****
"Kau tidak mengizinkanku masuk, hah?”
“huh? O-oh”
Jose langsung membuka lebar pintu apartemen mereka itu. Ia mengambil alih barang-barang yang sengaja ibunya tinggalkan diluar dan segera masuk kembali setelah sadar dirinya tak mengenakan baju.
“where is Anne ?”tanya ibunya sadar Anne tidak terlihat.
Jose meletakkan barang-barang itu diruang tengah. “Dikamar, mungkin..” jawab Jose seadanya.
“Dan, kenapa kau berpenampilan seperti itu Justin? Apa kau tinggal sendiri disini?”komentar sang ibu menatap Jose tajam.
“Kan, aku mengatakan bahwa aku baru saja selesai melakukan work out”sahut Jose berbohong lalu ia duduk di sofa, di ikuti sang ibu. “Kenapa mom datang?” Tanya Jose.
“Kenapa? Memangnya mom tidak boleh mengunjungi kalian?”
Jose menggeleng dengan cepat. “Maksudku, kenapa tidak memberi kabar terlebih dahulu?” jelas Jose.
“Surprise!” ibu Jose mengatakan itu dengan semangat dan senyuman diwajahnya, tapi tak berselang lama senyum itu pudar. “Apa yang membuat kalian mengganti password apartment?”tanya ibunya.
Jose bingung akan menjawab apa karena nyatanya mereka mengganti password apartemen untuk menghindari hal seperti ini.
“Emm...”
Klek
Pintu kamar Anne terbuka menampilkan gadis yang tengah menggunakan bathrobe dengan rambut yang dililit handuk, leher jenjang putih dan mulus milik Anne terpampang jelas, membuat Jose meneguk salivanya susah payah. Ia menutup matanya mencoba menetralkan birahinya.
“Mom!”
“Anne !”
Anne langsung menghampiri ibu Jose dan memeluk wanita paruh baya itu. Disela pelukan mereka Anne mengedipkan matanya, dan Jose tersenyum melihat itu.
“Bagaimana kabarmu, darling?”tanya ibu Jose.
“I'm good, and how about you mom?”tanya Anne kembali.
“very good.”jawab sang ibu.
“Kau tidak menanyakan kabarku, Mom?”sela Jose melihat kearah sang ibu.
Ibunya berbalik lalu menatap Jose malas. “Aku tidak memberi salam kepada orang yang menggilai olahraga.”Balas sang ibu pedas.
Anne manahan tawanya, jadi pria itu berbohong dengan mengatakan ia berolahraga?
Well, itu juga bisa disebut olahraga sebenarnya.
Jose berdecak kesal mendengar respon sang ibu.
“Mom, apa ada kegiatan di Selandia Baru?” alih Anne .
Ibu Jose beralih kepada Anne kembali. “Yes darling, mungkin akan lebih baik jika ibu tinggal disini dibanding di hotel.” jawab sang ibu.
“How long?”tanya Jose.
“Just two night”
“What??”
Dua malam itu lama bagi Jose karena ia ingin menghabiskan setiap malamnya bersama Anne.
“Justin kau terlihat tidak senang mom disini?!” Terang sang ibu kesal
Anne menatapnya tajam, dan Jose sadar reaksinya terlalu berlebihan. “Tidak. Bukan begitu mom.”Elak Jose.
“Kalau begitu kau diam saja!”sahut sang ibu garang.
Jose mengatup mulutnya rapat.
“dan berhenti memamerkan tubuh jelekmu itu!” tambah sang ibu mencibir.
Jose mendekati sang ibu dengan wajah menggoda, lalu menyenggol bahu sang ibu pelan. “kenapa?”tanya Jose. “Bukankah, tubuh putramu ini mirip Roman Reigns?”ucap Jose dengan percaya diri.
“Lihat! Dari siapa sifat narsismu itu?”tanya sang ibu heran.
“Tentu saja dari mom.”sahut Jose tanpa takut.
“Cepat gunakan bajumu, Justin!” suruh sang ibu kesal.
Sebelum sang ibu mengomel, Jose sudah lebih dulu masuk ke dalam kamar.
Anne tertawa melihat interaksi Jose dan ibunya. Ini bukan hal baru, mereka memang sedekat itu.
“Mom tidur bersamamu ya, darling”
Anne mengangguk setuju.
***
Anne menghabiskan banyak waktu untuk mendengar keluh kesah wanita paruh baya itu. Sedangkan Jose menyibukkan diri dengan tugas magangnya.
Setelah makan malam bersama ibu Jose dan Jose, Anne memilih untuk mandi.
Klek
Anne keluar dari dalam kamar mandi dan mendapati ibu Jose duduk diatas ranjang seraya menatapnya, Ia merasa kikuk karena ditatap seperti itu.
“Aku menemukan ini dikamar Justin.”
Deg!
Jantung Anne terpompa dua kali lebih cepat saat melihat benda yang ibu Jose pegang.
Itu bra!
Tentu saja bra milik Anne.
Anne meneguk salivanya gugup, rasanya seperti ia tertangkap basah melakukan sesuatu yang salah.
“Ee—”
“Kau harus berhati-hati, Justin itu sangat jahat!” tandas sang ibu.
Kening Anne berkerut mendengar itu.
“Rayna pernah mengeluh jika bra - branya menghilang, kau tahu kenapa dan kemana bra - bra itu?”tanya ibu Jose menatap Anne. “Bra milik Rayna tidak sengaja masuk kedalam tumpukan pakaian Justin, dan pria tengik itu memilih membuang bra milik adiknya itu ke tong sampah yang ada didalam kamarnya, dibanding mengatakan bra - bra itu ada bersamanya.” cerita sang ibu.
Anne terkejut sekaligus tertawa karena cerita itu. “Ah, sepertinya aku tidak sengaja melipatnya dipakaian Justin.”ucap Anne setelah berhenti tertawa.
“Jangan lengah. Kau bisa saja bangkrut karena selalu membeli bra baru.” ucap ibu Jose bercanda lalu berbaring di atas ranjang Anne .
Anne mengambil bra yang ibu Jose maksud lalu meletakkan di keranjang pakaian kotor disana. Itu branya siang tadi. Bagaimana benda itu bisa tertinggal disana. Sial, ia sangat ceroboh.
Malam ini, Anne memilih menggunakan kemeja putih oversized yang sudah menjadi favoritnya untuk jadi baju tidur. Setelah selesai memasangnya, Anne ikut berbaring diatas ranjang.
“Good night, darling.”ucap ibu Jose dengan suara rendah.
“night too, mom”balas Anne .
Anne bersandar dengan headboard, ia menarik ponselnya dan memainkan benda itu. Ia membuka media social tetapi tidak ada yang menarik disana, Anne pun memilih membuka roomchat. Dan memilih mengirim kepada pria yang ada dalam pikirannya.
Morèl
Jo
Anne menunggu balasan dari pria itu, namun tak ada. Mungkin pria itu sudah tidur, pikir Anne. Ia berniat menggodanya. Anne berbalik melihat ibu Jose, wanita paruh baya itu sepertinya sudah tidur pulas terdengar dari deru nafasnya yang teratur dan dengkuran halus. Posisinya wanita itu membelakangi Anne membuat Anne lebih leluasa, Ia membuka aplikasi kamera lalu memotret dirinya lalu mengirim gambarnya itu kepada Jose.
Morèl
[gambar]
Anne terkekeh pelan sambil membayangkan wajah Jose melihat fotonya. Mengingat Jose belum mencapai puncaknya saat mereka bercinta tadi, pasti pria itu sangat kesal hingga sekarang, ditambah seharian ini Anne dengan sengaja terus menggodanya.
Mulai dari mengedipkan matanya, sampai dengan sengaja mempertontonkan paha indahnya kepada pria itu. Anne sangat puas mengerjainya.
Anne bangkit dari ranjang saat merasakan haus. Ia memperbaiki pakaiannya, lalu berjalan kearah pintu. Ia melirik ibu Jose sekilas dan benar saja, wanita itu sudah terlelap.
Klek
“Hei?!”
***
Anne terkejut saat orang dari kamar sebelah itu keluar bersamaan dengannya. Jose menyeringai melihat kebetulan yang Tuhan ciptakan untuk mereka berdua. Dengan cepat pria itu menarik tangan Anne membawa gadis itu kedalam kamarnya.
Klek
Jo menutup pintu lalu menyudutkan Anne dibalik pintu itu, mengunci tubuh sang gadis dengan kedua tangannya. “kenapa kau terus menggodaku seharian ini, huh?” tanya Jose dengan suara rendah.
Jo menatap Anne dengan seringaian penuh kemenangan melihat keadaan Anne yang terlihat seperti anak kucing.
“Joh—hmmp!”
Ucapan Anne terpotong saat pria itu melahap bibirnya dengan rakus. Pria itu menyentuh tubuhnya begitu agresif sampai - sampai Anne hampir memekik kencang. Desahan wanita itu tertahan oleh ciuman Jo yang begitu menuntut dan beringas.
Setelah puas, Jo melepaskan tautan bibir mereka dan menatap Anne nakal. “this is your punishment.” bisik Jose seduktif.
Anne mulai panik saat tangan pria itu berada diarea sensitifnya. Ia mencoba melepaskan dirinya tapi, pria itu mencengkalnya.
Tangan Jo bekerja begitu cepat saat melepaskan benda yang menutup tubuh Anne. Mengingat Anne yang hanya mengenakan kemeja putih sebagai pakaian tidurnya dan tanpa bra. Jo hanya tinggal menurunkan panty wanita itu lalu mulai bermain.
Anne mengerang tertahan saat Jo membalik tubuhnya menghadap pintu dan memasukkan bagian lain dari tubuhnya dengan begitu tiba - tiba, tanpa ada foreplay lanjutan.
Anne menggigit bibirnya merasakan betapa kerasnya pergerakkan tubuh Jo. Pria itu memejamkan matanya mencoba mencari kenikmatannya sesegera mungkin.
“sakith..”lirih Anne karena pria itu melakukannya tanpa pemanasan lebih. Jose mencondongkan tubuhnya meletakkan dagunya pada pundak gadis itu.
“hanya sebentarh.” sahut Jose.
Anne mengerang pelan. “Joseh ada mom, kau lupa?!” tanya Anne yang hera dengan keberanian pria itu.
“jangan terlalu keras.” bisik Jose memperingati.
“Bagaimana jika dia bangun-ah!” Anne segera membekap mulutnya.
“Mom, tidak akan keluar kamar sayang, Tenangh saja.”ucap Jose.
Tentu saja apa yang ia katakan adalah fakta, ia adalah putranya, tentunya sangat mengenal sang ibu. Setelah mengucapkan itu Jose meraup bibir Anne , mencium bibir gadis itu dengan rakus. Jose melepaskan tautan bibir mereka, ia menggeram saat miliknya diremas kuat.
Anne merasa sangat frustasi karena mereka tak bisa mendesah dengan bebas. Mengerti dengan penderitaan Anne , Jose menyodorkan pergelangan tangannya didepan bibir gadis itu, dan tak menunggu lama gadis itu langsung menggigit tangannya dengan keras. Jose mengerang merasakan gigitan wanita itu ditangannya.
Tidak menunggu lama puncak yang mereka cari pun segera sampai dan mereka meledakkan secara bersamaan dalam sebuah kahangatan.
Desah Jose tak tertahankan. Kepala Jose terkulai diatas bahu Anne, dengan kesadaran yang masih tersisa, Jose membawa tubuh mereka keatas ranjang.
Anne memejamkan matanya, masih menikmati perasaan itu. “that was so crazy!”ucap Anne dengan matanya yang masih terpejam.
Jose menyamping melihat gadis itu, ia menyampirkan rambut yang menutupi wajah Anne , merasakan itu Anne membuka matanya lalu menatap Jose.
“Maaf, Aku mengeluarkannya didalam. ” adu Jose.
Anne membulatkan matanya. Tunggu! ia bahkan baru sadar. Pantas saja itu terasa dua kali lebih nikmat dari biasanya.
“bagai—”
“Jangan khawatirkan sesuatu yang belum terjadi.”potong Jose. Ia menarik Anne lebih dekat padanya lalu mencium kening gadis itu lama.
“aku menyayangimu kau tahu, kan?” ucap Jose setelah melepaskan ciumannya.
Anne mengangguk mendengar pernyataan Jose. Entah untuk apa pria itu menyatakan perasaannya. Tapi, ungkapan itu mampu membuat Anne melupakan fakta yang pria itu ungkapkan.
Anne menatap pria itu. Mereka saling bertatapan hingga wajah mereka tak berjarak. Jose menarik tengkuk gadis itu lalu melumat bibir yang ranum kesukaannya itu.
Anne selalu terbuai dengan ciuman Jose, ciuman pria itu seperti alkohol, memabukan dan membuat candu. Satu tangannya beralih mengalung di leher pria itu.
Sedangkan tangan Jose mengelus pinggang Anne dengan sensual. Semakin lama ciuman itu semakin panas. Anne dengan cepat menahan d**a Jose saat pria itu mulai bergerak dan akan membuat posisi baru untuk mereka.
“Stop it!” peringat Anne sesaat setelah melepas tautan mereka.
Anne sangat tahu apa yang terjadi jika Jose sudah berada diatas tubuhnya, dan Anne tak bisa menolak jika pria itu mulai menyentuhnya dengan gila. Sebelum hal itu terjadi lebih baik Anne menghentikannya lebih cepat, bukan?
Jose kembali berbaring. Ia berada pada kesal karena dihentikan Anne dan kesal karena tak bisa menahan dirinya untuk tidak menyentuh Anne lagi dan lagi.
“aku mendengar sebuah cerita lucu.”alih Anne tangannya memainkan rambut pria yang tampak kesal itu.
“apa?” Jose menarik tangan Anne lalu mencium punggung tangan gadis itu dengan penuh kasih.
“seorang pria yang membuang bra adiknya.” cerita Anne dengan menahan tawanya.
Jose tahu itu ceritanya. “kau membicarakan aku?”tanya Jose kembali.
Anne terkekeh lalu mengangguk. “kenapa kau sangat jahat?”
Jose mendengus pelan. “bukan begitu, aku hanya kesal kepada Rayna. Pasti mom tidak menceritakannya dengan benar!” sungut Jose.
“memangnya kenapa?”
“dia sudah cukup besar untuk mengurus barang miliknya, kenapa harus selalu ibu yang mengurus miliknya.” jelas Jose. “itu berdampak baik untuk Reyna, setelah aku melakukan hal itu, ia mulai bekerja setidaknya untuk dirinya sendiri.” tambah Jose.
Anne tersenyum mendengar cerita Jose. Alasan pria itu sangat bagus.
“good brother.” Anne mengelus puncuk kepala Jose.
Jose membawa Anne kedalam pelukannya, dan Anne membalas pelukan itu. Biasanya mereka akan berpelukan dari tidur hingga bangun tidur.
“Aku ingin kau tidur disini.”ungkap Jose setelah merenggangkan pelukan mereka.
“Kau gila?!”
“ya... karenamu.”
Anne merasakan pipinya memenas saat Jose mengucapkan itu. Anne mengecup bibir Jose cepat.
“Oh. Beraninya kau menciumku??” ucap Jose meledek Anne .
“Ya sudah, jika tidak mau.”Anne mengangkat tangannya lalu mengusap bibir Jose dengan kasar, bermaksud menghapus ciumannya tadi.
Jose terkekeh lalu menahan tangan Anne , dan sekarang ia kembali mencium punggung tangan Anne .
“Aku harus kembali ke kamar.” ungkap Anne .
Ia segera bangkit. Tak lupa ia menaikan celana dalamnya yang dipeloroti oleh Jose tadi. Pria itu ikut bangkit. Ia mengancing baju Anne. Setelah semuanya terkancing, ia merapikan rambut gadis itu.
Anne mendongak menatap Jose yang tampak berhati-hati saat merapikan rambutnya. Ia memejamkan matanya saat pria itu kembali mencium keningnya.
“biarku pastikan, dahulu.”Jose berucap sebelum keluar dari kamarnya. Setelah itu ia kembali masuk dan menganggukkan kepalanya, mengatakan bahwa keadaan luar baik-baik saja.
“Night, babe.”ucap Jose saat Anne akan keluar.
Babe?
Anne merona mendengar Jose memanggilnya dengan sematah babe, ia menyukai panggilan itu terlebih pria itu mengucapkannya dengan sangat manis.
Anne mengangguk tanpa berbalik. Serius, Justin Morèl apa yang ia lakukan dengan hati Anne .
Anne masuk kedalam kamarnya, berbaring ditempatnya. Ia menatap langit-langit kamarnya seraya mengelus perutnya. Ia menggigit bibir bawahnya.
Ini bukan yang pertama kalinya, kenapa Jose selalu cereboh.
Sungguh, Anne tak ingin hamil.
****
“morning mom!”sapa Jose yang baru saja keluar dari kamarnya.
“morning, baby! ”sahut sang ibu yang tengah bergelut dengan alat-alat dapur.
Ibu Jose tengah membuat sarapan untuk mereka bertiga. Tapi, yang ada disana hanya ada Jose dan ibunya.
Jose meletakkan tas kerjanya lalu duduk dimeja makan, tak lama sang ibu datang dengan nasi goreng kimchi. Ia meletakkan itu dihadapan putranya, lalu meletakkan satu piring kimchi disebelah Jose yang tentunya untuk Anne , setelah itu ia duduk dihadapan Jose.
“apa kalian biasanya sarapan?”tanya sang ibu melihat Jose yang tengah melahap makanannya.
Jose mengangguk. “hmm.”jawabnya.
“Anne sempat memasak?”
“yah, paling tidak ia akan membuat roti biasanya.”jawab Jose.
Ibu Jose tersenyum tenang, syukurlah kedua anaknya itu makan dengan teratur. “by the way, Anne have a boyfriend, right?”tanya sang ibu sambil menyendok nasi goreng miliknya.
Jose melirik sang ibu dengan alis tertaut. “maksud moms?”tanya Jose kembali.
Sang ibu mencondongkan tubuhnya lalu berucap pelan. “tadi malam Anne menyelinap keluar, sepertinya ia mendapat panggilan dari boyfriend-nya.” ungkap sang ibu.
Jose hampir tersedak mendengar itu, untung saja ia bisa mengendalikan dirinya untuk tidak tertawa.
Jadi, ibunya terjaga saat Anne pergi keluar kamar?
Apa Jose harus khawatir?
Tentu saja tidak, buktinya sang ibu malah mengatakan Anne menerima panggilan telepon berbalik dengan kenyataan yang terjadi.
“Mom, Anne pada usia dimana ia boleh berkencan.”ingat Jose.
“I know. Tapi, apa kau pernah bertemu dengan kekasihnya?”dalih sang ibu penasaran.
“ya, dia dihadapanmu sekarang, moms” ucapnya percaya diri didalam hatinya, Jose hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
“apa dia tampan?”
“ya tentu saja aku tampan.”kembali Jose membatin. “Mom, Anne tidak mungkin berkencan dengan pria tidak tampan.”jawab Jose. “Mom, jangan membahas Anne dia akan cemberut seharian jika ia tahu kita membicarainya.”tambah Jose memperingati.
“kalau begitu, kita ganti topik.”alih sang ibu. “apa kau memiliki kekasih?”tanya sang ibu menatap mata Jose.
Jose mengangguk.
Klek
“morning!”sapa Anne keluar dari dalam kamarnya
Gadis itu juga sudah siap untuk berangkat bekerja.
“Morning, Anne kemarilah, mom sudah buatkan kalian sarapan.”
Anne mengangguk lalu duduk di samping Jose.
Sang ibu mengembalikan fokusnya kepada Jose.
“Apa kekasihmu baik?”tanya sang ibu.
Jose melirik Anne sekilas.“yah, sangat.”jawab Jose, otaknya mulai memikirkan kebaikan Anne .
Anne tak mengikuti percakapan mereka, tapi ia yakin mereka tengah membicarakan kekasih Jose. Apa pria itu memiliki kekasih atau dia membicarakan dirinya itu pertanyaan yang melayang dipikiran Anne .
“Syukurlah, kalau begitu. ”ucap sang ibu lega.
Jose tersenyum. “Apa moms tak ingin mempertanyakan fisiknya?” tanya Jose, mengingat sang ibu tadi menanyakan fisik dari kekasih Anne .
“Sebenarnya yang penting ia baik, tapi karena sepertinya kau sangat semangat menceritakan fisiknya, maka katakanlah!”
Jose mencondongkan tubuhnya sebelum itu ia melirik Anne dan bergerak menyentuh kaki gadis itu.
“dia seksi.”ucap Jose seolah berbisik tapi itu terdengar jelas di telinga Anne .
Uhuk!
Anne tersedak makanannya, sang ibu langsung melihat kearah Anne . “kau tak apa, darling?”ia segera menyerahkan gelas berisi air untuk Anne .
“Kau menginjak kakiku!”Ucap Anne galak menatap Jose tajam.
“pria m***m ini!”sang ibu ikut menatapnya kesal.
Jose mengernyit, ia tidak menginjak kaki Anne. Gadis itu hanya mengada-ada. Tapi, Jose mengalah karena ia memang sengaja menggoda Anne, agar ia tahu bahwa ia membicarakannya.
Suasana di meja makan pun tenang setelah kejadian itu. “Oh ya, kalian kembali jam berapa?”tanya sang ibu.
“sore.”
“malam.”
Anne heran kenapa pria itu menjawab malam, padahal jam kerja mereka berakhir diwaktu yang sama.
“Anne, Justin akan menjemputmu. Jangan kembali menaiki taksi, apalagi transportasi umum. Apa gunanya pria pervert ini?!”ingat sang ibu menatap Jose malas.
Jose mendengus kesal, sedangkan Anne hanya mengangguk. Toh, tanpa diingati pria itu pasti menjemputnya.
“mom, akan kembali malam, entah kalian lebih dulu atau mom. Jadi, makan diluar saja ya.”ucap sang ibu yang diangguki oleh keduanya.
***
Anne menurunkan sedikit bangku di mobil Jose dan menyandarkan tubuhnya menyamping.
Jose yang baru saja masuk dan langsung disuguhkan punggung oleh Anne, membuat pria itu mengernyit. Ia mendudukan dirinya lalu memandangi Anne.
Anne sangat sadar pria itu tengah menatapnya penuh tanya. Ia merasakan tangan pria itu mengelus puncuk kepalanya dengan lembut.
Jose menebak gadis itu sedang marah karena kejadian tadi malam. Dan Jose akui itu kesalahannya. “sudah menelan pill?”tanya Jose lembut.
“Habis!”jawab Anne ketus.
Anne kembali merasa kesal dengan Jose, setelah ia mendapati pill pencegah kehamilannya habis. Hal itu membuat rasa kesalnya kepada Jose muncul kembali, jika bukan karena pria itu cereboh, Anne tidak akan repot-repot meminum pill.
Jose menghela nafasnya pelan saat melihat respon ketus Anne. Ia pun kembali kepada setirnya dan membawa mobil itu meninggalkan basement. Ia membawa mobilnya melaju di jalan raya. Matanya melihat kiri dan kanan, setelah matanya menangkap tempat yang ingin ia tuju, Jose menghentikan mobilnya.
Anne tak tertarik melihat dimana mereka berhenti, matanya sedari tadi hanya memperhatikan jalan raya yang dipenuhi kendaraan. Ia mendengar suara pintu mobil itu terbuka lalu tertutup, dan ia tetap tak peduli.
Tidak sampai lima belas menit pintu mobil itu kembali terbuka. Anne pun menoleh mendapati Jose dengan membawa kantong kecil dan sebotol air mineral.
Pria itu menyodorkan kantong kecil itu. “minumlah.”suruh Jose.
Anne melirik luar tempat mereka berhenti ternyata pria itu berhenti disebuah apotek. Anne pun menerima kantong putih itu lalu membukanya, ada beberapa pill disana, tanpa bertanya Anne sudah tahu itu morning after pill.
Anne membuka satu pill itu.
Melihat itu Jose membuka tutup botol itu untuk Anne. Anne mengulurkan satu tangannya, sedangkan satu tangannya lagi memasukan pill itu kedalam mulut-nya.
“uh!” erang Anne ketika Jose tak kunJo memberikan botol berisi air itu kepadanya, padahal Ia sudah memasukan pill itu kedalam mulutnya.
Anne menggapai tangan pria itu memberi kode agar pria itu segera memberikan botol itu.
Sesaat setelah itu mata Anne melebar saat melihat apa yang Jose lakukan. Pria itu malah menegak air itu tanpa mempedulikannya.
Anne ingin meneriaki pria itu, masa bodoh dengan pill yang akan keluar dari mulutnya.
“Hei—”
Teriakan Anne terbungkam saat Jose menarik tengkuknya lalu mempertemukan bibir mereka, pria itu memberikan Anne air yang tadi ia tegak, lewat bibir.
Karena tengkuknya ditekan, mau tak mau Anne menerima air itu.
Jose melepaskan tautan mereka, dan Anne langsung menegak air bersama pill tadi. Setelah itu Anne menatap Jose yang juga menatapnya. Entah apa yang pria itu perhatikan, tapi Anne sangat penasaran.
Melihat Anne sudah menelan pill itu, Jose kembali mengikis jarak diantara mereka lalu memeluk pinggang Anne , dan kembali mempertemukan bibir mereka.
Lihat, bahkan belum ada 30 menit perasaan kesal Anne sudah menghilang saja. Pria ini memang tahu bagaimana cara mengubah suasana hati Anne .
Anne mengalungkan kedua tangannya pada leher Jose saat ciuman itu mulai membuainya.
Saat merasakan pasokan oksigen mereka kian menipis, Jose melepaskan ciuman itu lalu menatap Anne sayu.
“jangan marah lagi, hm?”minta Jo dengan memelas.
Anne nenghela nafasnya pelan. “Akan menjadi yang terakhir, jika kau masih bertindak ceroboh!” ancam Anne menatap Jose tajam.
Jose tersenyum kecut. “Aku akan memakainya, selalu.”yakin Jose.
Anne mengangguk. Ia mengecup bibir Jose cepat lalu memperbaiki posisi duduknya.
Jose tersenyum gemas beralih mengacak rambut Anne , setelah itu Ia kembali kepada posisinya dan mulai menjalankan mobilnya meninggalkan tempat itu.
****
Seperti biasa, Jose akan menjemput Anne dari tempat gadis itu magang. Ia sengaja mengatakan bahwa Ia akan kembali pada malam hari, padahal kenyataannya ia pulang sore seperti biasanya. Ia berencana membawa gadis Park itu berkencan. Jose ingin melakukan kencan layaknya pasangan normal bersama Anne . Street kuliner, menonton bioskop, atau sekedar berjalan seraya bergandengan tangan, yang tentunya tak bisa mereka lakukan secara terang-terangan.
Walaupun, hubungan mereka bukan 'lah sepasang kekasih, tetapi mereka lebih dari sepasang kekasih menurut Jose, setidaknya.
Jose keluar dari dalam mobilnya, berdiri menunggu gadisnya di luar.
Ia menyandarkan tubuhnya di mobil, melipat tangan didada, lalu menarik sudut bibirnya saat sosok cantik itu mulai masuk ke indera penglihatannya. Perlahan senyuman pria itu pudar saat melihat penampilan gadis itu yang terlihat berbeda.
Disisi lain, Anne tengah berbincang dengan salah satu karyawan tetap di tempat Ia magang. Ia terlihat sangat ceria sekarang, sangat berbeda dengan ia yang pagi tadi.
“Kau sangat beruntung.” puji gadis disamping Anne .
Anne tersenyum malu mendengar pujian itu.
“Tapi, ku dengar kau ingin menjadi hakim?”tanya gadis itu kepada Anne .
“Ah, semoga saja.”Jawab Anne di selingi tawa.
Gadis tadi cemberut mendengar itu. “kau tahu’ kan, bahwa firma kami akan menerimamu.” ucap gadis itu mengingatkan tawaran resmi kepada Anne untuk bergabung selulusnya ia berkuliah.
Anne tersenyum lalu mengangguk. Senang sekali rasanya tempat magangnya itu ternyata tidak seburuk yang Ia pikirkan. “Wah, dia sangat tampan!”gadis disamping Anne berucap takjub menatap seseorang disana.
Anne mengikuti arah pandangan gadis bernama Sarah itu. Mata Anne membulat sempurna saat matanya menangkap sosok pria tampan yang tengah melihat kearahnya. Untuk sesaat Anne mengernyit, bukan ’kah pria itu mengatakan Ia akan kembali pada malam hari. Tetapi, lupakan Anne dalam mood yang bagus sore ini. Ia menarik dua sudut bibirnya tersenyum lebar.
“Kau mengenalnya?”
Anne menoleh lalu tersenyum. “Apa dia kekasihmu?”goda Sarah menyenggol bahu Anne pelan.
Anne tersipu malu dengan wajah bersemu. Ia tak menjawab pertanyaan Sarah tetapi dari apa Sooyoung lihat, Ia bisa tahu bahwa dua manusia beda kelamin itu memiliki hubungan spesial.
Yah, sangat spesial.
Sarah kembali menggoda Anne . “pergilah! Jika kau meninggalkannya terlalu lama akan banyak wanita datang menggodanya.”suruhnya dengan mengendipkan matanya. “Termasuk aku.” tambah Sarah berbisik.
Anne memberi salam sebelum berlari kearah pria itu. Ia akan bercerita banyak kepada pria itu. Sesaat sampai dihadapan sang pria Anne , melompat memeluk sang pria, tangan Anne bergelayut di leher Jose, dan kakinya menggantung diudara.
Jose terkejut dengan serangan pelukan gadis itu. Namun, Ia dengan cepat meraih pinggang sang gadis dan menahannya. “Mood sedang bagus, ya?”tebak Jose.
Anne melepas pelukannya. Menatap Jose lalu mengangguk layaknya anak kecil. Mata Jose menatap penampilan gadis ini yang terlihat berbeda dengan pagi tadi. Ia pun menarik Anne masuk kedalam mobil.
“Apa kabar baiknya?”tanya Jose.
Anne masih dengan senyuman yang berseri-seri menatap Jose.
“kau ingat atasanku yang sangat dingin?”
Jose mengangguk. “Selena?” jawab Jose.
Anne mengangguk. “Selama ini dia tak pernah memujiku. Kau tahu? tadi ia memuji kerjaku! dan mengundangku secara khusus untuk masuk kefirmanya!” ungkap Anne antusias. Tangannya tidak berhenti bergerak menggambarkan betapa Ia sangat bahagia.
Jose tersenyum lalu mengelus puncuk kepala gadis itu. Ia mengingat saat Anne baru beberapa hari magang disana, gadis itu kerap pulang dengan keadaan menangis karena merasa tak cukup baik dalam mengerjakan tugasnya, ditambah sang atasan dinginnya itu tak pernah menunjukan bahwa ia menyukai Anne . Ternyata hari ini adalah harinya, hari dimana wanita itu memujinya. Astaga Anne amat bahagia.
“Kau sudah bekerja keras!”puji Jose.
Anne mengangguk lalu menarik tubuh pria itu, dan memeluknya. “terima kasih selalu menyemangatiku selama ini.”ungkap Anne .
“Hmm.”balas Jose seraya mengelus punggung gadis itu. “boleh aku bertanya?”tanya Jose. Anne mengangguk.“kemana pakaianmu pagi tadi? Dan darimana pakaian sialan ini kau temukan?”tanya Jose dingin.
Anne menarik diri lalu melihat kearah Jose, pria itu tampak menatapnya tajam. “kau bilang kau akan kembali malam...” Anne bertanya pelan.
“apa hubungannya aku kembali malam dengan pakaian mini-mu ini?” tanya Jose kembali.
Anne menciut mendengar itu. Ia merundukkan kepalanya. “karena kau kembali malam, dan Mom meminta makan diluar. Jadi, aku berniat makan malam bersama Lily.” jelasnya.
Jose mengangkat satu alisnya. “makan?” Jose menatap gadis itu penuh curiga.
“Ya...”jawab gadis itu ragu karena sebenarnya Lily mengirimnya sebuah lokasi yang jelas bertuliskan sebuah bar.
“Kau bohong!”tandas Jose. “katakan kemana Lily akan membawamu?”tanyanya lagi.
Anne mendongak. “A-aku tidak tahu, tapi ia mengirim baju ini melalui kurir, dan memintaku untuk memakai pakaian ini saat menemunya.” ungkap Anne jujur.
Jose menghela nafasnya kasar, gadis Filipina itu benar-benar racun yang berbahaya. Lily memang baik, tapi ia gadis bebas yang berteman dengan banyak pria, berbeda dengan Anne. Jose bahkan bingung kenapa kedua gadis itu bisa berteman.
“lupakan.”putus Jose lalu membuang muka.
Anne menatap pria itu. “Jangan marah, hmm?”bujuk Anne menyadari pria itu kesal.
“Aku akan marah jika kau berbohong lagi,”ucap Jose. “dan juga, ini akan jadi terakhir kalinya kau menggunakan pakaian minim seperti ini saat diluar!”Tambah Jose memperingati gadis itu.
Anne mengangguk lalu kembali tersenyum dan memeluk tangan pria itu.
Melihat tingkah manja Anne membuat Jose luluh. Ia pun membawa mobil itu bergerak.
“Kemana kita?”tanya Anne menyadari jalan mereka berlawanan dengan arah jalan pulang.
“berkencan.”jawab Jose singkat.
Anne mendongak menatap pria yang tengah sibuk menyetir itu. Mata gadis itu berbinar sesaat.
“Tapi-”
Ucapan Anne terhenti saat mobil mereka telah terhenti disalah satu pusat keramaian di Selandia Baru. Matanya menangkap tenda-tenda pedagang makanan berjajar dipinggiran jalan. Sungguh, surga dunia untuk seorang Anne yang seorang penggila makanan.
“Gunakan ini.”Jose menyerahkan sebuah winter coat serta masker hitam.
Anne terkikik melihat benda-benda itu. “orang-orang akan berpikir kita adalah artis yang tengah berkencan.”komentarnya Anne .
Jose memasang coat miliknya lalu melirik Anne yang masih tertawa melihat benda-benda penyamarannya itu. Ia mencondongkan tubuhnya lalu mengecup bibir Anne cepat.
“kita tidak punya banyak waktu.” ingat Jose sebelum keluar dari mobil.
Malam itu adalah malam yang berkesan untuk keduanya, mereka seperti pasangan normal yang berkencan. Mereka memakan, makanan yang dijual dipinggir jalan, berjalan dipinggir sungai dengan bergandengan tangannya.
Untuk sebentar mereka melupakan hubungan darah diantara mereka.
Jam sudah menunjuk pukul delapan malam, Jose pun memilih untuk bersantai dengan Anne didalam mobil seraya menonton pemandangan sungai. Setelah tadi puas menghabiskan waktu dan uang untuk mengisi perut mereka.
Gadis itu bersandar dipundaknya sambil menegak soda. Tangan kanan keduanya saling bertautan.
“thanks you for today, babe.” bisik Anne .
Jose mengangguk lalu mengecup kepala gadis itu.
TBC