-6.2-

1097 Kata
“Oke, kita bagi-bagi tugas aja untuk sekarang” mendengar ucapan yang dilontarkan oleh Haris, membuat Raya, Shiren, Nauval dan Choki menoleh menatapnya yang kini memberikan perintah kepada mereka, “aku dan Choki akan mengelilingi tempat dan mencari barang yang setidaknya bisa dipergunakan untuk kita, aku mau tim cewe pergi berkeliling juga untuk mencari makanan serta perlengkapan medis, dan Nauval berjaga di pintu utama” ucap Haris, dan hal itupun membuat mereka mengangguk mengiakannya, kedua mata Shiren kini menoleh menatap Haris yang memberikan assault rifle kepada Nauval yang akan berjaga di pintu utama. “Shiren” sebuah panggilan dari Raya membuatnya menoleh, dan ketika Raya mengajaknya untuk berkeliling, iapun menganggukkan kepala dan mulai berkeliling untuk mencari makanan yang sebelumnya sudah ditunjuk oleh Choki. “hayu, kita cari bahan-bahan yang seenggaknya mudah kita bawa” ucap Raya dengan ramah kepada Shiren, dan hal itupun membuat Shiren tersenyum padanya dan menganggukkan kepala mengiakan ucapan Raya. Mereka berkeliling-keliling di sekitar di sana. Dengan tangan yang saling bergandengan, Raya menyinari sekeliling vila dengan senternya dan Shiren melihat-lihat di mana letak dapur yang tadi sempat di tunjuk oleh Choki. Pandangan Shiren kini tertuju pada Raya yang baru saja menggoyangkan genggaman tangannya di sana, dan setelahnya Raya menunjuk ke arah depan, dimana kulkas besar mereka temui di sana. Diliriknya Raya yang tersenyum kepada Shiren dan kemudian ia mengangguk dan kemudian berjalan dengan cepat menuju kulkas tersebut, namun menyadari ada sebuah pintu kaca di sana, membuat Shiren segera menghentikan langkah Raya dan segera menempelkan jari telunjuknya di depan bibirnya dan berucap, “ssst… ada pintu kaca di sana, matikan senternya!” ucap Shiren dengan pelan, dan hal itu membuat Raya terkejut dan segera mematikan lampu senternya dengan terburu-buru. “gimana atuh … kan kalau kulasnya di buka, lampunya nyala juga meureun (mungkin)” ucap Raya kepada Shiren yang kini juga tersadar dengan apa yang diucapkan oleh Raya, “iya juga … gimana ya? Kita harus cari ide nih” gumam Shiren di sana, kedua matanya menoleh ke sekeliling ruangan tersebut dan kemudian ia menghela nafasnya ketika menyadari bahwa ada gorden jendela yang terkait di balik pintu tersebut. “kita tutup aja gordennya yaa” ucap Shiren berjalan perlahan menuju pintu kaca itu dan kemudian menutup gordennya hingga tertutup dengan sepenuhnya. Shiren menoleh menatap Raya seraya tersenyum dan menunjukkan jempolnya di sana, setelah ia rasa bahwa membuka kulkas saat ini sudah sangat aman. “hayu, aku yang buka kulkasnya yaa … Shiren buka lemari yang lainnya oke?” ucap Raya seraya membuka kulkas tersebut, dan hal itu membuat Shiren menganggukkan kepalanya dan berjalan menuju beberapa lemari yang terletak di sana, ia pun kemudian membukanya dan mengecek apa yang ada di dalam lemari tersebut. “kue kaya gini bisa kita bekal gak??” sebuah pertanyaan yang terlontar dari Raya membuat Shiren yang mendengarnya segera menoleh dan melihat ia yang tengah memperlihatkan ice cream cake di sana, dan hal itu membuat Shiren tersenyum seraya menggelengkan kepalanya, ia mendekati Raya seraya berucap, “ini gak bisa kita bawa, tapi kita bisa makan untuk sekarang” ucapnya seraya meraih sendok yang ada di sana dan meraup kue tersebut lalu kemudian ia makan potongannya, dan ia segera memberikan sendok itu kepada Raya agar ia juga mencoba kue yang baru saja ia santap. Melihat hal itu, Raya pun mengikuti cara Shiren memakan kue tersebut dengan caranya, dan setelah potongan kue itu masuk ke dalam mulutnya, ia tersenyum karena merasa senang telah merasakan kue kota seperti ini, karena selama ini ia belum pernah merasakannya. “aku baru ngerasain kue es kaya gini, enak banget yaa” ucap Raya, dan hal itu membuat Shiren tertawa lalu mengangguk mendengarnya, “jadi, makanan mana yang harus kita bawa ya?? kalau di desa sih … biasanya kita bekel nasi, ikan, ayam sama sambel” sambung Raya seraya menoleh menatap Shiren yang kini terlihat berpikir di sana, sebelum akhirnya berucap, “kita pergi buat menyelamatkan diri teh, jadi … kita gak usah bawa makanan kayak biasa kalau kita mau pergi piknik, jadi menurutku yang bisa di bawa sih kaya roti, biskuit, sereal dan minuman botol gitu” jelas Shiren seraya mengeluarkan beberapa dus sereal yang terletak di dalam bupet sana, dan hal itu membuat Raya mengangguk mengerti dengan berucap, “oh … kaya keripik di dus gitu yaa, kalau gitu minuman kotak ini juga bisa kan yah?”  tanya Raya seraya mengeluarkan kotak jus jeruk yang berukuran kecil dari dalam kulkas itu, dan ketika Shiren melihatnya ia segera mengangguk mengiakan pertanyaannya. “kita juga harus cari obat-obatan, kaya obat merah, perban dan amoxilin” ucap Shiren seraya mencari-cari makanan lain dari bupet lemari yang terdapat di sekitaran sana, dan ia terhenti pada gandum serta yogurt yang tersedia. Ia mengeluarkan itu dan meletakannya di atas meja bersama dengan beberapa biskuit dan beberapa minuman kotak serta botol air mineral. Setelah Shiren rasa bahwa tidak ada lagi makanan yang layak untuk di bawa, ia pun mengajak Raya untuk segera mencari obat-obatan di sana. Mereka berdua berjalan ke atas dan berkeliling dari kamar ke kamar untuk mencarinya. Berakhirlah mereka ketika menemukan obat-obatan itu yang terletak di salah satu bupet yang terdapat di salah satu kamar mandi yang ada di sana. Kedua mata Raya berkali-kali menoleh menatap ke arah shower yang kemudian membuat Shiren merasa penasaran karenanya, “kenapa?” tanya Shiren kepada Raya, “boleh mandi gak sih?? wajah aku pakai make up, takut jerawatnya muncul kalau gak cepet-cepet di bersiin” tanya Raya seraya menoleh menatap Shiren yang saat itu tengah membuka kotak p3k yang baru saja mereka temui. Mendengar pertanyaan itu, membuat Shiren kembali menoleh menatapnya dan mengangguk mengiakan pertanyaannya tersebut. Ia meraih handuk yang terlipat dengan rapih di sana dan mempersilahkan Raya untuk mandi dengan berucap, “iya, mandi aja … aku jagain di sini, nanti kita gantian yah … kata ka Choki juga kita bisa pakai baju yang kita temuin di sini kan, kebetulan tadi aku liat ada baju di dalem lemari, jadi nanti teteh bisa pakai baju itu” ucap Shiren dan hal itu membuat Raya menganggukkan kepalanya, ia merasa beruntung karena ada Shiren di sana, karena setidaknya ada sosok perempuan di sisinya saat ini. Raya masuk ke dalam kamar mandi dan mulai membersihkan dirinya, sedangkan Shiren masih berkutat dengan obat-obatan yang ia temukan di sana, membutuhkan waktu dua puluh menit bagi Shiren untuk berjaga di kamar itu hingga akhirnya Raya sudah selesai membersihkan dirinya di sana dan ia pun bergantian dengan Shiren untuk berjaga. Setelah keduanya selesai, mereka pun segera turun ke bawah membawa obat-obatan yang telah ditemukan dan kembali ke tempat awal, agar mereka bisa dengan mudah bertemu yang lainnya.  to be continue. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN