Kekacauan terjadi di mana-mana, terutama daerah perkotaan. Dalam kurun waktu satu hari saja virus itu sudah menyebar dengan cepat dan dengan luasnya ke seluruh penjuru kota. Spekulasi pun muncul mengenai virus yang datang dari daerah pesisir, dan seluruh warga menyalahkan pemerintah yang tidak sigap terhadap virus yang kini sudah terlanjur menyebar kemana-mana. Tak ada lagi yang bisa dilakukan oleh warga selain bersembunyi di dalam rumah. Warga tidak diperbolehkan untuk bertatapan atau sekedar bersosialisasi dengan warga lainnya, karena hal itu dinilai akan membahayakan diri mereka sendiri.
-5.1-Sore itu Edwin masih melajukan motornya dengan cepat, baru saja satu hari dari peristiwa yang terjadi, kondisi kota saat ini sudah sangat sepi. Entah mereka semua bersembunyi di atas gedung-gedung tinggi itu, rumah-rumah yang sepi itu, atau mereka semua sudah berubah menjadi zombie yang kini bersembunyi di sana. Tak ada satupun hal yang dipikirkan oleh Edwin kecuali tujuannya untuk pergi ke Zona aman, tempat di mana orang-orang sehat mengungsi, dan banyak yang sudah mengatakannya, berkali-kali Edwin selalu menemukan titik lokasi itu melalui media sosial dan internet yang sering ia gunakan, dan ia pun berharap bahwa kabar mengenai Zona aman yang berada empat puluh lima kilometer dari Rumah Edwin pun benar adanya.
Hanya satu harapan itu yang ia inginkan, agar ia bisa tidur dan beristirahat dengan nyaman di sana, meskipun ia harus berdempetan dengan mereka yang juga mengungsi. Itulah yang ada di dalam bayangan Edwin saat itu. Namun, ekspetasi tidak seperti realitanya. Laju motor Edwin berhenti tepat seratus meter dari gerbang tinggi yang kini tengah tertutup dengan rapat di sana, tak ada satupun tentara melainkan ratusan zombie yang kini menoleh dengan serempak kearahnya dan mengejarnya dengan beringas.
“Sialan!!” ringis Edwin saat itu, dengan cepat ia memutar balikan laju motornya dan dengan kencang menancap gas untuk kemudian pergi dari tempat yang katanya ‘zona aman’ namun ternyata sama sekali tidak aman.
…
Edwin sudah melajukan motornya lebih dari yang biasanya, dan bahkan kali ini Edwin tidak bisa menentukan arah tujuannya. Diliriknya bar bensin motor yang ada di hadapannya, Edwin pun menyadari bahwa ia harus segera menemukan pom bensin guna mengisi bahan bakar motor miliknya. Namun permasalahannya saat ini adalah mereka para zombie lah yang tengah menguasai pom-pom bensin yang ia lalui tersebut, dan hal itu sungguh merugikan dirinya.
Edwin mendecih karena kesal, tidak ada yang bisa ia lakukan saat ini selain mencari cara agar ia bisa meloloskan diri dari zombie-zombie itu. Seperti saat ini, jauh di depan sana para zombie tengah berlari ke arahnya yang kini menghentikan laju motornya. Diliriknya bar bensin miliknya yang sudah benar-benar menunjuk ke arah empty dan kedua matanya kini menoleh menatap para zombie yang melesat kearahnya dengan begitu cepat. Tanpa pemikiran panjang, ia pun melajukan motornya dengan sangat kencang, mendekati mereka. Jarak antara Edwin dan para zombie yang berada di sebrangnya pun sudah berada lima meter di sana, dan dengan perhitungan yang matang, Edwin pun melempar motor miliknya dan ia melompat dari sana, hingga motor yang ia tumpangi terjatuh dan terseret serta menubruk para zombie yang berlari ke arahnya. Mungkin sekitar dua puluh zombie yang berhasil jatuh karena motor miliknya, namun masih banyak zombie lainnya yang berlari melesat ke arahnya, dan hal itu membuat Edwin segera berlari menghindari para zombie dengan kencang, ia menoleh menatap beberapa bangunan yang ada di sekelilingnya, dan hal itu pun yang membuatnya segera mendekat kearah beberapa bangunan tersebut.
Dengan cepat, Edwin berlari sekencang-kencangnya. Karena saat itu Edwin pun tahu bahwa para zombie tengah berlari dengan begitu cepat kearahnya. Mereka seperti sedang berlomba maraton saat ini, dan itulah yang dirasakan oleh Edwin saat itu. Ia berlari seraya memperhitungkan segalanya, kecepatan kaki, jarak lompat dan lain sebagainya. Setelah ia kira semua perhitungannya sudah cukup dan tepat, dengan segera ia melompat dan berhasil meraih salah satu jendela lantai dua dari bangunan terdekat, dan tidak sampai di situ, Edwin masih memanjat gedung itu seperti seorang atlet parkour yang profesional.
Dengan nafas yang terengah, Edwin masih berusaha untuk memanjat ke atas bangunan tersebut. Sesekali ia menoleh ke belakang ke arah para zombie yang kini melompat-lompat berusaha untuk meraihnya yang sudah jauh berada di atas sana. Butuh waktu yang singkat bagi Edwin untuk sampai tepat di atap bangunan tersebut. Dan setelah ia berhasil memijaki atap bangunan, ia bersorak dengan senang karenanya.
“Wohooowww!!” soraknya dengan senang, ia bahkan melompat-lompat kecil di tempatnya berpijak saat ini,
“aaaarrrrrggght!!”
Mendengar sebuah suara membuat Edwin melirikkan pandangannya ke arah belakang, yang ternyata sesosok zombie berlari dari ujung atap sana untuk mendekati Edwin. Dengan panik Edwin segera berlari menjauhi sang zombie dan kemudian ia melompat ke gedung yang berada di sampingnya, dan untunglah Edwin mampu melakukannya.
“wohooo!!! yeah!!!” dengan senang, Edwin memekik di sana. Itu merupakan pencapaian yang hebat menurutnya, bagaimana tidak? Ia baru saja lompat dari gedung ke gedung lainnya, yang kala itu memiliki jarak dari satu bangunan ke bangunan lainnya adalah lima hingga enam meter jauhnya. Dan hal itu pun membuat zombie yang mengejarnya di atap gedung terjatuh ke bawah.
Kedua mata Edwin kini menoleh menatap bangunan yang baru saja menjadi titik dimana ia melompat, dan di sana ia mendapati sebuah pintu yang terbuka, yang membuatnya berpikir bahwa zombie yang baru saja menyerangnya itu datang melalui pintu tersebut. Yang akhirnya membuat Edwin merasa bahwa ia harus lebih berhati-hati terhadap bangunan yang memiliki pintu atap seperti itu. Kedua pandangannya pun kini berpaling ke arah sekitar, ia masih belum bisa menentukan arah tujuannya saat ini, namun pada akhirnya, ketika nama sebuah kota hadir begitu saja di dalam kepala Edwin, membuatnya memutuskan untuk pergi ke Bandung. Satu hal yang menjadi pendorongnya untuk memutuskan pergi ke sana adalah bahwa Edwin merasa kota Bandung adalah kota yang terdekat dan kota yang dikelilingi oleh gunung, jadi kemungkinan bagi virus itu untuk masuk ke dalam kota Bandung adalah empat puluh persen. Dengan kesungguhan yang menjalari dirinya, iapun segera berjalan menuju kota Bandung, dan tentunya dengan bantuan google map dari aplikasi yang ia miliki di smartphonenya yang masih aktif.
Sore itu ia terus berjalan, berlari dan melompat tanpa henti, namun ketika ia mengetahui bahwa tubuh dirinya sudah berada di batas limit, iapun menghentikan perjalanan dan memilih beristirahat untuk memulihkan kembali seluruh tenaganya. Ditengah langit yang gelap, tepat di atas salah satu bangunan yang sepi, Edwin terduduk di salah satu pojokan yang menurutnya aman untuk dihuni, ia juga mengganti bajunya dengan kaos oblong, lalu mencuci baju yang ia kenakan dengan air dari gentong yang terdapat di atap bangunan itu, dan setelahnya ia pun menjemur baju-baju tersebut.
Setelah semuanya selesai, tak ada hal lain yang ia lakukan selain terduduk di sana dengan kesedirian serta kegelapan yang menyelimuti, tak ada hawa dingin di sana, karena kota jakarta tidaklah dingin. Namun setidaknya ia bisa tertidur dengan pulas, meski ia harus merelakan tubuhnya digigiti oleh nyamuk-nyamuk di sana. Itu lebih baik, dibandingkan harus merelakan tubuhnya digigiti para zombie yang menyeramkan yang kini berada di bawah sana dan mencari mangsanya. Malam itu ia hanya menyantap sepotong roti serta beberapa teguk air mineral yang ia bawa di tasnya, namun dua hal itu sudah membuatnya merasa bersyukur, karena setidaknya ia masih hidup sampai dengan saat ini.
Edwin merebahkan dirinya di atas jaket yang ia jadikan sebagai alas tidur, ia juga menggunakan tumpukan tas sebagai bantalnya. Namun, ia sama sekali tidak dapat memejamkan matanya barang sejenak, meski ia merasa bahwa ia sudah sangat lelah, mengingat dirinya melakukan parkour selama enam jam dan bahkan lebih tanpa berhenti. Tentu itu sangat menguras tenaganya hari itu, dan ia juga harus segera memulihkan tenaganya agar ia dapat kembali melakukan perjalanan menuju kota Bandung.
to be continue.