"Hahahaha... Hahahaha." Rama tertawa puas membayangkan reaksi Fahri menyantap martabak yang ia kasih. Rama mencampur selai strowbery dengan saus tomat dan saus pedas dengan warna yang hampir serupa agar tidak terlalu mencolok.
"Bos?" Angga yang berada di rumah Rama saat ini hanya melongo melihat tingkah bos yang diluar normal.
Angga memang pulang saat itu, namun tidak ke apartemennya dan sekarang malah disini menunggu bosnya. Angga memperhatikan dari saat Rama keluar dari mobil dan sampai sekarang rebahan di kasur, bos nya itu belum berhenti tertawa.
Ingin bertanya namun takut ia yang akan menjadi sasaran. Angga biarkan dulu bos nya tertawa sampai mungkin tenggorokannya kering.
"Hahahaha.... Hahahaha.... Mampus tuh bocah. Berani ngerjain gue. Dikerjain balik emang enak loe." tawa nya semakin menggelegar seakan belum puas menertawakan orang lain.
"Bos, tertawa di atas penderitaan orang lain itu gak boleh." ucap Angga sok suci.
"Tertawa di atas penderitaan?" Rama berhenti tertawa dan melirik Angga.
Wah gawat!
"Gue tertawa bersamanya kok. Dia juga seneng gue kerjain. Hahahaha."
"Astagfirulloh bos!" Angga meraup wajah kesal melihat bos benar-benar berbeda.
Jangan tunjukin kegilaan loe di depan kolega kita dan irang kantor. Bisa hancur reputasi loe sebagai bos cool dan keren. Gue juga yang maluu bos. Batin Angga.
"Ga?" lelaki yang ditanya hanya bengong, mungkin sedang melamun. "ANGGA!" kali ini Rama berteriak memanggilnya.
"Y-ya?"
"Jangan ngelamun, nanti kesambet."
Bukannya loe yang kesambet dari tadi.
"Gue di gantungin Ga."
"Apa?"
"Ayu tidak menolak dan menerima gue." ada helaan napas sebelum Rama melanjutkan, "Bener kata loe, Ayu memberi syarat untuk membujuk Fahri menyetujui hubungan kami. Kalau berhasil, Ayu juga akan nerima gue."
"Syaratnya?"
"Fahri."
"Hah?" Angga tidak mengerti.
"Bocah itu."
"Ia apa?"
Rama geram, Angga tidak mengerti maksud ucapan Rama. Sudah jelas-jelas Rama memberitahunya. "Syarat Ayu adalah gue harus ngebujuk bocah itu agar mau nerima gue. Baru Ayu juga akan nerima gue."
Kini giliran Angga yang tertawa puas. Cinta sang bos sungguh aneh dan unik. Baru kali ini Angga menemukan percintaan sepasang manusia yang saling mencintai namun harus terhalang restu sang adik. Dan anehnya, itu malah menjadikan syarat agar Rama diterima oleh Ayu.
Benar-benar unik, jadi saat ini Rama akan berusaha mengejar cinta adiknya, bukan pacarnya? Cinta dari sang adik agar luluh dan mau menerima Rama sebagai kekasih kakaknya?
Wow, Angga menggeleng berkali-kali. Kisah percintaan sang bos memang luar biasa. Kalau ini dijadikan sebuah novel mungkin akan banyak yang baca.
"Bener kan kata gue?" Angga berbicara. "Kata gue juga apa, adiknya itu jadikan tantangan buat loe. Dan buktikan bahwa loe memang pantas untuk Ayu. Buktikan pada adiknya. Dan rebut hati adiknya agar melting." diakhir kalimat Angga tertawa mengatakan kalimatnya sendiri.
Baru tadi tertawa puas, sekarang malah pusing tidak karuan. Ia memikirkan rencana untuk mendekati Fahri. Perlahan namun pasti.
Angga pergi meninggalkan kamar Rama seraya mengatakan, "Cayo bos, don't give up!"
********
Di kafe, Ayu memikirkan perubahan sikap Fahri malam tadi. Bahkan dia tidak memberi Ayu sedikitpun maratabak itu. Fahri benar-benar menghabiskannya, dan kenapa yang tadinya ceria berubah menjadi uring-uringan tidak jelas.
Padahal Ayu juga ingin mencicipinya. Ah mungkin itu memang masa pubernya anak muda yang suka labil.
"Jadi bener kamu ditembak Rama?" tanya Marsya heboh, mereka sedang di dapur mempersiapkan hidangan untuk pelanggan.
"Dan loe gak jawab Iya ataupun tidak?" Ajeng menimpali.
"Dan loe beri syarat cowok itu untuk membuat adik kamu setujui hubungan kamu?" Marsya menatap Ayu menunggu jawaban.
Dengan helaan napas, Ayu menceritakan semua pada kedua sahabatnya.
Masih dengan menuangkan kopi, mereka mengobrol membahas percintaan Ayu dan Rama yang menurut mereka sangat rumit. Namun tidak bagi Ayu dan Rama, mereka menjalani nya akan sesantai mungkin dan tetap seperti biasa. Biarkan waktu yang berjalan untuk melihat seberapa keras perjuangan Rama untuk memdapatkannya.
"Adik kamu gimana sih, kenapa gak suka banget sama cowok tampan itu. Heran deh." Marsya mengibaskan rambut panjang nya. Sedangkan Ajeng sudah lebih dulu keluar membawa nampan dengan gelas berisi cairan coklat.
"Gak tau Sya, mungkin adik aku belum kenal dekat aja sama Rama."
"Hellow, yang jelas adik kamu harusnya bersyukur bakal punya calon kakak ipar yang ganteng dan kaya." Marsya emosi, Ayu menanggapi nya hanya mengangkat bahu tanda tidak tahu apa yang harus dilakukan.
"Eh kamu sudah tahu siapa pemilik baru kafe ini?" Ayu mengalihkan pembicaraan.
"Iya yah, udah lebih enam bulan kita belum tahu siapa bos baru kita."
"Cowok atau cewek ya?" Ayu penasaran.
"Eh kata manager kita bos baru pemilik kafe ini cowok lho dan handsome." Marsya tersenyum sendiri. "Uwuuu, ini buat gue ya. Loe udah punya Rama, dan gue cowok ini. Si bos ganteng."
"Kalau bos nya udah tuwir gimana?" tanya Ayu menggoda Marsya.
"Kalo berduit gue sih yes." seraya cekikikan. "Eh tapi aku masih normal Yu, gak mau yang bekas dan Om-om. Aku mau yang ganteng dan minimal seumuran cowok kamu deh."
Ayu terkekeh pelan mendengar perkataan Marsya.
Benar juga, Ayu belum tahu siapa bos baru nya. Pernah bertanya sama bu Winda--manager kafe yang bentuk tubuhnya menonjol dibeberapa bagian tertentu membuat para lelaki menelan ludah ketika melihatnya. Walaupun sudah kepala empat, tapi body begitu menggoda iman para lelaki. Ditambah selalu memakai pakaian yang belum jadi dan kurang bahan. Dan ketika bertanya, Marsya ataupun Ajeng malah mendapat, semprotan air hujan buatan. Membuat mereka tidak ingin bertanya untuk kedua kalinya.
Nama? Bu Winda tidak memberitahu dan hanya memberi inisial hiruf G.
G? Ayu tidak ingin memikirkan siapa dia. Yang jelas, kalau Ayu masih dipekerjakan ditempat ini, ia merasa tidak perlu mengusik privasi nya. Dan memilih bermain aman.
"Marsya? Yu?" teriak seseorang di luar dapur.
Bu Winda memanggil mereka. Kedua wanita itu terkesiap terkejut.
"Cepat antarkan ke meja nomor lima, pelanggan sudah menunggu." teriaknya dengan tatapan tajam seperti ingin mencabik-cabik mereka. Dengan cepat Ayu dan Marsya menurut.
Marsya ke meja nomor delapan, dan Ayu ke meja nomor lima. Pesanan "Americano coffee latte." mendengar itu Ayu teringat akan seseorang yang selalu memesan kopi yang sama. Dan benar saja orang yang di ingat kini ada di hadapannya. Meja nomor lima.
"Hai Yu." Rama tersenyum.
"Rama? Gak kerja?" seraya memberikan kopi yang dipesan dan disimpan di meja dekat lelaki itu.
"Ini kan jam istirahat." Rama menepuk kursi kosong. "Sini, duduklah pacarku."
"Ih jangan panggil itu."
"Kenapa?"
"Malu." Rama terkekeh.
"Kalau kekasihku?" jiwa kasmaran seorang Rama muncul. Entah dapat dari mana Rama bisa mengatakan kata-kata itu. Rama menganggap bahwa mereka sudah jadian namun belum sah. Tapi masih di sebut pacaran. Begitulah Rama mengartikannya. Setidaknya Rama ingin memberikan kesan kalau lelaki itu bersikap romantis di depan Ayu. Tapi nyatanya Rama masih awam dalam hal ini dan sekarang ia lagi berusaha.
"Apalagi itu." Ayu menunduk dengan wajah merah merona.
"Ya udah sayang aja. Ya?"
"Ish Rama." Lidah ayu kelut, tidak bisa berkata apa-apa lagi di depan lelaki yang sudah mulai terukir namanya di hati Ayu.
"Emm, aku kerja dulu ya?" hendak berdiri namun tangan di tahan Rama untuk menyuruhnya duduk kembali.
"Gak usah, aku sudah bilang sama manager itu." melihat ke arah bu Winda yang memperhatikan dengan tatapan genit, membuat Rama merinding.
Coba kalau Ayu yang menatapku begitu. Mungkin hati dan jantungku saling bersahutan. Batin Rama.
"Kalau ada aku, kamu harus duduk denganku dan jangan ngapa-ngapain. Manager juga setuju kok."
"Kenapa bisa setuju? Emang kamu siapa nya? Bos nya?"
Aduh gawat , jangan sampai tahu.
Rama menggaruk kepala nya cepat. "Emm, itu. Aku udah bayar dia."
"Berapa?"
"Dua juta."
"APA?" Ayu kaget mendengar nominal yang di sebut Rama. Pasalnya uang segitu cukup untuk membiayai hidup mereka dan uang sekolah Fahri.
Dua juta? Ya ampun Rama.
"Gak apa-apa. Hanya sesekali kok. Kan aku ketemu kamu nya juga jarang." Rama mengerti dengan reaksi Ayu.
Ia juga ingin membantu keuangan Ayu dan Fahri. Namun Rama mengerti wanita di depannya ini tidak suka kalau Rama bersikap begitu. Disangka nya takut Rama akan menganggap Ayu wanita matre. Dan Ayu tidak suka meminta. Orangtua nya mengajarkan kalau tangan diatas lebih baik dari pada tangan di bawah. Dan Ayu selalu mengingat kata-kata itu.
Itu yang membuat Rama bangga padanya. Walaupun Ayu tahu Rama orang kaya. Tapi Ayu tidak pernah meminta apapun padanya.
"Kakak!" teriak seorang dari arah luar kafe. Ayu menoleh.
"Fahri?" lelaki itu menghampiri dan tersenyum kepada sang kakak, tapi tidak kepada Rama. Fahri malah melotokan mata padanya yang lagi-lagi dibalas senyuman oleh Rama.
Ayu menatap Rama dan Fahri bergantian meminta penjelasan.
Akhirnya Rama berbicara. "Aku yang mengajaknya bertemu."