Lantunan suara gamelan pagi itu mengiringi para penari yang tengah melakukan semacam gladiresik untuk pertunjukkan yang akan dilaksanakan sekitar dua hingga tiga jam lagi. Belum ada tamu yang hadir, namun Choki dan Dayan sudah berada di sana bahkan mereka datang lebih awal dari mereka para penari yang datang di sana. Kedua mata Choki terus menatap dengan seksama mereka-mereka para penari yang tengah menari, dan hal itu membuat Laras tersenyum dan menyikut lengan Raya setelah mereka menyelesaikan latihannya.
“Pak Choki ganteng ya!” bisik Laras padanya, dan hal itu membuat Raya mengerutkan dahinya dan mendecik dengan pelan. Ia melakukan hal seperti itu untuk menegur Laras, karena ia pikir bahwa hal itu tidak boleh mereka lakukan, karena Choki adalah salah satu client mereka. Dan mereka harus bisa bersikap profesional ketika mereka tengah manggung saat itu.
“hush! Jangan mikir kaya gitu, kita harus tampil maksimal loh … jangan sampai fokusmu hilang, Ras!” ucap Raya kepada Laras yang kini terkekeh dan mengangguk, mereka berjalan bersama dengan para penari lainnya menuju backstage untuk kemudian mempersiapkan diri untuk tampil secantik mungkin di atas panggung nantinya. Tak membutuhkan penata rias, karena mereka sudah handal dalam merias wajah mereka sendiri.
Tok - tok - tok …
Sebuah ketukan yang terdengar saat itu membuat Raya, Laras, dan penari lainnya menoleh menatap Dayan yang baru saja mengetuk pintu seraya tersenyum lebar kepada mereka, “maaf mengganggu, tapi boleh saya minta bantuan kalian??” pertanyaan yang terlontar dari mulut Dayan saat itu membuat mereka segera mengangguk, dan Raya berjalan mendekatinya seraya bertanya,
“apa yang bisa kami bantu ya, Pak?” tanya Raya dengan sopan kepada Dayan yang kini segera menggelengkan kepalanya dan juga melambaikan tangannya di sana, ia meralat kata-kata Raya dengan berucap,
“oh, please! Jangan panggil saya Bapak, saya seumuran dengan kalian kok! Panggil aja Dayan, itu udah cukup bagi saya” jelasnya kepada Raya dan hal itu membuat para penari dan termasuk Laras tersenyum dan mengangguk mendengarnya,
“oh, iya … bagaimana eum… mas Dayan?” tanya Raya dengan canggung, karena jujur … Raya tidak bisa bersikap akrab dengan orang baru, dan untunglah hal itu dimengerti oleh Dayan yang kini tersenyum dan mengangguk memakluminya.
‘Mending lah … daripada tadi, gue dibilang Bapak? Oh ayolah … emangnya gue bapak lu apa?! kalau suami sih kayaknya gakkan masalah’. itulah kata yang ada di dalam pikiran Dayan saat ini, namun pemikiran itu segera ia kesampingkan dan kembali terfokus dengan niat awalnya, yang membuat iapun kemudian berucap, “kan gini, disini saya mau nampilin kalian yang narinya bagus-bagus nih! Tapi saya juga mau nampilkan baju-baju dari hasil fashion kain nusantara kami, jadi biar acaranya gak lama dan juga menarik banget!, jadi … bisa gak, sekiranya kalian nari dengan menggunakan baju-baju dari hasil karya kita?” tanya Dayan, kedua matanya menatap satu persatu para penari cantik yang ada dihadapannya saat ini, dan hal itu membuat Raya, Laras dan yang lainnya terdiam berpikir untuk sejenak.
“kita bisa kok, kita bisa melakukannya … mas Dayan!” ucapan Laras saat itu membuat Dayan tersenyum senang dan berterima kasih sebelum akhirnya pergi dari sana setelah ia mengucapkan bahwa kostum-kostum itu akan segera datang. Dan reaksi dari Raya saat ini adalah menoleh menatap Laras dengan cukup kaget, iapun segera berucap.
“seriusan Ras??? gimana kalau nanti jadinya aneh?? lagian kita gak tau setelan mereka itu kaya gimana?!” ucap Raya kepada Laras yang kini menepuk bahunya dan menggeleng dengan pelan,
“gak papa lah Ya, terobosan baru loh! Kali aja setelah ini kita dapet kostum yang baru kita pakai dari mereka … kan lumayan!” jelas Laras kepada Raya, dan hal itu membuat teman-teman lainnya memiliki satu suara yang sama dengan Laras, mereka ingin sesuatu yang bagus, mahal, namun didapatkan secara geratis. Karena kalah dari jumlah suara, dan sudah terlanjur bagi mereka karena mengatakan ‘ya’ , pada akhirnya mau tidak mau Raya pun ikut ke dalam suara terbanyak di sini.
…
Satu jam mereka persiapan, mereka telah berdandan dengan begitu cantiknya dan mereka pun sudah mengenakan pakaian yang disiapkan oleh staff Choki, dan setelahnya mereka segera berjalan menuju belakang panggung. Rasa gugup menjalar dalam diri Raya, dan ia seperti sudah biasa karenanya. Dengan tenang ia menghembuskan nafasnya dan memejamkan matanya barang sejenak, banyak diantara mereka yang juga merasakan hal yang sama, namun mereka memiliki cara menenangkan diri dengan sendirinya. Laras terlihat memanaskan tubuhnya dengan kembali berlatih sendiri di sana, dan beberapa orang pun terlihat meminum air putih dengan begitu banyak untuk menghilangkan rasa gugupnya di sana, “semoga kita bisa menampilkan yang terbaik ya!” ucap Bagas yang baru saja datang di sana, dan hal itu membuat Laras mengangguk mengiakan ucapanya,
“bukan semoga, tapi harus!” ralat Laras padanya yang kini tersenyum dan masuk terlebih dahulu ke atas panggung sana bersama dengan para pemain gamelan lainnya. Kedua pandang Laras saat ini menoleh menatap Raya yang termenung, namun ketika ia menepuk bahunya membuat Raya menoleh dan membalas menatap Laras sebelum akhirnya mengangguk mengiakan dan mereka pun tersenyum di sana. Mereka berjalan masuk ke atas panggung begitu suara musik gamelan terdengar di sana, dan sesuai dengan ketukan dari gendang, mereka berbaris dan mulai menari dengan lihainya.
Tidak ada satupun mata yang tidak menoleh menatap mereka yang tengah tampil di sana mereka semua tertuju pada keindahan serta kecantikan para penarinya, dengan sebuah senyuman manis yang dipasang oleh Raya pun membuat mereka-mereka ikut tersenyum dan terpukau karenanya. Selalu menampilkan penampilan yang terbaik, itulah yang selalu ia bawa ketika hendak menampilkan seluruh penampilannya di mana pun.
Kedua pandangan Raya kini menoleh menatap Choki, orang yang mengundang mereka untuk memeriahkan acara peresmian dari cabang baru miliknya. Tidak dipungkiri lagi, Raya kagum dengan dirinya yang sukses dan mapan di usia muda, dia juga lelaki yang tampan. ‘ ya … kalau kamu hidup sama dia, kamu pasti bahagia!’ itulah pikiran yang muncul di benak Raya, namun ketika tersadar Raya segera menggelengkan kepalanya dengan pelan dan kembali menari dengan lihat di sana.
Tiga tarian sudah mereka selesaikan, dan Raya sudah menampilkan dua darinya. Tarian-tarian itu adalah tari merak, Rampak gendang, dan tari topeng. Raya ikut berpartisipasi dalam tari merak dan rampak gendang, dan kali ini ia tengah bersiap untuk menampilkan tarian terakhir, ialah tarian Jaipong.
Ketika gendang dari Bagas terdengar, dengan serempak penari topeng pun pergi dari sana, dan Raya serta Laras dan dua orang lainnya masuk ke dalam panggung. Tarian pun ditampilkan oleh Raya terlihat begitu bertenaga, ia melenggak-lenggokkan pinggulnya di sana dan hal itu membuat mereka yang menjadi tamu bersorak surai dan menepuk tangan mereka dengan senang. Namun persekian detik, musik yang mengiringi tarian jaipong pun terhenti, kedua mata Raya segera menoleh menatap beberapa orang yang kini muntah di atas panggung dan bahkan Bagas pun terkejut karenanya, dua teman penarinya pun mengalami hal yang sama. Panik, Raya panik ketika beberapa orang dari sana muntah-muntah, dan ketika kedua matanya menoleh menatap sebagian besar para tamu yang ada di sana mengalami hal serupa pun membuatnya menjadi panik tidak karuan.
Teriakan kesakitan terdengar di ujung ruangan tersebut, dan ketika orang-orang disana menghindar, kedua mata Raya terbelalak ketika mendapati seorang wanita tengah digigit oleh dua orang yang kini terlihat amat mengerikan. Nafas Raya benar-benar memburu, ia seketika merasa sesak setelah rasa takut menjalar di tubuhnya karena melihat hal yang terjadi saat ini. Tubuhnya seketika terhuyung ke belakang setelah Bagas menariknya dan juga Laras untuk segera pergi dari sana, kedua mata Raya melihat bagaimana Bagas menendang salah satu penari yang melesat dengan cepat kearah mereka dengan mulut yang mengeluarkan darah serta mata yang menatap ke arah mereka dengan lapar. Semua kejadian yang berlangsung saat itu terasa sangat lambat bagi Raya, ia hanya bisa menjerit ketika Bagas kembali memukul Lukman yang juga melakukan hal yang sama, melesat ke arah mereka dengan begitu cepat.
“Lumpat!!! (Lari!!)” dan ucapan Bagas yang begitu keras, membuat Laras dan Raya berlari dari sana untuk menghindarin mereka, orang-orang yang sudah berubah menjadi zombie, dan Bagas segera menyusul mereka berdua setelah mereka berlari mendahuluinya di sana. Suara geraman saling bersahutan di sana, zombie-zombie itu melesat dengan cepat mengejar orang-orang yang berusaha kabur untuk menyelamatkan dirinya dari mereka. Langkah kaki Laras dan Raya terhenti di pojokan gedung tersebut, dan mereka terjebak di sana. Untunglah Bagas dengan sigap segera menghalangi mereka berdua dari serangan para zombie yang melesat dan menyerang ketiganya, dengan kuat ia memukul para zombie itu menggunakan sapu ijuk yang ia sempat raih ketika berlari di sana. Zombie-zombie yang tengah dilawan oleh Bagas berjumlah sekitar tiga hingga lima orang, dan Laras menangis dengan histeris seraya memeluk Raya yang juga ketakutan karenanya.
DARR!!! DAR!! DAR!!
Suara letupan senjata terdengar dengan keras hingga mengejutkan ketiganya, setelah zombie-zombie yang menyerang mereka semua tumbang, mereka bertiga pun akhirnya menoleh menatap Choki, lelaki yang berdiri di sana, lelaki yang baru saja menembaki para zombie di sana. Kedua mata Choki kini tertuju dan menatap mereka yang juga menatapnya, dengan nafas yang tersenggal setelah berlari cukup kencang dari gedung kantor melalui tangga darurat pun, pada akhirnya ia bertanya, “kalian oke?” tanya Choki, kedua matanya menatap Raya, Laras dan Bagas. Namun pandangannya kini terpaku pada Bagas yang saat itu memperlihatkan kedua lengannya yang sudah tergigit oleh zombie-zombie itu beberapa saat yang lalu. Luka itu terlihat jelas dan mengeluarkan darah dari setiap bekas gigitannya, menandakan bahwa gigitan mereka sangatlah kuat.
“Bagas!!!” jerit Laras, dengan cepat ia menutupi luka di lengannya dengan samping yang ia gunakan, sedangkan Raya menutup mulutnya terkejut melihat luka yang dialami oleh Bagas. Kedua mata Bagas kini menoleh menatap Choki yang berdiri di sana dan terdiam.
“apakah saya akan menjadi seperti mereka??” tanya Bagas pada Choki, mendengar hal itu membuat Choki mengerutkan dahinya dan kini menggelengkan kepala untuk menjawabnya,
“saya tidak tau” ucap Choki kepadanya yang kini tidak bereaksi setelah mendengarnya, Bagas hanya bisa tersenyum getir di sana, melihat hal itu membuat Laras menggelengkan kepalanya dengan cepat.
“nggak! Nggak! Gas, kamu gakkan berubah!” ucap Laras masih dengan menutupi luka Bagas, kedua tangannya pun masih menggenggam lengannya dengan begitu erat. Laras menatap Bagas dengan penuh kesungguhan, “kamu gak akan be..-
“AAA!”
Jeritan Raya terdengar histeris sekaligus terkejut, bagaimana tidak? Saat ini Bagas menggigit leher Laras dan itu dilakukannya dengan ganas. Melihat dan menyadari bahwa Bagas seketika menjadi zombie setelah tergigit oleh yang lainnya, membuat Choki segera meraih tangan Raya yang menjerit dan menariknya untuk segera pergi dari sana. Dengan panik, Choki membawa Raya di dalam genggaman tangannya untuk menghindari para zombie yang membeludak di sana.
Kacau, kondisi saat ini benar-benar kacau. Orang-orang berlalu-lalang dengan paniknya. Choki berkali-kali harus mengeluarkan tembakan demi menghalau zombie-zombie yang mengejar mereka berdua. Kedua mata Choki kala itu menoleh menatap Rima yang baru saja memanggil namanya, namun ketika ia hendak mendekati Rima, seorang zombie menjatuhkannya dan menyantapnya di sana. Dan hal itu membuat Choki kembali berlari untuk menjauhinya masih dengan setia menggenggam erat tangan Raya.
Langkah kakinya saat ini berlari menuju mobil miliknya yang terparkir di sana, keduanya masuk ke dalam mobil itu dan segera menguncinya. Dengan rasa panik kedua mata Choki dan Raya bisa melihat begitu jelas keadaan di sekitar sana, mereka juga saat ini dapat menyaksikan zombie-zombie yang memukuli jendela mobil milik Choki, hal itu membuat Raya kembali menjerit dengan histeris, sedangkan Choki segera menyalakan mesin mobil itu dan segera menjalankannya. Ia menabrak dan bahkan menggiling para zombie yang menghalangi jalannya. Panik, perasaan panik masih menjalar di dalam diri Choki saat ini. Namun ia teringat dengan seseorang, gadis cantik yang kini terdiam di sampingnya terlihat lebih shock dibandingkan dengan dirinya saat ini. Dan hal itu pun yang akhirnya membuat Choki memutuskan untuk bertanya,
“eum … anda gak kenapa-napa?” tanya Choki kepada Raya yang kini menoleh menatapnya, dia menggeleng dengan pelan dan singkat. Namun Choki tau, tak ada yang baik-baik saja di sini. Tidak dengannya dan tidak pula dengan gadis yang berada di sampingnya.
to be continue.