-4.3-

1548 Kata
Lantunan suara gamelan saat itu mengiringi kedatangan para tamu yang hadir di pembukaan perdana cabang Bandung milik Choki dan Dayan. Satu kata untuk menggambarkan suasana pembukaan saat itu, banyak sekali tamu yang datang dan bahkan dari kalangan warga yang penasaran dengan pembukaan Cabang baru mereka di sana. “udah gue bilang kan?? banyak banget yang dateng! Mereka nunggu kita, Ki!” ucapan Dayan saat itu membuat Choki yang tengah menyunggingkan senyuman kepada para tamu yang hadir pun hanya menggumamkan kata ‘hngg’ kepada Dayan yang saat itu berdiri tepat di sebelahnya. “Ki!!” sebuah panggilan membuatnya menoleh menatap Rima, salah satu rekan bisnisnya yang sangat mendukung tentang cabang baru yang akan diselenggarakan di kota Bandung, dan hal itu membuat Choki segera tersenyum dan memeluknya dengan hangat. “selamat yaaa!! gak sia-sia aku dukung kamu tentang pembukaan cabang dan semuanya!” ucap Rima kepada Choki yang kini tersenyum dan menganggukkan kepalanya, “makasih loh mba, dukungan mba membuat saya dan Dayan benar-benar bisa mewujudkan target kami berdua untuk membuka cabang baru di Bandung” jelas Choki kepadanya yang kini tertawa dengan senang, mereka berbincang mengenai bisnis-bisnis yang ada di kota Bandung dan juga berdiskusi mengenai bagaimana cara untuk memberikan penawaran menarik bagi warga kota Bandung. Mereka berbincang dengan asyik seraya menyaksikan penampilan yang begitu menawan dari Raya, Laras, Dkk. Penampilan para penari begitu banyak mencuri perhatian para tamu yang ada disana, bagaimana tidak? Atas usulan Dayan pagi tadi, semua penari dan pemain alat gamelan berganti kostum dan menari mengenakan gaun yang telah dimodifikasi oleh para staffnya. Ya … kain tradisional itu berubah menjadi amat cantik, gagah dan elegan, yang pas membaluti tubuh para penari dan para pemusik di atas panggung itu. “dari mana kamu dapet mereka, Ki?? keren banget mereka-mereka! Cantik-cantik lagi para penarinya” puji Anton, salah satu tamu yang saat itu duduk tepat bersamaan dengan Choki di salah satu meja di sana, dan hal itu membuat Choki tersenyum dengan bangga setelah mendengarnya, ia merasa bahwa usulan yang diberikan oleh Dayan benar-benar hebat. “ada gak salah satu dari mereka yang kamu taksir, Ki?!” dan pertanyaan yang terlontar dari Dayan pun membuat Choki meliriknya dengan sangat tajam, seolah mengatakan bahwa ia tidak suka di ganggu seperti itu olehnya. Sedangkan Dayan yang ditatap hanya tertawa menanggapi hal itu, ia segera menggeleng dan pergi dari meja sana untuk kemudian berbincang ria dengan tamu yang lainnya. Tak ada hal yang bisa dilakukan Choki saat ini selain mengganti topik pembicaraan dengan mereka-mereka para tamu yang berada di meja yang sama dengannya, dan itu termasuk dengan Mba Rima. Pertunjukkan terus berjalan dan mereka masih terpukau dengan penampilan yang ditampilkan oleh Raya, Dan kawan-kawannya. Begitu pula dengan Choki yang dengan seriusnya menatap para penari yang kini dengan lihai menggerakan seluruh anggota tubuhnya di sana. Saking fokusnya, ia tidan menyadari bahwa Dayan sudah tidak ada di sekelilingnya saat itu, dan ia tersadar ketika salah satu tamu penting datang kembali menyapanya dan menanyakan tentang keberadaan Dayan, karena saat itu Dayan merupakan sahabat karib dari tamu penting tersebut. “Ki, kemana Dayan??” tanya Mba Rima kepadanya yang kini terlihat menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari sang sahabat, “coba di hubungin deh, Ki … atau gak kamu cari dia, kan gak enak … Pak Albert udah datang, eh … yang ngundangnya kok gak nyambut sih!”ucapan Rima saat itu diberi anggukan setuju oleh Choki yang berada di hadapannya, dan dengan seluruh pertimbangan ia pun berdiri dari sana seraya berucap, “ aku cari Dayan dulu ya Mba, nitip yang lainnya” ucap Choki kepada Rima yang kini  mengembangkan senyumannya seraya mengangguk mengiakan permintaan Choki di sana. Detelah Choki menitipkan semuanya kepada Mba Rima, ia pun dengan segera mengintari wilayah panggung untuk mencari keberadaan Dayan. Ketika ia sudah melakukannya dan tidak menemukan sang sahabat, ia akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam kantor miliknya, ya … ia yakin, jika Dayan tidak ada di sekitaran sana, mungkin Dayan akan berada di sini. Ia mengetahui bahwa temannya yang satu itu tidak akan pernah pergi jauh tanpa pamit terlebih dahulu. Ia juga yakin bahwa orang seperti Dayan, akan pergi le tempat yang sepi. ya sahabat karibnya itu akan mencari tempat yang sepi untuk setidaknya ‘bermain’ dengan wanita baik tamu atau pun staff cantik yang ia temui di pesta atau acara seperti ini. Terlebih, sebagian besar dari tamu yang hadir merupakan teman-teman dari Dayan, sebagian besar juga adalah wanita cantik yang ia temui di club, yang ia yakini bahwa wanita-wanita itu adalah wanita yang dekat dengannya. Jujur saja, Choki merasa malu karena memiliki teman sebejat itu, namun Choki juga tidak bisa menyalahkan sifat sang sahabat yang satu ini, karena ia rasa itu sudah mendarah daging di tubuh Dayan. Yang pada akhirnya membuat Choki mau tidak mau menerima sang sahabat apa adanya seperti itu. Langkah kakinya terus berjalan menelusuri gedung itu, ia kemudian masuk ke dalam lift yang ada di dalam kantor tersebut, kedua matanya kini tertuju pada tombol top yang diberikan tanda biru di sana dan itupun membuatnya menekan tombol tersebut. Tombol itu adalah tombol khusus yang disediakan hanya untuk CEO atau pemilik perusahaan itu, dan itu merupakan ruang pribadi milik Choki dan juga Dayan. ‘gue yakin seratus persen, Dayan pasti lagi berduaan sama salah satu wanita incarannya!’ ucap Choki dalam hati, ia benar-benar yakin dengan hal itu … dan itulah yang menyebabkan dirinya berani menuduh Dayan hingga seperti itu. Hal ini bukan tanpa sebab, karena beberapa bulan yang lalu, Choki mendapati Dayan tengah b******u dengan wanita-wanita incarannya dan itu ia lakukan di ruang pribadi milik Choki. Hal itu pula yang membuat Choki sesegera mungkin mengganti lokasi ruangan kantor mereka, dan menukarkannya bersama dengan ruang pribadi milik Dayan, setelah sebelumnya Dayan mengatakan bahwa ruangannya tidak enak untuk dibuat sebagai ruangan ‘bercinta’. Berkali-kali ia menolehkan kepalanya untuk menatap layar lift yang menunjukkan angka lantai yang telah ia lewati, yang berakhir dengan kata ‘top’ yang mengartikan bahwa ia sudah berada di lantai yang ia tuju. Setelah pintu lift itu terbuka, sesegera mungkin Choki keluar dari lift tersebut dan melenggang untuk kemudian masuk menghintari lorong itu, kedua matanya menoleh menatap satu pintu yang tepat berada di hadapannya yang akhirnya membuat ia segera mendekati pintu tersebut. Tanpa keraguan, dan tanpa basa-basi … Choki membuka pintu ruangan tersebut. Seketika setelah ia membuka pintu itu, pergerakan dari Choki pun terhenti saat menyadari bahwa hal yang sedari tadi ia bayangkan ternyata tidaklah sesuai dengan realita yang ia dapati di sana. Tubuh Choki seketika menegang ketika melihat peristiwa yang terjadi di hadapannya saat itu. Ia terkejut bukan main ketika menyadari bahwa Dayan telah berubah menjadi sesuatu yang menyeramkan, yang tidak pernah ia duga sebelumnya. Dayan berubah menjadi seorang zombie, dengan wajah yang menjadi pucat, luka-luka yang muncul begitu sana serta erangan yang begitu menyeramkan. Choki tidak menduga bahwa Dayan terserang virus yang ia cemaskan selama ini, padahal ia yakin sekali bahwa mereka menjalani pola hidup sehat bersama-sama dengan dirinya. Lebih terkejutnya lagi, karena Choki saat ini menyaksikan Dayan tengah menyantap salah seorang wanita yang kini sudah tidak bernyawa di sana, yang ia yakini bahwa wanita tersebut adalah salah satu wanita incaran Dayan selama ini. Dengan nafas yang memburu, ia berusaha untuk tidak panik dan memilih untuk melangkah mundur dan menjauhi sang sahabat yang kini telah menjadi zombie di sana. Namun ketika ia melakukannya, dengan bodohnya secara tidak sengaja ia menubruk sebuah vas hingga terjatuh yang menghasilkan suara ribut di sana, dan suara dari vas yang pecah itu pun mampu membuat fokus dari Dayan teralihkan dan kini dengan segera menoleh menatap Choki dengan tatapan lapar. “Euuurrght” geraman Dayan terdengar di sana, seolah saat ini ia tengah mengancam Choki untuk tidak melakukan hal-hal yang membuatnya akan segera menyerang sang sahabat. Choki tahu, bahwa kesadaran Dayan sudah tidak ada lagi di sana, dan itulah yang membuatnya dengan perlahan mengeluarkan senjata berjenis revolver hitam keluaran tahun dua ribu yang ia miliki dari balik pinggangnya dan menodongkan senjata itu kepada Dayan atau lebih tepatnya zombie tersebut. “Yan … please, ini gue … please, gue tau lu masih di situ … tolong jangan kaya gini Yan” ucap Choki dengan suara yang pelan dan tangan yang bergetar dengan hebat di sana, suara gamelan yang terdengar memanglah sayup dan hal itupun yang membuat Choki mengatakannya, karena ia tidak mau Dayan turun dan mengacaukan serta menakuti mereka yang ada di bawah sana. “HOAAAAAAA!!!!!”pekikan Dayan terdengar begitu keras, dan hal itu membuat Choki terkejut, ia masih menodongkan revolver yang ia genggam kepada sang sahabatnya. Namun, ketika Dayan melesat dengan cepat ke arahnya, tak ada jalan lain yang bisa dilakukan oleh Choki selain menarik pelatuk dari senjata tersebut dan melesatkan peluru itu tepat di kepala sang Sahabat yang kini terjatuh karenanya. DARRR!! Suara letupan itu terdengar jelas di sana, beriringan dengan tumbangnya Dayan yang membuat Choki jatuh lemas karenanya. Nafasnya menderu tidak karuan, ia shock sekaligus sedih menghadapi kenyataan ini. Ia baru saja menembak mati sang sahabat yang terjangkit virus Z-I, dan hal itu membuat Choki merasa sangat terpukul hingga menangis dengan histeris di hadapan jasad sang Sahabat. “I’m Sorry Yan …” ucap Choki kepada Dayan sang Sahabat yang kini tergeletak dengan lubang yang menganga di kepalanya, serta darah yang menggenang di lantai, membasahi tubuh dan juga baju yang dikenakan olehnya.   …  to be continue. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN