-3.7-

1808 Kata
Suara Gamelan dan gendang selalu terdengar di pendopo yang sengaja dibangun di sanggar tersebut, suasana pedesaan membuat suara gamelan dan gendang begitu nyaring dan menenangkan hati, tak ada suara lainnya selain suara tersebut yang teriringi serta mendominasi di sana, lenggak-lenggok para penari saat itu selalu menjadi pusat perhatian para warga yang ingin menikmati musik dan tarian dari para penari yang tengah berlatih di pendopo tersebut, dan bahkan mereka yang bukan penari pun ikut bernari untuk menghilangkan rasa penat dikepalanya, tradisi dan juga seni seolah tidak pernah mati di sini, dan itulah salah satu faktor yang membuat hubungan antara masyarakatnya begitu nyaman dan ramah satu sama lain. Raya, adalah gadis yang bisa disebut sebagai kembang desa disana tidak pernah sedikitpun tidak berhasil untuk memukau warga yang tengah menyaksikannya menari di sana. Meski, desa itu bukanlah tempat kelahirannya, namun kecantikannya mampu mengalahkan cantiknya gadis-gadis di desa itu. Seluruh pasang mata kini tertuju kepadanya semenjak ia datang dan menarikan tarian merak yang begitu indah, setelah sebelumnya mereka menarikan tari jaipong bersama dengan para warga. Kelihaian tangan serta tubuhnya yang semampai tidak bisa diragukan oleh siapapun, dan hal itu tentu membuat Bu Yani membanggakan anak didiknya yang satu itu, “dia semakin lihai aja ya, Ni!” sebuah pujian dilontarkan seorang lelaki paruh baya yang kini berdiri disamping Bu Yani yang tengah memantau latihan anak didiknya, mendengar ucapan tersebut membuat Bu Yani menyunggingkan senyumannya dan menoleh menatap lelaki paruh baya dengan kumis hitam tebal yang terpasang di bawah hidungnya, “tentu, dia adalah anak didik kesayanganku” jelas Bu Yani dan hal itu membuat lelaki tersebut tertawa dan mengangguk mengiakan ucapannya, dan kemudian lelaki itu kembali menghelakan nafasnya seraya berucap, “ngan hanjakal we … anjeunna teh teu hayang kawin. Mun hayang we … ku abdi di kawin da! (tapi sayangnya … dia belum mau menikah, kalau dia mau saja … akan saya tikahi dia!)” ucap lelaki itu, terdengar dari suaranya bahwa ia benar-benar menyayangkan hal yang satu itu dari Raya, “abdi mah kasieunan, bisi si Raya teh jadi inceran lalaki anu teu bertanggungjawab! Mun hamil kumaha?? saha nu rek tanggung jawab? Pergaulan si Raya teh bebas teuing eung (aku mah ketakutan kalau Raya jadi incaran lelaki yang tidak bertanggung jawab! Kalau dia hamil gimana?? siapa yang mau bertanggungjawab? Pergaulan Raya tuh terlalu bebas)” ucap lelaki itu, mendengar ucapan tersebut Bu Yani terlihat menegakkan tubuhnya merasa bahwa ia tidak setuju dengan apa yang telah diucapkan oleh lelaki tersebut, karena ia seratus persen lebih mengetahui seluk beluk dari Raya dibandingkan dengan lelaki itu.  “pak! Raya teh da masih kecil atuh … masa depannya masih panjang, biarin aja dulu dia kerja … kali we jadi penari hebat dan nikah sama lelaki pengusaha yang kaya!” kedua pandangan Bu Yani dan lelaki paruh baya itu kini menoleh menatap Laras yang baru saja menyerobot dan berucap demikian kepadanya, dan hal itu membuat Bu Yani mengembangkan senyumannya setelah sebelumnya Laras berjalan dan ikut masuk ke atas panggung dan ikut menari di sana, “eeeh… teu sopan sia! (eh, gak sopan kamu!)” umpat lelaki itu, namun hal itu tidak digubris oleh Laras yang saat ini tersenyum dan melanjutkan tariannya di sana, dan ketika lelaki itu menoleh menatap Bu Yani, ternyata ibu pemilik sanggar itu pun sudah pergi dari sampingnya dan berbincang dengan para penari lainnya di pinggir pendopo itu, dan itu yang membuat lelaki paruh baya tersebut menggelengkan kepalanya dan pergi dari sana, …  “serius?? kamu teh ngomong kaya gitu ke pak Asep?!” tanya Raya seraya menoleh menatap Laras yang saat itu tengah melepas aksesorisnya seraya menganggukkan kepala untuk menjawab pertanyaan Raya, “kenapa Laras ngomong kaya gitu?? gak sopan tau, kesepuh ngomong gitu” sambung Raya, dan mendengar hal itu membuat Laras segera berbalik menghadap kursi yang diduduki oleh Raya di sana, “ih! Raya … dengerin yaaa, dia mah ngomong gitu teh da mau nikahin kamu, emang kamu mau sama sepuh, tua, bangkotan kaya dia?? ganteng aja nggak!” ucapan Laras membuat Raya tertawa dan menggelengkan kepalanya, dan begitupun dengan Laras yang puas mengejek Pak Asep di depan Raya dan teman-temannya yang ikut tertawa di sana, “iya ih, jangan mau sama dia mah!” kedua pandangan Raya dan Laras kini tertuju pada teman tari mereka euis, dan hal itu segera diberi anggukan oleh yang lainnya yang melarang Raya untuk menerima pak Asep, karena mereka tahu bahwa lelaki paruh baya itu selalu seperti itu dan mengincar Raya untuk segera menikahinya, “iya! Jangan sama dia mah … meningan sama aku Ray!” ucapan Bagas membuat semua gadis yang ada disana berseru ‘wooooo!!!’ padanya, dan bukan hanya itu, para penari disana melempar sampingnya kepada Bagas yang kini terkekeh seraya meminta ampun kepada mereka semua, dan hal itu membuat Raya ikut tertawa melihatnya, Sebuah getaran yang timbul dari ponsel milik Raya membuat Raya segera mengalihkan perhatiannya kepada ponsel tersebut, dan ponsel itu memberikan sebuah pesan berita mengenai penyebaran Virus Z-I yang sudah mulai meluas, dan hal itu membuat tawa dari Raya pun hilang, ia terdiam membaca pesan tersebut, berita itu mengatakan bahwa virus sudah meluas hingga ke daerah lainnya yang berada di dekat pesisir dan bahkan akan menuju ke arah kota, yang tentunya berita itu membuat Raya menjadi khawatir dan takut karenanya. “Raya!” sebuah panggilan dari Laras membuatnya segera menoleh dan menatap Laras yang berdiri di sampingnya, “kenapa ai kamu?” tanyanya lagi, dan kali ini Raya menggelengkan kepalanya untuk menjawab hal tersebut, “nggak, gak kenapa-napa” jawab Raya berbohong, ia sebenarnya tidak ingin berbohong kepada Laras, tapi ia tahu jika ia memberitahukan hal itu pada Laras, pasti dia nekat dan pulang untuk menengok keadaan kedua orang tuanya yang tinggal di daerah pesisir. … Dan malam harinya, ketika mereka sudah kembali dari pendopo menuju rumah singgah atau yang lebih dikenal sebagai asrama, mereka-mereka bersepakat untuk membeli nasi goreng ke pasar desa yang letaknya memakan waktu dua puluh menit dari rumah singgah mereka, dan itu jika mereka menggunakan motor,   “Ray, mau ikut gak?? kita mau beli nasi goreng!” ucap Laras yang saat itu meraih jaket tipisnya dan memakainya seraya menoleh menatap Raya yang terduduk di sofa sana sambil menonton tv, digelengkannya kepala Raya untuk menjawab pertanyaan tersebut, “hayu atuh, sama yang lain da!” sambung Bagas yang datang seraya membawa dua buah helm dari dapur, dan hal itu membuat Laras serta mereka-mereka menganggukkan kepalanya menyetujui apa yang diucapkan Bagas saat itu, namun Raya tetap menolak dan berdalih bahwa ia merasa tidak enak badan untuk pergi keluar sana, yang akhirnya membuat Laras, Bagas dan yang lain pun menyerah untuk mengajaknya, “yaudah, kamu mau nitip apa? Biar aku yang beliin” tawaran Bagas pun segera diberi anggukkan oleh Raya yang baru saja berucap terima kasih dan kini tersenyum manis padanya yang seketika langsung salah tingkah, dan hal itu tentu menjadi bahan godaan semua teman-teman yang ada di sana kepada Bagas, mereka tertawa dan berseru seraya berjalan menuju kendaraan mereka masing-masing dan mereka pun pamit kepada Raya yang akhirnya ditinggal sendirian di rumah singgah mereka. Setelah seluruh temannya pergi dari sana, Raya sesegera mungkin menutup pintu rumah mereka. Meskipun tidak terjadi apa-apa, namun dapat terlihat dengan jelas dari raut wajah yang ditampakkan olehnya bahwa Raya merasa ketakutan saat ini, wajahnya sedikit pucat, nafasnya memburu, keringat pun bahkan mengalir di pelipisnya. Ya … Raya takut dengan hal mistis dan lain hal sebagainya, ia adalah gadis yang penakut, terlebih berita mengenai virus Zombie membuatnya semakin berhalusinasi mengenai hal yang tidak-tidak. “huft, tenang Ya … gak ada apa-apa kok!” ucapnya pada dirinya sendiri seraya mengusap dadanya berkali-kali dengan pelan, dan ia pun menarik nafas dengan dalam sebanyak mungkin untuk menenangkan dirinya sendiri yang akhirnya ia pun merasa tenang dan kembali berjalan menuju sofa untuk kemudian kembali menonton drama korea, keasyikan dengan drama yang tengah ditonton oleh Raya, ia melupakan waktu yang ada di sana, jam menunjukkan pukul sebelas malam, dan seluruh temannya belum juga pulang dari pasar. “duh, mereka kok lama ya? Udah dua jam kok belum pulang juga ya??” gumam Raya dengan cemas, ia kembali didera sara takutnya. Dirinya resah saat ini, kedua matanya sesering mungkin menoleh menatap ke arah jam dinding yang berdetak di sana, jari jemari tangannya tidak pernah berhenti mengetuk sandaran tangan sofa yang ada di sana, dan keringat pun mengucur karena merasa panik bercampur dengan rasa takut yang ia alami saat itu.   Buk! Buk! Bukl! Ditolehkannya dengan cepat kepala Raya, ketika ia terperanjat setelah mendengar pintu terketuk dengan amat keras. Ia merasa ragu untuk membuka pintu tersebut, dan hal itu terlihat dari kedua langkah kakinya yang kini mendekati pintu dengan sangat perlahan. Buk! Buk! Buk!! Dan ketukan yang sama terdengar kembali dari sana, hingga Raya terlonjak kaget karenanya. Dengan nafas yang memburu dan lengan kanan yang mengusap dadanya untuk menenangkan diri, dengan berani Raya meraih knop pintu tersebut. Namun ketika pintu kembali diketuk dengan keras, Raya kembali ragu untuk membukakan pintunya dan kembali bertanya, “s… siapa??” tanya Raya kepadanya, namun ia tidak mendengar satu pun suara dari arah luar. Masih merasa ragu tapi ia merasa bahwa ia harus mengeceknya dan akhirnya dengan berani dia membukakan pintu tersebut dengan lebar. “WA!!!” teriakan Bagas yang saat itu loncat dari balik pintu membuat Raya terkejut, ia menangis dan menjerit dengan histeris. Raya ketakutan setengah mati karena ulahnya, dan hal itu membuat mereka yang bermaksud menjahili Raya pun merasa tidak nyaman karenanya.   … “hampura atuh Ya, heureuy! (maaf Ya, bercanda!)” ucap Bagas kepada Raya yang masih terisak dipelukan Laras yang saat itu menenangkannya, bersama dengan gadis-gadis lainnya. Kedua mata Bagas menatap Raya dengan pandangan penuh dengan rasa sesal, ia tidak akan mengetahui bahwa reaksi yang akan ditunjukan oleh Raya hingga sampai seperti itu. Ia merasa bersalah, karena ia menyadari bahwa Raya tidak sedang baik-baik saja, semenjak beberapa hari yang lalu. “tah atuh, mantak na ulah sok heureuy wae atuh!! karunya pan si Raya teh, reuwaseun! (tuh kan, makannya jangan suka bercanda terus dong!! kasian kan Raya nya, kaget!)” dan ucapan yang dilontarkan oleh Lukman membuat Bagas melempar sendal jepitnya kepada sang kawan, seraya memprotes bahwa tindakkan yang ia lakukan berasal dari ide yang dilontarkan olehnya. “maneh nu ngakalan, sia Lukman! (kamu yang memberi ide, Lukman!)” protesnya dengan sedikit menggeram, namun reaksi yang diperlihatkan oleh Lukman hanyalah sebuah tawa. Ya… Lukman tau bahwa Bagas tidak benar-benar marah padanya. Kedua mata Bagas kembali melirik Raya yang saat itu sudah dapat menenangkan diri, dan Bagas kembali meminta maaf kepadanya yang kini menatapnya dengan cukup tajam. “gak lucu, Bagas!” protes Raya padanya yang kini segera menganggukkan kepala mengiakan ucapan Raya, dia menepuk bahu Raya sebanyak dua kali seraya berucap, “iya, gak lucu … maaf ya!” timpal Bagas lagi, ia masih menatap Raya yang kini menganggukkan kepalanya dan kembali memeluk Laras yang tersenyum dan mengusap kepalanya dengan sayang.  to be continue. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN