Dirayu Merry Lagi

1173 Kata
Beberapa hari berlalu sejak Miranda mendatangi beberapa yayasan untuk mencari donasi untuk pengobatan mamanya. Setiap hari ia menunggu kabar dari pihak yayasan tersebut, akan tetapi belum ada berita baik yang ia terima. Miranda dan keluarganya tetap berusaha untuk sabar menunggu. Suatu siang, orang yang paling dihindari Miranda kembali hadir. Merry sengaja menemui Miranda di restoran. Wanita itu masih penasaran mengapa Miranda bisa tiba-tiba berubah pikiran. Setibanya di restoran, Merry segera mengambil tempat duduk favoritnya. Begitu melihat Miranda, Merry melambaikan tangan. Miranda tak bisa mengelak. Dia harus melakukan pekerjaannya dan melayani setiap pengunjung dengan baik. Dengan gesit, Miranda berjalan ke arah Merry. Sebuah buku kecil dan pena ada di dalam genggamannya. Seperti biasa, gadis itu mengembangkan senyuman manisnya, berusaha untuk tetap ramah. “Pesan apa, Kak?” tanya Miranda begitu ia berada tepat di hadapan Merry. “Seperti biasa. Kamu sudah tahu ‘kan menu favoritku?” Merry balik bertanya. “Baik, Kak,” sahut Miranda. Ia kemudian menulis pesanan Merry. “Ditunggu ya, Kak,” ucap Miranda. Ia lalu berbalik dan meninggalkan Merry. Cepat Merry beranjak dari kursinya dan menarik lengan Miranda. Wanita itu menatap Miranda tajam. “Kamu masih berhutang penjelasan kepadaku, Mir. Jangan pikir kamu bisa lepas dengan mudah, ya. Aku sudah menghabiskan banyak uang untuk mendandanimu di salon yang mahal.” “Kak, aku lagi kerja. Tolong jangan diganggu dulu,” ucap Miranda pelan, tak mau mencuri perhatian pengunjung yang lain. Sekuat tenaga ia melepaskan cengkeraman Merry dari lengannya. “Aku tak akan meninggalkan tempat ini sampai kamu bisa menjawab pertanyaanku tadi.” Merry memasang wajah kesal lalu kembali duduk di tempatnya. Miranda beranjak pergi menjauhi Merry. Ia langsung ke dapur dan menyiapkan pesanan wanita yang sudah hampir menjualnya itu. “Kamu kenapa, Mir? Mukanya kok ditekuk gitu?” tanya Mita penasaran. Tak biasanya Miranda seperti itu. “Kak Merry datang, Mit. Dia minta penjelasan kenapa aku kabur malam itu. Dia juga ungkit soal biaya salon yang mahal,” jawab Miranda. Ia menarik napas dalam dan membuangnya kasar. “Ya udah, kamu jawab jujur aja, Mir. Nanti kalau dia minta ganti biaya salon, aku bisa bantu kok. Ngga usah takut,” balas Mita. “Mita,” ujar Miranda. Air matanya hampir tumpah. “Udah, ini bukan waktunya nangis-nangisan.” Mita mengambil nampan dari tangan Miranda, lalu mengantarkannya ke meja Merry. Miranda dari jauh hanya bisa mengamati. Ia bersyukur mempunyai sahabat yang baik seperti Mita. *** Jam tiga sore, restoran Gracia sudah sepi dan rapi. Semua karyawan sudah bersiap-siap untuk pulang. Merry menepati perkataannya, ia masih menunggu di dalam mobilnya yang terparkir di depan restoran. Miranda dan Mita keluar dari restoran bersamaan. Mita menepuk pundak Miranda, seolah ingin memberinya kekuatan. Begitu melihat Miranda, Merry segera turun dari mobil merahnya. Seperti biasa, wanita itu tampak cantik dengan dandanannya yang elegan. Dengan langkah yang anggun, ia mendekati Miranda. “Kak Mer,” sapa Miranda. “Ayo, kita ngobrol di mobil,” ajak Merry. Miranda dan Mita mengekor dari belakang, menuju mobil merah Merry yang terparkir rapi. Begitu Mita ingin naik ke kursi belakang, Merry menatapnya tak suka. Ia tak ingin gadis itu mendengar pembicaraannya dengan Miranda. “Mit, kamu tunggu di sini aja, ya,” ucap Miranda mengerti keberatan Merry. Mita pun menurut dan menunggu di luar saja. Miranda duduk di kursi depan, bersebelahan Merry. Gadis itu sedikit kikuk. Ia merapikan rambut ikalnya dan mengikatnya dengan ikatan rambut yang ada di pergelangan tangannya. “Kenapa kamu bohongin Kakak, Mir?” tanya Merry sambil menatap Miranda tajam. Kedua tangannya memegang erat kemudi mobil. Tatapan Merry membuat Miranda sedikit merasa bersalah. Namun, lebih banyak rasa lega di hatinya setelah lepas dari bencana yang hampir menimpanya. Miranda balas menatap Merry dan menjawab, “Maaf, Kak, aku ingin mencari cara yang halal.” “Mir, mau berapa lama kamu menunggu?” tanya Merry. “Memangnya sudah ada yang mau memberimu donasi?” Pertanyaan Merry hanya dibalas gelengan kepala oleh Miranda. Melihat Miranda menggeleng, Merry hanya tersenyum simpul. “Miranda, cari uang itu susah. Mana ada yang mau kasih uang sebanyak itu secara gratis tanpa imbalan?” cecar Merry. Miranda tak menyahut. Ia tahu bahwa apa yang dikatakan Merry itu ada benarnya. “Mir, Kakak bawa kabar baik untuk kamu.” Wajah Merry yang sedari tadi serius kini berubah dipenuhi senyuman. “Kabar apa, Kak?” sahut Miranda malas. Ia curiga terhadap kabar baik yang dibawa Merry. “Tamu yang lalu tidak jadi kamu layani, dia menghubungi Kakak. Dia bersedia menambah lima puluh juta lagi asal kamu mau menemaninya weekend nanti.” Merry tak putus asa. Miranda balas menatap Merry. “Kak, keputusanku sudah bulat. Aku ngga bisa terima tawaran Kakak. Tolong Kakak hargai keputusanku,” sahut Miranda tegas. Ia tak mau lagi pikirannya yang kacau kembali diombang-ambingkan. “Mir, kesempatan seperti ini jarang-jarang ada loh,” rayu Merry lagi. “Kak, aku ngga bisa. Aku yakin di luar sana masih ada orang baik yang benar-benar tulus, bukan mau cari keuntungan dari kesusahan yang dihadapi orang lain,” ucap Miranda. Kali ini ia yang menatap Merry tajam. Merry merasa tersindir dengan jawaban Miranda. “Baiklah, kita lihat saja nanti,” sahut Merry sambil memukul kemudi. “Mulai sekarang jangan ganggu aku lagi, Kak. Aku berhasil atau tidak, itu urusanku.” Nada suara Miranda yang lembut berubah ketus. “Oke, tapi jangan lupa ganti biaya salonmu. Baju yang Kakak pinjamkan juga tolong dikembalikan. Kamu ngga cocok pakai baju mewah seperti itu,” sahut Merry tak kalah ketus. “Baik, setelah gajian aku akan kembalikan biaya salon itu,” jawab Miranda. Ia lalu turun dari mobil tanpa berpamitan lagi. Miranda segera menghampiri Mita. Mereka berdua hanya geleng kepala melihat mobil Merry yang melesat cepat. “Gimana, Mir?” tanya Mita. “Udah beres, Mit, tenang aja. Yang pasti, aku ngga bakalan tergoda sama rayuan Kak Merry.” Miranda menjawab pasti. Miranda dan Mita meninggalkan parkiran restoran. Tak lama, ada sebuah mobil masuk dan berhenti tepat di hadapan mereka berdua. Seorang pria membuka kaca mobil dan memanggil Mita. Kedua gadis itu pun menoleh cepat ke arah suara. “Mike,” gumam Mita dengan suara pelan sambil tersenyum kecil. Ia dan Miranda pun mendekati mobil itu. “Resto udah tutup, Mike,” ucap Mita. “Yah, aku telat dong. Bos minta dibeliin makanan dari sini,” sahut Mike. “Besok datang lebih cepat aja,” balas Mita. “Oke. Kalian mau pulang nih?” tanya Mike yang dibalas anggukan dari kedua gadis manis di hadapannya. “Ayo, naik, aku antar pulang,” lanjut Mike. Miranda dan Mita saling bertatapan. Mereka setuju ajakan Mike lalu naik ke mobil dan duduk di kursi belakang. “Boleh tahu siapa namamu?” tanya Mike sambil melihat Miranda dari kaca spion. Miranda balas dengan senyuman dan menjawab, “Namaku Miranda.” Mike mengangguk pelan sambil mengingat nama Miranda. Ia tak sabar ingin memberi tahu informasi yang baru itu kepada Reynard. Ketiga muda-mudi itu pun tak berhenti mengobrol selama di perjalanan. Sifat Mike yang ramah membuat suasana di dalam mobil terasa akrab. Miranda yang sempat kesal kini sudah kembali ceria. Guyonan yang diluncurkan Mike sanggup mengubah perasaan hatinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN