Chapter 8

1623 Kata
"Syarat?"          "Iya, aku akan menerima cinta mu asal kamu menerima dan memenuhi syarat itu."           "Apa?" jawab Rama cepat.            "Aku ingin kamu bisa memenangkan hati Fahri. Aku ingin Fahri juga setuju dan membuatku menerima cinta mu," jelas wanita itu masih tidak ingin berhadapan dengannya. Ia malu sekaligus sedih, kenapa susah sekali untuk bisa mengatakan Ya.            Fahri? Meminta restu Fahri? Sumpah demi apa ia yang menembak Ayu, harus menunggu persetujuan juga dari bocah itu untuk bisa menerima jadi pacar kakaknya.           Ini pasti kerjaan Fahri, dasar bocaaah!         Rama hanya mengira-ngira jawaban Ayu kalau tidak menerima ya menolak. Tapi ini malah digantung seperti jemuran, yang tidak tahu kapan akan di angkat dan masih tetap disimpan dijemuran. Kapan akan di terima dan masih tetap di gantungin?              "Ok, aku terima syaratnya." Rama benar-benar tulus mencintai Ayu. Ia akan buktikan bahwa Fahri juga akan merestui nya nanti. Rama tahu ini hanyalah sebuah pengorbanan kecil untuk mendapatkan sang pujaan. Ia tidak akan kalah dan mundur.             Ayu berbalik dan kini berhadapan dengan Rama. Menatap manik Rama yang Ayu lihat memang ada ketulusan dalam ucapannya. Beginilah orang yang sedang jatuh cinta, apapun bisa dilihatnya dan disimpulkan olehnya.           "Benarkah?" wajah Ayu berbinar.           Rama mengangguk pasti. "Aku akan berusaha mendapatkan restu dari Fahri, dan setelah itu aku akan melamarmu." Rama memeluk Ayu. Untuk pertama kalinya selama pertemanan enam bulan, Rama memeluk tubuh gadis itu. Begitu hangat dan perasaan cinta nya semakin kuat. Rama tak ingin melepaskan pelukan, tak ingin kehilangan Ayu. Ia akan berusaha agar sang adik luluh.              "Yu, tapi sebelum itu jawab pertanyaanku dulu."         "Apa?" Mereka melepaskan pelukan dan duduk kembali di bangku. Sementara Angga di ujung jalan hanya menjadi nyamuk.           "Apa kamu juga ada perasaan sama aku? Perasaan sepertiku," tanya nya ragu, ia ingin memastikan kalau memang Ayu juga mencintainya. Ia akan semakin bersemangat mengejar restu Fahri dan dirinya.             Ayu menjawab dengan anggukan. Sekali lagi, lelaki itu memeluknya lembut. "Ok, tunggu. Aku akan berusaha meluluhkan hati adik kamu."          "Tapi kamu jangan bermain kasar sama adik aku."             "Tidak Yu, aku akan bermain sehat. Dan akan memenuhi syarat yang kamu berikan."            "Adik ku keras kepala, susah di bujuk."              "Mau keras kepala, mau keras seperti batu atau karang. Aku akan tetap membuat kerasnya itu melebur menjadi kepingan dan akan membuat Fahri dengan senang hati menerimaku sebagai kekasihmu."              "Maaf ya?"               "Untuk?"              "Syarat aneh itu."                 "Tidak Yu, kamu benar. Kamu masih punya keluarga dan tentu harus mendapatkan persetujuan juga dari keluarga mu. Aku mengerti."               "Terima kasih." Ayu tersenyum.                Setidaknya Rama bisa bernapas lega sedikit, Ayu ternyata mempunyai perasaan yang sama dengannya. Dan masalahnya sekarang ada di adiknya, bocah kunyuk itu.              Ah Rama ingat sesuatu.                "Yu, kemarin apa kamu suka martabak nya?" Ayu mengerutkan dahi.                "Martabak?"              "Hu.um, yang di bawa sama adik kamu. Martabak selai strowbery. Kata adik kamu, kamu lagi sibuk. Makanya dia yang datang menggantikan mu."                   Sontak mendengar penuturan Rama, mata Ayu terbelalak tidak percaya. Dengan cepat menyimpulkan semua rencana pertemuan nya di Minggu sore dengan Rama batal gara-gara Fahri.                  Lihat saja nanti dirumah Fahri. Ayu bergumam kesal. Ia juga menyeringai tidak enak terhadap Rama. Lelaki yang di tatapnya hanya tersenyum santai.                  "Tidak apa-apa. Aku mengerti. Itu semua kerjaan adik kamu." Rama masih mengelus rambut Ayu.              Membuat wanita itu berdegup tidak karuan. Bukan hanya Ayu. Rama juga tak kalah hebat jantungnya berdetak. Kalau kedengaran mungkin akan saling bersahutan kedua jantung yang sudah mengeluarkan perasaannya masing-masing.                Menurut Ayu ini masih lah disebut sopan, tidak terlalu kemana-mana tangannya. Masih aman. Ya hanya mengelus rambut. Ayu biarkan.            "Dan ini, tunggu." Rama berlari mengambil sesuatu dari dalam mobil yang jaraknya memang tidak jauh dari taman. "Berikanlah ini kepada adik kamu, sebagai permintaan berterima kasihku telah memberi syarat itu padaku. Kalau tidak, mungkin kamu tidak akan tahu perjuangan ku untuk mendapatkan mu." pipi Ayu seketika merona membuat Rama terkekeh. Karena banyaknya cahaya yang dibuat oleh Rama dan Angga, pipi merona Ayu terlihat jelas.             Ayu mengangguk. "Terima kasih Rama."            "Ingat kasih ini ke Fahri ya, dan salam dari aku. Aku akan berusaha membuat Fahri menerima ku."             "Semangat ya!"               "Panggil sayang dong!" goda Rama yang membuat Ayu lagi-lagi merona dan malah berlari meninggalkan lelaki itu.              "Tunggu Yu, aku hanya bercanda," kekehnya. "Ayo ku antar pulang." Rama lalu mengetikkan pesan chat pada Angga dan pergi menyusul Ayu yang tampak malu-malu.        "Loe pulang naik taxi aja, gue ke rumah Ayu dulu." isi pesan chat itu.               Angga lagi-lagi menjadi yang tersiksa disini. Sudah lama menunggu dengan si bapak tukang pln yang mengurus hidup mati nya lampu hias di taman. Kaki pegal berdiri terus dipojok jalan bersama si bapak.               Bos bos, jatuh cinta kok malah nyiksa gue.          *** "Tumben lama, kemana aja sama di Om?" tanya Fahri tengah di dapur menyapa sang kakak baru membuka pintu dan seketika mata Fahri terbalalak tidak percaya siapa yang ada dibelakang Ayu. "Om?" Fahri mendekat ke arah pintu.               Rama menyeringai penuh misteri kepada Fahri yang membuat adik Ayu itu merinding mendapat tatapan sengit dari Rama.           "Rama Ri, bukan Om," Ayu menimpali.           "Iya iya." Fahri masih menatap Rama.             "Hai Ri!"            Ya ampun tatapan nya itu membuat Fahri benar-benar tidak bisa mengetahui apa yang ada dipikiran Rama. Lelaki itu hanya tersenyum dengan santai menatap Fahri. Tanpa ada perasaan kesal atau apapun itu, saat kemarin dia dikerjai oleh Fahri.               "Rama masuk dulu?"          "Tidak Yu, lain kali saja. Lagian ini sudah malam. Iya kan Fahri?"             "Eh, i-iya." Kenapa gue jadi gugup? gumam Fahri.             "Ya udah hati-hati Rama." Ayu tersenyum yang dibalas anggukan oleh Rama. Namun tatapannya masih ia tajamkan pada satu bocah yang masih berdiri.               "Hei, kenapa bengong. Ayo masuk," Ayu masuk melewati sang adik yang masih berdiri di ambang pintu.                "Kakak bawa martabak kesukaan kamu." Ayu menyimpan bungkusan martabak di atas meja dapur dan berlalu ke kamar untuk segera membersihkan diri. Ayu merasa tubuhnya sudah terlalu lelah dan mengeluarkan banyak keringat akibat tadi siang banyak melayani pelanggan baru.               Segera Fahri menutup pintu. Melupakan apa yang ada dipikiran si Om itu. Mata nya langsung tertuju pada bungkusan coklat berisi martabak.          "Makasih kak,"           "Sisain, kakak mandi duluuu," sahut Ayu.          Fahri membuka bungkusan martabak dengan mata berbinar.             Ah selai strawberry. Kakak memang kakak yang paling pengertian. gumam Fahri.            Martabak dengan selai strawberry yang menggugah lidah membuat Fahri cepat melahap satu potong martabak yang sudah ia potong dan sesaat sesudah masuk ke mulut semua, dalam satu kali kunyah Fahri langsung memuntahkan ke sembarangan arah.                Fuiih fuiih, uweek. Fahri tidak tahan dengan rasa aneh yang menjalar di area mulut. Satu gelas air habis dalam sekali tegukan.               "Martabak apa ini?" seraya memperhatikan kembali martabak dengan mencium bau selai dan memperhatikan warna yang memang agak sedikit berbeda.                   "Uweeek." Fahri mencium bau selai yang ia baru sadar memang sedikit bau-bau aneh. "Perasaan tadi gak ke cium bau. Apa ini martabak kedaluarsa?"                 Berkali-kali Fahri mengusap mulutnya mengusir bau dan rasa yang masih menempel. Ia heran kenapa kakaknya memberi martabak seperti ini? Apa salah campur atau bagaimana?              "Kaaaaaak," teriak Fahri yang mendapat sahutan teriakan juga dari Ayu yang masih di kamar.        "Iyaaaaa."              "Martabak ini beli dimanaaaa?"              "Gak beliiii."           "Teruuuus?"              "Apaaaa?"             "Dari siapaaa?"             "Oh kakak lupa memberitahuuu, itu dari Ramaaa."            "Whaaaat?"              "Ramaaaa. Katanya buat kamuuuu."                 Secepat kilat Fahri membuang semua martabak di hadapannya. "Bangkeee!" ternyata senyuman mengerikan Rama ini, memberikan martabak aneh padanya.               "Jangan di habisiiiiin. Kakak mintaaaa."             Fahri tidak menjawab sahutan Ayu. Ia pergi  membuang martabak jauh sejauh-jauhnya lengkap dengan bungkusan dan tanda love merah yang tertera di bagian depan kardus martabak.             "Love love apaan. Mau bunuh gue loe," gumam Fahri. "Ok, gue terima ini sebagai pembalasan dendam dari loe. Dan lihat gue bakal lakuin apa lagi untuk loe, Om."               
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN