Ma-bo - 5

1689 Kata
Hari libur adalah hari yang paling di nanti oleh beberapa orang. Tentu saja libur dari segala jenis kepenatan pekerjaan yang selalu membuat otak pening adalah hari yang begitu diharapkan. Berkumpul dengan sanak keluarga atau mengunjungi tempat rekreasi adalah pilihan yang mungkin akan di pilih oleh mereka, atau bahkan ada yang memilih berdiam diri di rumah. semua akan mereka lakukan bersama keluarga terkasih, bercanda bergurau demi menikmati waktu yang sudah terbuang karena pekerjaan, apapun akan mereka lakukan untuk itu. Begitu juga dengan ibu yang memiliki tubuh berlebih ini dalam menghadapi hari liburnya, walau Sebenarnya Cila memang setiap harinya libur dan tidak pernah bekerja, karena memang pekerjaannya hanya mengecek beberapa berkas pengeluaran dan pemasukan di Cafe miliknya, namun tetap saja dia sudah merencanakan liburan untuk putri semata wayangnya. menghabiskan waktu untuk bersenang-senang dengan Caca adalah sesuatu yang dia inginkan Bahkan Caca putri semata wayangnya itu, sudah menunggu akan datangnya hari libur seperti ini, pasalnya Cila pernah berjanji akan mengajak Caca berlibur ke pantai saat hari libur datang. Dan hari ini adalah hari keberuntungan Caca, dimana hari jum'at yang memiliki angka berwarna merah kemudian di susul hari sabtu dan minggu yang berarti dirinya akan mendapatkan hari libur panjang. tentu saja dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini untuk bersenang-senang. Terlihat jelas bagaimana kesibukan yang gadis kecil itu lakukan di pagi ini. Mengeluarkan segala isi lemari guna memilih baju mana yang akan ia bawa, setelah menemukan apa yang ia inginkan, barulah Caca memasukan baju pilihannya ke dalam sebuah rangsel kecil. Membiarkan pakaian yang tergeletak tak berdaya di lantai, pekerjaan tambahan untuk seorang Cila tentunya. kemudian kaki mungilnya bergerak ke sebuah kotak penyimpan mainannya, melakukan hal sama dengan apa yang di lakukan pada lemari pakaiannya. Mengeluarkan segala isi dan memilih mainan mana yang ia suka dan akan ia bawa. Hanya saja kali ini Caca langsung membereskan kembali mainannya. Kericuhan yang disebabkan Caca sama sekali tak di sadari oleh Cila, yang saat itu memang tengah sibuk menyiapkan sarapan dan beberapa bekal untuk Piknik nanti. dia ingin hari liburnya kali ini begitu berkesan untuk Caca. maka sejak pagi wanita bertubuh gembul itu sudah menyiapkan dan mengolah segala jenis makanan yang akan dia bawa nanti. setelah semua selesai dan terususun rapih, Cila beranjak ke kamar Caca untuk membangunkan putri kecilnya itu dan menyuruhnya untuk mandi. lalu ibu beranak satu itu sukses membelakan matanya kala melihat keadaan kamar Caca. Kamar tidur yang berantakan dan lemari pakaian yang sudah mirip dengan lemari yang baru saja dibobol maling. sungguh luar biasa putri kecilnya itu. Cila menggelengkan kepalanya. dia tidak marah ataupun kesal, yang Cila lakukan hanya tersenyum sembari mengingat kembali masa kecilnya dulu. Mungkin inilah yang dirasakan Fisa kala Cila berhasil membuat kamarnya berantakan dulu. kesal dan ingin marah rasanya, tapi dengan sabar Fisa hanya tersenyum sembari mengelus dengan sayang Cila yang saat itu menangis karena merasa bersalah dengan kelakuannya. dan sekarang dia mengerti kenapa mommy-nya tidak marah karena kelakuannya, semua karena rasa sayang dan cinta kepada anak yang membuat seorang ibu tidak tega memarahi abak-anaknya. Ah... rasanya Cila rindu dengan Fisa, apakah mommy-nya itu baik-baik saja saat ini? mungkin dia akan berkunjung di akhir pekan nanti untuk melepas rindu yang menyusup kedalam hatinya. Sebelum membereskan kamar putrinya, Cila berjalan perlahan mendekati pintu kamar mandi yang di dalam kamar Caca yang sedikit terbuka. Cila melirik sekilas guna melihat apakah putri kecilnya ada di sana atau tidak. Setelah melihat apa yang ada di dalam sana barulah Cila bergegas membereskan semua hasil perbutanan Caca. Melipat dan kembali menyusun baju kedalam lemari setelahnya, barulah ia membenahi alas kasur milik Caca. Namun satu hal yang sukses membuat kedua sudut bibir Cila tertarik ke atas dan menciptakan lengkungan indah. sebuah tas yang sudah terisi, tergeletak di atas ranjang dan sebuah mini dress berwarna biru yang baru di belikan olehnya minggu lalu sudah siap untuk di kenakan. Cila tahu, caca memang sudah menunggu cukup lama untuk waktu libur seperti ini, bahkan tanpa di suruh dan di paksa untuk bangun pun Caca dengan sendirinya sudah berinisiatif menyiapkan segala keperluannya sendiri. Walau, ya... memang belum semuanya lengkap karena setelah Cila periksa kembali, isi tas Caca hanyalah berisikan baju-baju renang, rok dan kaos lucu kesukaannya. Tentu masih banyak yang di lupakan oleh putri kecilnya itu, hanya saja Cila maklum dengan itu semua. Caca masih kecil dan belum begitu paham dengan semua keperluannya, tapi dengan perkembangannya saat ini dia sudah sangat bersyukur. ternyata putrinya memiliki pemikiran mandiri dan tidak ingin merepotkan dirinya. Sembari menunggu Caca selesai mandi, Cila mulai menyiapkan segala keperluan Caca yang lain. Seperti bedak, minyak telon dan yang pasti pakaian dalam milik Caca. Barulah setelah Cila selesai dengan keperluan dan kerapihan kamar Caca, putri kecil kesayangannya itu selesai dengan acara mandi paginya, keluar dengan mengenakan handuk yang ia lilitkan di tubuhnya, dan hampir menutup seluruh tubuh Caca karena memang handuk itu masih terlalu besar untuknya. Cila menoleh, menghampiri putri kesayangannya itu dan membawanya kedalam gendongannya. "Princesnya mommy pinter banget sih, udah mau mandi sendiri." Pujinya sembari memberi banyak kecupan di pipi Caca. "Emm... udah wangi lagi. Anak capa cihh?" tanya Cila dengan nada gemas, dia mencuri beberapa kecup di pipi Caca membuat gadis kecil itu menggeliat karena geli. "Geli mom. Aku kan anak omy. Memang anak capa lagi?" tanya Caca dengan nada polos, tangannya menangkup kedua tangannya di pipi Cila lalu mengecup bibir sang mommy dengan sayang. Ada nada bangga yang keluar dari mulut Caca saat menyebutkan dirinya putri siapa. Seolah Cila adalah ibu terbaik yang ia miliki. "Emm masa sih? pantes aja cantik banget, anak mommy toh." jawab Cila yang semakin gemas dan kembali menghujami Caca dengan ciuman. "Iya dong, Caca kan anak mommy" ucapnya manja, Caca tidak mengelak, bahkan kini tangannya sudah melingkar pada leher Cila dan ikut membalas setiap kecupan yang ia dapat. "Udah cantik gini emang mau kemana sih?" tanya Cila mencoba menggoda putrinya "Ke pantai!" jawab Caca antusias. "Pantai?" Tanya Cila sembari memasang ekspresi penuh tanya, tentu saja bertujuan untuk menggoda Caca. dan sepertinya trik yang Cila berikan sudah tak berpengaruh lagi, terbukti dari cara Caca menangkap dan mengembalikan ledekan Cila. "He'em. Omy kan udah janji mau ajak Caca ke pantai." "Em... masa sih? Emang kapan mommy bilang gitu?" "kemalen, omy bilang kalo libul bakal ajak Caca kepantai. Telus omy juga bilang cama Caca kalo mical Caca boong bakal dosa, benel kan mom?" ujar Caca dengan nada polos. Cila terdiam, niat hati ingin menggoda Caca namun gagal sudah, semua karena putri kecilnya itu sudah semakin pintar dalam membalikan ucapan Cila. persis seperti dirinya, dan Cila berpikir apakah Caca meniru perlakuannya saat berdebat dengan Fisa? jika iya maka berdosa sekali dirimu Cila! "Yah, oke deh mommy ngaku kalah, yaudah sini Caca pake baju dulu, baru abis itu Caca tunggu mommy mandi." ucap Cila dengan nada sedikit kecewa yang di buat-buat. Caca mengangguk, kemudian berdiam diri saat Cila mengolesi tubuhnya dengan minyak telon dan bedak di seluruh tubuhnya, kemudian ditutup dengan pakaian dalam dan gaun yang memang sudah Caca siap tadi. Gadis kecil itu memilih memejamkan matanya kala tepung bedak itu tepat mengenai wajah halusnya. "Nah sudah, sekarang Caca kedepan dulu sambil tungguin mommy ya?" "Ok mom. Tapi jangan lama-lama ya." "Siap sayang. Yaudah yuk." Cila kembali meraih tubuh putri kecilnya itu kedalam gendongannya hingga sampai di ruang tamu. Setelahnya ia menurunkan Caca dan beranjak menghidupkan tv di stasiun yang menayangkan film kartun kesukaan Caca, barulah ia meninggalkan Caca untuk bersiap diri. *** Tiga jam terjebak dalam kemacetan, akhirnya Cila sampai ditempat tujuan awal. Yap, pantai ancol yang selalu di dambakan oleh Caca. kini Cila menjalankan mobilnya dengan perlahan mencari dimana tempat parkir yang pas dan tak jauh dari tempat ia bermain air nanti. Setelah menemukan tempat kosong barulah Cila membangunkan Caca yang tengah tertidur lelap, mungkin kelelahan karena sepanjang perjalanan tadi, Caca menghabiskan waktu dengan bernyanyi mengikuti irama lagu anak yang di putar oleh Cila. "Sayang bangun yuk udah sampek nih, katanya mau main air?" Guncangan pelan yang di berikan Cila sukses membuat Caca terbangun. Ia langsung menegakan tubuhnya begitu sadar jika dirinya telah sampai di pantai. "Udah campek mom?" "He'em. Bangun yuk, ganti baju terus main air." Caca yang memang sudah tak sabar lagi untuk bermain di pantai, langsung saja bangun dan melepas pakaiannya dengan sembarang. Kelakuan yang sukses membuat Cila menggeleng tak percaya. Setelah sukses menanggalkan gaunnya, kini Caca menoleh ke kanan dan ke kiri, seolah dirinya tengah mencari sesuatu. Merasa tak menemukan apa yang di carinya barulah Caca menoleh kearah Cila, menatapnya penuh harap. "Cari baju renang sama bebek ya? tenang semua udah mommy simpen di belakang. Yuk ganti" ucap Cila sembari merentangkan tangannya yang langsung di sambut oleh Caca. Cila dengan telaten mengganti baju Caca dengan pakaian renang kesukaan Caca, kemudian memakaikan bebek laret utuk membantunya bermain air. Setelah selesai barulah Cila menurunkan Caca. Mengunci pintu mobil dan menuntun Caca mendekati lautan. Bermain berenang dan tertawa telah Cila lalukan bersama Caca. Kebahagiaan sederhana namun membekas dalam kenangan Cila. Kebahagian kala melihat putri kecilnya tertawa lepas, sungguh hanya melihat malaikat kecilnya itu tertawa saja mampu merontokan rasa lelah yang selama ini Cila rasakan. Cila tak akan pernah berhenti untuk membuat Caca tertawa, tidak akan sedikitpun ia relakan air mata kesedihan keluar dari pelupuk mata malaikat kecilnya itu. Cila hanya mau jika Caca menangis karna bahagia, bukan karna kesedihan. Apapun ia lakukan hanya untuk kebahagiaan Caca, Separuh dan seluruh jiwa raga Cila. Mentari kehidupan yang mampu menguatkan dan menenangkan dirinya dari gunjingan orang-orang bermulut pedas. dia adalah Rahecha Anastasya Faurelio putri tercintanya, separuh dari hidupnya. apapun akan Cila lakukan demi kebahagiaan sang putri kecilnya, apapun! Cila menatap kearah putrinya yang sibuk bermain pasir sembari berceloteh riang. kebahagiaan seperti ini yang selalu dia inginkan tiap kali bersama putrinya. waktu adalah hal yang begitu berharga dan tidak akan pernah terulang lagi, maka Cila berusaha menciptakan sebuah kenangan indah yang akan di kenang oleh putrinya itu. kenangan bahagia saat bersamanya. Cila tersenyum saat Caca menunjukan istana pasir yang sudah dibuat. lalu mendengarkan tiap kali Caca menjelaskan tiap bagian sudut bangunan dengan nada riang. Cila menghayati kebahagiaan yang begitu kentara di wajah putrinya. yah, Cila memang begitu menyayangi putrinya. kini nanti Dan selamanya. tidak akan ada yang bisa memisahkan mereka nantinya. tidak akan ada yang bisa!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN