-3.6-

1011 Kata
Choki hanya bisa menghela nafasnya untuk menanggapi Dayan yang terus saja mengoceh padanya saat itu, “oh, ayolah Yan! Gue masih gak bisa lupain dia” jelas Choki padanya yang masih saja membututi kedua langkah kaki Choki, dan Choki memilih untuk tidak menanggapi apa yang diucapkan atau apa yang diproteskan oleh Dayan saat ini, karena dia akan lebih memfokuskan dirinya kepada para staff yang tengah berkerja di kubikalnya*. dibandingkan dengan mendengar ocehan yang menurutnya tidak berguna saat ini,   “hey! Move on man!! Kania gakkan ngelirik lu untuk yang kedua kalinya, kalaupun iya!, dia pasti manfaatin lu!” ucap Dayan menceramahi Choki, ia tidak akan pernah berhenti melakukannya hingga Choki mengatakan ya atau pun mengikuti saran yang diberikan olehnya, namun Choki juga bukanlah orang yang mudah menyetujui apa yang dikatakan atau menuruti apa yang diomelkan oleh Dayan padanya, karena ia sudah kebal dengan semua ocehan Dayan sejak dulu, jadi ia memilih untuk menatap salah satu staff yang kini terlihat tidak sehat di sana, “hey … hey! Stop it!” ucap Choki pada Dayan, ia mengibaskan tangannya kepada Dayan dan memintanya untuk berhenti berucap, sedangkan langkahnya kini berjalan mendekati salah satu staff yang tengah duduk dengan wajah yang pucat pasi di dalam ruangan kubikalnya, “are you okay?” tanya Choki kepada staff wanita yang kini menoleh menatapnya dan menggelengkan kepalanya dengan pelan, ia menjelaskan dengan sopan bahwa ia merasa tidak enak badan, dan hal itu membuat Choki menoleh singkat kepada Dayan yang menatapnya dengan pandangan yang meragukan hal itu, sebelum akhirnya ia memberikan idzin kepada staff wanita tersebut untuk segera pulang, dan hal itu tentu membuat Dayan terkejut setelah menyadarinya, “pulanglah, saya idzinkan kamu untuk beristirahat di rumah” itulah ucapan yang dilontarkan Choki pada satff tersebut dan dengan segera Dayan menggelengkan kepala dengan cepat dan ia segera menghalangi pandangan Choki pada wanita tersebut dengan menjadikan dirinya sebagai tameng di sana, “what are you doing?? are you crazy?!” bisik Dayan pelan padanya, kedua matanya menatap nyalang kepada Choki yang baru saja menyingkirkan tubuhnya dari hadapannya dan kembali menatap staff yang kini beranjak dari meja kerjanya setelah sebelumnya ia selesai membereskan seluruh perabotanya. “terima kasih pak, saya pamit dulu” ucapnya seraya membungkukkan badan dengan hormat lalu ia pergi dari sana sesegera mungkin, dan hal itu kembali membuat Dayan mengoceh, ia bahkan mengikuti langkah Choki yang saat ini masuk ke dalam ruangan pribadinya, “Ki! Kenapa lu malah biarin dia pergi?!! cuma gak enak badan gak usah di suruh pulang juga kan …?” ucap Dayan dengan tatapan kesalnya, ia separuh tidak percaya dengan apa yang telah dilakukan oleh Choki, dan mendengar ucapan Dayan membuat Choki menoleh kearahnya seraya menyipitkan kedua matanya, ia merasa bahwa ia tidka memahami apa yang dimaksudkan oleh Dayan saat itu, “suruh beli obat kek, beli makan kek, jangan disuruh pulang dong … nanti kerjaan kita molor!” timpal Dayan padanya yang kini menghela nafas seraya menggelengkan kepalanya, “Yan, denger ya … gue gak mau ada apa-apa yang terjadi sama mereka disini, jika tubuh mereka udah gak kuat maka gue bakal suruh mereka semua pulang untuk beristirahat total” jelas Choki seraya menatap Dayan yang kini mengecak pinggangnya sambil memutarkan bola matanya, menganggap bahwa itu tidak perlu dilakukan dan kerjaaan lah yang lebih penting di sini saat itu, “Yan! Kerjaan molor juga gak masalah bagi gue, kesehatan mereka yang utama di sini!” timpalnya lagi dan hal itu membuat Dayan terkekeh mendengarnya, “apa ini ada sangkut pautnya dengan wabah itu, huh??” tanya Dayan padanya, mendengar pertanyaan itu membuat Choki kini menghela nafas sambil terduduk di kursi sana dan mengangguk pelan, “oh come on! Did you believe that?! Choki … Choki, gue kasian sama lu” timpalnya lagi dan Dayan berjalan untuk pergi meninggalkan ruang kerja Choki, setelah sebelumnya Choki berucap, “gak ada salahnya kalau kita jaga-jaga Yan!” bela Choki di sana, namun Dayan sudah terlebih dahulu keluar dan tidak menanggapi lagi apa yang diucapkan olehnya, dan hal itu membuat Choki menggeram sedikit kesal dengan sahabatnya yang satu itu. Choki kembali menghelakan nafasnya berusaha tenang dan ia kemudian bersandar dikursi kerja miliknya, ia lagi-lagi merasa bahwa ia lelah, bukan tubuhnya … namun pikirannya. Entah karena kelakuan Dayan yeng semakin kemari semakin membuatnya pusing, juga karena Kania sang pujaan hatinya yang belum bisa ia lupakan dan juga karena kabar virus yang benar-benar membuatnya menjadi sangat khawatir.     …   Sore hari itu, Choki merebahkan dirinya di atas sofa rumah miliknya. Dan hal itu membuat Dayan yang menyadarinya pun akhirnya menoleh untuk menatapnya dengan cukup kesal, “Ki!! ngapain lu diem-diem kaya gitu?!” tanya Dayan, pasalnya dan seharusnya saat ini ia bersiap-siap menuju Bandung, mengingat bahwa acara pelantikkan cabang baru mereka di Bandung akan segera tiba. “lu yakin mau lanjutin ini, Yan?? apakah sebaiknya kita tunda aja sampai berita tentang wabah ini mereda??” ditolehkannya kepala Choki seraya menatap Dayan yang terlihat sudah sangat jengkel padanya, dengan bukti bahwa ia kemnbali memutar bola matanya dan menggelengkan kepala, “terus kita disini ngelakuin apa ?? duduk-duduk ?? makan popcorn, nonton netflix, terus main game, gitu?! heh, Ki! Kita itu pembisnis!! dan lagi, dua hari dari sini kita akan meresmikan cabang kita di Bandung. Masa lu gak punya pemikiran tentang tamu-tamu yang sudah excited dengan kabar cabang baru kita sih?!” ucap Dayan dengan nada yang meninggi, dan hal itu membuat Choki terdiam sejenak, ia berpikir ada benarnya juga Dayan berucap mengenai tamu undangan mereka, dan lagi mereka juga sudah memesan satu hotel untuk menampung mereka para tamu yang akan hadir di sana. Dan jika dicancel maka dana yang mereka keluarkan akan hangus dan terbuang dengan percuma. Kedua mata Choki pun menoleh menatap Dayan dan akhirnya ia menganggukkan kepala seraya berucap, “oke! Kita siap-siap untuk ke Bandung malam ini” ucap Choki kepada Dayan yang kini tersenyum senang dan mereka pun akhirnya meninggalkan ruangan tersebut untuk masuk ke dalam kamar masing-masing dan bersiap-siap pergi menuju kota Bandung.  to be continue.  ---  * Kubikal : Ruangan yang hanya berbentuk kotak-kotak yang memisahkan meja kerja satu karyawan dengan karyawan lainnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN