Perselisihan

2101 Kata
“Ada apa? Kau tampak panik melawan kami, sangat berbeda dengan terakhir kali.” Haruka meneguk ludahnya susah payah. Entah sudah berapa kali ia melakukan itu. Pandangannya tidak fokus dalam memperhatikan serangan yang diberikan tiga orang di depannya. Haruka berkali-kali melirik ke arah Daycare dan berharap setidaknya Ryunosuke atau siapa pun orang-orang yang berada di Daycare tidak mendengar keributan yang Haruka buat. Haruka benar-benar takut Ryunosuke keluar dan melihatnya dalam posisi berkelahi. Haruka memang tidak berniat untuk berkelahi, ia hanya berusaha melindungi dirinya sendiri, tetapi Haruka tahu bahwa apa yang Ryunosuke lihat akan menimbulkan kesalahpahaman dan mengira Haruka berkelahi. Haruka menoleh dan lengah sehingga pria Bakuto di hadapannya langsung meninju hidungnya. Haruka terdorong mundur dan terbatuk dengan serangan tiba-tiba itu. Bagian hidungnya terasa nyeri dan Haruka merasakan bagian itu berdarah. Haruka sudah berkali-kali mimisan karena terkena pukulan lawan-lawannya, ia hanya terkejut karena tidak terlalu berkonsentrasi dalam menghadapi mereka. Apalagi lawannya adalah orang-orang Bakuto. Mereka ada tiga orang sementara Haruka berusaha bertahan dengan dirinya sendiri. “Kukira kau bertambah kuat, ternyata kau malah semakin lemah.” Haruka meremat ujung pakaiannya, amarahnya terpancing mendengar kata ‘lemah’ yang ditunjukkan kepadanya. Haruka sensitif dengan kata itu. Ia selalu berusaha keras untuk tidak tampak lemah di hadapan orang lain, siapa pun itu. Ia selalu melatih fisiknya agar lebih piawai dalam menghadapi musuh. Haruka tahu usahanya mungkin masih kurang. Ia masih harus berlatih dengan Nakazawa Naofumi. Jika Bos Tekiya itu belum melatihnya secara pribadi, Haruka harus kembali berlatih keras sampai Nakazawa Naofumi yakin untuk menggunakan tenaganya sendiri dan melatihnya secara khusus. Dengan sekian banyak usaha yang Haruka lakukan untuk membuat dirinya menjadi lebih kuat, mendengar hinaan ‘lemah’ yang ditunjukkan kepadanya benar-benar membuat amarahnya langsung naik. Seolah tidak peduli lagi bahwa Ryunosuke bisa saja keluar dari Daycare dan melihat perkelahiannya, Haruka yang dikuasai amarah langsung melompat dan menendang wajah pria yang baru saja meninju hidungnya hingga berdarah. Entah apa yang merasuki Haruka. Tampaknya kata ‘lemah’ benar-benar penghinaan yang sangat menyakiti hatinya. “Sialán! Jangan menghinaku!” Seru Haruka murka. Ia seperti kesetanán. Meninju, menendang, mendorong, dan beragam gerakan berantakan lainnya. Tiga orang di depannya kuwalahan, tidak menyangka bahwa mengatai Haruka dengan kata ‘lemah’ malah membangkitkan amarah dan kekuatan pemuda itu. Sayang sekali, Bakuto tetaplah Bakuto. Sementara Haruka berkelahi dengan tangan kosong, ketiganya diam-diam menyimpan senjata tajam. Haruka yang dikuasai amarah sama sekali tidak menyadari hal itu sampai salah satu dari mereka menggoreskan ujung belati ke lengan Haruka. Haruka yang tersadar bahwa lawan di hadapannya memakai cara kotor langsung mundur untuk menghindar. Lengan kirinya berdarah karena serangan itu. Haruka meringis menahan perih. Ini bukan pertama kalinya ia kalah karena rencana licik lawan. Haruka selalu mudah diserang ketika marah. Ia memang menjadi lebih kuat saat marah, seolah seluruh kekuatannya terkumpul menjadi satu. Tetapi hal itu juga memiliki risiko tinggi. Kekuatan yang ia keluarkan dengan sangat besar membuat reflek dan kepekaannya menurun. Akibatnya, Haruka malah lebih sering terkena serangan dan tidak menyadari bahwa musuh bermain licik padanya. Haruka meraba lengannya dan mengusap darah yang merembes di lengan pakaiannya yang robek. Ia menatap nyalang tiga pria di hadapannya yang berdiri dengan ekspresi angkuh dan siap membunuhnya tanpa peduli bahwa mereka berdiri di jalanan umum yang jelas siapa pun bisa melihat tindakan mereka. Area Daycare memang bukan jalanan besar yang ramai, tetapi hanya jalanan komplek biasa yang sebagian besar penggunanya adalah orang-orang yang tinggal di sana. Tetapi hal itu tetap tidak akan mengubah fakta bahwa mereka berkelahi di jalanan umum, di mana orang lain bisa melihat tindakan mereka. Haruka benar-benar heran mengapa Kudou Masahiro membiarkan saja anak buahnya bertindak gegabah. Merski mereka yakuza yang terkenal, memiliki banyak uang, pun kekuasaan, bukan berarti mereka akan lepas begitu saja dari jerat hukum karena tuduhan menganiaya warga sipil. “Aku sudah memperingatkanmu berkali-kali untuk tidak lagi ikut campur dalam urusan kami dengan Mamizuka Ryunosuke, tetapi sepertinya kau sangat bebal.” Pria di hadapan Haruka mengayunkan belati miliknya. Haruka yang secara sial kehilangan keseimbangan nyaris terlambat menyelamatkan dirinya. Ia sudah memejamkan matanya, pasrah jika belati yang berayun di hadapannya menyayat wajah atau bahkan mungkin lehernya, namun Haruka tidak merasakan sakit ketika membuka mata dan melihat tubuh Ryunosuke yang masih menggunakan apron Daycare bergambar bunga matahari di dadanya menutup pandangan Haruka dari orang-orang Bakuto yang menyerangnya. “R-Ryu-chan.” Cicit Haruka pelan. Entah ia harus merasa lega karena selamat, atau takut karena Ryunosuke menangkap basah dirinya tengah berkelahi dengan orang-orang Bakuto. Ryunosuke melirik Haruka dengan sorot mata super dingin, kemudian beralih menghadapi tiga orang Bakuto itu tanpa banyak bicara. Ketiganya berusaha melumpuhkan Ryunosuke, namun hanya dengan serangan sederhana yang dilakukan oleh pemuda itu, tiga Bakuto yang sejak tadi terus melontarkan kata-k********r dan makian tidak pantas tumbang dengan wajah babak belur. Haruka melihat ketiganya susah payah untuk bangun dan berlari dengan langkah terseok-seok. Haruka tidak bisa menahan dirinya untuk tidak merasa takut ketika Ryunosuke berbalik dan menatap dirinya dengan ekspresi begitu marah. “R-Ryu-chan, aku bisa menjelaskannya padamu. Sebenarnya, mereka—“ Buk! Haruka jatuh terduduk dengan ujung bibir berdarah dan membiru. Haruka terkejut. Ia sedang menahan sakit dari luka sayat di lengan dan juga bekas tinjuan di hidungnya, sekarang Ryunosuke menambahi rasa sakitnya dengan memukul ujung bibir Haruka hingga bagian itu memar dan berdarah. “Aku tahu kau tidak akan menepati janjimu, itulah mengapa aku langsung mengatakan padamu bahwa kau tidak boleh berada di sini. Haruka, aku bukan Ryunosuke yang kau kenal dulu. Berandalan yang tidak bisa mengontrol emosinya sendiri di tempat umum lebih baik menjauh dariku.” Haruka mendongak, menatap ekspresi Ryunosuke yang begitu marah. Entah Haruka harus menjelaskan perasaannya bagaimana saat ini. Ia tersinggung dengan kalimat Ryunosuke. Ia merasa sakit, secara fisik maupun psikis. Haruka tidak berniat berkelahi, ia juga tidak mau membuat keributan di tempat umum. Orang-orang Bakuto itu selalu berusaha mencari Ryunosuke. Haruka hanya ingin membalas budi atas pertolongan Ryunosuke sejak dulu. Ia hanya ingin menjauhkan Ryunosuke dari orang-orang Bakuto yang terus mengincarnya. Jujur saja, Haruka merasa sedih dan terluka. “U-Um, aku hanya—“ “Aku sudah bilang padamu untuk pergi! Kenapa kau tidak juga paham dengan maksudku? Selalu mengikutiku kemana-mana, selalu merusák tubuhmu sendiri! Aku tidak membutuhkan dirimu, Haruka!” Bentak Ryunosuke keras. Haruka benar-benar kehilangan kata-kata mendengar kemarahan Ryunosuke. Entahlah, ia tidak ingat Ryunosuke pernah membentaknya sekeras ini. Mereka berteman sejak kecil, bukan sekali dua kali mereka terlibat perselisihan. Ryunosuke biasanya hanya akan diam dan tidak mengatakan apa-apa. Tetapi kali ini ia benar-benar tampak marah seolah emosi yang ia pendam selama bertahun-tahun bersama Haruka sudah tidak memiliki tempat lagi untuk ditampung sehingga pada momen seperti ini Ryunosuke menumpahkan segala kekesalannya kepada Haruka. Haruka bersusah payah untuk bangun setelah pukulan super keras yang dilakukan Ryunosuke. Ia memaksakan diri untuk tersenyum meski ujung bibirnya terasa benar-benar sakit. “Aku mengerti, kurasa mereka mulai menemukan Ryu-chan karena aku berkeliaran di sekitar sini. A-Aku tidak tahu jika kedatanganku kemari menyebabkan banyak masalah untukmu. Aku benar-benar minta maaf.” Haruka membungkuk dalam, berusaha keras menyembunyikan air matanya yang sudah mendesak untuk keluar. Bagian rambutnya yang agak panjang menguntungkannya karena menutupi mata Haruka ketika menunduk. Ia tidak menunggu sampai Ryunosuke merespon ucapannya. Haruka tidak ingin kedapatan menangis di hadapan temannya karena itu memalukan untuknya. Ia langsung berlari pergi, membiarkan dirinya menangis tanpa suara. Hari ini seharusnya ia bekerja. Sasaki yang merupakan senior di Kafe Florida bahkan sampai menghubungi dirinya. Haruka beralasan bahwa dia sakit. Ia tidak mungkin datang untuk bekerja dengan penampilan berantakan seperti itu. Lengannya terluka dan berdarah, hidungnya mimisan, juga ujung bibirnya robek karena pukulan Ryunosuke. Haruka jelas tidak tampak pantas untuk tampil di hadapan pengunjung kafe dan menyajikan pesanan mereka. Beruntung Sasaki cukup lihai dalam membuat alasan kepada manajer mereka, sehingga ketidakhadiran Haruka masih dimaklumi karena ia belum pernah tidak hadir ketika bekerja. ** Haruka menguap lebar sembari menggaruk rambutnya yang berantakan. Sejak perselisihannya dengan Ryunosuke kemarin, Haruka hanya tidur dan tidak melakukan apa-apa. Ia bahkan melewatkan makan siang dan makan malamnya karena terlalu malas beranjak dari futon nyamannya. Sejujurnya Haruka masih tidak ingin keluar rumah, ia ingin berbaring dan tidur saja di atas futon-nya seharian. Namun Haruka memiliki tanggung jawab untuk bekerja di Kafe Florida. Ia tidak ingin dipecat dan harus repot mencari pekerjaan baru. Ia beruntung diterima untuk bekerja di Kafe terkenal itu dengan bayaran yang lumayan untuk biaya kehidupan sehari-harinya. Susah payah Haruka harus menyembunyikan bekas membiru di sekitar pipi kirinya. Ia bahkan harus repot-repot buru-buru ke minimarket di dekat apartemennya untuk membeli concealer yang ia gunakan untuk menutup bekas memar itu. Haruka merasa aneh menggunakannya. Ia tidak terlalu mengerti perihal make up, ia bahkan tahu concelear itu karena pernah melihat Kakaknya menggunakan itu. “Kurasa sudah cukup.” Gumam Haruka sembari menatap pantulan dirinya sendiri di depan cermin kamar mandi. Haruka berusaha keras menetralkan pikirannya, melupakan semua keributan yang sedang ia alami dengan Ryunosuke kemarin. Ia harus fokus bekerja karena itu adalah kewajiban dan kebutuhannya. Perihal Ryunosuke, ia akan memikirkannya nanti. Lagipula, tiga orang bawahan Bakuto yang berkeliaran di sekitar Daycare sudah dikalahkan oleh Ryunosuke sendiri. Setidaknya dalam beberapa hari atau mungkin beberapa minggu mereka tidak akan kembali ke sana. Sampai saat ini, Haruka masih belum tahu seberapa banyak anggota Bakuto yang berada di Shibuya sehingga ia sendiri tidak bisa memperkirakan siapa yang akan datang untuk kembali mengejar Ryunosuke. “Shirai-kun, tamu yang sama memintamu untuk mengantarkan pesanannya.” Seru Sasaki. Haruka nyaris menjatuhkan cangkir yang sedang ia lap. “Tamu yang sama?” Sasaki mengangguk. “Pria muda dengan jas rapid an dua pengawal seramnya itu. Ne, Shirai-kun, memangnya kau punya urusan apa dengan pria itu?” Haruka menggeleng keras. “Sasaki-san, bisakah kau bilang jika aku tidak ada. Tolonglah, jangan biarkan aku bertemu dengannya.” “Oh, gomen Shirai-kun, aku terlanjut mengiyakan permintaannya. Sudahlah, cepat antarkan pesanannya. Kurasa dia tamu khusus karena manajer sama sekali tidak protes meski ia membawa bodyguard menyeramkan seperti itu.” Haruka menggigit bibirnya. Sial sekali dirinya. Mengapa pula Kudou Masahiro harus datang ke kafe ini lagi dan meminta Haruka untuk mengantarkan pesanannya. Jika dia memang menginginkan Ryunosuke, mengapa dia selalu mengejar Haruka? Lagipula Ryunosuke juga tidak akan langsung muncul meski Kudou Masahiro mencúlik Haruka. Mereka sedang dalam masa berselisih. Haruka menarik dan membuang napas berat ketika hendak keluar dengan nampan berisi pesanan Kudou Masahiro. Ayolah, pria itu juga tidak akan langsung menyerangnya karena ini adalah tempat umum. Kudou Masahiro tidak mungkin merusak harga dirinya sendiri dengan membuat keributan di tempat umum. Haruka berusaha menyemangati dirinya sendiri sebelum keluar, dan kembali terkejut saat matanya menangkap figur yang sangat familiar berdiri berhadapan dengan Kudou Masahiro yang juga berdiri dari tempat duduknya. “Naofumi-san?” Nakazawa Naofumi dengan penampilan yukata mewah dan haori tampak sangat familiar. Ia sendirian, tidak ada pengawal yang menjaganya seperti Kudou Masahiro. Mengapa pula dua musuh bebuyutan itu harus bertemu di tempat Haruka bekerja? Sungguh, banyak sekali pertanyaan mampir di kepala Haruka sejak ia berangkat ke Kafe Florida pagi ini. Haruka seharusnya tidak ada urusan dengan permusuhan Bakuto dan Tekiya. Haruka bahkan tidak tahu asal muasal permusuhan mereka. Tetapi entah mengapa ia selalu berada di tempat dan waktu saat masalah terjadi. Haruka jadi berpikir apakah ia sedang sial atau bagaimana. Kudou Masahiro dan Nakazawa Naofumi jelas mengundang perhatian pengunjung kafe lainnya. Haruka benar-benar tidak tahu harus bertindak bagaimana di situasi itu. Lanjut melaksanakan tugasnya sebagai pelayan kafe dan mengantarkan pesanan Kudou Masahiro lalu segera kembali dan pura-pura tidak mengetahui apa-apa, atau diam saja dan tidak perlu menampakkan diri di antara keduanya?  Baik Kudou Masahiro maupun Nakazawa Naofumi tampak terpancing satu sama lain. Haruka kira, karena mereka orang-orang yang lebih dewasa darinya, menahan diri untuk tidak membawa urusan pribadi di tempat umum merupakan hal dasar yang pasti mereka ketahui. Namun apa yang ia lihat sekarang? Dua pria dewasa itu saling menatap tajam satu sama lain seolah siap untuk saling bunúh sekarang juga. “Shirai-kun, ada apa ini sebenarnya?” Sasaki meremas lengan kiri Haruka, membuatnya nyaris menjatuhkan nampan karena wanita itu meremas bagian luka sayat Haruka yang bahkan belum sembuh. Haruka menggeleng. “Aku tidak tahu, Sasaki-san.” “Bukankah kau mengenal pria yang memakai jas itu? Dia selalu menanyakanmu setiap datang kemari. Aneh sekali. Pria biasanya memanggil pelayan wanita untuk melayani pesanannya jika memang mereka tertarik, tetapi mengapa pria itu malah memanggilmu? Jangan bilang dia salah mengira kau perempuan karena rambutmu yang setengah panjang itu?” Tanya Sasaki penasaran. Haruka memutar bola matanya. Pikiran Sasaki memang random sama seperti orangnya. Wanita itu tidak tahu saja apa yang sebenarnya terjadi, termasuk siapa Haruka dan bagaimana kehidupan Haruka yang sebenarnya. Haruka yakin Sasaki akan terkejut dan pingsan saat tahu siapa dua pria yang tengah berselisih di dalam kafe lewat tatapan mata satu sama lain itu. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN