“Icaaa” Raniesha mencoba membuka matanya dengan sekuat tenaganya, ia merasakan kepalanya yang begitu sakit bahkan seluruh tubuhnya terasa begitu sakit, ia melihat ruangan yang berwarna putih serta suara yang terus memanggil namanya.
“Icaaa kamu sudah sadar?” ucap Odellina begitu khawatir, Raniesha kini sudah benar-benar membuka matanya.
“Mamahh, Ica dimana?” ucap Raniesha, tak lama kemudian dokter datang memeriksa keadaan Raniesha yang kini sudah baik-baik saja.
“Kamu dirumah sakit, kata temen kamu, tadi kamu pingsan di kantor saat masih kerja, dia yang bawa kamu kesini” ucap Odellina, Raniesha mengingat kembali kejadian terakhir kali saat ia sampai di kantor ia merasakan kepalanya begitu sakit lalu tak sengaja ia bertemu dengan Devan di dalam lift dan saat itu ia tak ingat apapun lagi.
“Ica inget Mah, tadi begitu sampe di kantor Ica pingsan di lift karena tiba-tiba kepala Ica sakit banget” ucap Raniesha, Odellina menghela nafas.
“Sepertinya kamu kecapean setelah dari Jakarta kemarin, Mamah udah nelfon Papa dan Ella, Mamah udah bilang keadaan kamu baik-baik saja, mungkin setelah mereka selesai, mereka akan kesini” ucap Odellina, Raniesha menganggukkan kepalanya.
“Temen aku tadi kemana Mah?” tanya Raniesha.
“Ohh itu, dia bilang tadi mau balik ke kantor karena ada meeting yang penting, jadi setelah liat Mamah dateng, dia langsung pergi, Mamah sampe lupa nanyain namanya” ucap Odellina, Raniesha menghela nafas sejenak, ia harus berterima kasih pada Devan jika nanti ia bertemu dengan pria tersebut.
“Kamu makan dulu ya, setelah itu minum obat” ucap Odellina, Raniesha mengangguk, ia pun minta untun disuapin oleh Odellina.
“Ohh ya, Mamah udah beliin kamu HP baru, Mamah rasa HP kamu ga akan ketemu saat hilang di Jakarta kemaren” ucap Odellina.
“Mahh, Ica kan bisa beli sendiri, Ica belum sempet aja pergi belinya, makanya belum beli sampe sekarang” ucap Raniesha cemberut, ia juga kesal karena HP nya hilang disaat mereka akan pulang ke Bandung beberapa hari yang lalu.
“Sudahlah, tidak apa-apa, Papa kok yang minta Mamah untuk beliin buat kamu” ucap Odellina.
“Hmm, nanti aku ucapin makasih sama Papa dehh, padahal gaji aku cukup loh buat beli HP sendiri” ucap Raniesha, Odellina tertawa pelan.
“Ga apa-apa sayang, Mamah ngerti kok sekarang kamu bisa beli apapun yang kamu mau dengan uang kamu sendiri, tapi Mamah masih pengen beliin kamu sesuatu, Mamah malah bingung karena sekarang udah ga ada lagi anak Mamah yang minta duit jajan, Ella juga sekarang lagi buka bisnis online, jadi yahh begitulah, berasa paling sibuk anak itu” ucap Odellina, Raniesha tertawa.
“Kami sedang berusaha untuk jadi anak-anak yang mandiri, meskipun masih sering manja sama Mamah dan Papa” ucap Raniesha, Odellina tersenyum bahagia memiliki anak-anak seperti mereka.
“Kak Icaaaaaaaaaa” teriak Raniella begitu ia masuk ke dalam kamar rawat Raniesha, Raniesha dan Odellina pun menatap Raniella yang baru saja masuk. Raniella berlari dan memeluk Raniesha, mendengar kabar Raniesha masuk rumah sakit membuatnya tidak fokus untuk belajar dan memutuskan untuk bolos kuliah hari itu.
“Kakak kenapa?” ucap Raniella.
“Kakak ga apa-apa kok, mungkin kecapean aja” ucap Raniesha.
“Aku khawatir banget tauu, Mamah ngabarin saat aku baru masuk kuliah” ucap Raniella.
“Lalu? Kamu ga kuliah?” tanya Raniesha.
“Aku bolos demi bisa lihat kak Ica disini” ucap Raniella, Raniesha menatap kearah Odellina.
“Mahhhh jangan omelin aku, aku tuh khawatir banget, plisssss” ucap Raniella, Raniesha tertawa pelan, Odellina hanya menghela nafas melihat kelakuan Raniella yang memang begitu malas untuk kuliah.
“Terserah kamu saja dehhh” ucap Odellina, ia pun keluar untuk membeli buah-buahan untuk Raniesha dan meninggalkan mereka berdua.
“Kakak baik-baik aja kan?” tanya Raniella kembali.
“Kakak baik-baik aja kok, entar sore juga udah dibolehin sama dokter untuk pulang” ucap Raniesha tersenyum.
“Lalu, siapa yang bawa kakak kesini?” tanya Raniella.
“Temen kantor kakak, tadi pas kakak pingsan, kakak lagi didalem lift sama temen kakak itu” ucap Raniesha, Raniella mengangguk paham. Raniesha mengambil HP yang tadi diberikan oleh Odellina, ia melihat Odellina juga sudah membelikan nomor baru untuk dirinya, ia langsung memasukkan semua akunnya di HP tersebut.
“Kakak udah beli HP?” ucap Raniella.
“Dibeliin sama Mamah, Mamah bilang Papa yang suruh, padahal kakak bisa beli sendiri, Cuma belum sempet aja waktunya” ucap Raniesha.
“Ga apa-apa dong, kakak bisa pake uang kakak buat beli make up, baju, tas, atau apalah gitu” ucap Raniella.
“Kakak masih ga tertarik dengan hal seperti itu, banyak yang dibeliin sama Mamah juga jarang kakak pake” ucap Raniesha, Raniella menghela nafas kasar, ia begitu heran dengan kakaknya tersebut yang bergaya begitu apa adanya padahal mereka begitu berkecukupan.
“Yahh minimal kakak belajar makeup kek, biar tambah cakep, ya aku tau kakak udah cakep, tapi biar makin bersinar aja gitu di kantor, kan enak kalo jadi idola disana” ucap Raniella membayangkan hal itu, padahal tanpa Raniesha berdandan sekalipun, orang-orang di kantornya sudah banyak yang menggosipkan dirinya.
Namun tiba-tiba Raniesha teringat dengan sesuatu saat ia di Jakarta bersama keluarganya, hari terakhir mereka disana, mereka sempat makan disebuah café dan restaurant yang menjadi satu, ia tak sengaja hari itu melihat Elvano disana bersama dengan seorang wanita yang waktu itu pernah ditunjukkan oleh Devan dalam sebuah foto, kini ia percaya dengan semua yang dikatakan oleh Devan.
Raniesha juga melihat Elvano dan wanita itu sempat saling menggenggam tangan tanpa berniat melepaskannya, ia juga melihat dengan matanya Elvano mengusap lembut pipi wanita tersebut. Saat itu juga Raniesha sudah memutuskan untuk melupakan Elvano yang hanya singgah sebentar dihatinya dan meninggalkan kesan yang tidak ia bayangkan sebelumnya.
“Halo Fatma, ini aku Ica” ucap Raniesha menelfon Fatma dari media socialnya karena ia tidak ingat dengan nomor HP Fatma.
“Icaaa, gimana keadaan kamu? Udah baikan? Tadi Devan sempat ngabarin aku, aku khawatir sama kamu, makan siang nanti aku juga udah niat buat ke rumah sakit” ucap Fatma.
“Aku udah baikan kok, hari ini udah boleh pulang sama dokter, kamu ga perlu repot kesini, aku udah baik-baik aja” ucap Raniesha.
“Tapi aku pengen ngeliat keadaan kamu, Devan juga mau ikut kok” ucap Fatma, Raniesha pun semakin tidak enak hatinya menolak keinginan Fatma tersebut.
“Ehmm yasudah deh” ucap Raniesha, ia juga ingin menyampaikan ucapan terima kasih pada Devan nantinya.
“Kak, kayaknya aku harus balik deh ke kampus, temen aku ngabarin katanya ada kuis mendadak, huuuhhhh kesell banget dehhh” ucap Raniella, Raniesha hanya tertawa, ia pun tahu bagaimana Raniella yang begitu malas kuliah.
“Itu tandanya kamu ga boleh bolos, meskipun dengan alasan demi kakak” ucap Raniella tertawa.
“Hmm dasarrr” ucap Raniella.
“Yaudah balik gihh, entar kakak bilang ke Mamah kalo kamu balik kuliah, kita ketemu dirumah aja entar sore” ucap Raniesha.
“Iya yaudah, kakak cepet sembuh ya, aku pergi dulu” ucap Raniella, ia mencium pipi Raniesha lalu pergi meninggalkan Raniesha.
Raniella berlari menuju mobilnya dengan begitu terburu-buru, namun saat diparkiran mobilnya ia tak sengaja menabrak seseorang hingga membuatnya terjatuh.
“Aaawwww, sakitt bangett” ucap Raniella, ia pun melihat tangannya yang berdarah karena tergores lantai yang tidak rata.
“Aduhhh, sorry sorry, kamu ga apa-apa? Maaf banget” ucap pria tersebut yang langsung membantu Raniella untuk berdiri.
“Maaf banget, aku bener-bener ga sengaja” Raniella merasa kesal, ia ingin meluapkan amarahnya namun terhenti ketika ia melihat wajah pria itu, Raniella langsung mengatur nafasnya.
“Sebentar” ucap pria itu, Raniella melihat pria tersebut masuk ke dalam mobilnya dan mengambil sesuatu, pria itu kembali dan membersihkan tangan Raniella yang berdarah, ia memberikan obat merah lalu membalut luka itu dengan plaster.
“Ehmm, ini kartu nama aku, kalo lukanya ga sembuh, kamu bisa hubungi aku, atau kita ke dalem yah biar luka kamu diobatin” ucap pria tersebut yang tak lain adalah Devan.
“Ehh ga perlu kok, ini juga bakal sembuh nantinya, ga parah juga” ucap Raniella.
“Serius ga apa-apa? Maaf banget yah, aku ga lihat-lihat tadi” ucap Devan.
“Engga apa-apa, aku juga tadi buru-buru” ucapn Raniella.
“Yaudah kalo gitu, sekali lagi aku minta maaf, dan itu kalo ada apa-apa, hubungi aja nomor itu” ucap Devan, Raniella tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
“Baiklah, kalo gitu aku permisi dulu” ucap Raniella, Devan tersenyum. Raniella pun pergi dengan mobilnya meninggalkan rumah sakit tersebut namun senyumnya masih terukir diwajahnya, ia merasa telah menemukan seseorang yang sesuai dengan hatinya.
“Devan” ucap Raniella tersenyum saat ia melihat kartu nama yang ada digenggamannya.
*
“Gimana jadwal saya untuk satu minggu kedepan?” tanya Elvano pada Stella, Stella pun membuka agendanya dan membacakan semua plan yang sudah ia susun disana.
“Tidak ada senggang sama sekali?” ucap Elvano saat mendengarkan semua yang disebutkan oleh Stella sama sekali membuatnya tidak bisa libur, bahkan disaat weekend pun ia harus mengisi acara diluar dari pekerjaan dari beberapa perusahaan rekan bisnisnya.
“Tidak pak, ini semua sudah saya jadwalkan sesuai dengan waktu bapak sendiri” ucap Stella, Elvano menghela nafas sejenak, ia sudah mencari info tentang keadaan Raniesha, namun begitu sulit ia mencari nomor orang-orang yang dekat dengan Raniesha.
“Apakah bapak ada janji selain dari jadwal yang sudah saya buat?” tanya Stella.
“Saya berencana ke Bandung” ucap Elvano.
“Tapi jadwal bapak tidak ada ke Bandung” ucap Stella.
“Saya ada urusan pribadi” ucap Elvano, Stella pun terdiam, ia seakan lupa bahwa atasannya tersebut belum menikah alias masih single.
“Baiklah, kamu boleh keluar” ucap Elvano saat ia melihat sebuah panggilan masuk dari Aura.
“Baik pak, permisi” ucap Stella.
“Halo Ra” ucap Elvano.
“Hai Van, kamu hari ini ada waktu ga? Pulang barenga yuk, aku traktir makan” ucap Aura.
“Maaf Ra, aku lagi ga bisa, aku lagi sibuk banget di kantor” ucap Elvano.
“Yahh, padahal aku pengen ajak kamu ke tempat makan favorit aku” ucap Aura.
“Sorry ya” ucap Elvano.
‘Gimana kalo aku bungkus aja ya, terus aku bawa ke kantor kamu, kita makan bareng disana” ucap Aura, Elvano seketika tidak bisa menjawab hal tersebut, ternyata penolakan dan alasannya tersebut tidak membuat wanita itu berhenti untuk terus mendekatinya.
“Ehmmm, kayanya lain kali aja dehh, aku harus pergi ke kantor klien aku, aku sudah ada janji, sorry banget Ra” ucap Elvano, Aura pun kesal setelah berkali-kali ditolak oleh Elvano, bahkan semua usaha yang ia lakukan tidak pernah direspon oleh pria berhati dingin tersebut.
“Okey, baiklah, see you” ucap Aura.
“See you” ucap Elvano, Aura langsung mematikan telfon tersebut dengan begitu kesal, padahal saat itu ia sedang berada didepan perusahaan milik Elvano, namun pria tersebut sama sekali tidak ingin menghargai usahanya.
“Kamu harus jadi milikku Van, apapun caranya, kamu harus jadi milikku” ucap Aura mengepalkan tangannya begitu erat, apa yang sudah singgah dihatinya tidak boleh ada yang mengambilnya sekalipun ia harus berjuang mati-matian untuk mempertahankan semuanya, ia sudah berencana untuk tetap terlihat baik dihadapan Elvano agar pria tersebut menyukainya.