-6.3-

1196 Kata
Pandangan Nauval saat itu tertuju kepada Shiren dan Raya yang baru saja turun dari lantai atas, dan hal itu membuatnya bertanya, “kalian udah menuin semua yang dicari??” sebuah pertanyaan yang terlontar dari Nauval saat itu diberikan anggukan oleh keduanya yang kini terduduk di samping meja ruangan tersebut serta meletakkan barang-barang dan juga makanan yang telah mereka temukan di sana. Berkali-kali Shiren menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri untuk mendapati kehadiran sang kakak namun ia tak menemukannya, yang pada akhirnya ia pun bertanya kepada Nauval, “kak Haris belum dateng?” tanyanya, dan mendengar pertanyaan itu membuat Nauval menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan tersebut, ia pun kembali menjelaskan, “mereka baru aja melewatiku, kurasa mereka berkeliling dan kak Choki memperlihatkan ini dan itu yang menurutnya keren” ucapan Nauval saat itu membuat Shiren dan Raya menoleh menatapnya, karena dari nada bicara Nauval … ia nampak seperti kesal terhadap tugas yang baru saja diberikan kepadanya. “kenapa kamu?? kamu kesel ya?” tanya Shiren kepadanya yang kini mengangguk dengan segera seraya berucap, “iyalah! Aku juga kan mau keliling vila keren ini … lah, aku malah kedapetan jagain pintu” gumamnya di sana, dan hal itu membuat Raya maupun Shiren saling bertatapan, pasalnya gumaman Nauval tidak terdengar oleh mereka berdua, hal itu diketahui oleh Nauval yang kini menggelengkan kepalanya seraya kembali menghadap ke arah pintu seraya berucap, “lupakan” kepada mereka berdua. Tidak butuh waktu lama setelahnya, Choki dan Haris pun datang seraya membawa beberapa senjata api yang membuat Shiren dan Raya terkejut karenanya. Setelah mereka mendapatkan barang-barang serta senjata yang diperlukan, merekapun sepakat untuk beristirahat dan pergi di siang hari. Choki berjalan menaiki tangga dan akhirnya berdiam diri di atap Vila untuk setidaknya melihat keindahan langit Bandung malam itu. Ia termenung menatap langit malam, ingatannya pun kembali kepada dirinya beberapa waktu yang lalu, yang dengan teganya menembak mati sahabat sekaligus saudara baginya, Daya. Ia telah melesatkan tembakan itu pada Dayan yang berakhir dengan dirinya kini memiliki banyak rasa penyesalan di sana. “kenapa di sini?” sebuah pertanyaan membuat Choki yang saat itu tengah memandangi tangannya pun segera menoleh menatap Raya yang datang di sana seraya membenarkan jaket yang ia pakai di sana, “di sini dingin tau” jelasnya lagi kepad aChoki yang kini tersenyum seraya berucap, “gak papa kok, Kiki suka yang dingin-dingin” jelas Ckoki kepada Raya yang saat ini berjalan mendekatinya dan kemudian duduk agak jauh dari Choki, dan hal itu membuat Choki menoleh menatapnya, “kenapa jauhan?? sini, Kiki gak akan gigit kok” sambung Choki kepadanya yang kini terkekeh pelan dan akhirnya menggeser dirinya agar mendekat dan duduk di samping Choki. “yang lain lagi ngapain??” tanya Choki kepada Raya yang kini menoleh menatapnya dan kemudian menjawab, “lagi pada masak mie, Kiki mau mie??” tawar Raya kepada Choki yang kini menggelengkan kepala menjawabnya, “nggak, Kiki gak laper, Aya sendiri gimana?? gak mau mie?” tanya Choki dan hal itu membuat Raya menggelengkan kepalanya dan berucap, “nggak ah, Raya juga gak laper” jelas Raya kepadanya yang kini menganggukkan kepalanya, … Sunyi, tak ada lagi pembahasan yang mereka lakukan saat ini selain terdiam satu sama lain, dan bagi Choki … hal seperti itu tidaklah baik dan tidaklah nyaman, hal itu pun akhirnya membuat Choki kembali memecahkan suasana dengan berucap, “gimana?? tadi aku denger Aya gak bisa gunain senjata ya??” tanya Choki kepadanya yang kini mengangguk mengiakan ucapan tersebut, “iyalah! Orang liat senjata beneran aja baru hari ini, tapi gak apa-apa … kan tadi teh Shiren bilang sama Aya kalau dia mau ngajarin pegang senjata” jelas Raya kepadanya, ia menoleh menatap Choki yang kini mengerutkan dahinya seraya bertanya, “emang Shiren bisa pegang senjata?” tanya Choki, dan hal itu membuat Raya segera menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan tersebut, iapun bahkan berucap, “iya! Bisa atuh … kan dia juga bilang sama Raya kalau dia teh sering main pinbal sama kakaknya” jelas Raya dan hal itu membuat Choki terkekeh ketika mendengar pengucapan Raya yang salah mengenai ‘paintball’ dan akhirnya ia hanya mengangguk dan kemudian berdiri dari duduknya, melihat hal itu membuat Raya menoleh menatapnya yang kini mengeluarkan revolver dari dalam sakunya dan kemudian memberikan senjata itu pada Raya yang kini nampak kebingungan karenanya. “hah?? naha dipasihan ka abdi?? (kenapa di kasihkan padaku??) ” tanya Raya kepada Choki yang saat itu merasa bersyukur karena setidaknya ia bisa seikit memahami bahasa sunda, yang pada akhirnya Choki pun menjawab, “belum pernah megang kan? Nah, sekarang Aya pegang nanti Kiki kasih tau cara nembaknya” jelas Choki kepada Raya yang kini memegang senjata itu cukup takut, dan melihat hal itu membuat Choki kembali berucap, “gak usah takut, gak papa kok” sambung Choki kepadanya yang seketika menoleh menatap Choki, menyadari hal itu membuat Choki menganggukkan kepalanya untuk meyakinkan Raya di sana.  Dengan bantuan Choki, Raya belajar cara menggunakan dan menembakan senjata dengan benar di sana. Ketika bidikan yang dilakukan oleh Raya tepat pada sasarannya, dengan spontan ia berteriak senang dan kemudian melompat-lompat dengan girang di sana, dan hal itu membuat Choki ikut tertawa senang karenanya. “yeay!!! Raya bisa, Ki!! lihatt, Raya bisa nembaknya!!” seru Raya kepada Choki yang kini menganggukan kepala seraya mengacungkan jempol untuknya. … Setelah cukup lama Raya berlatih dengan diajari oleh Choki di atap vila, keduanya kini tengah terduduk untuk beristirahat setelah sebelumnya merasa lelah karenamelompat kegirangan menyadari bahwa Raya lagi dan lagi membidik target dengan tepat. “Raya hebat! Baru diajarin satu kali, udah bisa nembak tepat lima kali” puji Choki pada Raya yang kini tersenyum menerima pujian itu, “makasih, Kiki juga hebat bisa ajarin Raya … pan padahal Raya teh suka susah kalau di ajarin, apalagi kalau di ajarin nari sama bu Yani” jelas Raya kepadanya yang kini menggelengkan kepala seraya berucap, “nggak kok, Raya juga bagus kalau nari” ucap Choki menimpali kata-kata Raya di sana dan hal itu membuat Raya kembali tersenyum dan berucap terima kasih, “oh iya! Kiki kok bisa gunain senjata ini sih?? apa Kiki juga sama kaya Shiren dan Nauv??” tanya Raya seraya menolehkan pandangannya menatap Choki, dan dari tatapan yang ditunjukkan oleh Raya, ia terlihat seperti sangat penasaran dengan hal itu dan akhirnya Choki pun bercerita mengenai kenapa dia bisa menggunakan senjata di sana. “nngak, kalau Kiki beda sama mereka, awalnya kiki mikir kalau main senjata itu bahaya dan gak ada gunanya … tapi Dayan, temen kiki itu ngotot dan ngajakin maksa kiki untuk ikut ke lapangan tembak, tempat orang-orang berlatih. Karena penasaran juga dan akhirnya Kiki cobain deh, udah gitu karena ketagihan… yauda, kiki jadiin ini sebagai olah raga kiki” jelas Choki menceritakannya secara singkat, dan hal itu membuat Raya mengerutkan keningnya dan berucap, “memang bisa yang kaya gini di jadiin olah raga??” tanya Raya, mendengar hal itu membuat Choki segera menganggukkan kepalanya dan kembali berucap, “bisa dong! Nih … Kiki buktinya” jelas Choki kepada Raya yang kini tertawa mendengar hal tersebut, “udah ah … udah malem, hayu ah ke bawah” ajak Raya kepada Choki yang kini menganggukkan kepalanya menanggapi ajakan Raya malam itu.  to be continue. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN