Miranda merasa lega setelah ia mengungkapkan keberatannya kepada Merry. Ia pun benar-benar memutuskan hubungan pertemanan dengan wanita yang adalah salah satu dari sekian banyak pengunjung tetap di tempatnya bekerja. Ia terus mengucap syukur karena ada seorang pria asing yang tiba-tiba menyelamatkannya.
Malam setelah kejadian itu, Miranda sangat lelah. Tertidur amat pulas, pagi harinya ia bangun dengan semangat yang baru. Pagi itu juga, Miranda mengikrarkan bahwa ia akan mencari orang yang bersedia memberikan donasi untuk biaya pengobatan ibunya.
Aktivitas pagi hari berjalan seperti biasa di rumah Miranda. Keluarga kecil itu berkumpul di ruang makan untuk sarapan. Miranda dan Mario sudah siap dengan baju kerja, Sarah juga sudah siap dengan seragam putih abu-abu kebanggaannya.
“Ma, hari ini aku pulang agak terlambat, ya,” ucap Miranda setelah ia menghabiskan nasi goreng yang menjadi menu andalan untuk sarapan.
“Kamu mau ke mana lagi, Mir?” tanya Tina. “Semalam kamu sudah pulang larut malam, loh.” Tina memang sangat memerhatikan keseharian anak-anaknya.
“Aku mau coba cari donatur untuk pengobatan Mama. Kita harus bergerak cepat, Ma,” jawab Miranda. Ia lalu menenggak air minum dari gelas keramik.
“Iya, Mir. Kamu sudah coba hubungi dokter Deni?” tanya Tina lagi.
“Sudah, Ma. Dokter Deni sudah kasih beberapa alamat yayasan yang biasanya menolong pasien kanker,” sahut Miranda. Ia kemudian menyeka ujung bibirnya dengan kertas tisu.
Selesai sarapan, ketiga anak Tina pun pamit untuk berangkat ke tempat kerja atau sekolah mereka masing-masing.
“Mama hati-hati di rumah, ya. Kalau merasa nyeri, Mama minum obat ya,” ucap Miranda. Ia kemudian mencium tangan mamanya.
“Ma, kalau ada perlu, Mama bisa telepon kami atau boleh minta tolong sama tetangga, ya.” Mario juga mencium tangan mamanya yang diikuti juga oleh Sarah.
Miranda dan kedua adiknya merasa berat meninggalkan mama mereka. Kondisi sang mama yang kurang sehat membuat mereka khawatir. Namun, apa mau dikata, keadaan mengharuskan mereka untuk pergi bekerja atau bersekolah.
Setelah selesai berpamitan, Miranda dan kedua adiknya berangkat ke tempat tujuan masing-masing dengan naik angkutan kota yang biasa lewat di pinggir jalan depan gang rumah mereka.
***
Miranda kembali bekerja seperti hari-hari sebelumnya. Pengunjung yang ramai datang untuk sarapan membuat Miranda sedikit tenggelam dalam kesibukan. Sejenak ia lupa akan kesulitan serta masalah yang sedang dihadapinya.
Pagi sampai siang, Miranda mengerjakan tugasnya dengan sepenuh hati. Sebagai seorang koki, ia merasa puas ketika melihat pengunjung menikmati makanan dengan lahap. Tak terasa, waktu bekerja yang memakan waktu hampir delapan jam itu pun berakhir.
Miranda dan Mita bersama-sama meninggalkan restoran Gracia. Mereka berjalan beberapa meter untuk menghampiri mobil angkutan kota yang sedang berhenti.
“Terima kasih kamu mau temanin aku, Mit,” ucap Miranda saat ia sudah duduk berdampingan di dalam mobil angkutan kota yang mereka tumpangi.
“Jangan terlalu sungkan sama aku, Mir. Lagi pula pulang kerja aku ngga ada kesibukan apa-apa, jadi lebih baik ikut sama kamu,” sahut Mita sambil tersenyum kecil.
Tak berapa lama kemudian, mobil angkutan kota yang ditumpangi para gadis itu berhenti di depan sebuah bangunan yang berukuran cukup luas. Kedua gadis itu pun segera turun di sana.
“Yayasan Harapan Kasih,” ucap Miranda sambil membaca plang yang terpampang di dekat gerbang. Ia kemudian membuka ponselnya, mencocokkan dengan gambar yang ia dapat dari dokter Deni.
“Ini tempatnya, Mir?” tanya Mita yang disahut dengan anggukan oleh Miranda.
“Ayo, kita masuk.” ajak Miranda. Setelah mendapat izin dari petugas keamanan yang sedang berjaga di pos, kedua gadis itu pun melangkah masuk ke area Yayasan Harapan Kasih.
Miranda dan Mita berjalan berdampingan sambil melihat-lihat kondisi sekitar yayasan tersebut. Beberapa pekerja di sana menyambut dengan senyum yang ramah. Seorang pegawai berseragam biru hitam menghampiri kedua gadis itu.
“Ada yang bisa saya bantu?” tanya wanita berparas ayu berusia sekitar 40 tahunan.
Miranda kemudian menyahut. Ia memperkenalkan dirinya lalu menjelaskan tujuan kedatangannya. Wanita berseragam tadi mendengarkan dengan serius sambil sesekali menganggukkan kepala.
“Baiklah, Miranda. Kita bisa bicarakan hal ini di kantor saya. Ayo, ikut,” ajak wanita itu. Miranda dan Mita mengekor dari belakang.
“Silakan duduk,” ucap wanita tadi ramah. “Nama saya Kiki.” Wanita tadi memperkenalkan diri.
Pembicaraan yang lebih serius berlanjut di kantor. Miranda menunjukkan beberapa dokumen yang menyatakan bahwa mamanya benar-benar adalah seorang penderita kanker dan sedang menunggu jadwal operasi.
“Bagaimana, Bu. Apakah kira-kira mama saya bisa mendapatkan donasi dari yayasan ini?” tanya Miranda dengan penuh harap.
Kiki menutup map yang berisi dokumen hasil pemeriksaan kesehatan mama Miranda dan meletakkannya di atas meja. “Pihak yayasan akan mengusahakan. Jika donasinya sudah didapat, kami akan segera menghubungi kamu,” jawab Kiki.
“Baik, Bu, terima kasih banyak.” Miranda dan Mita segera berpamitan dengan Kiki. Dalam hati, ia benar-benar berharap bisa segera mendapat kabar dari yayasan tersebut.
Setelah meninggalkan Yayasan Harapan Kasih, kedua gadis itu tak langsung pulang. Mereka masih mendatangi empat yayasan lain yang direkomendasikan oleh dokter Deni. Jawaban yang diterima Miranda pun sama. Ia harus menunggu sampai donatur didapatkan.
“Semoga donaturnya cepat ketemu ya, Mir,” ucap Mita.
“Ya, Mita. Aku juga berharap seperti itu. Kondisi mama saat ini benar-benar butuh penanganan. Aku khawatir kalau kesehatannya menurun,” sahut Miranda dengan nada sedih.
Yayasan terakhir yang didatangi Miranda dan Mita bernama Yayasan Hope. Yayasan itu lebih besar dari keempat yayasan yang sebelumnya mereka datangi. Ketika berjalan meninggalkan yayasan itu, Miranda akhirnya jujur kepada Mita mengenai tawaran yang diberikan Merry.
Mita sangat terkejut mendengarkan cerita Miranda. Ia tak habis pikir mengapa Merry yang selama ini mereka kenal baik ternyata mempunyai sisi buruk.
“Jadi kamu sempat ikut sama Kak Merry, Mir?” tanya Mita tak percaya.
Miranda mengangguk cepat, “Ya, Mit. Kata Kak Merry, aku bisa dapat uang 250 juta dalam satu malam saja. Tapi aku kabur sebelum tamu itu datang.” Bayang-bayang tentang apa yang terjadi di malam sebelumnya kembali masuk ke angan Miranda.
“Miranda, walaupun persoalanmu berat, kamu harus berpikir lurus dong,” protes Mita.
“Iya, Mit. Sekarang, aku yakin mama bisa berobat pakai uang halal,” jawab Miranda sambil merapikan rambut ikalnya yang tertiup angin.
“Jadi gimana kamu keluar dari hotel itu, Mir?” tanya Mita.
“Beruntung ada cowok baik, Mita. Aku gandeng lengannya supaya kami kelihatan seperti pasangan. Dia malah bantuin aku, dia tutupin mukaku supaya si tamu itu ngga bisa lihat aku.” Miranda menjawab sambil tersenyum kecil mengingat pria yang semalam sudah membantunya.
“Berani banget kamu, Mir? Kamu kenalan ngga sama cowok itu?” tanya Mita antusias.
“Ngga, Mit. Karena buru-buru, aku ngga sempat tanya nama cowok itu,” sahut Miranda.
“Yah, pasti dia cowok baik deh, Mir. Kamu ingat wajahnya ngga?” Mita masih penasaran.
Miranda menyipitkan matanya. Ia mencoba mengingat wajah pria misterius yang dengan ikhlas menolongnya. “Rambutnya ikal hitam, berjanggut lebat, matanya coklat. Suara sama wajahnya agak familiar, sih. Kayaknya aku pernah lihat dia, tapi aku lupa, Mit.” Sudah sejak semalam Miranda mencoba mengingat sosok pria yang membantunya, tapi ia sama sekali tidak bisa ingat kapan dan di mana ia bertemu pria itu.
“Semoga kamu ketemu dia lagi, ya, Mir.”
“Iya, Mita. Aku ingin traktir dia untuk ucapan terima kasih,” sahut Miranda.
Kedua gadis itu pun berjalan sampai ke pinggir jalan raya. Suasana sore membuat jalanan amat ramai. Beruntung, angkutan kota yang mereka tunggu segera datang. Miranda dan Mita menumpang angkot itu untuk pulang ke rumah mereka masing-masing.