Arnawa terbangun dengan denyutan di bagian kepala yang menyerang cukup hebat. Efek dari meminum sebanyak sebelas kaleng bir dengan sedikit kadar alkohol, rupanya tak bisa cepat dihilangkan dan masih terasa hingga pagi ini. Kondisinya jadi kurang baik.
Walau sempoyongan, Arnawa tetap memaksakan diri untuk berjalan ke luar kamar. Ia hendak menemui ibunya yang diyakini sedang memasak di dapur, terlebih lagi cacing-cacing di perutnya kian berisik. Arnawa harus sarapan, meski mual.
Untung saja semalam yakni ketika pulang, ia lumayan lancar mengemudikan mobilnya. Ditengah, kepeningan terus menggerus kesadaran dan membuat dirinya ingin cepat-cepat memejamkan mata. Syukur, ia bisa sampai di kediaman sang ibu dengan selamat, tanpa menimbulkan masalah di jalan atau hal-hal yang mencelakai dirinya.
"Mama...," Arnawa meloloskan panggilan dalam suara yang lembut, manakala baru memasuki areal dapur, sosok sang ibu terlihat memasak di sana dengan posisi memunggunginya. Aroma masakan tercium enak masuk pada kedua lubang hidungnya.
Kemudian, ia segera menghampiri. Setelah jarak yang memisahkan berhasil dipangkas. Arnawa langsung memeluk ibunya dari belakang dengan begitu erat dan juga kuat
"Mama masak apa? Aku sudah lapar."
"Apa aku bisa makan sekarang?" tanya Arnawa dalam nada yang tak begitu keras, dibisikkannya tepat di telinga kiri sang ibu dengan lembut. Lolosan tawa kecil pun turut mengiringi sembari memperlebar senyum.
"Wah, Mama masak nasi goreng." Arnawa tidak malu menunjukkan sisi lain dirinya yang masih kekanak-kanakan.
"Pas banget, aku lagi ingin makan nasi goreng buatan Mama." Kembali, Arnawa berceloteh ria dengan mimik riang.
"Anak bandel Mama ingat makan nasi? Tidak diganti minuman bir, Nak?" Ibu Ayu pun melontarkan sindiran beliau secara halus.
"Nggak mau, Ma." Arnawa menjawab secara cepat. "Lebih enak makan nasi goreng kalau lagi lapar, bir nanti saat aku mumet saja."
"Bagaimana untuk sarapanmu, Mama belikan banyak bir lagi, Nak? Supaya kamu mabuk seperti kemarin, saat tiba di sini. Setuju dengan saran bagus Mama yang ini, Arnawa? Mama rasa kamu akan senang."
"Mau berapa botol kira-kira, Nak? Mama akan beli semua untukmu. Terus saja nanti minum sampai mabuk. Mau, Nak? Mama yakin kamu akan tambah senang ide Mama."
Ibu Ayu melekatkan pandangan pada sosok sang putra. Sorot tegas tampak jelas di sepasang mata beliau, tanda Ibu Ayu sedang kesal dengan kelakuan Arnawa, mabuk. Beliau sudah jelas sangat tidak suka melihat sang putra menyentuh minuman-minuman sejenis bir yang secara berlebihan. Ibu Ayu tentunya juga akan menjadi marah.
"Kenapa tidak menjawab, Nak? Mama butuh jawabanmu cepat. Supaya Mama bisa segera belikan berapa botol bir untuk kamu, Arna." Ibu Ayu masih berbicara dengan jengkel.
"Aku minta maaf, Ma. Aku tahu salah karena mabuk. Aku kemarin, cuma mau minum bir beberapa gelas saja. Tapi, habis dua botol. Aku nggak bisa mengendalikan diriku."
Arnawa memandang lekat ibunya yang sedang berikan lemparan tatapan galak. Ia tentu menjadi sedikit takut. Terlebih lagi, memang sudah berbuat kesalahan. Kelakuan yang tak disukai oleh sang ibu. Arnawa cukup menyesali perbuatannya semalam.
"Aku minta maaf, Ma. Aku janji akan lebih hati-hati lagi, kalau minum bir. Nggak akan sampai mabuk." Arnawa berujar dengan mantap, walau suaranya tetap pelan.
"Mama jangan marah terus denganku, ya?" Pria itu lanjut keluarkan kalimat-kalimat untuk meluluhkan hati ibunya.
Arnawa juga berikan pelukan dari belakang dengan erat sembari mengecup pucuk kepala sang ibu. Trik sering ia lakukan untuk membujuk ibunya. "Kalau terusan Mama marah, akan kelihatan semakin menua," candanya secara sengaja.
"Lagipula, Mama harus menghiburku. Alasan aku mabuk kemarin, juga karena suntuk. Aku punya sedikit masalah, Ma. Tapi, bukan berkaitan dengan perusahaan ataupun bisnis kita." Arnawa putuskan bercerita, walau tak semua ia beritahukan kepada sang ibu. Sulit untuk ungkapkan.
"Mama nggak mau tahu masalah aku apa? Biasanya Mama akan selalu peduli apa pun yang berkaitan dengan anak kesayangan Mama ini. Tapi, sekarang malah aku di--"
"Aduhhh, Maaa!" Arnawa menjerit cukup kencang sembari membuka bajunya guna melihat bagian pinggang yang baru dicubit keras oleh sang ibu. Arnawa meringis.
"Mama galak banget, ya. Mama terakhir ke aku begini pas SMA. Sekarang kambuh lagi suka main cubit, saat aku nakal." Arnawa keluarkan protesnya dengan nada sebal.
Dilemparkan juga pada sang ibu tatapan sarat akan kejengkelan. Kontras memang akan seringaian yang tercetak di wajahnya. Tentu, Arnawa tak benar-benar kesal. Ia sengaja berakting guna menarik perhatian sang ibu. Supaya ibunya tak marah lagi.
Usaha Arnawa pun belum mendapatkan hasil maksimal. Tidak ada respons apa-apa yang didapatkan. Sang ibu masih tetap diam dan hanya memandang dirinya saja dengan tatapan sedikit galak. Walau demikian, ia tahu bahwa ibunya tak benar-benar marah.
"Aku minta maaf, Ma. Oke, aku janji aku nggak akan mabuk lagi. Kalau aku langgar, Mama bisa menghukumku apa saja," ujar Arnawa dengan nada dan ekspresi serius.
Digenggam kedua tangan sang ibu seraya ukir senyuman yang lebih lebar. Masih ia arahkan keseluruhan atensi ke wajah cantik ibunya. Menunggu reaksi atas ucapannya. Arnawa sangat yakin jika sang ibu akan bisa segers luluh dengan kata-katanya. Tentu, ia memang sungguh-sungguh akan menepati.
"Iya, Mamaku yang cantik. Aku nggak mau melanggar. Aku sayang dengan Mama. Aku pasti akan menuruti permintaan Mam--"
Kembali, Arnawa tidak dapat melanjutkan kata hendak diucapkan karena terima lagi cubitan dari sang ibu. Namun, lebih sedikit lembut. Meski demikian, tentu tetap sukses membuatnya jadi meringis dan merasa sakit.
Jelas juga, Arnawa merasakan kesal. Tidak lama memang. Hanya beberapa detik. Ia tak ingin juga berlama-lama karena menyayangi sang ibu sampai kapanpun. Enggan marah.
"Mama habis cubit. Kasih aku pelukan biar perihnya cepat hilang. Oke, Ma?" Arnawa pun meminta dengan nada manja sembari melebarkan senyuman ceria di wajah.
Gelengan kepala dilakukan oleh sang ibu, tentu sudah dapat ditebak Arnawa. Tawanya pun jadi terlolos semakin kencang, walau memang terkesan dipaksakan. Jelas, masih dipengaruhi oleh suasana hati yang sedang tak bagus. Jadi, mustahil dapat meloloskan gelakan dengan lepas. Meski, Arnawa terus berupaya menyembunyikan kegundahan yang tetap tak pergi dari dalam dirinya.
"Tidak mau, Nak. Mama tidak akan kabulkan permintaan manjamu, Arna. Kamu itu sudah besar. Kalau mau dipeluk nanti saja dengan istrimu, saat kalian sudah menikah. Oke?"
Arnawa menggeleng cepat. Entah mengapa, ia merasa bahwa ucapan sang ibu sedang mengandung makna yang berbeda. Tentu saja masih ada kaitan akan rencana ibunya diutarakan kemarin. Jika mengingat kembali Arnawa pun mendadak tidak semangat.
"Aku akan menikah bersama Sraya nanti. Itu tandanya Mama nggak akan bisa memeluk aku lagi nanti." Arnawa bercanda dengan iringan tawa. Walau, terkesan dipaksakan.
…………………………………………………………………………
"Hyang Widhi, di mana pun sekarang ini Sraya tengah berada, tolonglah lindungi dia. Semoga dia baik-baik saja. Tolong jaga dia."
"Hamba menyayanginya, Hyang Widhi. Sraya sangat berarti untuk hamba, tolong jaga dia di sana. hamba meminta dengan sangat. Hamba di sini hanya bisa memohon dengan penuh kesungguhan. Hamba tidak punya kekuatan melebihin kuasa-Mu, Hyang Widhi."
"Hamba ini masih sering melakukan kesalahan setiap hari. Ampuni dosa kami, Hyang Widhi. Bimbing hamba. Kalau memang, hamba harus mendapat balasan semua karma atas perbuatan-perbuatan buruk selama ini. Hamba akan terima."
Doa-doa tersebut, Arnawa gumamkan penuh hikmat dan khusyuk, tatkala bersembahyang di merajan yang ada di rumah ibunya, tadi. Malam ini, pikiran Arnawa telah lebih bisa diajak untuk berkompromi dengan suasana hatinya. Tidak lagi kacau seperti kemarin, ia berupaya menenangkan diri sendiri pun sudah mulai dapat dilakukan secara perlahan-lahan.
Saran sang ibu sore didengarnya saksama sebab tak ingin selalu memilih hal-hal negatif sebagai pelampiasan dari kekalutan yang menguasai diri. ibunya pun menyarankan agar ia sembahyang, Arnawa menurut. Bukan karena keterpaksaan belaka, ia memang ingin mendekatkan diri kepada Tuhan.
"Nak...,"
"Arna, ke sini dulu, Nak. Cepat kemarii!"
Arnawa yang baru empat detik lalu memasuki ruang tamu datang dari merajan, seketika menaikkan alis kanannya mendengar panggilan sang ibu yang begitu antusias dan semangat. Ia pun tak merasa curiga, saat ibunya tersenyum dengan cukup lebar. Arnawa pun menjadi curiga.
"Ada apa, Ma?" tanyanya dengan nada pelan, namun tetap terdengar sopan dan jelas.
"Mama punya kabar gembira untukmu, Nak. Mama yakin kamu akan sangat senang mendengarkannya nanti. Pasti kamu riang."
Arnawa segera merespons, dengan anggukan kilat. Ia lakukan satu kali saja. Terus dipandangi sang ibu. "Kabar apa itu, Ma? Beri tahu aku sekarang supaya aku nggak lebih penasaran," pinta Arnawa dengan suaranya yang kurang tenang. Ekspresi di wajah pun mulai menegang.
"Aku harap kabar bagus, positif, dan baik, Ma." Pria itu menambahkan jawaban. Kali ini, sudah bisa tersenyum, walau terbilang cukup tipis di masing-masing ujung bibir.
"Iya, Nak. Kabar gembira. Tapi, sebelum Mama beri tahu pada kamu. Coba tebak dulu, Arna. Tidak akan susah."
Arnawa lekas menggeleng. Tanda enggan mengiyakan permintaan sang ibu, disaat suasana hatinya belum bisa sepenuhnya merasakan kedamaian, walau telah lakukan persembahyangan secara khusyuk dan hikmat. Ia masih saja memikirkan Sraya, rindu semakin membuncah.
Arnawa juga sedang malas bercanda yang mengharuskan dirinya banyak berbicara. Suasana hati masih belum membaik. Ia tak bisa memikirkan jawaban yang sekiranya dilontarkan seperti keinginan sang ibu.
"Maaf, Ma. Aku lagi nggak bisa berpikir tentang apa-apa. Termasuk, menebak. Maaf, Ma." Arnawa berkata sejujurnya saja
"Baik, Nak. Mama mengerti. Kamu masih sedih karena Sraya belum pulang. Kamu pasti sangat kangen dia. Sampai membuat anak ganteng Mama ini jadi malas berpikir."
Selesai menjawab, Ibu Ayu loloskan tawa secara spontan dan berikan usapan di pipi kiri sang putra. "Mama tidak menyangka, anak Mama akan begini akibat lagi merindu yang sangat dengan kekasihnya. Pujaan hati tersayang. Sangat manis Mama melihatnya."
"Mama, terus saja mengejekku. Mama tolonglah jangan tertawa sekarang. Aku malas ditertawai sama Mama. Aku maunya Mama hibur. Bukan malah Mama ejek."
Mendengar sahutan sang putra yang lucu untuk beliau, maka Ibu Ayu tak kuasa meredam tawa. Keluar kembali dengan suara cukup keras. Hanya berlangsung sekitar 10 detik, saja. Ibu Ayu berupaya segera menghentikan.
"Tidak, Nak. Mama nggak ada maksud untuk mengejek kamu. Mama malah mengerti apa yang kamu rasakan, Arna. Maaf, kalau kamu menganggap Mama mencandaimu. Jangan marah dengan Mama. Kamu tetap Mama sayang. Putra ganteng satu-satunya Mama."
Arnawa mengangguk pelan sembari ulas senyuman di wajah. Ia tak akan bisa terlalu lama kesal dengan ibunya. Jika dilakukan hal demikian maka, ia yang akan menjadi anak durhaka. Jelas, Arnawa berupaya keras menghindari. Selalu hormati sang ibu.
"Nggak, Ma. Aku nggak marah. Mana bisa aku marah sama Mamaku yang cantik," ujar Arnawa santai dalam nada candanya.
"Baik. Supaya perasaan kamu tidak terus-terusan sedih, maka Mama akan beri tahu kabar yang gembira. Mama sangat yakin, kalau kesedihan kamu akan dapat hilang, Nak." Ibu Ayu berujar dengan rass antusiasme dan kepercayaan diri tinggi.
"Kabar apa, Ma?" Arnawa bertanya cepat. Rasa penasarannya jadi lumayan besar.
Keingintahuan untuk segera mendapatkan jawaban yang pasti dari sang ibu didorong oleh ekspresi tengah dipamerkan ibunya. Bagi Arnawa, senyum pada wajah sang ibu tak tampak hangat seperti biasa. Ia melihat ada semacam keanehan. Apalagi, sorot mata ibunya. Membuat Arnawa semakin curiga. Ia begitu ingin memperoleh balasan segera. Dan, sang ibu tak kunjung menyahut.
"Ayo bilang cepat, Ma. Apa kabar buruk, ya? Kalau iya, apa itu?" konfirmasinya lagi.
"Bukan, Nak. Tidak kabar buruk. Jangan dulu menebak asal-asalan. Mama sampaikan kabar yang baiklah. Kamu akan senang."
Alis bagian kanan Arnawa semakin naik ke atas karena rasa heran sekaligus juga ingin tahu yang kian besar. Dipandang lebih lekat sang ibu. Senyuman di wajah cantik ibunya tampak mencurigakan. Arnawa pun yakin jika tengah ada yang disembunyikan dari dirinya. Ia harus segera mencari jawaban.
"Kabar baik? Apa itu, Ma?" Arnawa tambah penasaran saat melontarkan tanggapan.
"Sabar, Nak. Sabar. Tunggu sebentar. Tidak sabaran bukan hal yang bagus tahu, Arna."
Arnawa memilih mengalah. Kepalanya pun lantas dianggukkan guna membalas ucapan sang ibu. Bukan berarti rasa penasarannya dapat dihilangkan begitu saja. Hanya coba untuk diredam, tidak terus berupaya untuk dikonfirmasi kepada ibunya. Percuma. Tak akan membuahkan hasil. Memang lebih baik ia menunggu sampai diberitahukan semua.
"Begini, Nak. Mama tidak mau melihat kamu terus bersedih dan terpuruk. Mama punya rencana mempertemukan kamu dengan seseorang. Dia orang yang baik. Mama suka perempuan itu. Mama rasa kamu juga akan, Nak. Mama undang dia datang ke rumah."
Reaksi Arnawa jelas terkejut bukan main akan jawaban sang ibu. Tak disangka sama sekali akan demikian kabar baik yang sudah ibunya persiapkan. Arnawa bahkan tak tahu harus memberikan tanggapan yang bagus bagaimana. Terlebih, ia sama tidak sangat setuju untuk berkenalan dengan wanita lain.
Arnawa menggelengkan kepala kuat-kuat dan melekatkan tatapan ke sang ibu. "Nggak, Ma. Aku nggak mau berkenalan dengan dia."
"Perempuan yang ingin Mama kenalan. Aku belum siap, Ma." Arnawa menolak tegas.
"Kenapa tidak mau, Nak? Mama hanya ingin kalian bertemu. Tidak lebih. Bisa saja nanti dia jadi rekan baru dalam bisnis perusahaan kita. Mama tidak mau mendengarkan alasan kamu. Kalian harus tetap bertemu. Mama tidak mau menanggung malu kalau sampai membatalkan pertemuan dengan dia."