Mendengar penjelasan dari sang rekan kerja, membuat Edwin menghela nafasnya dan menggelengkan kepala, “kenapa lagi dengan kalian??” tanya Edwin lagi-lagi ia menghela nafasnya, dan diliriknya martabak yang menggoda itu, membuat Edwin mau tak mau meraihnya dan melahapnya dengan nikmat,
“itu … dia minta dibelikan makanan laut, di restoran mahal itu loh! Mana bisa aku membelikannya … masih untung membawa martabak dan gorengan ini, lah! Dia malah mengomeliku dan merajuk, pusing aku win… win!” ucap Agus dengan nada khasnya, ya … dia adalah orang campuran, antara batak dan bandung … itulah dia, kadang menggunakan logat sunda dan terkadang juga ia menggunakan logat bataknya.
Kembali dikerutkannya dahi Edwin setelah mendengar Agus bercerita mengenai masalahnya, “jadi karena masalah itu lu sampai mau ngindep di sini, di rumah gua?!” tanya Edwin, separuh tidak memercayai bahwa hanya karena masalah yang sepele saja, hubungan rumah tangga mereka sampai seperti itu, tidak bisa tinggal diam melihatnya, Edwin segera beranjak dan berjalan untuk kemudian masuk ke dalam kamarnya dan meraih amplop coklat yang tergeletak di atas nakasnya, ia berjalan kembali mendekati sang rekan kerja dan memberikan amplop tersebut padanya seraya berucap, “nih … pakai saja dulu gaji gue, ajak ratih buat makan di restoran itu!” jelas Edwin padanya, mendengar itu dengan segera Agus menggelengkan kepalanya, dan menolak bantuan dari Edwin dengan berucap,
“gak usah lah! Itu cuma manjanya dia saja … gak perlu kaya gini, santai aja!” ucap Agus kembali menatap tv itu, mendengar jawaban itu Edwin segera menggelengkan kepala,
“nggak! Justru lu harus manjain dia kalau dia lagi kaya gitu, nih! Ambil aja dulu, nanti lu bisa balikin kapan-kapan … gak perlu pake bunga! Balikin sesuai yang ada di dalam amplopnya aja nanti” mendengar penjelasan yang diucapkan oleh Edwin membuat Agus menoleh menatapnya dengan tatapan berbinar, seolah Edwin adalah penyelamat hidupnya saat ini, ia dengan sedikit malu-malu bertanya apakan serius bahwa Edwin mau meminjamkannya, dan mendengar pertanyaan itu Edwin segera mengangguk mengiakannya dengan serius, dan hal itu lah yang membuat Agus kini menerima amplop gaji miliknya dengan tersenyum,
“serius yaa?? gue ambil nih!” ucap Agus, dan Edwin hanya menganggukkan kepalanya lagi untuk menjawab pertanyaan sang rekan kerja yang kini meraih dan menyakui amplopnya, “ya udah, kalau gitu gue pergi dulu ya! Gue mau bawa Ratih istriku ke restoran itu” dianggukannya kepala Edwin menanggapi ucapan sang rekan kerja, “oya! Hati-hati ya, sekarang musim penghujan … hati-hati kena flu! Eh … hati-hati juga sama viru baru yang katanya nyeremin itu, hahaha” sambungnya lagi dan hal itu membuat Edwin tertawa dengan terpaksa untuk menanggapinya, tidak lama dari sana Agus pun pamit dan Edwin kembali sendiri di rumahnya.
Sejenak Edwin menggeleng kepalanya dan merebahkan diri di atas sofa setelah Agus sang rekan kerja pergi dari sana, namun ingatan Edwin kembali pada persiapannya yang belum selesai, hingga akhirnya ia kembali beranjak dari rebahannya dan pergi menuju kamar untuk mempersiapkan yang lainnya.
…
Pagi hari yang cerah, Edwin bangun sesegera mungkin. Ia memang tidak memiliki jadwal untuk bekerja, mengingat bahwa syuting yang dijalankannya sudah selesai. Namun, ia memiliki kesibukan lainnya, yaitu mempersiapkan diri dari virus yang baru saja muncul di indonesia. Dengan penuh semangat ia menggoreng nasi semalam dengan telur dan bumbu lainnya, nasi goreng adalah andalannya di pagi dan malam hari. Kedua matanya menoleh ke arah kantung-kantung roti yang masih tersisa di sana, “hm … kayaknya roti ini masih bisa bertahan empat sampai lima hari lagi” gumamnya pada dirinya sendiri seraya berjalan dan melihat roti lapis, dan kini kedua matanya menoleh menatap roti panjang yang keras dan dia menghembuskan nafasnya, “kurasa roti-roti ini bisa bertahan lebih lama lagi” sambungnya dan hal itu membuatnya mengedikkan bahu dan kembali menuju sofa untuk menyantap nasi gorengnya.
Selesai dengan sarapan pagi yang wajib, Edwin segera beranjak menuju kamar mandi untuk kemudian mandi dan berganti pakaian. Ia segera meninggalkan kosan dengan menaiki motor kesayangannya. Ia lajukan kendaraan itu menuju apotek terdekat yang ada di sekitar rumahnya.
Kedua matanya menoleh menatap banyaknya orang yang berlalu lalang seperti biasa, seolah sebagian besar dari mereka tidak memperdulikan mengenai kabar Virus yang diberitakan akhir-akhir ini. Ingin sekali rasanya Edwin memperingati mereka-mereka, namun … ia sadar, bahwa tidak semua orang serius dalam menanggapi pemberitaan tersebut, yang akhirnya membuat dirinya memilih untuk tidak mempermasalahkan hal itu dan melangkahkan kedua kakinya saat ini untuk memasuki apotek itu,
“ada yang bisa saya bantu??” kedua mata Edwin kini menoleh menatap sang apoteker yang baru saja menyapanya, dianggukkannnya kepala Edwin menanggapi pertanyaan tersebut, Edwin kemudian mengeluarkan secarik kertas dengan banyak sekali list tulisan yang ada di sana.
“saya pesan ini” ucap Edwin kepada sang Apoteker yang kini membaca list-list tersebut, dan list itu sebagian besar berisi, plaster, betadhine, perban, obat asma semprot, antibiotik, alkohol, vitamin A, B, C dan D, obat flu, obat radang, cream cedera, beberapa koyo serta penahan rasa sakit. Melihat semua list itu, membuat sang Apoteker tersenyum dan menoleh menatap Edwin yang kini menatapnya seraya menunggu.
“belinya banyak sekali mas, takut sama wabah ya??” tanya sang Apoteker kepada Edwin yang kini menyunggingkan senyuman garingnya, “cuma segini aja??” timpalnya lagi,
“oh! Semuanya lima pack ya!, minta tolak anginnya juga” jawab Edwin kepada sang Apoteker yang kini menganggukkan kepalanya dan segera menyiapkan apa yang dipesan oleh Edwin saat itu. Kedua mata Edwin kini mendapati sebuah pemukul kasti yang terbuat dari besi, dan hal itu membuat Edwin mengerutkan dahi dengan aneh, “maaf mas! Kenapa ada pemukul kasti di sini??” tanya Edwin seraya menunjuk pemukul kasti tersebut dan menoleh menatap sang Apoteker,
“oh! Itu tidak dijual mas, itu punya saya” jelasnya menanggapi pertanyaan Edwin yang kini mengangguk dan berjalan kembali mendekati sang apoteker yang telah selesai menyiapkan semua obat yang dipesan.
“semuanya satu juta tujuh ratus tiga puluh lima ribu rupiah, Mas” ucap sang Apoteker, dan Edwin memberikan kartu debit miliknya kepada sang Apoteker,
“oya… kamu beli itu berapa harganya??” tanya Edwin seraya menunjuk ke arah stik kasti yang tergeletak di sana, kedua mata sang Apoteker yang tengah melakukan pembayaran via kartu ATM pun kini menoleh menatapnya dan tersenyum,
“tergantung kualitas sih mas … saya beli online, jadinya ya murah sekitar tujuh puluh ribuan, tapi kalau yang bagus sih sekitar tiga ratus sampai satu jutaan dan datengnya juga lumayan lama kalau yang saya! Kalau mas mau yang langsung dapet sih mending beli di toko olahraga atau ACA hardware, tokonya mudah di cari kok! Apalagi di Jakarta” jelas sang Apoteker seraya memberikan kartu, struk pembelian dan seluruh belanjaan yang telah dibayar oleh Edwin, dan hal itu membuat Edwin menganggukkan kepalanya menanggapi sang Apoteker, “tenang aja Mas, kan beritanyakan belum ada sampai kota Jakarta” timpalnya lagi dan hal itu membuat Edwin menganggukkan kepala dan mengatakan terima kasih, lalu akhirnya ia pergi dari sana.
Pada awalnya Edwin merasa bahwa sang apoteker ada benarnya juga, Virus itu belum sampai di Jakarta, namun … ketika logikanya berjalan, ia merasa bahwa bisa saja ia mati jika tidak bersiap saat ini juga! Dan hal itulah yang membuat Edwin segera melajukan motornya menuju salah satu toko sport yang terdapat di sekitaran sana untuk membeli stik baseball, dan seperti dugaan sang Apoteker, harga dari stik kasti atau baseball besi mencapai tiga ratus ribuan, dan tanpa pikir panjang, Edwin segera membelinya. Karena jauh sebelum pemberitaan virus ini, ia pernah menonton film zombie, dimana ketika pemeran tidak memiliki senjata berupa pistol, maka stik baseball lah yang banyak mereka gunakan untuk perlindungan diri.
Terlalu menganggap serius, tapi Edwin memanglah orang yang seperti itu. Ia akan menyiapkan segala sesuatunya sebelum terlambat, dan itu sudah menjadi pijakannya bertindak seperti itu. Mengingat bahwa ia tidak memiliki seseorang yang harus dilindungi, menyebabkan dirinya memutuskan untuk setidaknya ia bisa melindungi dirinya sendiri dari apapun yang akan terjadi. Dan termasuk berita mengenai wabah yang belum diketahui dengan pasti.
...
to be continue.