Ma-bo - 4

1455 Kata
Menjadi wanita dewasa yang memiliki tanggung jawab lebih membuat Cila harus pintar dalam membagi waktu. Apa lagi dirinya sudah bukan gadis bebas lagi, melainkan sosok ibu yang memiliki putri yang sangat memerlukan kasih sayang lebih darinya. Seperti pagi ini, Cila yang memang seorang pemilik beberapa cafe harus selalu turun dan mengecek sendiri semua cafe miliknya. Tepat setelah Cila selesai menyiapkan sarapan untuk dirinya dan putri kecilnya itu, Cila langsung bersiap dan membangunkan Caca. Membantu putri kesayangannya bersiap, kemudian setelah semua selesai barulah Cila mengajak Caca untuk sarapan bersama. Memang setelah kedatangan Caca di dalam kehidupan Cila. Ibu satu anak itu lebih memilih untuk tinggal sendiri bersama Caca di sebuah komplek perumahan yang tak jauh dari rumah kedua orang tuanya. Mandiri dan tak ingin merepotkan ibunya adalah alasan yang pas dan sukses membuat Fisa mau tak mau mengijinkan Cila tinggal berdua di rumah minimalis hasil keringat Cila sendiri. Fisa yang kala itu memang tengah direpotkan dengan kehamilan kakak tertuanya Ela, mau tak mau mengijinkan Cila untuk tinggal sendiri walau di awali perdebatan panjang. jujur Cila sebenarnya tak tega hati meninggalkan Fisa, hanya saja melihat Fisa kerepotan mengurusi Ela, yang begitu manja saja sudah pegang jidat apa lagi di tambah dengan mengurus Caca dan dirinya. Maka dari itu Cila lebih memilih hidup sendir,i dan mengurusi semuanya sendiri. Setelah urusan sarapan selesai barulah Cila mengantarkan Caca kesekolah. "Inget, jangan nakal. Mainnya juga gak boleh asal. Jangan jahilin Dava dan bekalnya di mamam. Nanti siang seperti biasa mommy bakal jemput," pesan Cila pada putrinya. Terkesan tegas dan galak, namun bagi Caca itu adalah sebuah ucapan sayang yang di berikan oleh Cila untuk dirinya. Setelah mengangguk dan menjawab "oke" Caca langsung meraih tangan Cila. Tak lupa meninggalkan bekas kecupan di punggung tangan dan kedua pipi mommy nya. Setelahnya Cila pamit dan menemui Ibu Monic pemilik yayasan itu sekaligus pengajar disana, menitipkan Caca pada beliau dan barulah Cila berangkat ke Cafe yang memang sudah menjadi tujuan utamanya. Dua jam terjebak dalam kemacetan panjang dan kebisingan dunia pagi di ibu kota akhirnya Cila sampai di sebuah Cafe yang terletak di daerah kapuk kamal. Setelah memarkirkan mobilnya Cila langsung melangkah masuk dan langsung di sambut oleh para pegawai di sana, seperti biasa Cila sang bos ramah itu pun menjawab setiap sapaan dengan senyum ramah yang terukir indah di bibir tipisnya. Ya walau tertutup oleh pipi gembul miliknya. "Selamat pagi bu. Berkas yang ibu minta semua sudah saya siapkan di ruangan ibu," sapa ramah seorang wanita paruh baya yang telah menjadi orang kepercayaan Cila untuk memegang dan mengurus cafe itu. "Makasih, tan. Cila langsung cek aja ya soalnya Cila juga gak bisa lama-lama di sini. Ada janji sama temen nanti." Wanita paruh baya yang biasa di panggil tante Dewi itu tersenyum, kemudian mempersilahkan Cila untuk masuk kedalam ruangannya. Setelah itu barulah ia undur diri ke dapur. *** 3 jam lamanya berkutat dengan segala laporan keuangan pemasukan dan keluhan yang masuk kedalam daftar setiap catatan, di tambah 1 jam memberi pengarahan pada pegawai untuk melakukan sedikit perombakan menu yang dieluhkan pelanggan yang merasa bosan dengan menu biasanya dan pelayanan yang selalu menjadi poin penting untuk Cafe itu, akhirnya Cila bisa bernafas lega dan beristirahat. Kini gadis bertubuh gempal itu tengah berada di sebuah warung kaki lima yang menjajakan beragam makanan. Dan untuk hari ini karena tenaganya sudah terkuras banyak, Cila memesan makanan yang sangat menggiurkan untuk orang yang tengah kelaparan. Soto babat dengan seporsi nasi putih hangat di temani Es jeruk, adalah menu yang sanggup mengeluarkan air liur seorang Cila. Setelah pesanan miliknya tersaji dengan indahnya di atas meja, Cila tak ingin menghabiskan banyak waktu. Segera saja ia meraih sendok dan garpu, kemudian sedikit meracik soto pesanannya itu. Menambahkan sedikit kecap manis dan sedikit perasan jeruk nipis. Setelah di rasa pas, barulah Cila memulai ritualnya. Ritual wajib dalam urusan perut. Namun sayang baru saja ia akan memasukan sendok berisi nasi dan kuah soto itu kedalam mulutnya, sebuah tepukan tangan di pundak membuat ia terpaksa menggantikan kegiatannya. Dengan perasaan sedikit kesal Cila mendongak hingga mendapati seorang pria dengan setelan kemeja biru yang tergulung hingga siku, di tambah penampilan terkesan rapih dengan rambut potongan gaya tim-tim. dan jangan lupakan bulu halus yang tumbuh di atas bibirnya seolah menambah kadar ketampanan dari pria itu. Ok, intinya Cila sedikit merasa kesal karena kegiatannya telah terganggu oleh pria yang tidak di kenalnya. Bahkan pria tampan itu kini menatap Cila dengan tatapan penuh tanya dengan kerutan kening yang terlihat, seolah pria tampan itu tengah berfikir keras. "Eh, lo Ecil anak IPA 1 itu bukan sih?" Ujar pria tersebut sedikit ragu. Namun setelah melihat reaksi dari Cila, barulah pria dengan antusias tinggi itu yakin, jika yang ada di hadapannya itu benar Cila yang ia maksud. Tentu saja Cila langsung tau siapa sosok yang ada di hadapannya kini. Dari cara Pria itu menyebutkan namanya saja Cila sudah paham. Hanya satu cowok yang memanggilnya dengan sebutan Ecil, Cowok itu adalah cowok tengil, reseh, dan selalu saja mengganggu Cila semasa SMA. Dan jangan lupakan jika pria di hadapannya kini, adalah pria yang selalu membuat Cila merasa jengkel bukan main. Dan bodohnya kenapa Cila malah memberikan ekspresi jenawa. Ekspresi yang begitu mudahnya untuk di kenali oleh pria itu. Dengan santainya kini pria yang tak jadi tampan di mata Cila itu menarik kursi yang ada di depan Cila. Duduk disana dan bahkan dengan lancangnya ia berani merebut gelas minuman Cila. Menenggaknya hingga tersisah setengah. "Iya bener lo itu Ecil. Gadis cengeng yang sok jadi pahlawan dulu," ujar pria yang kini sudah semakin keterlaluan karena berani mengambil potongan daging soto kesukaan Cila. Merasa semakin kesal, Cila memukul tangan kanan pria itu dengan sendok yang ada di tangannya, hingga membuat pria itu memekik kesakitan. "Lo boleh ejek gua dengan sebutan apapun itu. Lo juga boleh ambil tu minuman." Ucap Cila penuh penekanan sembari menunjuk pada gelas yang isinya hanya tinggal setengah, "tapi, sampek lo berani ambil ini daging kesukaan gua. Abis lo sama gua!" "Ck, pelit amat sih cil. Cuma danging juga." "Diem deh cel. Lo baru dateng aja udah bikin gua kesel, kalo mau reseh itu nanti, gua laper sekarang. Suka makan orang kalo lagi laper! Mau, elo gue makan?" Pria yang sering di panggil Cel atau lebih tepatnya Marcelo itu hanya berdecak. "Fine. Lo abisin gih tu makanan. dan gua bakal diem." setelah mengucapkan itu. Marcel menopang dagunya dengan tangan kanan sembari memperhatikan setiap pergerakan Cila. Tanpa berkomentar Cila melanjutkan kegiatannya. Memakan porsi jumbo soto babat dengan santainya tanpa terganggu oleh kehadiran Marcel. "Udah?" Tanya marcel kala melihat Cila menyuapkan sendok terakhir makanannya. Tanpa jawaban, Cila kini meraih gelas es jeruk yang tersisah setengah itu meminum melalui pitpet tanpa rasa jijik sekali pun itu bekas Marcel. "Jadi, udah berapa lama kita gak ketemu ya, dan apa yang gua lihat, nafsu makan lo masih aja banyak" Merasa tersindir Cila memincingkan matanya. Tanda bahwa dirinya siap beradu arguman dengan lawan di hadapannya kini. "Emang kenapa gua makin doyan makan, Masalah buat lo? Dan soal berapa lama gak ketemu? tau deh. Gak terlalu penting buat gua pikirin." Marcel melepas tawanya kala mendengar jawaban ketus dari Cila. Bukan merasa takut, Marcel malah semakin berani. Terbukti dari cara ia memajukan wajahnya hingga tersisah beberapa centi dari wajah Cila. "Jutek amat neng. Jadi makin cantik aja sih kalo jutek gitu." Ini lah hal yang paling di benci Cila dari Marcel. Sosok pria dengan sejuta parasnya dan mulut berbisa dengan segala kata manis nan mematikan itu. Cila tak mau kalah, ia pun dengan beraninya mendekatkan wajahnya hingga kedua hidung itu nyaris saja bersentuhan. "Emang kenapa kalo gua makin cantik, hem? Dan, well, Gua rasa lo perlu cepet-cepet ke dokter mata deh!" Marcel tersenyum melihat keberanian Cila, bahkan dengan santainya ia menjawab segala ucapan penuh penekanan milik Cila. "Entah, bisa aja kan gua jatuh hati sama kecantikan lo." Cila ikut tersenyum mendengar jawaban Marcel, bahkan kini Cila berani memiringkan wajahnya. Perlakuan yang sukses membuat Marcel menatap penuh tanya. Namun, naas belum saja pria itu mengutarakan pertanyaanya, Cila dengan lancangnya sudah menggigit hidung mancing milik Marcel dengan gemas hingga membuat pria itu memekik kaget. "Apaan sil Cil. Sakit nih." ucap Marcel begitu hidungnya terbebas dari terkapan Cila. "Salah sendiri bikin gua gemes. Udah ah gua cabut." ujar gadis yang kini telah melanglah leluar itu, bahkan dengan santainya Cila meninggalkan Marcel. "Sekalian bayarin tu soto, gua gak bawa duit. Lo telpon aja nanti gua ganti tu duit." tambahnya tanpa rasa bersalah sedikitpun dan seolah paham akan maksud kedatangan Marcel. Marcel yang di perlakukan seperti itu hanya terdiam cengo. Menatap punggung Cila hingga menghilang. Setelahnya barulah ia sadar dengan apa yang di ucapkan Cila. Kedua sudut bibir itu terangkat dengan mudahnya membentuk sebuah senyum yang terbit di bibir Marcel. Hanya satu tugasnya setelah ini mencari dan mendapatkan nomor ponsel Cila kemudian ia akan menagih semuanya. __
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN