BAB IV

1043 Kata
(dua hari setelahnya) Penyakit yang menyerang orang-orang pesisir pantai kini menyebar dengan cepat hingga menyerang perkotaan. Tidak hanya ratusan, namun ribuan orang merasakan gejala yang sama dan hal itu membuat pihak rumah sakit sangat kewalahan akibat membeludaknya jumlah pasien. Tidak ada yang mengetahui dari mana sebab virus tersebut, dan banyak yang menyangkut pautkannya dengan hari kiamat. Karena virus tersebut benar-benar mengubah masyarakat yang terjangkit menjadi sesosok Zombie atau mayat hidup, makhluk menyeramkan yang menyerang manusia dan memakan sesamanya (kanibal).     -4.1-Tak ada yang dilakukan oleh Edwin saat ini selain merebahkan dirinya di atas sofa seraya bermain game PS. Dengan penuh keseruan, ia khitmat bermain sambil mengunyah keripik pisang yang ia beli siang tadi, tak ada satupun hal yang ia kerjakan selain bermain game sepanjang haris. Duk! Duk! Duk!! Sebuah suara ketukan yang cukup kencang menyadarkan Edwin yang saat itu segera menoleh ke arah pintu kosan yang tertutup dengan rapat, ia juga sengaja menutup gorden jendela agar tidak ada yang bisa mengintip kesehariannya di sana. Kedua mata Edwin masih tertuju pada pintu kosannya yang kala itu kembali diketuk dengan kencang. Duk! Duk! Duk!! “siapa sih, yang datang malem-malem sambil ngetuk pintu kaya orang kesurupan?!” gumamnya kesal, ia beranjak dari sofanya setelah sebelumnya ia menoleh menatap jam dinding yang kini menunjukkan pukul satu dini hari, ia menggelengkan kepalanya dan berjalan menuju pintu itu. Namun pergerakannya yang hendak membuka pintu itu terhenti ketika ia teringat dengan wabah yang tengah melanda Indonesia, dan hal itulah yang menghentikan pergerakan tangan Edwin pada knop pintu kosannya. Dengan perlahan Edwin mendekati jendela yang berada tepat di sampingnya, dan iapun menoleh dari sela-sela tirai tersebut. Kedua matanya seketika terbelalak setelah melihat sesosok Ibu kosan yang kini sudah menjadi zombie, dengan daster biru terang yang kini terdapat bercak merah darah yang ia kenakan, wajahnya begitu pucat dan iapun mengeluarkan darah dari dalam mulutnya serta luka-luka yang muncul di wajahnya, nampak mengerikan ketika Edwin melihat zombie tersebut secara langsung seperti ini. Dan ketika zombie itu kembali mengetuk pintu kosan milik Edwin dengan keras, beberapa suara jeritan dari kejauhan pun mulai terdengar di kedua indra pendengaran Edwin hingga akhirnya Edwin segera melangkah mundur dan menggelengkan kepalanya seraya berucap, “sial!! zombie yang pintar” itulah rutukan yang diucapkan oleh Edwin, dengan nafas yang mulai memburu, segera ia berjalan memasuki kamar miliknya, ia meraih celana jeans miliknya dan memakainya dengan cepat, karena saat itu ia hanya memakai sebuah boxer pendek serta kaos oblong tipis, ia juga meraih jaket bomber miliknya yang sudah tergantung di sana, dan juga tas yang sudah ia siapkan sejak beberapa waktu yang lalu, tas itu berisikan baju, celana serta pisau lipat dan juga tali tambang, setelahnya ia berjalan menuju kulkas untuk kemudian memasukan roti-roti pemberian sang Sustradara waktu itu, yang sengaja ia potong menjadi bagian kecil dan ia masukkan ke dalam pelastik dan tidak lupa ia pun memasukkan obat-obatan yang sempat ia beli ke dalam tasnya, ia juga mengambil dua botol air minum satu liter di sana. Duk! Duk! Duk!! Edwin menolehkan pandangannya ke arah pintu, dan ia kembali berkutat dengan perlengkapan, termasuk kaus kaki serta sepatu sportnya, ia menghiraukan ketukan serta jeritan pilu yang terdengar di sana, ia meraih pemukul kasti yang baru saja ia beli, dan tetap terfokus dengan hal-hal yang menurutnya patut ia bawa. Setelah semuanya selesai, ia berjalan menuju pintu setelah sebelumnya ia meraih kunci motor miliknya yang tergeletak di atas meja. “huft … lu bisa Win, mereka cuma … aihhh … yang penting gua tau bahwa lu bisa!” gumam Edwin kepada dirinya sendiri. Dengan berani ia membuka pintu tersebut dan segera memukul sang ibu kosan zombie dengan cukup keras hingga akhirnya ia tersungkur dari sana, ia juga sempat mendengar geraman dari Zombie tersebut setelah sebelumnya ia pukul wajahnya dengan pemukul tersebut hingga terjatuh. “maafkan aku!!” ucap Edwin segera berlari meninggalkannya dan menuruni tangga untuk akhirnya berlari menuju motor miliknya. Nafas Edwin menderu-deru, ia benar-benar panik dengan kondisi yang baru saja ia ketahui saat ini, ia menyadari bahwa virus itu benar-benar ada dan saat ini adalah kondisi yang benar-benar genting. Ia tahu bahwa diam di kosan dan tidak melakukan apapun, justru membuatnya masuk ke dalam kandang singa. Dengan bukti bahwa zombie telah mengetuk pintu kosannya beberapa saat yang lalu, dan itulah yang membuat Edwin memutuskan untuk pergi dari kosannya dan mencari tempat yang lebih aman, mungkin seperti zona aman yang telah dikabarkan beberapa waktu yang lalu. “AAAAAAAAAARGHT!” kedua mata Edwin kini menoleh menatap seorang lelaki yang berteriak lalu melesat dengan cepat ke arahnya, dan hal itu membuat Edwin segera menggenggam stik kasti miliknya dan kembali mengayunkan tangannya dengan keras untuk kemudian memukul zombie tersebut hingga terjatuh di sana. Nafas Edwin memburu dan ia segera menyalakan motornya dan pergi dari sana dengan segera, setelah ia memasangkan helm miliknya. “Sialan, Sialan!! kenapa mereka benar datang?!” tanya Edwin pada dirinya sendiri seraya memukul dasboard motor dan ia memejamkan matanya untuk sejenak dan kembali memfokuskan dirinya pada jalanan, ia sangat berharap bahwa tadi itu adalah halusinasinya atau mimpi buruknya. Namun itu semua tidak seperti harapannya, banyak orang yang berlarian dengan panik di sana dan bahkan banyak oraang yang mengejar mereka … ralat, zombie yang mengejar mereka di sana. Klakson mobil silih terdengar dan jeritan-jeritan pun terdengar jelas di telinga Edwin. Nafas Edwin memburu, ia berusaha untuk tetap fokus terhadap jalanan yang kini sudah sangat kacau. Malam itu banyak pengendara yang sudah tidak mematuhi aturan lalu lintas dan bahkan saling bertubrukkan karenanya, sebuah ledakan terdengar di kejauhan sana yang akhirnya mengagetkan Edwin yang tengah memfokuskan diri terhadap jalanan, ada satu pesawat yang menabrak salah satu gedung yang jauh dari letak Edwin saat ini, namun suaranya begitu keras dan mampu memecahkan kaca-kaca di sekitarnya. Edwin benar-benar kewalahan, ia harus menghindari mereka-mereka yang berlalu lalang dengan paniknya di sana, dan itu juga membuatnya ikut menjadi semakin panik. Ia melajukan motornya menuju manapun, asalkan wabah tersebut tidak ada di sana, ia berusaha menghindari mereka semua yang tengah berpergian ke luar kota dengan paniknya. Macet dan halangan yang lainnya tidak menjadi penghambat bagi Edwin untuk bisa menjalankan motornya dengan kencang. Tidak peduli apapun itu, ia melajukan motornya cukup kencang untuk menghindari mereka-mereka yang melesat, jatuh, dan saling menubruk ke arahnya ataupun di depannya, mereka seperti orang yang kesurupan di tengah malam rabu itu.  to be continue. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN