Kedua mata Choki kini tengah fokus kepada layar Tv yang memberitakan mengenai virus Z-I yang tengah melanda Indonesia terutama di daerah pesisir pantai, dan pemberitaan mengenai hal itu tentu saja membuatnya merasa khawatir, sejak pemberitaan tersebut ditayangkan, ia tidak pernah melepaskan pandangannya terhadap pemberitaan tersebut,
“seluruh warga tidak dianjurkan untuk pergi berlibur ke daerah pesisir pantai, dan warga juga dihimbau untuk menjaga kesehatan serta mengkonsumsi vita…-
Dahi Choki berkerut dan menoleh dengan cepat menatap tajam orang yang baru saja mengganggu dirinya, ia memprotes Dayan yang baru saja mencabut kabel tv tersebut, “hei!!” itulah protesannya, namun ucapan itu sama sekali tidak dihiraukan oleh Dayan yang kini dengan santainya menyetel PS nya dan menyambungkannya ke tv,
“you look so stupid when you watching that news, Choki” ujar Dayan, dengan santainya ia melompat ke atas sofa dan menghidupkan Gamesnya tercinta, ia berusaha untuk tidak mendengarkan apa yang tengah diocehkan oleh sahabat sekaligus rekan kerjanya yang satu itu, dan memilih untuk mengunyah popcorn yang sudah ia siapkan sebelumnya.
“tapi itu berita penting, Yan! Bisa saja wabahnya telah menyebar tanpa sepengetahuan kita” ucap Choki, ia dengan segera merebot remote tv yang tengah digenggam oleh Dayan, dan ia kembali memutuskan sambungan games dengan tvnya, ia bahkan menghiraukan Dayan yang juga menimpali ucapannya dengan berucap,
“ya, ya, ya … but I don’t think so, berita seperti itu tidak ada yang benar Ki! Semuanya hanya akan membuat orang panik dan mengalihkan fokus mereka terhadap apa yang terjadi di sini! Ini adalah isu politik, ngerti dong lu!” timpal Dayan seraya bersandar di sofa itu dan meraih mangkuk popcorn dan menyantapnya dengan cukup kesal, tak ada yang dapat Choki perbuat terhadap sikap Dayan yang satu itu, ia memilih untuk tidak menanggapinya lagi dan dengan cepat ia kembali menelusuri saluran tv yang memberitakan virus tadi, namun berita itu telah selesai hingga akhirnya Choki mengumpat kepada Dayan dengan kesal, ia juga bahlan sempat melempar bantal ke arahnya yang kala itu berhasil menghindar.
“Damn you Yan!!” itulah umpatan darinya, namun lagi-lagi Dayan tidak mengambil pusing hal itu, ia dengan santai merebut remote tv dari tangan Choki dan kembali menyambungkan layarnya pada games di sana, dan melihat hal itu membuat Choki menghela nafasnya dan pergi dari hadapan Dayan untuk meredam emosi yang ditimbulkan oleh orang yang kini duduk dengan santai seraya menyantap popcorn di sofa itu.
Choki berjalan menuju kamarnya, setelah ia masuk ke dalam kamar, sesegera mungkin ia duduk di kursi sana dan dengan terburu-buru ia membuka laptopnya untuk mencaritahu mengenai perkembangan dan gejala dari virus yang tengah menyebar di Indonesia saat ini. Ia merasa bahwa tidak ada salahnya untuk berjaga-jaga, meskipun ia membaca artikel bahwa virus ini tengah menyebar di daerah pesisir.
Ia kembali membuka-buka mengenai informasi camp zona aman yang kebetulan muncul di ranah pencariannya, dan ia pun menulis lokasi-lokasi tersebut di selembaran kertas yang kemudian ia masukan ke dalam dompetnya.
…
Disebuah gedung perkantoran yang terletak di kota Jakarta, terdapat sebuah ruangan yang saat itu tengah dipakai oleh sepuluh hingga lima belas orang yang tengah berdiskusi mengenai sebuah produk fashion yang tengah ditampilkan pada sebuah proyektor yang kala itu menyorot ke arah layar putih yang menempel di dinding ruangan tersebut,
“meeting pagi ini kita akhiri sampai di sini, terima kasih karena telah mendengarkan persentasinya dan saya harap kita bisa melanjutkan penjualan produk kain nasional ini sampai ke pasar luar” ucap Choki menutup meeting saat itu, dan setelahnya mereka yang tengah berkumpul di dalam ruangan rapat itupun satu persatu meninggalkan ruang rapat. Namun, tidak seperti yang lainnya, Choki lebih memilih untuk bersandar di kursi rapat miliknya dan memejamkan matanya untuk sejenak, ya … ia merasa lelah, ia lelah karena memikirkan sang pujaan hati yang memutuskannya dua bulan yang lalu, itu semua dilakukan hanya karena sang pujaan hati memilih untuk kembali bersama dengan sang mantan di bandingkan dengan dirinya, dan itu semua membuat seluruh fokusnya hilang dan begitupun dengan semangatnya dalam bekerja.
“hai, Ki!” dahi Choki berkerut ketika sebuah panggilan yang tak asing terdengar di sana, dan itu membuat Choki segera membuka matanya, hingga mendapati seorang wanita bertubuh mungil kini berdiri tepat dihadapannya, dengan dress work formalnya, beberapa file yang ia apit diantara lengan kanan yang ia tekuk dan menekan ke dadanya, ia tersenyum dengan manis di hadapan Choki yang mengerutkan dahi di sana, ia merasa bingung dengan kehadiran wanita itu di hadapannya saat ini.
“Siska, ada apa??” tanya Choki dengan lurusnya, tanpa mengetahui maksud dari Siska, wanita mungil dan sexy yang baru saja memanggilnya. Dan tentu, pertanyaan Choki membuat Siska tersenyum dan melangkah sebanyak dua langkah untuk mendekati Choki yang masih terduduk di kursi itu,
“hari ini, lu ada jadwal lain??” pertanyaan yang dilontarkan Siska membuat Choki tersenyum, namun kedua matanya kini menoleh menatap sang sahabat yang tengah bersembunyi memantau mereka berdua dibalik pintu ruang rapat tersebut, dan dapat terlihat dengan jelas oleh Choki bahwa saat ini Dayan melambaikan tangannya seolah ia memerintah Choki untuk menerima sesuatu yang membuatnya sedikit kebingungan, mengenai apa yang dimaksud serta apa yang harus ia terima? Itulah yang ada di dalam benaknya saat ini, dan hal itu pun membuat Choki akhirnya balas bertanya,
“hari ini jadwal luang kok, kenapa??” tanya Choki membalas Siska yang kini tersenyum lebih manis lagi, atau lebih tepatnya tersenyum menggoda kepada Choki di sana,
“kita jalan bareng, mau gak? Gue denger, lu udah putus sama Kania, jadi bisa dong kita jalan” jelas Siska di sana, dan oh … jadi ini, tawaran yang diberikan olehnya sehingga Dayan memerintahkan gue untuk terima ajakannya. Itulah yang ada di dalam benak Choki saat itu. Dengan menatap Siska, Choki memilih untuk tersenyum membalas Siska dan kemudian berucap,
“sorry Sis, tapi gue lagi gak bisa kalau buat jalan berdua sama cewe lain, gue lagi pengen sendiri dulu” itulah jawaban yang diberikan Choki kepada Siska pagi itu. Dan jawaban itu membuat Siska tersenyum dengan garing seraya memaklumi hal itu dan kemudian pergi dari sana setelahnya.
…
“what are you doing?! gila lu, Ki … parah!!” protes Dayan kepada Choki yang saat itu berjalan menelusuri lorong kantor, dan bahkan Dayan tidak perlu repot-repot untuk memberi jalan kepada orang yang berjalan berlawanan arah dengannya, karena mereka lah yang memilih untuk menyingkir dan memberikan jalan kepada Dayan yang saat itu berusaha mengimbangi langkah kaki Choki yang kini masuk ke dalam ruang kerja para staffnya.
to be continue.