Malam kemarin, Arnawa memang enggan untuk menginap di rumah ibunya dan memilih pulang, walau ia telah dibujuk sang ibu untuk tetap tinggal. Arnawa harus menghadiri rapat dengan klien penting yang tidak dapat dibatalkan, sekalipun kondisinya sedang kurang sehat.
Jarak antara kediamannya dan kantor lebih dekat dibandingkan dengan rumah sang ibu. Jadi, alasan kuat tersebutlah yang menjadi alasan Arnawa tak menginap, meski ia ingin mendapat perhatian ibunya saat sakit.
Ditengah, keadaan tubuh yang drop. Ia bersyukur dapat menyelesaikan pertemuan dan mencapai sebuah kesepakatan kerja sama saling menguntungkan. Arnawa cukup puas akan hasil diperolehnya dengan klien pagi tadi. Kini, ia dapat beristirahat tenang untuk hari ini.
"Siang, Arna. Apa aku ganggu?"
Keterkejutan seketika dirasakan Arnawa selepas mendengar suara seseorang yang sangat diyakini yakni milik Sraya. Arnawa segera membuka mata, atensinya diarahkan cepat ke pintu ruangan kerja. "Sra. Itu kamu yang datang? Atau aku cuma salah lihat?"
"Om Swastyastu." Sraya lanjut meloloskan salam dengan suara yang cukup lembut dilengkapi juga senyum dibentuk lumayan lebar pada wajah cantiknya.
"Iya. Ini benar aku, Arna. Kamu nggak salah lihat. Apakah aku boleh masuk ke dalam?"
"Om Swastyastu, Sra. Masuklah," balas sekaligus persila Arnawa. Ia pun bangun dari posisi duduknya, lalu menghampiri Sraya yang masih berdiri di depan pintu.
Sungguh, Arnawa belum memercayai jika sosok yang ada di hadapannya benar adalah Sraya. Mengingat, wanita itu jarang sekali datang berkunjung, meski mereka berdua sudah menjalin pertemanan lima tahun.
"Ada apa, Arna? Kenapa kamu lihat aku kayak gitu? Sepertinya kamu terkejut."
Sraya semakin memandang lekat sosok dari Arnawa yang juga menatap dirinya dengan tak kalah intens. Ia pun kian mempercepat langkah kaki berjalan, hendak menuju ke sofa. Kuluman senyum belum dikuranginya.
"Apa ada yang salah sama penampilan dan pakaianku, Arna? Sampai kamu lihat aku sebegitunya." Sraya pun bertanya memilih diulangi kembali seraya masih memusatkan keseluruhan atensi kepada Arnawa yang tengah berjalan. Ditatap lekat pria itu.
"Nggak, Sra. Nggak ada salah dengan pakaianmu dan juga penampilan. Kamu terlihat tetap cantik. Aku suka make up kamu yang nggak terlalu tebal kayak gini."
Arnawa melebarkan senyum guna yakinkan jika dirinya tak berbohong. "Kamu serius tambah cantik, Sra. Tapi, memang dari dulu kamu sudah cantik, aku lihat," terangnya.
Sraya spontan loloskan tawanya. "Haha. Kamu kurang cocok kalau ucapkan pujian untukku, Arna. Kaku. Kurang pas saja."
"Apa yang kamu bilang, Sra? Aku kaku?" Arnawa cepat mengonfirmasi ucapan Sraya dengan nada yang kesankan tak percaya.
"Iya, kaku, Arna. Kayak nggak tulus muji. Cuma karena terpaksa. Aku juga nggak suka dipuji yang nggak tulus sama kamu, Arna.,
Arnawa spontan menggeleng. "Siapa bilang aku nggak tulus, Sra? Aku mengatakan apa yang aku pikirkan. Aku cuma kurang tahu bagaimana cara bilang ke kamu."
"Aku rasa kamu yang kurang peka kalau aku sedang gugup, saat memuji kamu tadi. Apa kamu tahu bagaimana jantungku berdebar waktu mengatakan kalau kamu cantik?"
"Lagipula, kamu memang cantik, Sra. Aku jarang memuji perempuan sembarangan. Paling hanya Mamaku saja. Ya, menurutku seperti itu. Aku nggak berbohong, ya."
Kali ini, Sraya tertawa lagi sembari mengangguk mantap. Ia belum pindahkan atensi dari wajah Arnawa. Tampak jelas raut keseriusan, pria itu tak berbohong. "Iya, Arna. Aku tahu kamu ngomongnya jujur. Aku percaya dengan pujian yang kamu bilang tadi padaku. Makasih, ya."
"Iya, Sra." Arnawa hanya membalas singkat saja. Lantas, senyuman dikulum cukup lebar. Ia pun tiba-tiba kikuk.
"Tapi, benar jantung kamu berdebar karena memujiku cantik? Atau kamu ada sakit, tapi nggak kamu tahu, Arna? Harusnya kamu cek ke dokter supaya semua bisa jadi jelas."
Arnawa menggeleng cepat. "Bukan karena aku sakit, Sra. Aku sudah pernah melakukan berbagai tes di rumah sakit. Aku nggak ada riwayat sakit berkaitan dengan jantung."
"Debaran yang aku rasakan memang murni karena aku gugup setiap berada di dekatmu. Akan bertambah degupannya saat aku harus mengatakan kata-kata manis dan juga pujian buatmu, Sra." Arnawa menjelaskan kembali.
"Hahaha. Benarkah? Baik, aku pastikan dulu dengan cek suhu badan kamu, ya. Aku nggak percaya, kalau demam kamu sudah hilang."
Beberapa detik selanjutnya, kekagetan menyergap diri Arnawa sebab telapak tangan kanan Sraya yang sudah menempel di dahinya, cukup lama. Ia pun tak menduga akan apa yang wanita itu lakukan. Arnawa pilih diam saja. Tak bisa melakukan apa-apa.
Tubuh terasa kaku untuk digerakkannya. Sedangkan, jantung kian berdetak kencang hanya karena sentuhan diberikan Sraya. Ia tak bisa untuk memberlakukan ketenangan. Arnawa pun tidak yakin akan ekspresinya. Pasti sudah menampakkan ketegangan.
"Sesuai perkiraanku, badan kamu agak hangat. Pantas, muka kamu juga kelihatan pucat, Arna. Kamu ternyata belum sembuh total, ya. Tapi, kenapa paksa kerja? Kamu harusnya istirahat di rumah supaya sehat kembali. Nanti sakit kamu bisa lebih parah lagi. Nggak baik juga buat kamu sendiri."
Arnawa tidak kuasa menahan letupan rasa bahagia di dalam hati karena perhatian yang diberikan oleh Sraya. Ia tunjukkannya lewat senyuman semakin melebar. Debaran dari jantungnya pun mengalami peningkatan menerus secara drastis. Namun, Arnawa tak ada niatan mengendalikan semua. Dibiarkan begitu saja. Jarang-jarang ia dapatkan.
"Aku nggak begitu demam, Sra. Masih dapat aku tahan untuk bekerja. Aku masih banyak ada dokumen yang harus ditandatangani."
Sraya langsung menjauhkan tangannya dari dahi Arnawa. Tetapi, tetap pusatkan atensi ke wajah pria itu. Sraya tidak menunjukkan senyum seperti sedang Arnawa pamerkan. Justru memasang ekspresi seriusnya, ingin memerlihatkan bahwa ia tidak suka dengan jawaban diberikan oleh pria itu tadi.
"Pekerjaan selalu lebih penting dari kondisi kesehatan kamu, ya? Nggak penting tubuh kamu keadaannya gimana. Mau sakit atau sehat nggak akan jadi masalah. Betul?"
Arnawa menggeleng cepat. Namun, ia tidak cepat melontarkan bantahan walau tahu jika terjadi kesalahpahaman pada Sraya akibat balasannya. Arnawa pun malas saja harus memperpanjang topik uang baginya tidak cukup penting dibahas atau perdebatkan.
Mengingat, dirinya sedang tak fit. Ia enggan menghabiskan energi untuk berselisih kini. Namun, bukan berarti akan mengabaikan ucapan Sraya. Bagaimanapun ia harus beri balasan. Setidaknya sedikit menjelaskan. Tak ingin menciptakan kerenggangan hubungan di antara mereka berdua nanti kedepannya.
"Aku salah sudah mengabaikan kesehatanku sendiri. Aku akan mengubah pola dan durasi waktuku beristirahat. Supaya nggak sampai mengorbankan pekerjaanku juga nanti."
Arnawa melebarkan senyuman sembari pandangi lekat Sraya. "Makasih sudah mau perhatian denganku, Sra. Aku sangat senang sikap kamu kayak gini. Aku semakin sayang sama kamu. Aku nggak sayang mencintai perempuan yang baik seperti kamu."
"Makasih banyak, ya," imbuhnya tulus.
…………………………………
Sraya jadi senang karena Arnawa sudah mendengarkan saran yang diberikannya. Pria itu menelepon untuk beri kabar bahwa sudah pulang dari kantor sejak jam empat sore tadi dan telah pula tiba di rumah, sejak 30 menit lalu.
Sraya pun segera mengutarakan janji jika ia akan berkunjung ke rumah pria itu, selepas urusan mengecek beberapa toko oleh-oleh di Jimbaran. Dan, benar-benar baru selesai pukul tujuh nanti. Sraya sampai di kediaman Arnawa sekitar jam delapan akibat terjebak macet.
Makanan yang disukai oleh pria itu sudah Sraya belikan supaya dihabiskan. Bubur yang siang dibawanya ternyata tidak terlalu disukai memang, walau demikian tetap dimakan semua demi menghargai dirinya.
"Om Swastyastu, Arna." Sraya mengucap salam dengan suara yang pelan, saat memasuki areal ruangan tamu rumah Arnawa. Ia bisa masuk karena telah diberi tahu sebelumnya password pada digital lock pintu utama.
"Aku udah sampai di sini, Arna. Aku bawakan nasi betutu kesukaanmu." Sraya berujar lagi, selang 45 detik.
"Arna, kamu ada di mana?" Lontaran pertanyaan dialunkan Sraya masih dalam suara kecil sembari tidak berhenti melangkahkan kakinya. Kini, ia menuju ke sudut lain kediaman Arnawa, tepat mengarah ke kamar pria itu.
"Kamu lagi tidurkah, Arnawa?" Sraya pun kembali meloloskan kalimat tanya, meski tak mendapat sahutan.
"Apa aku ke dalam?" Sraya berucap sendiri, saat tangan kanannya sudah diletakkan di atas gagang pintu ruangan tidur Arnawa, ia pun sedikit ragu untuk masuk.
"Baik, aku akan ke dalam saja." Sraya buat keputusan secara cepat karena tak ingin lama membuang waktu.
Sementara, tangan yang memegang gagang pintu, lalu ia luruskan ke depan, melakukan gerakan mendorong agar daun pintu terbuka keseluruhan. Setelah berhasil, ia berjalan beberapa langkah maju dan mengedarkan pandangan ke sudut-sudut kamar tidur milik Arnawa.
Tak sampai perlu hitungan menit, sekitar 45 detik saja, Sraya sudah mampu menangkap keberadaan pria itu. Ya, sosok Arnawa tampak tengah pulas tertidur di atas ranjang dengan posisi tengkurap, tak memakai selimut.
Sraya pun bergegas berjalan mendekati Arnawa. Hanya perlu waktu kurang dari 20 detik untuk sampai. Lalu, ia duduk di pinggiran kasur. Atensi belum dipindahkan pada sosok Arnawa. Begitu juga senyuman Sraya yang belum juga menampakkan adanya pengurangan sedikit pun.
Secara spontan, tangan kanan diulurkan ke depan, tepat menuju ke areal wajah Arnawa. Berhenti di bagian pipi kiri. Kemudian, dilakukan usapan halus, perlahan-lahan saja. Karena, tak ingin sampai mengganggu pria itu dan menyebabkan terbangun juga.
"Tumben aku lihat kamu pulas tidurnya, Arna. Kelihatan banget muka kamu kelelahan. Harusnya, jangan bekerja berlebihan. Kamu juga akan kecapekan sendiri." Sraya berujar dengan suara lembut, volume tidak yang cukup keras.
Tangan kanan Sraya lalu berpindah, menuju ke kepala pria itu. Belaian-belaian yang halus turut diberikannya di rambut hitam Arnawa. Malah, sunggingan senyum kian dilebarkan. Sraya nikmati betul apa yang ia tengah berikan. Dilakukannya sepenuh hati dan mengikuti naluri. Tak ada niatan apa.
Efek juga dirasakan pada dirinya. Debaran jantung meningkat. Sraya juga tak terlalu paham akan reaksinya sendiri. Namun, ia tidak memiliki keinginan untuk menampik semua. Sraya sangat tahu bahwa perasaan khusus bagi pria itu semakin bertambah.
"Dia bangun?" gumamnya cepat, manakala menyadari Arnawa tengah menunjukkan pergerakan, tepatnya lewat wajah.
Refleks, Sraya menjauhkan tangan. Namun, masih tetap duduk di tepian ranjang seraya terus mengamati ekspresi Arnawa. Tak sampai satu menit menunggu, ia pun telah dihadapkan oleh sepasang mata Arnawa yang terbuka. Sraya segera ulas senyuman lebih lebar guna dijadikan sambutan.
"Hallo, Arna," sapanya dengan lembut.
"Bagaimana tidurmu? Nyenyak? Apa mimpi indah? Kamu kelihatan lelap tadi. Aku kira kamu akan bangun yang lebih lama." Sraya pun refleks saja mengeluarkan sederetan pertanyaan. Sesuai dengan apa muncul di dalam kepala. Ia lontarkan semuanya.
"Tapi, kamu sudah bangun sekarang," lanjut Sraya masih dalam nada suara yang lembut.
Sementara, kekagetan seketika melingkupi diri Arnawa. Spontan, ia bangun dari posisi berbaring. Kepala ditengokkannya ke arah kanan, langsung ditangkap olehnya sosok Sraya yang tengah tersenyum. Wanita itu tampak sangatlah manis dan juga cantik.
Arnawa refleks menarik ujung-ujung bibir guna membalas dengan senyum yang tak kalah lebar dari Sraya. Walau akhirnya, ia terkesan memamerkan cengiran yang malu. Apa ditunjukkannya terjadi secara natural.
"Sudah lama kamu di sini, Sra?" Arnawa putuskan melontarkan pertanyaan untuk sekadar basa-basi, memulai obrolan.
Arnawa masih memusatkan seluruh atensi ke wajah cantik Sraya. Ia pun tak berkedip. Begitu intens menatap. Arnawa menanti respons yang akan diberikan oleh wanita itu. Meski, senyuman hangat Sraya sudah cukup membuatnya jadi ingin salah tingkah. Detakan jantung sudah alami peningkatan.
"Nggak lama juga. Baru sekitaran 15 menit aku sampai di sini. Dan, kamu lagi tidur. Aku masuk sendiri. Maaf, kesannya lancang."
Arnawa menggeleng cepat. "Kamu nggak usah pakai minta maaf segala, Sra. Nggak salah kamu masuk tanpa izin dariku."
"Kamu juga bebas mau datang kapan saja, ya. Tapi, asalkan aku ada di rumah supaya kamu nggak sia-sia ke sini. Kalau aku nggak ada. Pasti kerinduan kamu padaku nggak akan bisa hilang, kita nggak bertemu," canda Arnawa dalam nada yang terkesan santai.
"Aku juga menuntaskan kangen aku padamu karena kamu sudah datang kemari untuk menemuiku. Makasih, ya," ujarnya lembut.
"Iya, sama-sama. Aku kira aku akan ganggu kamu istirahat. Aku sempat ragu mau ke sini tadi. Tapi, aku nggak dapat berhenti untuk memikirkan kondisi kamu, Arna. Jadi, aku putuskan kemari tanpa memberitahumu."
Arnawa menggeleng sekali saja, tanggapan atas jawaban Sraya. Senyuman di wajahnya pun terus mengembang bersamaan dengan rasa senang yang juga semakin bertambah di dalam dadanya. Setiap kata dilontarkan oleh Sraya berhasil membuatnya melayang.
"Aku sudah mendingan, Sra. Ya, setelah aku tidur yang cukup. Badanku lebih segar. Aku juga sudah nggak merasakan pusing yang keras seperti aku alami di kantor tadi."
Giliran Sraya anggukan kepalanya dengan cepat guna memberikan respons atas apa yang disampaikan Arnawa. Ia yakin jika pria itu tidak berbohong. Wajah Arnawa tampak tak terlalu pucat. Namun, belum menjadi bukti nyata demam pria itu telah berkurang atau menghilang. Harus dipastikan dahulu.
Sraya pun mengarahkan telapak tangan ke kening Arnawa guna mengecek suhu tubuh. Benar saja, tak dirasakan panas lagi. Demam pria itu mungkin sudah berkurang. Tak bisa ditarik kesimpulan bahwa telah hilang. Ia harus memastikan dengan termometer.
"Jangan diambil. Aku nggak butuh benda yang begitu. Aku cuma perlu kamu bersama diriku, Sra. Bisa kamu kembali duduk?"
Sraya yang baru saja bangun dari sofa pun menuruti permintaan Arnawa. Ia tempatkan diri lagi tepat di samping pria itu. Lantas, rasa terkejut melingkupi karena menerima pelukan dari Arnawa. Ia tak bisa melakukan apa-apa kecuali hanya membalas saja.