hati Mama yakin putra Mama bisa kamu andalkan. Dia akan serius juga menjagamu nanti, Nak. Percayalah pada Mama. Arnawa pantas mendapatkan kesempatanmu, Sraya." Ibu Ayu menggenggam kedua tangan calon menantu beliau guna lebih meyakinkan. Tak dikurangi pula pamerkan hangat sembari memandang sosok Sraya yang belum beri respon apa-apa. Namun, Ibu Ayu memegang keyakinan tinggi bahwa usaha beliau dalam membujuk akan dapatkan hasil yang baik. Tidak ingin Ibu Ayu pesimistis. Beliau juga merasa harus membantu sang putra untuk meraih kebahagiaan. Sudah menjadi salah satu tugas sebagai orangtua yang harus bisa dipenuhi. Ibu Ayu tidak akan menyerah. "Bagi Mama sendiri, pernikahan kalian jadi momen paling Mama tunggu-tunggu. Sudah lama Mama memimpikan Arnawa memiliki pasangan hidup. Wanita yang tepat tentunya untuk dia. Mama menemukan di dalam diri kamu, Nak. Mama tidak berniat berbohong hanya demi meyakinkan kamu saja, Sraya." Ibu Ayu mengulas senyum yang lebih lebar lagi. Genggaman turut menguat. "Tolonglah jangan ragu, Nak. Kami sudah menerimamu apa adanya. Masa lalu jangan jadi halangan untuk kebahagiaan pada masa depanmu." "Mama tahu dan yakin kamu tidak akan bisa menolak permintaan Mama ini karena kamu menyayangi Mama. Apa Mama betul, Nak?" Sraya mengangguk cepat. Namun, dengan gerakan yang ragu. "Mama tolonglah jangan juga begini kepadaku," jawabnya lirih. "Aku jadi nggak enak sama Mama. Jujur, Ma. Aku masih sangat bingung harus bagaimana sekarang bereaksi. Aku nggak dapat segera memutuskan. Aku harus berpikir lagi. Maaf aku sudah membuat kecewa karena ini, tapi aku nggak mau gegabah untuk menerima." "Aku baru beberapa bulan menikah, malah langsung diceraikan. Aku nggak akan bisa menampik bahwa aku sangat kecewa sama sakit hati. Ada rasa trauma juga dalam diriku sampai sekarang ini, Ma." Sraya perjelas lagi sesuai dengan apa yang tengah selimutinya. "Aku belum bisa mengambil keputusan aku menikah. Rumit bagiku, Ma. Maaf, aku harus bilang begini ke Mama. Aku cuma nggak mau Mama akan salah sangka kepadaku." ……………………………………..   Arnawa mengikuti Sraya ke kediaman wanita itu, sebab ia merasakan ada yang tidak beres dengan Sraya sejak masih berada di rumah ibunya. Arnawa pun ingin bertanya tadi, namun diurungkan karena waktu dirasanya kurang tepat. Meski, sudah dilanda penasaran tinggi. "Sraya, kamu baik-baik aja?" Arnawa meloloskan kalimat tanyanya, selepas menginjakkan kakinya di teras depan rumah Sraya. Ia lalu meraih tangan wanita itu. "Nggak, Arna. Aku nggak baik-baik aja." "Hmm, sedikit." Sraya meralat cepat seraya mata diarahkan ke wajah Arnawa, ketika sudah membalikkan badan. Kini, mereka saling berdiri berhadap-hadapan. "Kenapa bisa begitu? Kamu ada masalah? Apa itu? Tolong ceritakan padaku semua, Sra. Aku rasa aku harus tahu. Dan, kamu pasti akan berusaha untuk aku bantu." Arnawa memandangi dalam sorot yang semakin serius sosok Sraya. Keingintahuan pun kian besar. Ia harus mendapatkan jawaban pasti. "Apa karena mantan suami kamu, Sra? Apa dia menelepon kamu? Apa dugaanku ini benar? Menyangkut dia? "Kalau iya, apa yang sahabatku itu bilang kepada kamu, Sraya? Dia bilang kata-kata menyakitkan? Apa saja yang Nugraha sudah katakan sama kamu, Sra? Beri tahu aku." Selepas melontarkan kalimat bertubi, Arnawa pun menarik tangan Sraya yang tengah dipegangnya supaya jarak yang membentangi mereka berkurang. "Apa kamu nggak akan menceritakan semua padaku, Sra? Kamu berniat sembunyikan?" "Nggak. Aku nggak mungkin dapat sembunyikan semua dari kamu, Arna. Karena, aku nggak akan mampu menyimpan sendiri. Aku harus ceritakan pada orang lain supaya beban yang aku rasakan bisa berkurang sedikit. Salah satunya kamu." Arnawa semakin melebarkan kedua bola matanya. "Apa aku memiliki kaitan dengan semua? Apakah begitu, Sra?" "Aku belum bisa mengerti ucapan kamu barusan. Kamu jelaskan tolong padaku agar aku paham, Sra. Aku nggak mau bingung. Tolong kamu beri tahu semuanya." "Akan aku beri tahu di ruang tamu. Kita masuk ke dalam dulu. Jangan bicara di sini," jawab Sraya sembari melepaskan pegangan dilakukan oleh Arnawa di tangan kirinya. Langkah kaki semakin dipercepat supaya dapat segera sampai di sofa ruang tamu. Sedangkan, Arnawa pun ikut berjalan dengan laju lebih dicepatkan. Mengekor tepat di belakang Sraya. Mereka sama-sama memilih diam. Membiarkan keheningan yang mengambil alih. Menyebabkan suasana cukup sunyi. Hanya suara sepatu terdengar. Hanya butuh waktu kurang dari satu menit untuk tiba di ruang tamu, duduk di sofa panjang bersama. Arnawa pun tak ingin memindahkan atensi dari wajah Sraya, sejak tempatkan diri di sisi kanan wanita itu. Rasa penasaran tak hilang. Semakin menjadi "Kamu mau minum apa, Arna? Kopi atau teh? Akan aku buatkan sekarang untukmu." Arnawa cepat menggeleng, tepat setelah Sraya selesai dengan tawaran ditujukan kepadanya. "Aku nggak mau minum apa-apa, Sra. Aku nggak merasa haus. Aku cuma ingin kamu segera jawab. Aku mau tahu." Kemudian, digenggam tangan kanan Sraya dengan erat. Tatapan semakin dilekatkan pada wajah wanita itu yang menampakkan kegelisahan. Begitu pula sorot mata dari Sraya, sangatlah tengah jelas memerlihatkan ketidaktenangan. Membuat diri Arnawa bisa ikut rasakan seperti wanita itu juga. "Masalah apa yang lagi kamu alami, Sra? Bilang padaku, tolong. Aku pasti akan berupaya membantu kamu. Seperti yang sudah aku bilang tadi. Percayalah padaku." Kini, Arnawa taruh tangannya satu lagi pada kedua bahu, posisi melingkar. Senyum disunggingkannya, meskipun tidak terlalu lebar. Genggaman pun kian menguat guna meyakinkan Sraya untuk menceritakan semuanya. Ia harus bisa terbuka. Tak baik jika harus menyimpan seorang diri saja. "Ada aku, Sra. Apa kamu nggak percaya padaku? Kamu harus katakan masalah kamu supaya aku bisa bantu. Kita akan mampu mencari solusi jika sudah bersama. Kamu bisa memegang kata-kataku ini." Sraya merespons dengan anggukan kecil. Ia sejak tadi, sudah siapkan beberapa patah kata akan dikeluarkannya sebagai jawaban. Namun, masih saja terselip keraguan untuk memberi tahu Arnawa. Ia takut reaksi pria itu, walau sudah memantap diri sampaikan apa yang menjadi penyebab rasa cemasnya. "Hmm, begini, Arna. Aku telat datang bulan. Aku belum dapatkan masa menstruasiku, sejak dua bulan lalu, kalau aku nggak salah hitung." Sraya berujar dengan pelan, ada keraguan cukup besar dalam suaranya. "Kamu hamil? Apa itu masalah yang kamu lagi pikirkan, Sra? Aku kira tadi soal mantan suamimu. Ternyata karena kamu sedang mengandung. Tenang. Aku akan mengambil tanggung jawab. Jangan cemas, ya." Seketika kedua bola mata Sraya membulat. Sungguh, ia tak menyangka akan demikian tanggapan dari Arnawa. Jauh dari dugaan. Bahkan, Sraya tidak ada berpikiran bahwa dirinya tengah hamil. Apalagi, buah hati Arnawa. Mereka belum pernah melakukan apa-apa yang bisa membuat janin tumbuh di rahimnya. Sraya rasakan keterkejutan besar. Kemudian, kekagetan melandanya sebab menerima dekapan yang begitu kuat dari Arnawa. Tubuh Sraya pun jadi semakin kaku dan tidak dibalasnya pelukan pria itu. Sraya benar-benar bingung harus bersikap yang bagaimana. Belum lagi, ia katakan balasan untuk dugaan Arnawa. Sraya gundah harus membantah dengan cara yang seperti apa. "Aku masih nggak percaya kamu hamil. Aku sejujurnya senang dan kecewa bersamaan, Sra. Aku bahagia akan punya anak. Tapi, aku juga kecewa dengan diriku sendiri karena buah hatiku ada sebelum kita menikah." "Aku nggak tahu apa kamu akan bisa beri aku maaf karena sudah membuat kamu jadi mengandung diluar pernikahan. Aku takut saja kamu malu dan malah melakukan hal yang buruk. Tolong jangan menyakiti calon anak kita, Sra. Aku akan tanggung jawab." "Aku akan menikahi kamu segera, Sra." Sraya langsung melepaskan pelukan dan mendorong tubuh Arnawa. Kemudian, ia melangkah mundur guna menjaga jarak. Tak ingin terlalu dekat dengan Arnawa. Sraya pun melemparkan tatapannya yang tajam ke arah pria itu. Bentuk ketidaksukaannya akan ucapan Arnawa yang paling ia hindari. Sraya masih mempunyai rasa sensitifitas tinggi, setiap kali harus membahas perkara pernikahan. Dan, sudah berulang kali juga, Arnawa mengajaknya untuk menciptakan ikatan suci tersebut. Maka, pilihan Sraya  masih tetap sama. Menolak mentah-mentah. "Nggak akan, ya." Sraya menjawab dengan nada tegas, walau kesankan kedinginan yang sangat nyata. Ekspresinya juga dingin. "Aku nggak akan pernah mau menikah. Aku harus sampai kapan kasih tahu kamu, Arna? Kita nggak pernah menjadi suami dan istri, sekalipun aku lagi mengandung anakmu." Sraya menajamkan tatapan. Enggan peduli akan keterkejutan pada wajah Arnawa atas ucapannya. Masih ada beberapa hal lain yang ia ingin sampaikan. Namun, jeda diberi sebentar guna menetralkan napasnya, mulai berderu akibat luapan emosi. Sraya pun tak merasa bahwa sudah terlalu berlebihan dalam menanggapi. Wajar bersikap begitu. "Asal kamu tahu, Arna. Aku bisa merawat nanti anak ini sendiri, tanpa bantuanmu."  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN