-3.3-

1185 Kata
Malam itu, disebuah rumah yang berada di salah satu perumahan yang ada di kota bandung, Haris … Lelaki bertubuh tegap dengan rambut cepak tentara yang kini tengah menatap layar tv dengan kedua mata yang kini menajam itu pun akhirnya menghela nafasnya dan kembali bersandar di sofa panjang yang empuk itu. Kedua matanya pun ia pejamkan untuk sejenak, terlihat jelas dari raut wajahnya saat ini, ia tengah memikirkan sesuatu hal … setelah seblumnya ia melihat pemberitaan mengenai wabah yang tengah menyerang wilayah pesisir pantai di Indonesia, terutama pulau Jawa.  Tidak lama setelahnya ia membuka kedua matanya dan beranjak dari sana, ia berjalan menuju sebuah kamar yang kemudian ia ketuk kamar tersebut dan memperlihatkan Nauval lah yang membukanya, “kenapa kak?” tanya Nauval padanya, Haris melihat Nauval yang saat itu terlihat baru saja bangun dari tidurnya, hal itu dijelaskan dari rambutnya yang sudah berantakan, matanya yang setengah terpejam serta tangannyan yang kini menggaruk-garuk pipinya dengan pelan, seolah ia terganggu dengan sang kakak yang baru saja mengetuk pintu itu, “lagi tidur?” tanya Haris padanya yang kini menoleh menatap Haris dengan mata setengah terpejamnya, “udah bangunn!” jawab Nauval dengan kesal, pasalnya sang kakak sangat menganggunya malam itu, ia menoleh menatap jam yang kini sudah menunjukkan pukul 1 dini hari, namun ia juga masih merasa penasaran dengan sang kakak,   “bisa temenin kakak?, ada hal yang mau kakak bicarain sama kamu” ucap Haris padanya yang membuat Nauval mengerutkan dahinya ketika sang kakak pergi dengan segera dari hadapannya, Nauval merasa bahwa sang kakak tengah serius saat ini, hingga ia berjalan mengikuti langkah sang kakak, seperti anak itik yang mengikuti langkah induknya. Dengan dahi yang masih berkerut memikirkan apakah dirinya telah berbuat salah akhir-akhir ini. Namun, seingatnya ia sama sekali tidak melakukan suatu kesalahan akhir-akhir ini. Kedua mata Nauval kini menoleh menatap sang kakak yang terduduk di sofa itu, dapat ia lihat kedua mata Haris kini menatap dirinya, seolah ia menunggu sang adik untuk segera duduk di sampingnya saat itu, dan hal itu pun mau tidak mau dilakukan oleh Nauval yang kini mengambil tempat tepat di sampingnya, “ada apa kak?” tanya Nauval, ya … ia sama sekali tidak mengetahui maksud dari sang kakak yang secara tiba-tiba membangunkannya dan berkata bahwa ia ingin berbicara bersama dengannya, terlebih waktu saat ini tidak mendekati waktu yang pas untuk berbincang santai ataupun sekedar untuk melepaskan rasa bosan, karena saat ini adalah waktu yang tepat untuk mereka beristirahat dari kehidupan dunia barang sejenak. Untuk waktu yang cukup lama, tak ada satu pun ucapan maupun suara yang dikeluarkan maupun dilontarkan oleh Haris pada Nauval yang kini nampak seperti menunggu sesuatu hal yang terjadi, ya … Nauval tidak ingin melihat Haris diam seperti saat ini padanya, dan ketika melihat Haris berucap dengan keseriusan Nauval menatapnya dan mendengarnya dengan seksama, “kamu taukan apa yang sedang terjadi di Negara kita saat ini? Terutama di daerah pesisir pantai??” dikerutkannya dahi Nauval setelah mendengar sang kakak bertanya padanya, pemikirannya saat ini dibingungkan dengan pembicaraan malam bersama dengan sang kakak yang ternyata membahas mengenai pemberitaan pesisir pantai yang tidak ia ketahui, maklum saja … ia tidak menyukai berita, menonton berita maupun membaca koran pagi saja akan membuat Nauval merasa seperti orang tua, dan itulah sebabnya mengapa ia tidak mengetahui apa yang tengah dialami oleh Indonesia saat ini. Digelengkannya kepala Nauval untuk menjawab pertanyaan Haris yang saat itu, melihat jawaban yang ditunjukkan oleh sang adik, membuat Haris menghelakan nafasnya dan akhirnya iapun menjelaskan apa yang tengah dialami oleh mereka saat ini. Setelah mendengar semuanya, reaksi Nauval adalah terdiam dengan shock. Ia baru saja mengalami hal yang namanya ketinggalan informasi terhadap apa yang terjadi di Indonesia saat ini, “jadi, apakah pemberitaan itu benar kak??” tanya Nauval padanya yang kini ragu untuk menjawab sang adik, ia memilih untuk menatap Nauval dan kemudian berucap, “kakak juga gak tau, tapi yang jelas pemerintah udah menutup semua jalur dan akses menuju pesisir dan orang yang ada di sana juga udah gak bisa pergi ke kota untuk saat ini” jelas Haris, dan setelah mendengar hal itu kesunyian pun terjadi diantara mereka berdua, Haris yang menatap Nauval yang kini tengah terdiam dan berfikir, “gak ada yang bisa kita lakukan, sekarang kita cuma bisa melindungi diri kita dan bersiap dengan apapun yang terjadi” sambungnya lagi dan hal itu membuat Nauval menganggukkan kepalanya mengiakan ucapan sang kakak, “jadi, kaka minta supaya kamu jagain Shiren … karena selama seminggu kakak ada tugas untuk jaga perbatasan dan gak bisa pulang ke rumah” timpalnya lagi dan hal itu kembali membuat Nauval terdiam, ia menatap sang kakak dengan ragu, ia merasa bahwa ia tidak siap ditinggalkan oleh sang kakak selama satu minggu, terlebih dalam kondisi yang seperti saat ini, memahami kediaman sang adik membuat Haris menepuk bahunya dan kembali berucap, “hanya kamu yang bisa kakak andelin sekarang, jadi kakak mohon … kamu mau ngelakuin ini buat kakak, tolong jagain kakak perempuanmu itu” dengan cepat dianggukannya kepala Nauval untuk menanggapi ucapan sang kakak, dan ia pun memilih untuk tersenyum padanya guna menenangkan Haris seraya berucap, “tenang aja kak, Nauval akan jaga Shiren kok” ucapnya kepada sang kaka yang kini tersenyum dan menganggukkan kepalanya dan ia sangat berterima kasih kepadanya malam itu. … Seperti apa yang diucapkan oleh Haris, ia harus pergi bertugas selama satu minggu lamanya dan hal itu membuat Shiren merasa sedih karena sang kakak pergi dan menyisakan mereka berdua di rumah, “udah jangan nangis” bisik Nauval pada Shiren yang menangis ketika Haris melajukan mobilnya meninggalkan mereka, kedua pandang Shiren kini menatap cueknya Nauval yang saat itu terlihat menyakui hodie yang tengah ia pakai dan dengan santai ia berbalik masuk ke dalam rumah, meninggalkan Shiren yang cemberut karenanya. Meskipun begitu, Shiren tau ia harus segera bergegas menuju kampus dan hal itu membuat Shiren segera pergi menuju kamarnya dan bersiap di sana. … “hari ini kamu pulang jam berapa, Ren?” sebuah pertanyaan yang terlontar dari mulut Nauval yang saat itu tengah menyetir pun, membuat Shiren menolehkan pandangannya kepada Nauval sang adik, kedua pandangnya saat ini menatap Nauval dengan tatapan tidak percaya, pasalnya pertanyaan itu jarang sekali Nauval lontarkan kepadanya dan bahkan ketika Shiren mengingatkannya sekali pun, ia lebih selalu memilih untuk berbincang dengan teman kelasnya di dalam kelas hingga Shiren lah yang selalu menghubunginya dan menemuinya terlebih dahulu dibandingkan dengan dia yang menunggunya di luar gedung fakultas. “tumbenan nanya” ucap Shiren padanya yang kini menghelakan nafas dan berucap dengan nada ketusnya, “ya nanya aja, gak boleh emangnya??” mendengar ucapan dari Nauval membuat Shiren mengedikkan bahunya dan kemudian ia menjawab dengan nada santainya, “ada empat kelas hari ini, jadi pulangnya agak pagian” jawaban yang diucapkan oleh Shiren saat itu membuat Nauval ber-’o’ ria dan kemudian ia mengangguk-angguk namun tidak mengatakan apapun lagi, dan hal itu membuat Shiren merasa biasa saja, karena Nauval orangnya memang cuek seperti itu. Sesampainya mereka di kampus, Shiren pamit kepada Nauval sebelum akhirnya ia segera pergi keluar dari mobil tersebut dan masuk ke dalam gedungnya, dan Nauval pun harus mengendarai mobil menuju parkiran terdekat dari fakultas miliknya. …  to be continue.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN