Rama mulai menjalankan rencana untuk mendekati Fahri, ia mengajak Fahri bertemu di kafe tempat Ayu bekerja.
Tentu saja Rama mendapat nomor Fahri dari Ayu. Dengan alasan akan mencoba berteman dengannya.
Sebelumnya Rama menelpon Fahri yang mendapat rejeck beberapa kali dari bocah itu hingga panggilan ke lima akhirnya Fahri mengangkat dengan sedikit kesal.
"Siapa loe? Ganggu gue," tanya Fahri saat mengangkat telepon dari nomor tidak dikenal. Saat itu Fahri masih disekolah dengan teman-temannya.
"Galak amat, aku mau bertemu sama kamu."
"Loe siapa mau ketemu sama cowok tampan di sekolah ini?" terdengar suara tawa dari sebrang telepon. Rama masih menanggapi santai.
"Gue Om yang akan nikahi kakak loe." sontak Fahri menghentikan tawa seketika.
"Om?"
"Panggil gue Rama bisa gak sih?"
"Kalau gak mau di panggil Om ya udah bapak-bapak aja." Rama menggeram kesal mendengar dirinya disebut bapak-bapak. "Ada apa nelpon? Pasti ada maunya."
Fahri tidak menanyakan darimana Rama dapat nomornya. Siapa lagi kalau bukan dari Ayu. Dan sekarang Rama menelponnya, untuk apa? Fahri pun masih tanda tanya.
"Aku mau ngobrol sama kamu."
"Disini kan bisa, ngobrol aja Om."
"Aku mau ketemu."
"Kalau gue gak mau?"
Rama mengurut pangkal hidung. Bocah ini benar-benar menguji kesabarannya.
Sabar Rama, ini ujian untuk dapatkan Ayu. Bertahan.
"Aku akan ngasih apapun yang kamu mau."
"Gue maunya Om tinggalin kakak gue."
"Kecuali itu." potong Rama cepat.
"Gue mau ha--"
"Ok deal! Ketemu di kafe tempat kakak kamu kerja. Aku tunggu." dengan cepat Rama menutup telepon tanpa mendengar jawaban dari Fahri.
Sedangkan di ujung telepon sana Fahri mengumpat di hadapan teman-temannya.
"Siapa Ri?" tanya seorang teman yang masih asyik bermain game di ponsel.
"Tau lah, Om stress," timpal Fahri seraya berdiri. "Gue cabut dulu, ada perlu."
"Gak nungguin gebetan?"
"Salam aja buat dia," teriaknya sambil berlalu.
Dalam perjalanan pikiran Fahri masih dipenuhi tanda tanya kenapa si Om itu ingin mengajak nya bertemu. Ditempat kakaknya bekerja lagi.
Jangan-jangan si Om udah ngadu kejadian kemarin. Tapi, kalau emang dia ngadu tadi pagi gue mungkin kena omel kak Ayu. Ah nanti gue tahu sendiri. Yang penting sekarang gue ketemu dulu si Om itu. Dia juga udah janji mau ngasih apa yang gue mau. Hihi, guman Fahri dengan segala pemikirannya.
Dan saat ini mereka sudah duduk di kafe dan juga ada Ayu diantaranya.
"Aku yang mengajaknya bertemu. Sekedar ingin kenal lebih dekat dengan adikmu," ucap Rama tersenyum kepada Ayu yang sudah memerah wajahnya. Fahri yang melihat hanya berdecak sebal.
"Ri, mau pesan apa? Biar kakak bawain," tanya Ayu.
"Jangan Yu, biar pelayan lain aja. Dan kamu tetap disini bersama kami."
Si Om mau ngomong apa sih? Malah sibuk basa-basi.
"Apa aja deh, asal Om ini yang bayarin." Rama mengangguk tersenyum kecil. "Cepat deh Om, mau ngomong apa, gue masih ada janji."
Dengan cepat dan lembut, Rama memegang tangan Ayu yang terasa dingin akibat gugup diperlakukan manis oleh Rama.
"Aku nembak kakak kamu. Dan kami sudah saling setuju." Pandangan Rama dan Ayu bertemu menyalurkan perasaan masing-masing.
"WHAAAT?" Fahri menggebrak meja kaget, dan membuat tatapan mereka beralih memandang Fahri. Ayu menyeringai memberi isyarat untuk tenang ke arah Fahri.
"Tenanglah, aku belum selesai." Rama menghela napas pelan. "Kami, khususnya aku meminta izin untuk memacari kakak kamu dan kalau kamu setuju aku akan segera melamarnya."
Mendengar itu, Fahri mulai terlihat santai. Ia duduk ke tempat semula.
Untung kemarin Fahri sudah mengatakan pada Ayu jikalau suatu saat nanti Rama menyatakan cinta, harus lewat persetujuan darinya.
"Gak, aku gak mau ngasih restu."
"Kenapa Ri?" kali ini Ayu yang berbicara.
"Fahri masih tidak percaya pada Om ini. Lihat saja di otaknya pasti banyak rencana membuat jebakan untuk kakak."
"Ri," Ayu menatap Fahri seraya menggeleng. Dan berharap mempercayai Rama.
"Aku akan buktikan kalau aku serius sama kakak kamu. Aku tidak akan mempermainkan Ayu. Aku akan membahagiakan Ayu dan kamu." ucap Rama tulus membuat Ayu lagi-lagi memerah.
Bocah itu masih saja tidak menatap Rama, dengan tangan bersidekap dan wajah sombong.
"Kamu percaya sama Rama, dia akan buktikan itu."
"Pikiran kakak sudah terhipnotis oleh mulut busuk nya si Om itu. Kakak sadar gak sih kalau kakak mau dijadikan istri simpanan sama dia? Atau selingkuhannya mungkin."
Reflek tangan Ayu memukul pundak Fahri. "Aduh, kakak." seraya mengusap bagian yang sakit, Fahri berdiri dari duduknya sebelum minuman itu datang. "Gue gak mau loe deket-deket sama kakak gue. Apapun alasannya, dan jangan berharap loe bisa nikahin kakak gue."
Fahri pergi ke arah pintu luar meninggalkan Ayu dan Rama yang menahan kesal juga sadar saat ini dirinya sedang bersama Ayu. Tidak ingin Ayu melihat Rama emosi terhadap Fahri.
Namun saat hampir keluar, Fahri masuk lagi dan mendekat ke arah Rama seraya berkata, "Loe udah janji kalau gue kesini, loe akan ngasih apa yang gue mau." Rama hanya mengangguk tanpa bersuara. "Gue minta ponsel keluaran terbaru. Titik." secepat kilat Fahri menghilang dari pandangan.
"Maksudnya?" Ayu penasaran dan Rama menceritakan semuanya. "Apa? Jangan di turutin, bisa-bisa ngelunjak. Kamu kenapa ngasih permintaan konyol seperti itu." tanya Ayu kesal.
Rama membuang napas lembut dan mengusap punggung tangan Ayu. "Aku lakukan untuk kamu, agar kita dengan cepat secara resmi pacaran. Aku ingin meminta restu dari adik kamu. Dan akan ku lakukan segala macam cara agar adikmu bisa berkata YA."
"Tapi tadi kamu liat adik aku--"
"Itu baru permulaan, aku akan terus berusaha membuatnya luluh dan menerima ku." saat itu juga pipi Ayu kembali memerah mendengar ucapan yang menurut Ayu seperti rayuan.
"Ayo!"
"Hah?" Ayu menengadah melihat wajah Rama dengan heran.
"Hari ini kita kencan." timpal Rama tersenyum.
"Tapi pak aku masih kerja."
"Biar aku yang minta izin sama managermu." Rama langsung berdiri dan pergi ke ruangan khusus menager, tidak berapa lama ia keluar dengan senyum kemenangan. Dan menganggukan kepala tanda Rama mendapat persetujuan dari manager.
"Tumben bisa, padahal dulu tiap aku mau izin susuah banget dapat kata IYA."
"Aku suap." jawab Rama simpel. "Ayo sayang, kita kencan."
"Ish jangan panggil itu, malu." Rama hanya terkekeh sambil berlalu keluar menggandeng Ayu.
"Uwuuuu so sweet banget pacar kamu Yuuuu. Aku mauu, aku mauuu." Marah berteriak heboh melihat Ayu keluar bergandengan bersama Rama. Ayu menjadi semakin menunduk malu melihat orang-orang memandang ke arahnya.
Marysa pliis jangan heboh, kami hanya keluar sebentar. Begitu kira-kira isyarat yang Ayu berikan dengan tatapan mata tajam ke arahnya membuat Marsya tersenyum tidak enak seraya mengangguk.
"Temen kamu emang kaya gitu tiap hari?"
"Kaya gitu gimana Rama?"
"Tubuhnya kaya cacing, mulutnya kaya bebek. Jangan-jangan dia siluman."
Seketika Ayu tertawa mendengar ucapan Rama."Haha Rama, kamu jangan sering nonton sinetron." masih di selingi tawa renyah Ayu. Membuat Rama juga tersenyum. Saat ini mereka sudah di taman tempat malam yang lalu Rama menyatakan cinta.
"Aku senang kamu tertawa, seperti melepas beban hidup yang rumit. Melepas sejenak penat akibat pekerjaan." Mata Ayu langsung menatap mata Rama.
"Eh maaf."
"Maaf juga, aku hanya membawamu ke taman ini lagi. Jujur sebelumnya aku tidak pernah melakukan ini, dan hanya padamu aku berani bersikap seperti itu. Entahlah kata Angga otakku sudah karatan. Apa benar?" tanya nya pada Ayu.
Sungguh Ayu entah kenapa bahagia melihat Rama seperti itu, dan mulai menunjukkan sisi lembut pria itu. Ayu sungguhlah beruntung mendapat lelaki seperti Rama.. Sedangkan diluaran sana perempuan-perempuan berusaha keras untuk mendapatkan lelaki itu. Ayu sudah mulai menerima kenyataan bahwa ini bukanlah mimpi. Lelaki yang sekarang duduk bersamanya adalah orang yang mencintainya tulus. Namun satu-satunya masalah adalah izin sang adik.
Semoga saja lelaki itu tidak menyerah dan terus berusaha membujuk Fahri. Membuat Rama berhak atas dirinya. Ayu sudah mulai nyaman dengan Rama. Dan Ayu juga ingin melihat seberapa besar perjuangannya untuk mendapatkan Ayu.
Rama masih berfikir apa yang harusnya dilakukan orang saat berkencan? Rama tidak menanyakan hal ini kepada Angga.
Dasar Rama, harusnya mau kencan dipersiapkan dukh. Jangan dadakan seperti ini. Lihat! Sekarang kita seperti patung hidup yang hanya duduk saling diam. Kencan macam apa itu? Gumam Rama merasa sulit berpikir apa yang selanjutnya harus dilakukan.
Mencari tahu ke rumah nenek moyang pun (mbah google) rasanya sia-sia. Dan seketika cairan darah ke otak mengalir cepat, memberikan respon aktif terhadap sang pemilik otak untuk cepat berfikir dan Ahaa! Seperti lampu bohlam yang keluar di dalam kepala, memunculkan ide lain.
Kenapa gak dari tadi gue coba, malah benging-bengong sendiri. Rugi waktu.
"Mau ice cream?" tanya nya cepat dengan perasaan malu.
"Hah?" mata Ayu mengerjap beberapa kali ke arah Rama.
"Ok, tunggu disini. Aku akan belikan." Rama berdiri dan mendekat ke arah tukang eskrim yang baru melewati nya. Ia tidak ingin terlihat grogi di hadapan Ayu.
"Ramaaa!" Lelaki yang dipanggilnya menoleh perlahan. Takut Ayu menolak atau apa, namun..
"Aku mau rasa coklat satu," ucap Ayu malu-malu.
Tanpa laki-laki itu duga jawaban Ayu akan seperti ini. Rama bernafas lega, dan mengangguk menaikan satu jempol ke arah ayu. "Assyiaaaap!"