-1-
Hari itu, adalah malam minggu dan Edwin saat ini tengah bersiap untuk menghadiri undangan pesta makan malam dari sang sustradara, yang beberapa saat lalu mengiriminya sebuah pesan, yang isinya mengatakan bahwa ia harus ikut menghadiri pesta makan malam yang sengaja diselenggarakan oleh sang Sustradara setelah sebelumnya mereka telah berhasil menyelesaikan penggarapan film yang mereka lakukan beberapa waktu yang lalu, dan Edwin tentu berkonstribusi besar di dalamnya, karena film tersebut adalah film laga. Edwin serta tiga orang lainnyalah yang ikut mensukseskan penggarapan tersebut, karena mereka adalah pemeran pengganti atau stuntmen dari aktor-aktor yang ada di dalamnya.
Berkali-kali Edwin harus mengganti pakaiannya, karena ia merasa bahwa pakaian yang ia kenakan tidak ada yang cocok untuk menghadiri pesta tersebut. Hal itu dapat terlihat dari kerunagn keningnya dan gelengan kepalanya setiap kali ia berganti pakaian dan berkaca di depan cermin yang terpampang di balik pintu lemari miliknya, diliriknya jam yang kini sudah menunjukkan pukul tujuh malam, dan ia masih belum bisa memutuskan baju yang mana yang tepat untuk dipakai malam itu. Namun setelah mengingat-ingat bahwa ini hanyalah makan malam biasa, ia pun akhirnya pergi hanya dengan mengenakan kaos oblong hitam, celana jeans abu serta jaket jeans yang terlihat keren ketika ia kenakan , ia juga segera mengikat rambut jabriknya ala man bun dan menyisir kumis tebal serta janggut tipisnya sebelum ia akhirnya pergi dari kosan menuju lokasi pesta yang saat itu berada di salah satu restoran Seafood yang terkenal di daerah Jakarta.
Ia berjalan menuruni anak tangga, karena rumah kosannya saat itu berada di lantai dua dan lantai satu merupakan parkiran yang luas, kosan gaya itu sengaja dipilih olehnya, karena ia merasa setidaknya ia harus berolahraga ringan sebelum memulai sesuatu, dan turun tangga merupakan olah raga yang paling ringat menurutnya saat itu, itulah sebabnya mengapa ia memilih kosan tersebut. Ia berjalan menghampiri motor sport tercintanya, namun ketika ia hendak menaikinya, ia baru menyadari bahwa kunci motor miliknya tertinggal di atas nakas dan hal itu membuat Edwin menghela nafasnya dengan berat. Bibirnya tertekuk kebawah, dan matanya sama sekali tidak menunjukkan semangat yang membara seperti biasanya, ya … malam itu, ia terlihat seperti mau tidak mau untuk mendatangi pesta tersebut, kalau saja bukan sang Sustradara yang mengundangnya secara personal, ia tidak akan ikut ke dalam pesta tersebut, karena ia tidak menyukai pesta dan lagi ia tidak menyukai seafood. Namun apa boleh buat, tidak akan sopan jadinya jika ia tidak menghadiri pesta tersebut.
Dengan malas, Edwin kembali menuju kamar kosannya untuk mengambil kunci motor tersebut, ia setengah berlari ketika menaiki anak tangga itu, dan setelah ia meraih kunci motor miliknya, akhirnya ia pun pergi ke restoran yang dimaksud. Meski seharusnya ia berangkat sekitar jam enam, karena pesta dimulai jam satu jam dari sana, namun karena Edwin memang tidak niat untuk menghadirinya, pada akhirnya Edwin pergi pukul setengah delapan, dan itu satu setengah jam setelah acara dimulai. Edwin tiba di lokasi sekitar pukul sembilan lewat tujuhbelas menit dan hal itu membuat mereka-mereka menyayangkannya karena Edwin tidak kedapatan ikan bakar andalan milik restoran tersebut.
Sesampainya Edwin di restoran, layaknya seperti orang yang ditunggu-tunggu, sang sustradara segera memanggil namanya dan menepuk kursi kosong yang sepertinya sengaja dikosongkan tepat di sampingnya, dan gerakan itu seolah meminta Edwin untuk duduk tepat di samping sang sustradara. Hal itu pun membuat Edwin tersenyum dengan sopan, lalu berjalan menghampiri tempat itu dan duduk di sana.
“kamu kemana aja sih?? kan jadinya gak kebagian ikannya” ucap salah satu staff cantik di sana, ia menatap Edwin dengan kasihan … pasalnya Edwin hanya kedapatan cemilan ringan dan minuman. Meskipun begitu Edwin tersenyum dan menggelengkan kepalanya seraya berucap,
“nggak apa-apa kok, aku juga gak begitu suka sama ikan-ikan nan” jawaban Edwin membuat sang Sustradara yang berada di sampingnya kini tertawa dan menganggukkan kepalanya, ia menepuk-nepuk bahu Edwin dengan cukup bersahabat,
“yaudah, gak papa … yang penting kamu dateng kesini, nanti aku suruh mereka untuk bungkuskan kue-kue ini buat dibawa pulang sama kamu, ya?!” dan ucapan dari sang Sustradara pun langsung diberi gelengan kepala serta senyuman dari Edwin yang menolak untuk membawa pulang kue-kue yang dimaksud oleh sang Sustradara,
“oh, gak usah pak! Gak papa … saya juga gak begitu suka kue” tolak Edwin dengan sopan kepada sang Sustradara yang kini mengerenyitkan dahinya di sana, ia menoleh menatap cici sang asisten dan kembali menatap Edwin, dan dari tatapan sang sustra dara saat itu terlihat bahwa ia ingin memberikan setidaknya sesuatu untuk Edwin.
“kalau gitu bawa roti itu aja ya, ci bawain roti-roti yang gua beli tadi di sana!” ucap sang Sustradara pada wanita yang kini menganggukkan kepalanya, seolah tau apa yang dimaksudkan oleh sang sustradara, iapun segera pergi menuju mobil milik sang sustradara dan kembali hanya untuk mengambil dua kantung plastik yang berisi berbagai jenis roti di dalamnya, dengan segera ia memberikan dua kantung itu pada Edwin yang kini menggelengkan kepalanya untuk menolak, namun ketika ia merasa bahwa menolak tawaran sang Sustradara yang terlihat ingin memberinya itu pun pada akhirnya membuat Edwin menerima roti-roti itu,
“makasih ya Ci, makasih loh pak” ucap Edwin padanya yang kini menganggukkan kepala seraya menepuk-nepuk bahu Edwin dan berucap,
“nanti kalau ada job lagi gua ajak lu ya!” itulah yang ia ucapkan pada Edwin yang kini mengangguk mengiakan ucapan sang Sustradara, ia merasa sangat senang karena terlihat dari gelagat sang Sustradara bahwa ia puas dengan akting yang ditunjukkan oleh Edwin beberapa saat yang lalu, dengan bukti bahwa sang Sustradara sendirilah yang mengatakan bahwa ia akan mengajak Edwin untuk kembali bekerjasama dengannya lagi nanti.
Mereka memang selesai menyantap hidangannya, namun pesta tidak usai begitu saja. Mereka berbincang satu sama lain, tertawa dan bahkan bercanda, dan ini merupakan pengalaman pertama bagi Edwin yang menghadiri acara semiinformal seperti saat ini, mereka semua adalah rekan kerja yang berpartisipasi dalam pembuatan film. Banyak staff serta orang yang tidak Edwin kenali di sana, namun lambat laum ia mengenal mereka semua dan mulai berbaur malam itu. Mereka berpesta cukup lama, dan akhirnya mereka mengakhirinya pukul dua belas malam. Dan hal itu membuat Edwin menyadari bahwa pesta tidaklah seperti yang ia bayangkan, pesta juga mendekatkan dirinya dengan beberapa orang yang membuatnya bisa bersosialisasi dengan berbagai kalangan, mulai dari seksi properti hingga sang aktor utama.
Seusai pesta, Edwin berjalan menuju parkirannya seraya membawa dua kantung roti yang diberikan sang Sustradara padanya beberapa saat yang lalu, “Ed!” sebuah panggilan membuat Edwin menoleh menatap sang Sustradara yang baru saja keluar dari mobilnya, dan hal tersebut membuat Edwin tersenyum seraya mengangguk menjawab panggilannya, “ini! Bonus buat kamu!” ucapan sang Sutradara membuat kedua matanya kini menoleh menatap satu amplop coklat yang dikeluarkan oleh sang Sustradara dari sakunya dan memberikan amplop tersebut padanya,
“eh?? apa ini pak??” tanya Edwin pelan, ia menggelengkan kepalanya seraya menolak amplop itu, namun sang Sustradara menggelengkan kepalanya dan mengatakan bahwa ini merupakan apresiasi yang ia berikan secara khusus darinya untuk Edwin, karena ia merasa bahwa Edwin benar-benar melakukan semua take miliknya dengan sangat sempurna dan mendengar hal itu akhirnya membuat Edwin menerima amplop tersebut dan lagi-lagi ia berterima kasih kepadanya yang kini tersenyum dan mengangguk sebelum akhirnya ia pergi dari sana, “hati-hati di jalan ya!” ucap sang Sustradara, dan Edwin pun mengangguk mengiakannya.
Ia kembali merasa bersyukur, ia bersyukur karena sang Sustradara puas dengan apa yang telah ia lakukan dalam mendukung proses garapan film tersebut.
…
Edwin menjalankan motornya dengan kencang menuju kosan, karena ia tahu bahwa hari sudah gelap dan ia juga ingin untuk segera beristirahat di atas kasur empuk miliknya. Sesampainya Edwin di kosan, seperti yang ia bayangkan, ia meletakan seluruh barangnya diatas meja dan segera berlari dan melompat ke atas tempat tidur miliknya, ia bahkan menghela nafasnya dengan lega setelah ia merasa bahwa ia dapat melakukannya hari ini.
Edwin tidak langsung tertidur di atas kasur itu, melainkan merebahkan dirinya dan terdiam untuk waktu yang cukup lama. Ia mengingat kembali apa yang telah ia alami selama ini hingga akhirnya ia masih bisa tetap bertahan sampai di titik yang menurutnya nyaris ia capai, ia sudah mendapat apresiasi dari mereka-mereka yang memujinya dan itu membuat sebuah senyuman bahagia terulas dari bibir Edwin yang kini kembali memejamkan matanya dan kembali bersyukur karenanya, “kau sudah melakukan yang terbaik, Win! Semangat buat kedepannya ya!” gumam Edwin pada dirinya sendiri sebelum akhirnya ia pun tertidur di sana, ketika waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari.
to be continue.