Chapter 7

1377 Kata
"Bantuin gue lah nanti malam ya?" Rama berucap setelah minum air putih dalam satu tegukkan. Rama baru saja mengakhiri rapatnya dengan pemilik saham, bersama dengan Angga ia kini berada di ruangan Rama.  Angga hanya mengelus d**a saat bos mengatakan meminta bantuan padanya. Kalau bantuan tentang perusahaan Angga masih sanggup, tapi mengenai bantuan tentang perasaan konyol bos nya itu, Angga harus berfikir dua kali lebih keras. Pasalnya tidak ada menguras tenaga, namun otak. Sedikit saja kesalahan, Rama akan mengancam dengan memotong persen gaji atau lebih parah Rama akan mengeluarkannya. Walaupun sebenarnya Angga juga termasuk orang yang berkecukupan bahkan lebih. Tapi ia setia dengan sahabatnya. Ia lebih dekat dengan Rama yang otaknya sekarang mulai koslet, dibandingkan orangtua nya. Entahlah.  "Hemm," Angga berdehem menanggapi. "Bos, loe bisa jatuh cinta sama dia karena apa?" ucap Angga penasaran. Karena sifat aslinya Rama memang tidak begini. Sudah beberapa tahun Angga bersama Rama, dia tahu Rama orangnya selalu serius, jutek dan kalem. Entah mungkin karena wanita itu, Rama bisa berubah seperti ini.  "Loe gak tau yang gue rasakan tiap deket dia." Rama membayangkan kebersamaannya bersama gadis itu. "Kalo dia gak ada, selalu bikin rindu. Saat nersamaku, aku tak ingin melepasnya. Yah, dia sama seperti wanita pada umumnya. Cantik, baik, jujur dan polos. Aku akan memberikannya cinta yang tidak pernah ku berikan pada wanita lain. Perasaanku padanya semakin hari semakin ingin memiliki," cerocos Rama seraya menyenderkan punggung ke sofa. "Mulai lagi tuh kan otaknya udah karatan." Cinta memang bikin orang terbalik 180% dari sifat aslinya. Angga bergumam dengan memijat kepalanya pening mendengar ungkapan hati bos yang terlalu lebay, menurutnya.  "Siap bos, nanti malam gue datang. Tenang aja."  Rama benar-benar dimabuk kepayang oleh wanita itu. Tak ingin ia lewatkan momen nanti malam. Pokonya harus berhasil.  ******* Malam dengan cepat menyapa, waktu dengan cepat berjalan. Tak terasa kini sudah waktu nya Ayu pulang. Rama telah siap di depan seraya menyender pada bahu mobil. Senyum sekilas ia singgungkan ke arah Ayu yang baru keluar dari pintu kafe bersama Ajeng.  Marsya? Ya, hari ini adalah jadwal libur bergilir nya wanita heboh itu. Untung dia tidak bekerja, kalau ada dia, rencana akan kacau.  "Yu, gue duluan yah. Bye!" Ajeng pamit, ia tidak begitu suka basa-basi. Ayu mengangguk, ia berjalan mendekati Rama yang berdiri sigap menyambut kedatangan sang tuan putri. Ayu tidak merasa curiga, ia menganggap malam ini adalah seperti malam-malam biasanya. Rama mengantar Ayu, lalu pulang.  "Siap Yu?" Rama memastikan. Ayu hanya mengangguk. Namun Rama masih diam berdiri, tidak membukakan pintu mobil ataupun menyuruh ayu masuk. Membuat wanita itu heran.  "Emm Rama, kita mau pulang?" ucapnya gugup. Namun tiba-tiba Rama menarik tangan Ayu dan memegangnya dengan lembut seraya menelusupkan jari-jari mereka. Entah dibawa kemana, mobilnya pun ia lewati. Ayu tidak berani bicara, selain tidak berani ia juga kini hatinya berdebar hebat.  Perasaan apa ini? Tidak biasa hatinya hidup begini, dag dig dug. Perasaan was-was juga melingkupi dirinya. Teringat pesan sang adik agar selalu hati-hati terhadap lelaki.  Namun Rama menggandeng tangan Ayu namun terasa menenangkan, tidak seperti akan berbuat yang aneh-aneh. Perasaan Ayu kembali mengguncang.  Ya Tuhan, lindungi Ayu.  Sampai ditempat tujuan ternyata Rama membawa nya ke taman kota yang tidak jauh dari kafe tempat Ayu bekerja. Begitu gelap dan dingin.  Apakah disini mati lampu? Melihat ke jalanan lain sebagian ada yang menyala. Ayu masih tidak berani bertanya, tangan sudah mulai dingin. Ayu ketakutan.  "Duduklah!" Rama dengan pelan mendudukan tubuh Ayu dibangku panjang dengan Rama tentu disisinya. Tautan tangan mereka tidak dilepas sama sekali oleh lelaki itu.  "Rama, kita ngapain kesini." Akhirnya Ayu dengan mengumpulkan keberanian bertanya pada Rama.  "Aku akan memberi ke juga padamu. Jangan takut," seraya mengelus rambut Ayu pelan.  Kenapa dia tiba-tiba begini?. Batin Ayu.  Rama berdehem sebagai kode. Dan dengan hitungan detik lampu taman menyala dengan indah. Warna cahaya lampu putih dan gold menghiasai seluruh taman. Ayu terpesona dengan keindahan yang dipancarkan beratus-ratus lampu kecil. Sungguh indah.  "Kau suka?" Ayu mengangguk cepat. Angga yang bertugas sebagai penyala lampu di suatu tempat terseny bangga. Tugasnya berhasil.  "Sudah lama aku ingin mengatakan ini padamu." Pandangan Rama tertuju pada satu titik kejora indah wanita itu.  Ayu masih terpesona dengan keindahan, sedangkan Rama menunggu giliran gadis itu untuk berbicara.  "Ayura?"  "Hemm, i-iya?" Ayu tersadar, ia sedang diajak bicara oleh Rama.  Rama menghela napas pelan. "Aku sudah lama ingin mengatakan ini padamu. Aku sangat mencintaimu." Rama lalu berdiri dan berjongkok seperti pria-pria yang ingin menyatakan cinta di serial televisi. Ayu masih duduk di tempat.  "Aku tulus mencintaimu. Aku inginkan kau disisiku untuk saat ini dan selamanya. Aku ingin kau bagian dari hidupku. Aku mencintaimu bukan karena kamu cantik, tapi hatimu. Kebaikan hatimu meluluhkan hatiku." Rama mengeluarkan kotak berisi kalung berlian putih, sangat cantik. "Jadilah pacarku, aku akan membahagiakanmu."  Ayu berdiri dan menganga terkejut dengan cepat ia menutup mulut dengan tangannya.  Benarka ini? Dia benar-benar menyatakan cinta? Perasaannya? Ya Tuhan, aku masih tidak percaya.  Walaupun terkesan simple tapi Rama sudah berusaha mengatakan seluruh hatinya tanpa bantuan dialog dari Angga. Ia ucapkan dengan tulus.  Lama terdiam, perlahan Ayu menurunkan tangan dari mulutnya seraya memejamkan mata dan menghela napas mengeluarkan keberanian untuk mengatakannya. Ya, Ayu harus mengatakannya.  "Aku tidak akan menolak ataupun menerima."  Dengan cepat Rama berdiri tidak percaya. "Apa? Maksudmu Yu?"  "Aku belum bisa menjawab iya atau tidak." Ayu mundur perlahan lalu berbalik membelakangi Rama. "Aku masih harus menunggu persetujuan dari orang lain."  "Siapa?"  "Fahri, adik aku." Rama tertegun sebentar mendengar jawaban Ayu yang tidak terfikirkan olehnya.  Dengan berat hati Ayu mengatakan itu. Sebenarnya ia senang dan bahagia. Baru kali ini ada laki-laki yang menurutnya baik dan sopan, menyatakan cinta langsung pada Ayu. Sungguh Ayu bahagia. Kalau tidak ingat perkataan adiknya, saat itu juga ia langsung akan mengatakan Ya.  ****** Pagi sebelumnya.  "Kak."  "Hemmm."  "Kak."  "Ya...?"  "Kak."  "APA FAHRIII." Ayu kesal melihat ulah sang adik yang mengganggu nya. Saat ini ia tengah bersiap-siap pergi bekerja, sedang memasang tali sepatu.  "Nanti malam dijemput lagi?"  "Hemmm."  "Kok hem sih?" tanya Fahri yang sedang berdiri memandang kakaknya.  "Ya kamu kan sudah tahu jawabannya apa." Ayu malas menanggapi pertanyaan Fahri.  Mampus gue, nanti kalo si Om itu ngadu sama kakak gue, bisa gawat.  "Kalo dijemput sama aku aja gimana kak?" Ayu langsung menoleh ke arah Fahri seraya mengangkat alis sebelah. "Ya, maksud aku jemput jalan kaki aja gak papa? Gak usah pake kendaraan. Kita sambil jalan-jalan malam aja."  Ayu menghela napas pelan, ia mengerti maksud Fahri. Adiknya hanya ingin melindungi sang kakak dari kejahatan pria. "Ri, aku gak minta dijemput pun Rama pasti akan jemput. Ia sudah meluangkan waktu untuk mengantar kakak pulang. Kakak harus menghargai pertemanannya. Kakak percaya kok dia baik dan tidak akan macam-macam."  "Untuk saat ini," timpal Fahri.  "Ri dengerin, kalau dia macam-macam sama kakak. Atau berani menyentuh kakak. Kakak akan bilang sama kamu buat menghajar Rama saat itu juga," ucap Ayu meyakinkan Fahri.  "Kak,"  "Apa adik yang tampan." Ayu berusaha menggoda Fahri agar dia tidak terus-terusan membicarakan Rama.  "Kalau nanti, misal saja ya." Fahri menjeda sebentar kalimatnya. "Kalau suatu saat nanti si Om itu nembak kakak gimana?"  Ayu langsung terdiam. Ia juga tidak tahu kalau suatu saat itu akan terjadi. Ayu tidak pernah berfikir sejauh itu dan tidak ingin berharap terlalu jauh. Walaupun Ayu sudah ada perasaan suka terhadap Rama dan Ayu masih sadar diri akan perbedaan jauh mereka.  Nembak? Kalau itu terjadi Ayu harus bagaimana?  "Kak." Fahri menunggu jawaban ragu dari sang kakak.  Ayu memejamkan mata sebentar sebelum akhirnya berkata. "Kakak tidak tahu. Jujur kakak juga ada sedikit perasaan padanya."  Tuh kan.  "Tapi kalau pun Rama menyatakan cinta pada kakak. Kakak ...."  "Kakak harus mendapat persetujuan juga dari ku," potong Fahri cepat.  "Maksudnya?"  "Iya, kalau Om itu mau nembak kakak, kakak harus minta jawaban juga dariku. Aku juga keluarga kakak yang harua turut andil dalam menentukan hidup kakak. Agar kakak bahagia."  Mendengar penuturan sang adik, Ayu tersenyum. Adiknya itu memang sangat sayang pada Ayu. Bahkan dia memikirkan kehidupan kakaknya sendiri. Dengan cepat Ayu mengangguk.  "Baiklah kalau itu alasan kamu. Tapi kakak juga tidak terlalu berharap kalau Rama akan nembak kakak."  "Aku juga kan itu kalau misalkan. Ya, tunggu jawaban juga dariku. Ok?"  "Ok." Ayu tersenyum dan langsung memeluk sang adik. "Makasih Ri, kamu selalu memperhatikan kebahagiaan kakak. Kakak juga akan selalu memperhatikam ke kebahagiaan kamu."  "Jangan pikirkan aku kak, aku cowok bisa menjaga diri dan akan selalu bahagia. Justru kakak perempuan, dan kakak harus selalu dilindungi oleh adik lelaki satu-satu nya yang ganteng nya seperti Rendi."  "Ayah kamu donk," seraya meregangkan pelukan, Ayu tersenyum simpul.  "Ayah kita," ucap Fahri seraya memeluk untuk yang kedua kalinya.  Mereka benar-benar saling menyayangi dan melengkapi satu sama lain. Benar-benar klop.  ******* "Jadi ini masih gantung?" ucap Rama tidak semangat. "Kamu menggantungkan perasaan cintaku?"  Ayu meremas ujung kain baju nya, merasakan sedikit hati yang terluka karena belum bisa menjawab Ya, padahal ia ingin. Ingin sekali. Ia juga mencintai Rama.  "Kalau kamu ingin aku menerima mu, ada syaratnya." 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN