11

2041 Kata
            "Maaf, aku nggak bawa oleh-oleh yang banyak, ya Ma. Tapi, semoga sweater dan tas ini dapat Mama gunakan nanti saat bepergian." Sraya berucap sopan sembari memberi dua buah tas besar tengah dipegangnya kepada Ibu Ayu. "Pasti akan Mama gunakan, Nak. Terima kasih sudah membelikan Mama oleh-oleh dari Jepang. Kamu baik sekali. Mama jadi semakin sayang denganmu. Putri Mama." "Putri Mama?" Sraya berujar secara spontan dua patah kata yang menarik perhatiannya. "Hahah. Iya, Nak. Kamu adalah putri Mama. Sudah pernah Mama bilang bukan jika kamu Mama anggap sebagai anak Mama sendiri. Walau, kamu calon menantunya Mama." Sraya pun refleks mengangguk dan tarik dua ujung-ujung bibir. "Iya, Ma. Masih ingat aku. Makasih sudah anggap aku adalah anak Mama. Aku merasa bahagia," ujarnya jujur. "Mama jauh besar senangnya bisa mengenal kamu dan mau Mama jadikan putri. Mama juga mau berterima kasih padamu, Nak." Sraya mengangguk segera sambil mengulum senyuman yang semakin lebar "Iya, Ma. Sama-sama," jawabnya dalam nada ramah. "Oh iya, lain kali tidak usah Mama dibelikan oleh-oleh, merepotkan kamu membawa semua barang selama di perjalanan, Nak. Mama merasa jadi nggak enak dibawakan semua ini, Nak. Mama berutang." Gelengan kepala sebanyak satu kali dilakukan Sraya, tak setuju akan lontaran ucapan Ibu Ayu. "Nggak, Mama." "Aku nggak merasa direpotkan sama sekali. Barang yang aku belikan buat Mama nggak berat dibawa selama di perjalanan," tambah Sraya guna lebih dapat meyakinkan lagi. "Mama juga jangan merass berutang. Wajar kalau seorang putri memberikan sedikit hadiah ke Mama yang dia sayang. Aku pun ingin melakukan hal sama untuk Mama." Lalu, keterkejutan dirasakan oleh wanita itu menerima pelukan secara tiba-tiba dari Ibu Ayu. Meski demikian, ia tetap balas mendekap. Ada keharuan yang muncul dalam dadanya. Sraya benar-benar semakin merasakan kasih sayang begitu tulus. Ibu kandung Arnawa sangat memiliki sifat yang bertolak belakang dengan mantan ibu mertuanya. Ia hanya mendapat rasa benci dan ketidaksukaan. Hal tersebutlah yang juga mendorong Sraya jadi lebih was-was menerima kebaikan. Namun, Ibu Ayu tidak seperti itu. Sraya memercayai bahwa dirinya telah menerima kasih sayang yang tulus. "Bagaimana dengan putra Mama? Oleh-oleh apa yang kamu siapkan untuk Arna, Nak? Tante menebak, pasti sebuah rasa kangen yang besar karena lama tidak bertemu. Benar pasti dugaan Mama ini." "Kangen." Sraya bergumam dengan sangat pelan. "Aku sangat kangen sama dia, Ma. Aku teringat Arna terus selama di sana." Selepas mengeluarkan satu patah kata ungkapan dari kerinduannya, mata Sraya langsung berkaca-kaca. Kemudian, lingkaran tangan pada tubuh Ibu Ayu kian dikencangkan oleh dirinya lagi. Air mata semakin deras lolos menuruni pipinya. "Aku kangen banget dengan Mama, ketika aku berada di Surabaya dan Jepang. Aku terus teringat Mama di sana." "Maaf, aku nggak bisa telepon Mama. Tugas yang aku harus kerjakan banyak selama di sana, walau aku ingin sekali bicara bersama Mama." Sraya mengutarakan secara jujur apa yang beberapa hari belakangan ditahan-tahannya. "Tidak apa-apa, Nak. Mama tahu kamu pastinya sibuk di sana. Sekarang, Mama senang kamu sudah kembali pulang. Mama juga merasa kangen denganmu Sraya." "Selain, putra Mama yang lebih sangat merindukanmu. Haha." Ibu Ayu lontarkan kalimat candaan, dilengkapi tawa renyah beliau. "Pokoknya Arnawa kangen sekali." Sraya masih terdiam, tak segera menjawab. Ia sedang tertegun pula karena ucapan ibu dari Arnawa. Sraya pun sama sekali tidak menyangka. Ingin menampik juga jika pria itu tak benar-benar merindukannya yang besar. "Setiap sembahyang, Arna akan berdoa agar kamu baik-baik saja di mana pun kamu lagi berada, Nak. Mama jadi terenyuh karena putra Mama punya rasa sayang serta cinta besar untuk seorang perempuan, selain Mama." Sraya tetap membungkam mulutnya, belum melontarkan balasan apa-apa, meskipun ibu kandung Arnawa sudah selesaikan ucapan. Muncul secara tiba-tiba, keharuan di dalam d**a Sraya, tepat setelah diberitahukan apa yang dilakukan Arnawa selama dirinya pergi ke luar negeri. "Nak...," Panggilan disertai dengan sentuhan di bagian bahu kiri, sebabkan Sraya sedikit terkesiap. Ia pun langsung saja, mengulum senyuman cukup lebar. "Kenapa, Tante?" "Maksudku, Mama." Sraya meralat cepat, pasca sadari jika dirinya sudah salah berujar beberapa detik lalu. Ia jadi tersenyum kikuk. Kemudian, wanita itu rasakan keterkejutan kembali. Yah, dikarena menerima pelukan yang erat. Dan, Sraya segera memutuskan membalas mendekap. "Mama, ada apa, ya?" tanya Sraya dengan suara yang lembut. "Tidak ada apa-apa, Nak. Mama kangen kamu. Selama tidak ada kamu, Mama jadi merasa kesepian. Mama juga sempat berpikir kamu akan pergi yang lama, Nak. Syukur kamu segera pulang. Mama sangat senang, Sraya. Dan, Mama bisa melepaskan rasa kangen Mama yang besar kepadamu." Sraya langsung menarik kedua ujung bibir lebih tinggi ke atas, selepas pelukan diakhiri oleh Ibu Ayu. Sraya pun berupaya menerus tampakkan senyuman hangat terbaik yang dapat dipamerkan pada ibu kandung dari Arnawa. Lantas, kepalanya dianggukkan beberapa kali sembari melekatkan tatapan. "Mama kangen denganku? Kenapa bisa sama kayak aku rasakan? Aku juga kangen banget sama Mama selama aku berada di sana, tapi aku nggak bisa menelepon Mama untuk memberikan kabar. Aku sangat sibuk." "Maafkan aku ya, Ma." Sraya berujar tulus dan juga sarat akan kesungguhan besar. Kemudian, raut serius yang baru beberapa detik terpatri di wajah pun berubah menjadi senyuman hangat, tepat selepas mendapat respons Ibu Ayu berupa gelengan kepala. Ia merasa senang karena melihat kelembutan pancaran kedua mata beliau tak berkurang. Kasih sayang sangat nyata dilihat olehnya. "Tidak apa-apa, Nak. Mama bisa mengerti. Dulu Mama juga pernah sesibuk dirimu." Sraya hanya menanggapi dengan anggukan kecil. Meski demikian, tarikan ujung-ujung bibir ditambahnya. Senyuman melebar dan atensi masih secara penuh terarah ke sosok Ibu Ayu. Sraya tak akan pernah merasakan bosan. Ia teringat dengan mendiang ibunya. "Makasih sudah mengerti aku, Ma." Sraya menjaga nada suara agar tetap halus. "Iya, Nak. Sama-sama. Oh, iya. Mama sama Arna rencananya ada mau sembahyang ke pura. Mungkin satu minggu lagi. Apa bisa kamu ikut dengan kami untuk pergi, Nak?" Sraya tidak segera menjawab. Bukan enggan ikut. Hanya saja memikirkan tentang siklus menstruasinya. Ia tak ingin membuat janji semata tetapi tiba-tiba dibatalkan karena kedatangan bulan. Dan, saat sudah berhasil kapan mendapatkan periodenya. Sraya pun dilanda kekagetan yang teramat besar. "Astaga!" seru Sraya cukup kencang. Lantas, ditutup mulutnya dengan tangan kanan. "Ada apa, Nak?" Sraya tanggapi cepat. Kepala digelengkan sembari memandangi Ibu Ayu. "Nggak ada apa-apa, Ma. Aku cuma kaget saja. Aku baru ingat aku belum menstruasi dua bulan." …………………………………………………               Sraya menepati janji untuk kembali datang ke rumah Ibu Ayu seperti ia katakan siang tadi, walau sedikit terlambat dari waktu yang diucapkannya yakni sekitar dua jam. Karena, pertemuan bersama mitra bisnis harus diperpanjang lagi tanpa diduga. Dan saat, Sraya menginjakkan kaki di arel ruang tamu kediaman Ibu Ayu. Ia pun cepat memfokuskan pandangan ke arah sofa, di mana sosok Arnawa tampak berbaring. Ya, pria itu sedang tidur begitu lelapnya, Sraya melihat secara jelas. Ia terenyuh seketika. "Arna...," Selesai meloloskan lembut nama dari sang kekasih dengan nada yang lembut, kedua kaki dilangkahkan lebih cepat. Naluri dan hatinya seakan menyuruh segera mendekati Arnawa. Tak bisa ditampik oleh logikanya sendiri, Sraya mengikuti intuisi kali ini. Ketika sudah berdiri di dekat sofa, sudut-sudut bibir semakin ditariknya ke atas. Seulas senyuman simpul dibentuk sebagai ungkapan senangnya karena telah berjumpa Arnawa. Tak dapat dielak jika pria itu jadi orang yang kerap ia pikirkan. "Kamu kelihatan nyenyak tidur. Karena lelah bekerja? Pasti benar kamu kecapekan." Selepas melontarkan kalimat tanya dalam suara yang semakin dilembutkan, Sraya lantas mengambil posisi duduk di tepian sofa yang masih disisakan. "Apa benar saat aku pergi, kamu selalu mencemaskanku keadaanku di sini, Arna? Pasti benar, ya." "Kamu juga berdoa semoga aku baik-baik saja di sana dan selalu dilindungi Hyang Widhi? Betulkah?" Sraya kian menambah sunggingan senyum yang tercetak di wajahnya. Dilakukan dengan refleks. Ya, isi doa Arnawa yang dilakukan saat sembahyang, Sraya ketahui dari Ibu Ayu. Jujur saja, ia senang. Tidak pernah sama sekali disangka jika Arnawa senantiasa mengkhawatirkan keadaannya. Ia merasa bersalah sekaligus diselimuti rasa senang Penyesalan jelas juga melingkupi diri Sraya karena telah akibatkan pria itu senantiasa mencemaskannya. Bahkan, ia tidak pernah memberikan kabar pada Arnawa tentang di mana berada. Memang, Sraya cukup enggan untuk diganggu, saat sedang melakukan perjalanan khusus ke luar negeri. Ditambah pula, setelah pertemuan singkatnya dengan Nugraha. Suasana hati Sraya memburuk drastis. Cara melupakan hanyalah fokus bekerja dan juga berbisnis. Tak ada hal lain yang bisa membantunya dalam melupakan semua masalah pribadi.t "Kapan sudah sampai di sini, Nak? Mama kira belum datang kamu, Sraya. Bibi tidak memberi tahu Mama kamu ada di sini * Mengenali benar suara dari ibu kandung Arnawa, maka Sraya cepat tengokkan kepala ke belakang. Tubuh pun ikut digerakkan. Sedetik selepas sepasang matanya bisa menangkap sosok Ibu Ayu yang tengah berjalan, segera ditarik ujung-ujung bibirnya ke atas. Tersenyum lebar. "Aku baru aja sampai di sini, Ma. Belum ada lima menit. Mama habis dari dapur, ya?" tanya Sraya dengan suaranya yang sopan. Masih dipusatkan pandangan pada sosok Ibu Ayu. Kini, beliau sudah tempatkan diri di single sofa. Dan, tatkala melihat anggukan kepala beberapa kali dilakukan oleh Ibu Ayu sebagai sahutan. Maka, Sraya pun langas menambah lagi kuluman senyum, bentuk dari keramahannya. Memang harus begitu sikap yang ditunjukkan untuk menghargai Ibu Ayu karena kasih sayang beliau tulus. "Iya, Nak. Mama buat bubur untuk Arna dan makanan untukmu juga." Ibu Ayu lekas menjawab, volume suara dikecilkan agar tak ganggu sang putra yang tengah lelap tidur. "Makasih, sudah buatkan aku makanan, Ma. Maaf, jadi merepotkan Mama." Sraya berujar dengan nada lembut. Ada sedikit keseganan. "Tidak, Nak. Tidak repotkan Mama sama sekali. Nanti, makanan yang sudah Mama masakan harus dimakan nanti bersama dengan Arna. Mama yakin kamu akan suka rasa masakan Mama yang enak. Haha." Sraya menganggukkan kepalanya mantap seraya ikut tertawa. "Pasti, Ma. Aku akan makan yang banyak. Masakan Mama sudah pasti akan enak seperti biasa aku makan." "Makasih, udah buatkan aku makanan, Ma," ujar Sraya tulus seraya mengembangkan senyuman lebih lebar di wajahnya. "Sama-sama, Nak. Terima kasih, juga sudah memuji masakan Mama. Membuat Mama jadi semangat untuk memasak lagi. Mama ingin ciptakan makanan-makanan yang lebih lezat untuk putri Mama ini." Kini, tawa diloloskan oleh Sraya kian keras. Akan tetapi, segera berupaya untuk diredam karena enggan sebabkan Arnawa sampai bangun. Dan kemudian, sebuah pertanyaan muncul dalam kepala Sraya. Ia harus dapat jawaban yang jelas dari Ibu Ayu. Ya, ada kaitan kuat dengan Arnawa. Sraya merasa wajib mengonfirmasi agar tak penasaran. "Siap, Mama. Makasih banyak, ya." Dipilih untuk menanggapi ucapan Ibu Ayu dahulu. "Iya, Nak. Sama-sama." Sraya melakukan penarikan napas cukup panjang. Lalu, diembuskan cepat. Rangkaian kalimat tanya sudah tersusun rapi. Sangat siap untuk dirinya lontarkan. Sraya pun kian lekatkan tatapan pada sosok Ibu Ayu yang masih memandang dirinya dengan sorot mata teduh dan sarat kasih sayang tinggi. "Ma, apa aku boleh bertanya?" ujar Sraya dalam suara yang sopan. Ia juga pamerkan senyuman ramah lebih melebar lagi. "Tentu saja boleh, Sayang. Jangan sungkan dengan Mama mau tanya apa. Pasti Mama akan usahakan jawab yang jujur, Nak." Sraya segera mengangguk. Hanya dilakukan sekali saja. Arah pandangan masih terpusat ke sosok Ibu Ayu. Sraya pun menarik napas panjang kembali, ditahan sebentar. Lantas, ia embuskan secara perlahan-lahan untuk mengurangi keraguan yang belum hilang. "Aku mau tanya seputar kondisi Arna, Ma. Hhmm, apa saat aku pergi. Dia seringkali mencemaskan aku?" konfirmasinya lirih. "Bukan hanya mencemaskan setiap hari. Dia juga uring-uringan. Kerap tidak konsentrasi dan malas bekerja. Tidak makan teratur dan susah tidur di malam hari. Pernah telepon Mama saat jam satu pagi. Mama kira kenapa katanya iseng saja. Mama semakin heran." Sraya tidak segera menanggapi secara lisan. Ia belum bisa memikirkan sepatah kata pun untuk merangkai kalimat jawabannya. Dan, rasa bersalah kian besar selimuti dirinya. Bayangan wajah muram dan tatapan sedih Arnawa juga terbayang di dalam benaknya. Sraya harus benar-benar meminta maaf. "Kenapa bengong, Nak? Ada apa?" Sraya menggeleng cepat, kali ini. "Aku nggak apa-apa, Ma. Cuma ingat Arna saja," ujarnya jujur sesuai dengan apa tengah dipikirkan. "Aku yang sudah menyebabkan dia ka--" Tak dilanjutkan oleh Sraya ucapan karena perhatian telah tertuju ke arah Arnawa yang telah membuka mata. Terbangun dari tidur. Kemudian, kekagetan melanda diri Sraya akibat menerima pelukan yang erat pria itu. Dekapan sangat kencang di tubuhnya juga dirasakan. Sraya tidak bisa bergerak. "Aku sangat merindukan kamu, Sra. Jangan pergi lama meninggalkanku tanpa kabar. Apa kamu tahu bagaimana kefrustrasianku saat nggak ada kabar darimu sama sekali?" Sraya membalas pelukan bersamaan dengan rasa bersalah yang melingkupinya, selepas mendengar kata demi kata dilontarkan oleh Arnawa dengan lirih dan sarat kesedihan. Ia tak menyangka pria itu akan bereaksi yang demikian. Sraya pun dilanda penyesalan. "Maafkan aku, Arna."  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN