-4.2-

1421 Kata
malam itu, Nauval tengah rebahan di atas kasurnya dengan musik klasik yang mengiringi aktifitasnya yang satu itu di sana, memiliki niatan bahwa musik itu akan menjadi musik penghantar tidur baginya, namun itu sama sekali tidak membuatnya menjadi tertidur. Ia hanya menatap ke arah atap kamarnya dan memilih untuk melamun dibandingkan dengan tertidur. Namun ketika sebuah ketukan yang terdengar menginterupsi ketenangan di sana, iapun segera menoleh menatap ke arah Shiren yang baru saja membuka pintu kamarnya dan Nauval sadari bahwa ia ternyata belum beristirahat di kamar miliknya. “ada apa Ren?” tanya Nauval dengan santai, ya … seharusnya Nauval memanggilnya dengan sebutan kakak atau teteh, tapi alih-alih seperti itu, Nauval malah memanggilnya seperti teman sendiri. Meskipun kesannya tidak sopan dan bahkan Haris pun selalu menegurnya, Shiren tidak pernah mempermasalahkan hal tersebut, ia menganggap bahwa Nauval memanggilnya seperti itu karena itu merupakan panggilan kesayangan dari Nauval secara khusus untuk Shiren, meski Nauval tidak menanggapi benar atau salahnya hal tersebut. “aku takut tidur di kamar sendirian Val, aku boleh tidur di sini gak??” tanya Shiren kepadanya, seperti biasa Shiren selalu menggunakan nada manjanya kepada sang Adik, meski Shiren tau bahwa Nauval sangat membenci nada tersebut, namun ia tetap menggunakannya untuk Nauval dan Haris. Saat ini yang ada di dalam benak Shiren adalah berharap bahwa sang adik mengidzinkannya untuk tidur bersama di sana, karena biasanya sang adik selalu menolak hal itu dan mengatakan bahwa mereka sudah bukan anak kecil lagi yang masih bisa dengan normal jika tidur bersama-sama. Namun, tidak seperti biasanya yang selalu menolak permintaaan tersebut, dan mengatakan bahwa ia sangat mengganggu Nauval … kali ini Nauval menganggukkan kepalanya dan beranjak dari kasurnya, ia membiarkan Shiren menguasai kasur miliknya malam itu, “sini, tidur di sini … biar aku yang tidur di karpet” jelas Nauval seraya mengambil satu bantal miliknya dan meletakannya di bawah kasur itu, mendengar penjelasan Nauval membuat Shiren tersenyum dan masuk ke dalam kamarnya. Ia pun segera duduk di atas kasur Nauval dan merebahkan dirinya di sana, ia menoleh menatap Nauval yang merebahkan diri tepat disamping kasurnya, “oya Nauv!” panggilan Shiren membuat Nauval menoleh menatapnya yang kini terbaring menyamping untuk menghadapnya, “kapan kak Haris pulang ya??” tanya Shiren dengan nada sedihnya, dan hal itu membuat Nauval menolehkan kepalanya untuk menatap sang kakak, “kenapa?? takut??” tanya Nauval kepada Shiren yang kini menganggukkan kepalanya pelan, “tenang aja, kan ada aku!” timpal Nauval kepada Shiren yang kini mengusap kedua matanya, dan hal itu membuat Nauval terkejut, karena ia baru menyadari bahwa Shiren menangis saat ini. “jangan nangis atuh … nanti juga kak Haris pulang, kamu sama aku aja di sini … gak ada apa-apa ko” jelas Nauval, ia segera beranjak dari tidurnya dan mengusap rambut Shiren dengan pelan. Dua menit Nauval mengusap rambut Shiren dan iapun tertidur di sana, dan hal itu membuat Nauval kembali merebahkan dirinya di atas karpet untuk akhirnya terlelap di sana. Ia terdiam cukup lama, sebelum akhirnya Nauval pun ikut tertidur di sana malam itu. … “nauval Bangun!! cepat Bangun!!” Sebuah suara yang masuk kedalam indra pendengaran Nauval saat itu membuatnya terperanjat dan membuka kedua matanya dengan seketika, raut wajah yang panik ia tampakkan ketika ia menoleh menatap Haris yang datang dan membangunkan Shiren saat itu. Nafas Nauval menjadi tidak karuan setelah ia dengan jelas melihat seragam hijau yang dikenakan oleh sang kakak di sana berumuran dengan darah, dan hal itu membuatnya bertanya kepada sang kakak. “kenapa dengan bajumu, kak?!” tanya Nauval, namun Haris tidak mengindahkannya dan memilih untuk berjalan menuju lemari Nauval setelah sebelumnya ia berhasil membangunkan Shiren, “Nauval, cepat kau ambil peti yang udah kakak siapkan di bawah kasur kamar kakak!!” perintah yang dilontarkan oleh Haris segera dilakukan oleh Nauval yang saat itu langsung berlari menuju kamar sang kakak, sedangkan Shiren yang baru saja tersadar dari tidurnya pun kini mulai merasa panik dan bertanya kepada sang kakak, “ada apa kak??” tanyanya seraya menoleh menatap Haris yang kini menoleh menatapnya dan segera memberikan jaket milik Nauval yang ia ambil dari lemari sana, ia segera mengganti pakaian yang ia kenakan dengan kaos oblong milik Nauval serta celana jeans miliknya di sana, ia pun segera memakai jaket kulit yang ia ambil dan berucap, “berganti bajulah dan pakailah jaketnya! Kita harus segera pergi dari rumah ini!” jawabnya seraya menoleh menatap kedatangan Nauval, dan ia melemparkan jaket lainnya untuk kemudian dipakai oleh Nauval di sana. “petinya sudah di ruang tengah kak!” ucap Nauval kepada Haris yang kini mengangguk dan pergi menuju ruang tengah, Nauval segera bercermin dan mengenakan jaket tersebut. Namun kedua pandangannya kini mendapati Shiren yang masih terduduk di atas kasur miliknya dan hal itu membuat Nauval segera menarik lengannya untuk pergi dari sana. Kedua tangan Nauval tidak lepas menggengam Shiren yang ada di belakangnya, mereka berjalan menuju ruang tengah, dimana Haris tengah mengeluarkan lima tas di sana. Kedua adiknya yang ada di sana pun bahkan tidak mengetahui apa yang ada di dalam tas tersebut, namun ketika Haris membuka salah satu tas di sana keduanya terbelalak mendapati bahwa di dalam salah satu tas itu berisikan senapan angin serta senapan dengan dua selongsong peluru besar. Hal itu membuat Shiren semakin ketakutan. “ kenapa kakak keluarin senjata?? apa yang terjadi di luar sana??” tanya Shiren dengan cemas, dan hal itu membuat Haris serta Nauval menoleh menatapnya yang kini terlihat amat ketakutan. Tidak tega melihat adik wanitanya ketakutan, Haris segera berjalan mendekati Shiren dan memeluknya dengan erat. “ssstt, tenang Ren … tenang, kakak di sini! Ada kakak di sini! Sekarang kamu tenang dulu, nanti kakak jelasin kenapa kakak kaya gini, oke …” jelas Haris kepadanya yang saat ini mulai menangis di dalam pelukannya. Dan membutuhkan waktu lima menit baginya untuk setelahnya Haris mengetahui bahwa Shiren sudah tenang. Setelah melepas pelukan tersebut, ia pun mengajak mereka berdua untuk segera pergi dari sana. Mereka bertiga berjalan menuju garasi dan naik ke mobil Jeep milik Nauval dan akhirnya segera pergi dari perumahan itu. “sebenernya kita teh mau kemana sih kak??” tanya Nauval seraya menoleh menatap sang kaka yang menyetir di tempat kemudinya, Nauval duduk di samping sang kakak dan Shiren duduk di kursi belakang dengan jendela yang sengaja ditutup oleh Haris dengan tirai yang terpasang sejak dulu. Kedua mata Haris kini menoleh menatap Nauval dengan singkat sebelum akhirnya ia pun beralih menoleh menatap Shiren dengan singkat melalui spion mobilnya. “kita harus pergi dari sini” jawab Haris kepada mereka yang kini mengerutkan dahinya belum mengerti dengan apa yang dituturkan oleh sang kakak saat itu, “kemana?? memangnya ada apa hingga kaka bisa berdarah-darah kaya gitu?” tanya Shiren padanya lagi dan hal itu membuat Nauval mengangguk mengiakan pertanyaan Shiren. “sebenernya kakak bertugas di Cidaun, tapi kakak segera bertolak ke Bandung setelah kondisi di sana semakin parah dan memanas … kita harus segera pergi dari Bandung, karena kakak rasa mereka semua akan lari ke sini” jelas Haris seraya membelokkan kemudi setirnya di belokan sana, dan hal itu membuat Shiren dan Nauval mengerutkan dahinya, “mereka?? memang siapa yang mengejar kita kak??” tanya Shiren, namun kedua pandangannya seketika menoleh menatap Nauval setelah sebelumnya ia berucap, “zombie … apakah zombie yang diberitakan di media adalah mereka yang sedang kau awasi, kakak?? karena tidak mungkin Aparat Negara seperti kakak di kerahkan jika tidak ada alasan tertentu dan terlebih lagi di wilayah pesisir” ucap Nauval seraya menjelaskan hal itu kepada Haris, dan ketika Haris menganggukkan kepalanya menanggapi pertanyaan tersebut, baik Shiren maupun Nauval kini terdiam dengan shock, “jadi … berita itu beneran kak??” tanya Nauval dan Haris kembali mengangguk mengiakannya. “terus sekarang kita mau kemana kak?” tanya Shiren menambahkan di sana, dan hal itu langsung membuat Nauval memberikan sebuah saran ketika melihat Haris menggelengkan kepalanya di sana, “bagaimana kalau kita pergi ke zona aman yang udah si siapkan oleh pemerintah kak! Kemarin, Nauv denger mereka udah nyiapin semacam tempat” sambung Nauval di sana, dan mendengar hal itu Haris hanya menghela nafasnya dan kemudian menjawab, “nggak Val, berita mengenai Zona aman itu gak ada … Pemerintah tidak memerintahkan kepada kami untuk menyiapkan tempat seperti itu di Bandung” keterangan yang diucapkan oleh Haris saat itu pun membuat mereka terbungkam, Tak ada lagi alasan mereka untuk tinggal di Bandung, Haris yang berprofesi sebagai seorang Aparat Negara pun menyadari bahwa Bandung sudah tidak aman lagi untuk ditempati, dengan bukti bahwa saat ini ia memilih untuk membawa kedua adiknya dan segera pergi dari Bandung dini hari, saat itu juga.  ...  to be continue. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN