BAB 1 Flashback (POV Author)
Suatu ketika di sekitar tahun 1959; di sebuah rumah mewah terdengar suara ramai, meriah. Pesta pernikahan seorang kaya digelar. Tetamu yang datang terkesan glamour dengan dandanan yang modis nan elegan. Musik langgam Jawa syahdu mewarnai suasana pesta itu. Orang terlihat hilir mudik, lalu lalang, silih berganti datang dan pergi memenuhi undangan sang punya hajat R.M. Ngabei Sastro Dipuro orang terkaya di kampungnya.
Di ruang dapur rumah tersebut tak sedikit orang yang sibuk mempersiapkan hidangan untuk para tamu yang datang. Beraneka hidangan tertata rapi siap untuk menjamu pada pesta pernikahan tersebut.
Di sudut ruangan di depan sebuah meja berukuran luas terlihat seorang wanita belia kelahiran Agustus 1939 terlihat cekatan menata piring demi piring makanan di atas meja . Terlihat sekali kalau wanita belia itu begitu mahir dan terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah tangga.
Ternyata cara kerja Soekarmi nama wanita belia itu; menarik perhatian wanita paruh baya bernama Ny. Yatiwara yang di kemudian hari diketahui ternyata merupakan Bu Lik dari suami tercintanya Soejitno. ...,”Namamu sapa, Nduk....?” Tanya Ny. Yatiwara yang kemudian dijawabnya lirih...’’Soekarmi, Bu...”, sembari tetap melanjutkan pekerjaannya. ‘’Nanti sore kamu ikut Ibu ya, Nduk....!’’Ny. Yatiwara kembali mengajaknya bicara yang dijawab anggukan kepala dan senyuman tipis oleh Soekarmi.
Sore itu ternyata awal dimulainya babak baru kehidupan rumah tangga Soejitno-Soekarmi; karena sejak awal dipertemukannya mereka berdua oleh Ny. Yatiwara, ternyata terjalin benih-benih cinta di antara mereka. Cinta yang begitu syahdu, terangkai indah dalam kehidupan rumah tangga yang penuh dengan makna. Meski awal pernikahan mereka sangat ditentang keras oleh saudara-saudara mas Suyit, begitu De’Kar memanggil suami terkasihnya. Ya...perbedaaan kedudukan,kasta dan derajat yang menurut mereka begitu terbentang nyata...Mas Suyit berasal dari keturunan berdarah biru, kaya raya dan sangat terpandang di kampungnya...berbanding terbalik dengan Soekarmi atau De’Kar nama kesayangannya. De’Kar anak seorang janda pembantu rumah tangga, terbiasa hidup sederhana dengan segala keterbatasannya. Namun ternyata perbedaan nyata tersebut tidak mengurungkan niat baik mas Suyit untuk mempersunting belahan jiwanya,,,’De’Kar.
Begitulah....sekitar Agustus 1959 mulailah babak baru kehidupan keluarga Soejitno-Soekarmi yang ternyata di kemudian hari dilalui dengan haru biru, suka duka, cinta kasih dan air mata bahagia serta nelangsa. Dengan hanya disaksikan ibu dari Soejitno yang sangat beruntung mau merestui pernikahannya dengan Soekarmi, serta beberapa orang saudara dari Soekarmi,,,mereka mengucap janji setia di hadapan Penghulu tanpa adanya pesta pernikahan
Di suatu pagi nan cerah Agustus 1960; berlangsunglah akad nikah sakral nan agung antara Soejitno dan Soekarmi yang memang telah ditakdirkan untuk hidup bersama, meski banyak orang yang meragukan bakal langgengnya ikatan cinta di antara mereka lantaran jurang perbedaan di antara keluarga mereka.
Soejitno meski bekerja sebagai sopir truk tronton namun sejatinya merupakan seorang yang dilahirkan di lingkungan keluarga yang terpandang dan terkaya di desanya. Soejitno rela hanya berijasahkan SR (sekarang SD) lantaran ingin memperjuangkan adik-adiknya sepeninggal ayahnya; yang berjumlah 6 orang agar masa depannya jauh lebih baik lagi. Kasih sayang dan perhatian Soejitno terhadap ibu dan adik-adiknya sangatlah besar bahkan setelah menikahi Soekarmi sekali pun.
Satu persatu adik-adiknya disekolahkan sampai jenjang setinggi-tingginya. Sebagian penghasilan Soejitno diperuntukkan bagi masa depan adik-adiknya. Soekarmi dengan ikhlas hati menerimanya. Wanita lugu, namun terdidik baik oleh orang tuanya yang taat beribadah, tahu tata aturan agama yang dianutnya. Soekarmi tidak pernah menuntut lebih dari apa yang sudah diberikan oleh suaminya tercinta; meski dia tahu penghasilan suaminya sudah lebih dulu diberikan sebagian untuk biaya hidup ibu dan adik-adiknya, sementara dia mendapatkan sisanya. Bahkan terkadang; tanpa sepengetahuan dirinya, adik-adiknya selalu meminta lebih dari yang sudah diberikan kakaknya, Soejitno suaminya tercinta.
*****
Senja temaram, siang beranjak pergi; sekitar tahun 1960n terdengar suara rintih kesakitan dari sudut rumah sederhana. Ternyata itu suara Soekarmi yang sedang merintih menahan sakit di perutnya yang sedang hamil muda. Di rumah tidak ada siapapun kecuali dirinya. Suaminya tercinta sedang berjuang mencari nafkah di luar kota; beberapa hari tidak pulang karena truk yang dikendalikannya mengalami kendala di mesin. Dengan menahan sakit; De’Kar berusaha mencari bantuan ke tetangga sebelah rumah.
Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak; Allah Sang Maha Pencipta berkehendak lain. Bayi mungil yang ada dalam perut De’Kar harus keluar sebelum waktunya; menjemput takdirNya menghadap Illahi tanpa sabar menunggu bapaknya pulang.
Itulah kejadian kehilangan yang sangat membuat terpukul ibu muda bernama Soekarmi. Ya...dia harus merelakan bayinya tidak bisa bertahan hidup karena keguguran di senja itu. Ditambah lagi kesedihan sang suami tercinta tidak berada di sisinya kala itu.
Tapi apa hendak dikata; mereka berdua berusaha ikhlas menerima ujian dari yang Maha Kuasa.Sedikit demi sedikit mereka mulai bisa menata kembali suasana hati sedihnya. Dengan kekuatan cinta mereka berdua; mereka akhirnya bisa kembali menjalani kehidupan dengan ketegaran hati yang luar biasa.
Juli 1966 setelah melewati waktu yang cukup lama dari kehilangan calon bayinya, atas kehendak Sang Maha Cinta; hadirlah pelengkap hidup rumah tangga Soejitno-Soekarmi dengan kelahiran bayi mungil nan cantik bernama . Angraeni Pramusita Ayunisari yang bermakna anak perempuan yang memiliki perilaku yang baik, setia, penyabar dan berparas cantik rupawan.
Ayu tumbuh menjadi putri cantik nan salehah, selalu taat aturan Agama dan nasehat bapak ibunya. Terasa lengkap jalinan kisah cinta dalam rumah tangga Soejitno-Soekarmi. Ikatan cinta antara mereka semakin terjalin erat. Tak akan mereka biarkan ada kesedihan di antara keluarga mereka. Kasih sayang, perhatian, kepedulian selalu ada dalam perjalanan hidup mereka; meski cobaan tetaplah ada.
Meski Mas Suyit sudah mempunyai anak; perhatian kepada ibu kandung dan adik-adiknya tetaplah sama, tidak berubah. Baktinya pada orang tua dan saudara saudaranya tak terhalangi oleh apapun juga. Meski kadangkala karena keterbatasan ekonominya; keluarga Soejitno-Soekarmi harus hidup sederhana; jauh dari kesan kemewahan. Namun keadaan yang demikian tidak menjadikan semakin surutnya jalinan cinta mereka.Apalagi di tahun 1971 lahirlah jagoan kecil mereka Ardiona Bratajaya yang bermakna anak yang memiliki keteguhan hati, jiwa, dan tingkah laku terpuji.
Tidak begitu jauh sifat, sikap dan tingkah laku Ardi dari kakaknya. Ardi juga tumbuh menjadi anak yang saleh, cakap beragama, selalu sayang Ibu Bapak dan kakaknya.Suatu kebahagiaan tersendiri bagi keluarga Soejitno-Sokarmi hingga di tahun 1974 akhir bulan Desember lahir kembali putri cantik bernama Danastri Kenes Sartika yang memiliki arti anak cantik seperti bidadari yang lincah dan selalu bisa mendamaikan sekitar..
*****
Siang kembali ke peraduannya, burat senja mulai nampak.Terdengar alunan lembut seruling yang ditiup olek mas Suyit
’’Gambang suling kumandhang swarane (=gambang suling berkumandang swaranya)
Thulat tulit kepenak unine (=Tulat-tulit enak bunyinya)
Uuuuunine mung nrenyuh ake (=Bunyinya hanya mengharukan)
Bareng lan kentrung ketipung suling (=Bersama kentrung ketipung suling)
Sigrak gambangane (=Mantap bunyi kendangnya)”’
Istri dan anak-anak mas Suyit duduk mengitarinya. Kebetulan waktu itu mati lampu. Hanya cahaya lampu dian yang menerangi rumah mungil nan sederhana mereka. Begitu syahdu terlihat suasana saat itu. Sesekali terdengar rengekan manja si kecil Tika putri bungsu mereka yang sedang duduk di pangkuan ibu tercintanya.
,’’Pak... rambut bonekaku pada lepas...gimana ini Pak...?” terdengar suara manja Ayu putri sulung mereka.Mas Suyit seketika menghentikan tiupan serulingnya. ,’’Sini Bapak betulin...!’’ begitu sahut mas Suyit begitu mendengar tanya dari anak sulungnya yang mulai terlihat kecantikan alaminya. Dengan sigap mas Suyit menerima boneka yang diangsurkan oleh putri tercintanya. Dengan sangat telaten Beliau menyusun helai demi helai rambut boneka yang terlepas meski saat itu malam mulai nampak dan listrik pun belum terlihat menyala.
Dengan kesabaran yang luar biasa, mas Suyit mampu menciptakan kedamaian di antara keluarga mereka yang sudah dianugerahi tiga anak buah cinta mereka. ‘Pancuran kapit Sendang’, istilahnya yang memiliki arti tiga anak yang lahir secara berurutan perempuan-laki laki-perempuan.Ditambah kesalehan istri tercintanya De’Kar; bertambah lengkaplah kebahagiaan keluarga itu meski keterbatasan ekonomi kerap mereka hadapi; namun tidaklah memudarkan renda-renda asmara cinta kasih di antara mereka.
Suatu pagi, matahari mulai menampakkan sinar lembutnya. Berbagai aktifitas di pagi itu mulai terlihat di berbagai tempat. Tak terkecuali di rumah mungil mas Suyit-De’Kar.Terdengar suara lirih penuh tanya dari mulut mungil istri tercintanya,’’Pak...beras tinggal sedikit; bagaimana ini?’ Uang yang dari Bapak waktu itu juga cuma cukup buat beli beras satu kilo saja Pak...belum lauk-pauknya...”Begitu bisik De’Kar kepada suami tercintanya.Mereka terbiasa berkomunikasi lirih bila sedang menghadapi kesulitan. Pikir mereka; biarlah segala kesedihan mereka tanggung berdua. Anak-anak haruslah berbahagia di masa tumbuh kembangnya; agar kelak mereka bisa menjadi seperti harapan Bapak Ibunya; menjadi manusia yang berguna bagi Agama,Nusa dan Bangsa.
Bisik lirih suami tercintanya,’’Biarlah beras itu ditanak agak lunak saja Bu,yang cukup buat makan anak-anak kita; kita gampanglah Bu; makan kalau Anak-anak sudah kenyang semuanya..Maafkan Bapak ya Bu...belum bisa membuat Ibu dan Anak-anak bahagia dan berkecukupan.’’ Dengan nada haru istrinya tercintanya menyahut,’’Jangan begitu Pak...apa yang kita dapatkan selama ini sudahlah lebih dari cukup...kita harus banyak bersyukur kepada Allah SWT, Pak...”. Dengan tatapan mesra Mas Suyit mengangguk...’’Terima kasih atas pengertiannya,Bu...”
Demikianlah...keluarga Soejitno-Soekarmi melewati hari harinya. Penuh pengertian,kasih sayang dan perhatian selalu mereka terapkan dalam kehidupan sehari-hari; begitu pun terhadap Anak-anak mereka.Tak heran; ketiga Anak-anaknyapun tumbuh menjadi Anak-anak yang bahagia,senantiasa terjalin keharmonisan,rukun antara satu dengan yang lainnya. Musyawarah selalu mereka biasakan bila menghadapi masalah yang membutuhkan pemecahan segera.
Suatu malam; terdengar suara jengkerik bersahut-sahutan. Binatang malampun mulai berbunyi sahut menyahut. Bulan seperti malu malu menampakkan dirinya.Di ranjangnya, De’Kar membolak-balikkan badannya.Entah mengapa malam itu terasa panjang dia lalui.Sudah tiga harian ini suami tercintanya berangkat ke luar kota mengirimkan barang kepunyaan majikannya.Tidak biasanya suaminya tidak memberikan kabar sedikitpun. Biasanya ketika suaminya pergi ke luar kota untuk beberapa hari; Beliau selalu menitipkan pesan kepada teman sesama sopir yang kebetulan pulang ke kotanya.
Hati De’Kar begitu gelisah malam itu; berjingkat De’Kar keluar kamar untuk menengok Anak-anak di kamarnya. Beliau tidak tega membangunkan Anak-anaknya untuk sekedar menemaninya berjaga dari kesunyian malam itu. Terlihat Anak-anaknya tertidur lelap seperti bermimpi indah. Begitu damai wajah mereka; menjadikan semakin tidak teganya De’Kar kalau sampai membuat mereka terbangun dari tidurnya.
Dengan hati yang kian tak menentu; De’Kar menatap nanar foto suami tercintanya yang terpajang manis di ruang keluarganya. Sesekali terdengar lolong anjing yang tak tahu arah rimbanya. Semakin membuat gelisah hati dan pikiran De’Kar. Istigfar tak henti-hentinya De’Kar gumamkan. Untuk menutupi kegelisahan hatinya; Beliau kembali ke kamar untuk sekedar menemani putri bungsunya yang saat itu berusia 4 tahun.
*****
Pagi itu... De’Kar dikejutkan dengan suara ketokan pintu rumah yang berulang-ulang. ,”Mbakyu...maaf Mbakyu...niki Simin, Mbakyu...’’ Di antara suara ketokan pintu terdengar suara yang ternyata berasal dari kernet suaminya. Simin mengabarkan kalau Mas Suyit tercintanya tertimpa musibah. Beliau terduga penyebab meninggalnya pengendara motor. Seorang pemuda pengendara motor meninggal seketika tertabrak truk yang dikendalikan Mas Suyit nya. Kabar itu laksana petir di siang bolong. Menggelegar begitu menusuk hati De’Kar. ‘’Pantas saja dari semalam hatiku tidak karuan,,, Ya Allah...Astagfirullohal’adzim...’’Jerit lirih batin De’Kar mendengar kabar dari Simin. ‘’Apa yang mesti aku perbuat Ya Allah...berulang-ulang De’Kar bergumam sendiri. ‘’Sekarang Pak Suyit ditahan Mbakyu,,,di LP Purwanegara..”.lanjut Simin melanjutkan kabar yang dibawanya; meski sepertinya De’Kar sudah tidak bisa lagi mendengar dengan jelas kabar itu karena begitu terenyuh hatinya.
Hari hari selanjutnya...berbulan-bulan De’Kar lalui hanya dengan ketiga Anaknya tercinta yang sepertinya mulai mengerti tentang keadaan kedua orang tuanya. Mas Suyit harus menjalani masa tahanannya sebelum sidang berlangsung untuk menentukan berapa lama Beliau harus lalui hari-harinya di balik jeruji sel tahanan penjara. Meski saat itu belum diketahui secara pasti kronologinya; karena saat itu jalanan sepi sunyi; jadi belum diketahui secara pasti siapa yang salah.Yang pasti; hari-hari De’Kar terasa semakin berat karena tulang punggungnya sedang berjuang mencari keadilan dibalik sel tahanan Purwanegara.
Sejenak...Ayu ; Putri Sulung Soejitno-Soekarmi menghela nafas...berat.... Perlahan dia berjalan ke sudut kamar tidurnya. Dipandanginya foto keluarganya yang terpajang rapi di dinding kamar tidurnya. Bapak, ibu, Ayu dan kedua adik tercintanya terlihat dalam foto itu. Bapak dan Ibu Ayu duduk berdampingan di kursi yang sama;duduk dipangkuan ibunya adik bungsu tercintanya diapit oleh kedua kakaknya yang berdiri berjejer di belakangnya.Ayu tidak mengira foto itu adalah kenangan terakhirnya bersama Ayah tercintanya sebelum Ayahnya pergi meninggalkannya untuk menjalani masa tahanannya beberapa bulan yang lalu..
Masih jelas terbayang di hari itu...entah kenapa Ayu merasa malas sekali untuk beranjak dari rumahnya. Padahal jarum jam sudah bergeser dari angka 06:48 pertanda waktu pembelajaran di sekolah Ayu sebentar lagi dimulai. Namun perasaan malas dan enggan Ayu seperti tidak bisa diajak kompromi. Kalau saja adiknya Ardi tidak menyuruhnya bergegas untuk bersiap-siap berangkat sekolah; pasti Ayu tetap tidak akan beranjak dari rumahnya. “Kak...ayyyuuuh sudah siang...kita berangkat sekolah...nanti terlambat lo...!”teriak Ardi kepadanya.
Beringsut Ayu keluar dari kamar tidurnya; sedikit bergegas Ayu berjalan keluar menenteng tas sekolahnya. Entah kenapa hati Ayu menjadi semakin terasa tidak enak manakala dia berjalan melewati ruang tamu terdengar suara Ibunya yang sedang bercakap-cakap dengan pak Simin kernet Bapaknya.
Mendengar suara Ibunya yang sepertinya sedang menahan beban perasaan; Ayu menjadi semakin ragu untuk berpamitan berangkat ke sekolah. Ingin rasanya Ayu membolos hari itu; kalau saja Ibunya tidak berkata lirih kepadanya,’’Ayu...berangkat sekolah...hari sudah semakin siang...nanti kamu terlambat, Nak....”. Dengan langkah ragu Ayu mendekati Ibunya dan pak Simin sembari mencium telapak tangannya dengan penuh hormat Ayu berpamitan diiringi senyum dan pandangan aneh yang tak biasa dari Ibunya.
Pagi jelang siang pada istirahat kedua...kegelisahan semakin terasa di benak Ayu. Sepanjang pelajaran berlangsung sebelum istirahat kedua di hari itu konsentrasi belajar Ayu seperti terpecah mengingat Bapaknya yang sudah beberapa hari tidak pulang ke rumah,”Bagaimana keadaan Bapak sekarang, yah?” Begitu terus hati dan pikiran Ayu bertanya-tanya.Untuk menghilangkan kegelisahan hatinya Ayu duduk termenung di teras ruang kelasnya tanpa menghiraukan ajakan sahabatnya; Asih untuk membeli jajan di warung sekolah.
Saat Ayu duduk termenung di teras ruang kelasnya; dari kejauhan terlihat seseorang yang sosoknya begitu familiar baginya. Pak Lik Bani adik sepupu ibunya terlihat turun dari sepeda dan berjalan menuju ruang kantor sekolahnya. Terlihat Pak Lik Bani berbicara lirih dengan Bapak Kepala Sekolah yang tak lama kemudian meminta Ayu untuk berpamitan pulang kepada Ibu Gurunya.
”Ada apa Pak Lik...kenapa Ayu disuruh pulang cepat-cepat?” Tanya Ayu kepada Pak Lik Bani sembari menjejeri langkahnya yang mengajaknya bergegas pulang. Pak Lik Bani tidak menjawab sepatah kata pun pertanyaan Ayu; hanya memintanya untuk segera membonceng sepedanya.
Pak Lik Bani mempercepat laju sepedanya. Di sepanjang perjalanan pulang pikiran Ayu semakin tidak karuan. Tidak biasanya Pak Lik Bani datang ke sekolahnya untuk menjemputnya, tidak biasanya Ayu diharuskan pulang cepat-cepat padahal hari itu jam pelajaran belum berakhir.
Segala kecamuk pikiran Ayu terjawab sudah; ketika sampai di rumah terlihat Ibu dan kedua adiknya sudah menunggunya untuk menjenguk Bapaknya yang ditahan di sel tahanan Purwanegara untuk suatu perbuatan yang belum pasti Beliau lakukan. Ternyata Ayu pun memiliki firasat yang sama tentang keadaan Bapak tercintanya. Ternyata pagi tadi pak Simin membawa kabar yang tidak Ayu harapkan sama sekali.Bapaknya ditahan entah untuk berapa lama. Tak terasa air mata Ayu menetes di pipinya menyadari kalau dia tidak akan bisa bertemu Bapak tercintanya untuk waktu yang lama.
Sore itu secercah harapan terseruak di hati De’Kar ketika utusan Ibu mertuanya menyuruhnya untuk datang ke rumahnya karena adik iparnya pulang dari tugas belajar di Amerika Serikat. Ya...adik iparnya yang sedari kecil dibiayai oleh suaminya tercinta sampai bisa mendapat bea siswa study di Amerika Serikat pulang ke kampung halamannya.Membawa harapan di benak De’Kar untuk segera membantunya membebaskan mas Suyit dari tahanan yang sudah dilaluinya berbulan-bulan.
Dengan harapan yang sudah sedemikian membuncah di d**a; De’Kar menuntun dua anaknya dan membawa putri bungsunya di bopongannya.Dengan berjalan kaki mereka beriringan untuk sesegera mungkin ke rumah Ibu dari Soejitno nya.Dia begitu berharap mendapat bantuan dari adik iparnya; untuk bisa membawa pulang kembali orang yang sangat dicintainya,Mas Suyit.
Sesampainya di rumah Ibu mertuanya; terlihat adik iparnya duduk santai bersanding dengan istrinya. Menyambut kedatangan De’Kar dengan senyum masam seperti tidak senang melihat kehadirannya.Hanya ibu mertuanya yang masih mau bermanis manis muka memeluk erat anak-anak Soejitno-Soekarmi cucu-cucunya.
Tanpa terasa; air mata meleleh tanpa bisa ditahan oleh De’Kar. Sedih, bingung, haru bercampur aduk menjadi satu. Terperanjat kaget De’Kar ketika mendengar dari mulut adik iparnya perkataan yang sangat menusuk hati dan perasaan.’’Ora mung cukup ditangisi tok!!!’’ (Tidak hanya cukup ditangisi saja!!) sentak adik iparnya dengan tanpa merasa iba.
Semakin deraslah air mata De’Kar membasahi kedua pipinya. Tanpa banyak basa basi De’Kar berpamitan pulang kepada Ibu Mertuanya.Kecewa luar biasa sangat jelas dirasakan oleh De’Kar. Dia tidak mengira begitu teganya adik iparnya mengeluarkan kata-kata yang begitu menusuk hati dan perasaannya. Dia tidak berharap mendapat balas jasa atas apa yang sudah diperjuangkan mas Suyit nya untuk orang tua dan adik-adiknya.Dia hanya berharap ada orang yang bisa membantunya membawa pulang kembali suami tercintanya.
Begitu pun ketika beberapa hari kemudian; adik laki-laki mas Suyit pulang dari berlayar ke luar negeri. Tanggapan yang sama juga didapat oleh De’Kar tepat di hadapan anak-anaknya, yang semakin membuat terluka hati dan perasaannya. Dia betul-betul tidak mengira; adik-adik iparnya yang begitu diperjuangkan semenjak kecil hingga bisa menjadi orang; tidak menghiraukan sama sekali nasib yang menimpa mas Suyitnya. Jangankan mau berempati menengoknya ke sel tahanan untuk kemudian berusaha membebaskan suami tercintanya...komentar yang sedikit menghiburpun tidak keluar dari mulut adik iparnya itu.
Kelak di kemudian hari; perlakuan dan ucapan dari adik ipar Ibunya tercinta begitu membekas bagi Anak-anak Soejitno-Soekarmi.Tidak ada dendam di hati mereka. Hanya saja terus terngiang dan terpatri erat dalam hati sanubari, benak dan pikiran mereka hingga terbentuk trauma masa kecil
Di hari itu, di rumah neneknya...Anak-anak Soejitno-Soekarmi menjadi saksi betapa keluarga Bapaknya tidaklah bisa diharapkan bantuannya. Padahal Bapaknya sudah sangat berjuang untuk kebahagiaan Ibu dan masa depan adik-adiknya.Hanya kakak dari Bapaknya; Bu De’Sut yang masih bersedia membantunya. Setiap malam sepulang dari tempat bekerjanya sebagai juru masak di rumah makan; Bu De’Sut selalu membawa jatah makannya untuk Ayu dan adik-adiknya.
****
Suatu malam menjelang pagi; terdengar bunyi greg..greg...greg...greg...greg..gregg..Ayu yang saat itu terjaga dari tidurnya beringsut turun dari tempat tidurnya. Di ruang keluarga terlihat ibunya masih sibuk menjahit baju pesanan tetangga.Ya...semenjak ayahnya ditahan; ibu berjuang mencari nafkah dengan menerima jahitan dari tetangga yang membutuhkan jasanya.Selain itu Beliau juga membuat jajanan yang kemudian dititipkan ke warung-warung; sesekali menerima pesanan untuk orang yang punya hajatan. Bapaknya belum jelas kapan bisa kembali pulang karena jadwal sidangnya yang belum kunjung tiba.
Sangat sedih Ayu menyaksikan betapa keras perjuangan Bapak-Ibunya untuk membesarkannya beserta adik-adiknya. Tak terlihat lelah di mata Ibunya meski Ayu tahu pasti betapa berat yang harus ditanggung Bapak-Ibunya tercinta. Tekadnya semakin bulat untuk bisa meraih cita-citanya; setinggi-tingginya untuk membahagiakan orang tua dan adik adik tercintanya.
’’Eh Ayu...ada apa sayang?’’ Begitu sapa Ibunya begitu menyadari kehadiran Ayu di sampingnya. Ibunya menghentikan kayuhan mesin jahitnya dan meraih mesra tangan Ayu untuk mendekat ke rengkuhannya. ,,,’’Ibu kok belum tidur? Sudah larut malam,Bu...nanti Ibu sakit’’...celetuk Ayu. Ibunya hanya tersenyum penuh arti seraya berkata,’’Sedikit lagi selesai ini Yu...setelah itu Ibu pasti tidur.”
Ayu menatap sedih wajah kuyu Ibunya; meski tak ada kata-kata keluhan dari mulut manis Ibunya, namun Ayu tahu pasti betapa lelahnya Ibunya menghadapi hari-harinya; tanpa dukungan dari saudara-saudara Ayahnya yang notabene sudah begitu diperjuangkan oleh Bapaknya. Ya...Ayu mulai mengerti akan apa yang terjadi dalam keluarganya.Betapa selama ini kasih sayang yang tercurahkan dari Bapaknya untuk Ibu dan adik-adiknya tidak berbalas sedikitpun.Tak terasa air mata membasahi pipi halus Ayu.
Pagi nan cerah,langit kebiruan menampakkan kecantikannya. Matahari mulai memancarkan sinar lembutnya; angin bertiup sepoi-sepi menambah sejuk suasana pagi itu.Burung pipit bertengger rapi di dahan samping rumah De’Kar. Sesekali terdengar cicitan riuh dari anak -anak burung yang meminta jatah makan pada induknya.Sungguh luar biasa Keagungan Sang Maha Pencipta;Tiada tandingannya.
Atas izin Allah SWT; hari itu akan digelar sidang putusan dari perkara yang menimpa suami tercintanya. Dalam sujud panjangnya De’Kar tak henti memanjatkan doa untuk keselamatan suami tercintanya; agar bisa kembali berkumpul dan hidup bahagia dengannya dan Anak-anaknya.Tak lelah De’Kar memohon kepada Sang Maha Segalanya; agar Dia memberikan jalan terangnya, segera menunjukkan kebenarannya; agar masalah yang menimpa keluarganya segera berakhir menjadi kedamaian.
Dengan ditemani pak Lik Bani adik sepupunya; De’Kar berangkat naik bus untuk mengikuti persidangan suami tercintanya. Ayu dan adik-adiknya Beliau titipkan ke istri pak Lik Bani.Segala doa dan harapan tak hentinya De’Kar panjatkan sepanjang perjalanan menuju ke tempat persidangan.
Pukul 08:00 persidangan dimulai Sidang Pembacaan Putusan; De’kar begitu berdebar hatinya mengikuti persidangan saat itu.Hatinya bercampur aduk tidak karuan; membayangkan apa yang terjadi seandainya suaminya dinyatakan bersalah atas kejadian waktu itu. Dengan seksama De’Kar mengikuti jalannya persidangan.
Hakim ketua mulai membaca isi putusan;hati De’Kar semakin tidak karuan. Terlihat dari kejauhan mas Suyit duduk tertunduk di kursi terdakwa. Campur aduk perasaannya. Tidak tega hati De’Kar menyaksikan wajah pucat suaminya yang sangat dicintainya itu.Doa permohonan untuk bisa dibebasnya mas Suyit tak henti De’Kar panjatkan
Di saat-saat penentuan keputusan inilah tiba-tiba dari balik kerumunan pengunjung sidang menyeruak seseorang yang tidak tahu dari mana datangnya. Dengan tergopoh-gopoh orang itu berkata,’’Mohon maaf pak Hakim...ada yang ingin saya sampaikan dalam persidangan ini...mohon maaf pak Hakim;saya berani bersumpah kalau pak Soeyitno tidak bersalah...saya saksi pada kejadian tertabraknya seorang pemuda waktu itu...mohon waktunya saya untuk menjadi saksi Yang Mulia....’’dengan terengah-engah orang tersebut menjelaskan apa yang sudah disaksikannya pada malam kejadian itu.
Ternyata doa tulus De’Kar terjawab saat itu. Lantaran doa-doanya...pengharapan dalam sujud panjangnya; Allah SWT mengirimkan orang baik tersebut yang ternyata penjaga kios bensin yang menyaksikan secara langsung peristiwa kecelakaan tersebut.
Ternyata pada malam kejadian itu; truk yang dikendalikan oleh mas Suyit dalam posisi akan berhenti untuk mendinginkan mesin dan beristirahat.Saat berusaha menghentikan laju truknya; pada arah berlawanan melaju kencang dalam kecepatan sangat tinggi sebuah kendaraan roda dua yang dikendalikan pemuda dalam kondisi mabuk berat. Tanpa ayal; motor yang dikendarainya menabrak bemper truk yang dikendalikan oleh mas Suyit.Sepeda motor pemuda tersebut terpental dan membuat pengendaranya meninggal seketika.
Seketika pengunjung sidang seperti tersihir; takjub serasa tak percaya akan apa yang terjadi saat itu. Saat Soejitno sebagai terdakwa dalam detik-detik menerima keputusan bersalah dan akan mengalami masa tahanan yang lama; ternyata Allah Sang Maha Adil menunjukkan KuasaNya.Datang saksi yang sangat meringankan dan dapat menunjukkan bukti-bukti terkuat kalau mas Suyit tidak bersalah. ...’’Allahu Akbar... !!!’’ begitu gumam mas Suyit dan De’Kar secara hampir bersamaan. Ternyata Kuasa Allah SWT di atas segala-galanya. Kebenaran tetaplah kebenaran.
******