Memiliki permasalahan dalam ukuran tubuh adalah hal yang mungkin akan di benci oleh beberapa wanita. Bukan saja mengganggu namun juga merusak pesona dari orang itu.
Namun bagi Cila kedua hal itu tak akan menjadi perkaranya. Walau dirinya memiliki ukuran tubuh yang berlebih ia masih merasa cuek dan PeDe dengan itu semua.
Hanya saja dalam waktu tertentu ukuran tubuh nya ini bisa membuatnya sedikit emosi dan menahan rasa kesal yang mencuat sampai ke puncak kepala. Membuatnya mati-matian menahan rasa gatal di tangan karena ingin sekali menggetok seseorang yang telah membuatnya kesal.
Persis seperti yang ia alami kali ini, dirinya yang tengah duduk tenang di sebuah kursi bis umum dengan lantunan lagu yang semakin membuatnya tenang dari gaduhnya bis itu, harus kandas saat itu juga tatkala ada seorang gadis yang mungkin umurnya jauh di bawah dirinya baru saja masuk dan menjadi penghuni baru dalam bis itu.
Bukan, bukan kedatangan gadis itu yang membuat Cila meradang Emosi. Melainkan kelakuan dan mulut gadis yang seolah tak memiliki rem dan seperti sudah sering di beri cabe rawit, hingga menghasilkan kalimat perkata yang menyentil hatinya hingga berkobar karena kepanasan akibat luapan amarah.
Jelas saja. Mungkin jika gadis berseragam putih abu itu datang dan duduk diam Cila pun akan diam. Namun sepertinya itu tak berlaku untuk gadis berseragam putih abu itu, pasalnya baru datang saja, gadis dengan make up tebal itu sudah berani dengan lancangnya melepas paksa headset yang ada di telinga Cila.
Bahkan bukan cuma itu saja, mulut nya yang teramat pedas itu pun dengan santainya mengeluarkan kalimat yang sedikit menyinggung perasaan Cila.
"Tan, kalo di bis itu liat-liat dong. Jangan asik sendiri, udah tau penuh dia malah asik duduk sambil mejemin mata, dengerin musik kenceng sampek gak denger di panggilin orang. Ini di tempat umum, bukan mobil pribadi, jadi geser dong bagi tempat. Saya juga mau duduk."
Cila tertegun mendengar ucapan Gadis menor itu, menatapnya dari atas hingga kebawah dan menilai penampilan gadis itu.
Cantik, tapi sayang mulutnya kayak cabe, pedes gila.
Bodynya juga bagus, tapi sayang di umbar geratisan. Ketara bener murahan.
Cila terkadang heran dengan tingkah gadis SMA jaman sekarang, bukan cuma gadis SMA saja. Bahkan sekarang hampir semua spesies yang bernama perempuan yang akan beranjak dewasa pun memiliki tingkah dan prilaku yang sama dengan apa yang ia lihat sekarang.
Masih sekolah saja penampilan bak wanita penghibur dan pemuas nafsu si singa buntung.
Memakai pakaian yang terlampau ketat, menunjukan seberapa panjang garis buah dadanya. Bahkan banyak yang memperlihatkan separuh dari buah keindahan dunia itu.
Bahkan parahnya lagi, banyak wanita yang berlaga memakai jilbab tapi di bagian bawah tercetak jelas lekut daerah terlarang karna memang pakaian yang mereka kenakan tak mampu menutup itu semua, atau malah itu semua memang di sengaja?. Entah lah...
Berhijab kok pamer. Percuma rambut di tutup tapi buah melon dan kulit durennya ngecap kemana-mana, apa gak mending di buka semua aja kan?
Jujur Cila belum berani memakai hijab karna dirinya sadar jika perlakuannya masih belum bisa dan belum pantas untuk memakai hijab. Lebih baik seperti ini, tapi mampu menutupi seluruh anggota terlarangnya. Mampu menutup aset berharga dari orang yang tak bertanggung jawab.
Bahkan terkadang Cila bertanya-tanya. Apa mereka tidak malu dengan apa yang merka kenakan?. Lalu apa orang tuanya hanya diam saja melihat pakaian yang di kenakan putrinya itu.
Bukan menegur atau melarang.
Sudahlah dunia ini serasa sudah tak masuk di akal lagi.
Banyak orang tua yang terkesan acuh dan membiarkan anak mereka bergaul sesuka hati mereka.
Membiarkan anak di bawah umur mengendarai kendaraan bermotor tanpa pengawasan. Membanggakan penampilan sang anak yang terkesan modis, tapi malah mengumbar seluruh aset berharga mereka.
Jujur Cila pun sering mengenakan pakaian yang terbilang sexy. Hanya saja ia menenakan itu jika berada di kamar atau saat tidur saja. Selebihnya mana pernah ia berani.
Bahkan membiarkan anak mereka berkeliaran hingga tengah malah bahkan larut malam.
Dan parahnya lagi, anak sekolah dasar jaman sekarang terkesan lebih pintar dari para orang tua. Pasalnya mereka yang masih di bawah umur sudah mampu menggunakan ponsel pintar yang harganya bahkan lebih mahal dari harga sepatu dan peralatan sekolah mereka. Boleh lah asal ponsel pintarnya itu di gunakan untuk mencari sumber materi atau pelajaran sekolah, lah ini?, Bukan buat belajar eh malah buat pacaran dan berbuat yang tidak-tidak.
Bukan sok pintar dan sok suci. Hanya saja Cila sadar dengan perlakuan tidak baik seperti itu. Dari kecil Cila sudah di ajarkan kedisiplinan lebih, dan alhamdulillah itu masih ia terapkan sampai sekarang. Maka dari itu ia sangat mewanti-wanti agar putri kesayangannya itu tidak terbawa arus kids jaman now.
Merasa di tatap aneh oleh Cila, gadis berdandanan ala ondel-ondel itu mengerutkan keningnya. Kembali mulutnya mengeluarkan perkataan pedas yang semakin menambah satu garis kadar kejengkelan Cila.
"Kenapa?, kagum karna gue cantik?, atau kagum karna gua sexy?"
Bah... kagum?, yang ada malah jijik be(cabe).
Namun ucapan itu hanyalah tertinggal terdiam di dalam mulutnya. Cila tak mau membalas ucapan dengan ucapan, ia memilih diam dan memasang senyum. Menggeser tubuhnya untuk memberi ruang bagi sang ondel-ondel untuk bisa duduk.
Cila kembali memasang hadset yang tadi sempat terlepas dan kembali menikmayi perjalanannya tanpa suara.
Hingga mobil yang di timpangi Cila melewati jalanan Jalanan yang memang masih dalam tahap perbaikan, hingga mbuat jalanan itu bergelombang dan memiliki banyak lubang yang mwmbuat mobil mau tak mau berguncang.
Bagi Cila itu sudah biasa. Berguncang dalam bis memang makan yang harus ia telan kala menaiki kendaraan itu.
Hanya saja lain dengam Cila, lain pula dengan gadis yang duduk di sebelah cila. Gadis ondel-ondel itu merasa terganggu. bukan karna guncangan saja, tapi juga dengan gencetan dan desakan yang Cila berikan.
"Astaga, tan kalo punyak tubuh gede itu jangan malah merem aja kenapa sih. Badan Lo tuh ganggu orang tau gak. Udah p****t segede ban truk, masih aja diem!".
Kembali, gadis ondel-ondel itu menyuarakan suara pedasnya. namun hanya di diamkan oleh Cila, ia lebih memilih bersikap acuh dan tak peduli. Kemudian Cila menggeser pantatnya hingga mentok di dinding bis dan kembali mengacuhkan ondel-ondel itu.
Namun rupanya, apapun yang di lakukan Cila seolah selalu salah dimata gadis Ondel-ondel itu. Terbukti kala ban belakang mobil itu tak mampu menghindari lubang dan membuat para penumpang sedikit melompat karenanya. Tubuh Cila kembali menggempet tubuh gadis ondel-ondel hingga membuat ia memekik.
"Tante ih. Di bilangin kalo punyak tubuh gede itu di jaga, sakit nih kegencet p****t tante"
Cukup. Habis sudah kesabaran Cila. Ia tak tahan lagi dengan ucapan gadis di sebelahnya itu.
"Heh gadis ondel-ondel, saya dari tadi udah diem aja ya, situ ngomong apa aja juga saya cuma diem, tapi kalo situ masih aja ngomong yang nyelekit saya gak tahan. Sumpah ya situ di kasih makan apa sih sama orang tua situ. heran saya, mulut kok bisa pedes banget kaya cabe rawit"
"Heh tente!, makanya besok lagi kalo udah tau punyak badan gede itu jangan sibuk sendiri. Pikirin yang di sebelahnya dong. Udah tau badan menuh-menuhin tempat masih aja naik bis!."
Habis sudah kesabaran Cila. Biarlah kali ini akan menjadi masalah, toh dirinya tak merasa bersalah ini. "Wah... ini nih ciri gadis yang pernah belajar sopan santun. Situ gak malu pake baju putih abu tapi punyak mulut kaya kotak sampah. Cuci gih biar bersihan!"
Merasa tak terima gadis ondel-ondel itupun menyerukan suaranya kembali, mengeluarkan kata pedas yak tak selesai hingga akhir kalimat.
"Eh, tante-tante. Denger ya mau gua pake baju apa kek. Mau gua ngomong apa kek. Itu urusan gua dan bukan urusan lo ja-"
"Sama halnya dengan saya, mau badan saya besar kek, mau saya gemuk kek, itu urusan saya karna ini hidup saya. Jadi kalo situ merasa terganggu pergi gih, toh emang bukan saya yang salah kan. Bisnya aja yang goncang jadi bikin tubuh saya ikutan gerak. Makanya punyak badan jangan kecil-kecil amat, punyak badan triplek geh sok. Situ itu masih anak sekolah tapi penampilan udah ngelebihin saya. Gak malu?. Gak nyadar?. Gak kasian sama orang tua hah?"
Skak. Gadis itu terdiam tak mampu membalas ucapan Cila, mungkin bukan tak mampu hanya saja enggan karna apa yang di ucapkan cila memang ada benarnya. Dengan sendirinya gadis ondel-ondel itupun beranjak dan menyetop bis itu, setelah bis berhenti barulah gadis itu turun tapa suara dan sepatah kata pun.
Cila yang melihat itu hanya tersenyum miris, betapa parahnya generasi jaman sekarang. Apalagi melihat sosok gadis itu, seolah menjadi contoh gadis Usia belia yang tak pernah di ajarkan sopan santun, atau memang akibat pergaulan yang semakin menjadi parah seiring perkembangan jaman.
Entahlah... yang bisa Cila lakukan hanya berusaha dan mengawasi putri kesayangannya. Memberi kasih sayang dan perhatian lebih, berharap jika gadisnya kelak tak akan menjadi sosok yang seperti itu.