‘’Mbaaaak,
"Buruaaan,''
Teriakan demi teriakan semakin memekakkan kepala. Terlihat Ayu semakin merah padam mukanya menahan amarah yang kian meledak. Ibunya berusaha keras menenangkannya, jangan sampai bentrok keluarga terjadi hari ini.
Dengan secepat mungkin De'Kar kembali ke luar menemui Rinto yang terlihat semakin tak sabar untuk menerima uang sesuai permintaanya.
‘’I-ini Rin,''
Dengan ragu-ragu De' Kar mengangsurkan uang yang tersisa di dompetnya.
Mata Rinto melotot sempurna demi mendapati uang yang jumlahnya di luar perhitungannya.
‘’Cuman segini, Mbak? yang bener aja…buat beli batu-bata sepuluh biji aja ngga' cukup…apalagi buat beli sepuluh ribu biji?''
‘’Mbak mau bikin aku malu apa?''
‘Ka-kan Mba sudah bilang Rin..uangnya ngga’ ada..itu ada cuman buat makan sehari-hari nunggu Mas'mu pulang,''
‘’Kan aku juga sudah bolak-balik bilang ke Mbak…yaa buat DP dulu ngga' papa…tapi yaaa jangan seginilaah….aku malu ngomongnya ke yang punya toko,''
‘’Ya me-memang adanya segitu Rin,''
‘’Mbak jangan coba-coba membohongi aku ya..mas Suyit gajinya besar loo…dia sopir senior, masa uang belanjanya cuman buat makan aja?"
‘’Ta-tapi Rin, selama ini Mba hanya dapat jatah uang buat makan saja..ka-karena su-sudah di-dibagikan ke-kekeluargamu kan?''
‘’Mbak ngomong apa barusan? dibagikan? mbak ngga' salah ngomong? bukannya gajinya masku semuanya dimakan sama Mbak ya?''
De'Kar hanya dapat mengelus d**a, detak jantungnya semakin bergemuruh.
‘’Astagfirullohal'adzim Rin, kamu ngga' lihat keadaan kami selama ini? uang yang diberikan mas'mu sudah lebih dari cukup buat makan aja kami sudah sangat bersyukur sekali,''
‘’Selama ini kami berusaha mencukup-cukupkan uang pemberian Masmu itu…apalagi sebentar lagi Ayu masuk SLTA…tentu biayanya sangat banyak….beberapa waktu lalu cincin kawin dan gelang yang sedianya buat persiapan sekolah Ayu aja sudah kalian pinjam,''
‘’Mbak jangan perhitungan gitulah sama saudara…saudara suami yaa saudara Mbak juga kan…mestinya sebagai istri dari Masku yang memang diberi amanah tanggung jawab dari almarhum Bapak, Mbak memahami dan mengerti,bukan malah ngomong ngga' karuan gini,''
‘’Ya tapikan itu semua juga bukan sepenuhnya tanggung jawab Masmu Rin, kalian sudah mulai tumbuh dewasa..sudah menikah pula' sudah seharusnya mulai lebih bertanggung jawab kepada keluarga masing-masing.''
De'Kar berusaha membuka hati dan pikiran adik kandung suaminya itu tapi sepertinya dia gelap mata. Tak ada sorot mata iba sedikitpun terpancar. Raut mukanya terlihat datar saja cenderung tidak peduli.
Istighfar berulangkali De'Kar ucapkan.
Suasana semakin genting ketika tiba-tiba Ayu memunculkan diri
‘’Oom napa selalu bikin sedih Ibu aku sih? Apa Om ngga' ngerasa kasihan sama kami? Kalau Om ngga' mau mbantu kesulitan kami…setidaknya jangan dong bikin kami repot terus!''
Kalimat-kalimat di luar dugaan seperti meluncur begitu saja dari mulut Ayu. Dendam kesumat seperti mulai bersarang di hati dan pikirannya.
‘’Heeeh Ayu, jangan ikut campur urusan orang dewasa ya kamu…ngga' sopan tahu!''
‘’Om itu yang ngga' sopan..mestinya tahulah ya..ini di rumah kakaknya, ngga' usah bikin rusuh napa?''
‘’Siapa yang bikin rusuh hah? Omonganmu itu loo Yu…tolong dijaga tuh mulut!''
Debat kusir mulai telihat. Suasana semakin memanas.
‘’Sudah-sudah…malu sama tetangga!''
"Ayu…tolong kamu masuk dan lihat Adik-adikmu sedang apa Sayang?''
"Ini mau ngga' uangnya Rin, Mbak ngga' bisa memberikan uang yang lebih dari ini.'
Mendengar kalimat terakhir dari Ibunya, Raut wajahnya terlihat berbinar.
‘’Siiip, bagus Bu,''ucap Ayu berlalu sembari mengacungkan kedua jempolnya.
Rinto terlihat begitu kesal…
‘'Ya sudah sini uangnya…besok kalau mas Suyit sudah pulang sisanya aku minta,''
Seperti biasa tanpa mengucapkan kata terima kasih Rinto langsung meminta uang pemberian kakak iparnya, ngeloyor pergi diiringi tatapan tajam dari kemenakannya.
*****
Siang mulai menjelang…matahari mulai menampakkan sinar teriknya setelah beberapa hari lalu hujan seperti setia menyapa.
Keluarga Soejitno-Soekarmi seperti larut dalam suka cita karena kepulangan bapak tercintanya.
Berbagai macam aneka makanan dan buah-buahan menjadi buah tangan yang sangat ditunggu oleh anak-anaknya. Tergambar raut muka bahagia dari mereka. Meski keadaan rumah tangga mereka selalu dalam deraan cobaan yang seeprtinya masih enggan berlalu dari kehidupannya, namun mereka lalui semuanya dengan rasa syukur yang teramat sangat.
‘’Pak, Ibu mau jualan makanan boleh?''
Tiba-tiba suara lembut dari bibir istri tercintanya terdengar di sela-sela canda tawa riang mereka.
‘’Mau jualan apa Bu,di mana…apa ngga' repot sembari ngurus rumah dan anak-anak?''
Suaminya begitu kasih bertanya kepadanya.
‘’Insyaa Allah ngga' Pak…anak-anak sudah mulai besar ini, Ayu sudah pinter juga bantu-bantu, ya kan Ay?''
"Siyaap Bu, pokoknya ntar Ayu bantuin…beres pokoknya.''
‘’Ardi juga mau bantuin kok Bu, Pak,''
Tiba-tiba Ardi yang sedari tadi hanya diam ikut menyahut.
‘’Tuuh Pak, yang bantuin bukan cuma Ayu aja, Ardi juga mau,''
‘’Ibu mau jualan kue samir Pak, sama arem-arem…atau apalah yang sekiranya bisa laku,''
Mas Suyit nampak berpikir
‘’Terserah Ibu saja, asal bisa dijalani semuanya…bapak setuju-setuju saja,''
‘’Eh Pak, kemarin Rinto datang minta uang mau buat beli batu bata sepuluh ribu biji katanya,''
"Iya Pak, om Rinto maksa banget …masa Ibu sudah bilang berkali-kali kalau ngga' punya uang sebanyak itu tapi tetep ngeyel, gemeees Ayu jadinya…sebbeeel!,''
‘’Ssttt Ayu…jangan ngomong gitu, ngga' sopan Nak,''
"Laah emang bener kok, om Rinto itu nyebelin…sekali-kali kasih nasehat dong Pak, biar om Rinto ngga terus-terusan ngrongrong gitu,''
Seperti tanpa kendali Ayu berbicara. Ibunya berulangkali mengingatkan namun bom molotov, Ayu mengeluarkan segala isi hatinya yang hanya ditanggapi senyum penuh kesabaran dari bapaknya.
‘’La terus gimana sekalnjutnya?''
“Yaa Ibu berulangkali berusaha menjelaskan Pak, tapi kaya'nya Rinto tidak mau terima, katanya kalau bapak sudah pulang mau ke sini lagi,''
Mas Suyit terlihat terdiam, hatinya bergemuruh menahan segala rasa.
‘’Duuh gimana ya Bu…terus terang Bapak juga keberatan kalau Rinto minta uang sebanyak itu…batu bata 10 ribu kan ngga' sedikit Bu,''
‘’Iya bener Pak, masa enak aja om Rinto mau minta uang banyak gitu…laa nanti yang buat sekolah Ayu mau uang dari mana?''
Ayu seperti berusaha ikut menjelaskan. Ibunya terlihat berulang kali menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan putri sulungnya itu, namun dalam hatinya membenarkan apa yang dikatakan Ayu.
‘’Biarin om Rinto ngga' usah dikasih uang banyak-banyaklah Pak, sekedarnya…toh dia sudah nikah…masa'
masih tetep minta-minta sama kakaknya yang punya tanggung jawab juga ngurusi anak istrinya.''
Upppsss… .
Terlihat Ayu menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Mungkin dia tersadar dari ucapannya yang cenderung kebablasan itu.
"Heheheee…maaf-maaf ya Pak…Ayu jadi ngomongnya gitu,''
‘’Tapi bener juga apa yang Ayu ucapkan sih Bu,''
"Naah bener kan yak Pak? Ibu ngga' percaya sih sama Ayu…coba kemarin nurut apa kata Ayu…uangnya kan ngga' dirampas sama om Rinto,''
Kedua orang tuanya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala mendapati tingkah unik dari putri sulungnya yang mulai beranjak dewas itu