-3.4-

1365 Kata
Jam pun menunjukkan jam sepuluh, dan itu sudah terhitung empat kelas dari awal Shiren masuk di jam delapan pagi tadi. Saat ini, Shiren tengah merapihkan buku-bukunya di sana seraya berbincang dengan Nadya temannya, “jadi gimana?? besok jadi kan pergi ke mall bareng lastri sama aku??” itulah yang ditanyakan Nadya pada Shiren yang sudah selesai merapihkan buku-bukunya, ia mengangguk mengiakan pertanyaan itu dan akhirnya mereka pun berjalan bersama untuk turun dan keluar dari gedung fakultas. Kedua langkah mereka kini berjalan menuruni tangga luar gedung fakultas, namun ketika sebuah panggilan terdengar membuat Shiren dan Nadya menoleh menatap kearah suara tersebut, suara itu memanggil Shiren dengan kata “Ren” dan akhirnya mereka mendapati Nauval tengah bersandar di dinding luar gedung fakultas mereka, dan hal itu adalah hal yang langka bagi Shiren, yang karenanya membuat Shiren mengerutkan dahinya dengan bingung saat ini, “Nauval?? kenapa disini?” tanya Shiren merasa aneh padanya yang kini berjalan menghampiri Shiren dan Nadya yang berdiri di ujung tangga depan gedung fakultas, kedua mata Nauval menatap Shiren dan kemudian tersenyum kepada Nadya temannya yang kini ikut tersenyum kepadanya, “kan katanya kelas selesai jam segini, yaudah aku jemput aja … abis kelamaan, aku gak ada kelas hari ini, dosennya sakit” jawab Nauval seraya menyakukan tangannya ke dalam saku celana, yang ia anggap bahwa pose itu adalah pose keren andalannya dan itu memang lah pose andalannya, karena pose itulah yang membuatnya saat ini menjadi perhatian dari mereka-mereka yang baru saja keluar dan masuk ke dalam gedung Fakultas, meskipun wajah Nauval tidak seperti Shiren yang terlihat sangat kebule-bulean, namun wajah oriental milik Nauval sangatlah tampan dan bahkan tidak bisa ditandingi oleh anak lainnya yang ada di sana, dan itu lah yang menjadi daya tarik dari Nauval. “kamu mau langsung pulang atau mau kemana dulu??” pertanyaan yang diajukan oleh Nauval kembali membuat Shiren merasa heran dan kini hanya bisa kembali bertanya, “hah??” dan hal itupun yang membuat Nauval kembali mengulang pertanyaan yang sama padanya, “oh … tadinya sih mau makan di kantin barengan sama Nadya” jawab Shiren, dan itu membuat Nauval menganggukkan kepalanya. Merasa aneh dengan tingkah laku sang adik, membuat Shiren kini menoleh menatap Nadya yang juga menatapnya, “yaudah, aku ikut makan ya … boleh gak?” pertanyaan yang dilontarkan Nauval lagi-lagi membuat Shiren terheran karenanya, namun ia segera mengangguk mengiakan pertanyaan sang adik dan akhirnya mengajak Nauval untuk bergabung bersama dengannya juga Nadya, meski ia tahu betul bahwa dulu Nauval selalu menolak ketika Shiren mengajaknya untuk makan bersama dengan teman-temannya, ia selalu mengatakan bahwa ia akan merasa risih jika makan bersama dengan teman-teman Shiren. Namun hal yang baru saja ia alami dirasa begitu aneh, karena saat ini ia berjalan bersamaan dengan Nadya yang lain dan bukan adalah temannya, juga bersama dengan Nauval untuk pergi makan bersama di kantin fakultas. Tidak hanya itu, Shiren merasa bahwa Nauval benar-benar aneh hari ini. Karena tak ada angin dan hujan, sikapnya berubah drastis sehingga di dalam pikirannya kini timbul sebuah pertanyaan yang tidak bisa ia jawab dengan sendirinya, kenapa dengan Nauval hari ini?? itulah pertanyaan yang mengelilinginya saat ini. … “kamu kenapa val??” karena ia merasa penasaran, pada akhirnya Shiren bertanya kepada Nauval yang kini tengah menyetirkan mobilnya untuk kembali ke rumah, dan tentu hal itu membuat Nauval yang mendengar pertanyaan tersebut mengerutkan dahinya, ia merasa bahwa ia tidak kenapa-napa, “kenapa apanya??” tanya Nauval balik pada Shiren, dengan santai ia memutar baik di putaran itu dan akhirnya membelokkan mobilnya ke sebuah gerbang masuk perumahan mereka, “aneh aja “ jelas Shiren padanya yang kini terkekeh seraya menggelengkan kepala, “gak ah, gak ada apa-apa” timpal Nauval padanya, dan hal itu membuat Shiren sempat berpikir sejenak sebelum akhirnya mengangguk mengiakannya saja, dan mereka pun kembali masuk ke dalam rumah. “hari ini masak apa, Ren?? mau aku bantu gak?” lagi dan lagi, ucapan yang jarang dilontarkan oleh Nauval membuat Shiren menoleh dengan cepat untuk menatapnya yang kini terkejut karena ditatap seperti itu oleh sang kakak. “kamu gak lagi sakit kan, Nauv?!” tanya Shiren seraya meletakkan telapak tangannya ke dahi Nauval yang saat ini menjauhkan dirinya dari sana seraya berucap, “apaan sih?? nggak kok! Orang nawarin doang, kalau gak mau di bantu yaudah!” serunya di sana, ia berjalan kembali ke sofanya dan kemudian terduduk seraya menonton comedy yang tengah ditayangkan oleh salah satu stasiun tv nasional yang ada di sana, dan meski begitu, semua tingkah Nauval masih membuat Shiren kebingungan karenanya. … Tiga hari berlalu dan Shiren memastikan memang bahwa ada yang aneh yang terjadi pada Nauval dan ia yakini itu semua, pasalnya sudah tiga hari ini Nauval yang biasanya cuek kini berbalik care padanya, dan bahkan Nauval akan selalu ada terlebih dahulu di depan gedung fakultasnya untuk menunggu kedatangan Shiren dan kemudian ikut makan ataupun ikut hangout bareng bersama dengan Shiren dan juga teman-temannya, “sebenarnya ada apa sih dengannya, Ren?” kedua pandang Shiren kini menoleh menatap Nadya dan ia segera menggelengkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan temannya yang satu itu, “aku juga gak ngerti Nad, masalahnya dia jarang banget kaya gini tau!” jelas Shiren padanya yang kini nampak berfikir di sana, baik dari Nadya maupun Shiren, mereka sama-sama merenung memikirkan kenapa tindakan Nauval sangat berbeda akhir-akhir ini. “heh! Kalian udah pada tau belum tentang Z-I ??” pandangan Shiren dan Nadya kini tertuju pada seorang lelaki yang datang seraya memberikan ponsel miliknya untuk mereka baca, ialah berita mengenai Z-I. Diraihnya ponsel tersebut untuk kemudian mereka baca dengan seksama, “Zombie??” tanya Nadya seraya menoleh menatap lelaki yang kini menganggukkan kepalanya dengan singkat, “berita ini sejak kapan adanya, Haikal?” tanya Shiren pada lelaki pemilik ponsel yang bernama Haikal itu, “udah dari satu minggu yang lalu, Ren! Kalian kemana aja??” ucap Haikal, ia menggelengkan kepalanya dan kembali meraih ponsel miliknya yang digenggam oleh Shiren saat itu, menyadari adanya virus baru yang menakutkan membuat Shiren mengesampingkan perubahan sifat yang dialami oleh Nauval padanya dan lebih memilih untuk menanyakan keadaan indonesia saat ini, apa yang akan terjadi selanjutnya jika-jika virus itu sudah masuk kedalam perkotaan? Itulah yang ada di dalam benaknya saat ini. Dengan cemas ia mencari berita perkembangan Virus itu di internet. Tidak hanya seperti itu, Shiren bahkan menjadi lebih diam setelah mendengar adanya virus tersebut. Sejak awal masuk hingga ia selesai melaksanakan seluruh mata kuliahnya, “kamu gak papakan, Ren??” sebuah pertanyaan yang terlontar dari Nadya saat itu segera menyadarkan Shiren yang kini menoleh ke arahnya dan tersenyum seraya mengangguk untuk menjawab pertanyaan Nadya di sana, “yaudah, kalau gitu aku duluan ya … aku rasa Nauval udah nunggu tuh!” mendengar ucapan itu Shiren menganggukkan kepalanya dan menoleh menatap Nauval yang saat ini terduduk di aula fakultas, ia menunggu Shiren di sana karena memang kelas yang diambil oleh Shiren saat ini sangatlah lama, setelah berpamitan dengan Nadya, Shiren pun menghampiri Nauval di sana, “udah??” tanya Nauval padanya yang kini mengangguk mengiakannya, mereka pun bersama-sama berjalan menuju parkiran, untuk kemudian pulang ke rumah, keheningan kembali terjadi di dalam mobil, dan kali ini Shiren memberanikan diri untuk bertanya mengenai Virus Z-I yang baru saja ia ketahui kepada adiknya tersebut,   “Val, kamu udah tahu tentang virus Z-I?” tanya Shiren padanya, kedua pandangannya kini menoleh menatap Nauval yang berada tepat di sampingnya yang tengah memfokuskan diri dalam menyetir mobil jeep miliknya, dikerutkannya dahi Nauval yang mendengar pertanyaan tersebut, “udah, kenapa emangnya?”jawab Nauval dan kini balas bertanya kepada Shiren, diliriknya sang kakak dengan ujung mata Nauval yang kini menangkap raut cemas yang ditunjukkan olehnya membuat Nauval menghela nafas dan berucap, “gak usah khawatir, lagian itu di daerah pesisirkan? Lagian jauh juga dari Bandung” timpal Nauval dengan santainya, ya … dia bertindak demikian supaya Shiren merasa tenang dan tidak mencemaskan apapun lagi seperti saat ini, karena ia merasa bahwa wajah Shiren akan menjadi seram ketika ia mengkhawatirkan atau pun memikirkan sesuatu dengan sangat serius. Bersyukurlah, karena ucapan Nauval saat itu membuat Shiren menganggukkan kepalanya dan bernafas dengan dalam, ia berusaha untuk setenang mungkin dan meyakini bahwa apa yang diucapkan oleh Nauval ada benarnya juga. Lokasi kota Bandung saat ini lumayan jauh dari pesisir pantai.  to be continue. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN