Bab 7 : Hot Chocolate

1059 Kata
*Regina’s POV* Aku terbangun pagi sekali. Sekitar jam enam pagi lebih sedikit. Dengan perut yang terasa sangat lapar. Aku mengerjapkan mata. Menyesuaikan lampu kamar yang menerangi kamar di hotel. Aku tidak terbiasa dan takut kegelapan. Itulah mengapa menyalakan lampu sampai pagi. Kebiasaan ini sudah kulakukan sejak kecil. Bahkan, sewaktu berpacaran dengan Seo Hyun, aku tetap menjalani rutinitas ini. Menyalakan lampu sampai pagi menjelang. Aku bangkit untuk duduk dan mengenakan sandal hotel. Lalu, berjalan menuju jendela dan menyibak tirai yang menutup kamarku. Kemudian, tersenyum simpul saat melihat keindahan pemandangan gedung-gedung dari lantai tiga belas. Aku memang takut ketinggian. Namun, berbeda halnya dengan sekarang. Hal-hal yang paling ditakuti mencoba untuk kutaklukan karena Seo Hyun. Aku berusaha menjadi pribadi lebih baik dan kuat karenanya. Tidak ada yang bisa kulakukan selain berusaha untuk menarik perhatiannya kembali. Walaupun sulit untuk menyentuh hatinya yang sudah membeku. Tanganku kembali menutup jendela dengan tirai. Lalu, duduk di sofa dan menaruh tanganku pada meja kecil bersebelahan dengan tempat tidur. Aku memandangi wajahku dari cermin rias yang cukup jauh. Terlihat kelelahan dan ada bekas menangis. Aku pun heran dengan hari-hariku yang menyiksa. Semua awalnya baik-baik saja. Namun, kesendirianku semakin terasa sewaktu kembali ke hotel. Aku tidak mempunyai alasan untuk pulang ke tempat paling dingin yang ada di Korea Selatan. Sebuah kamar kosong tanpa kehadirannya. Sudah lima hari aku berada di sini. Tapi, tanda-tanda dari kehadiran Seo Hyun tidak kutemukan sama sekali. Awalnya aku mengira kalau mungkin saja Seo Hyun datang menemaniku dan meminta maaf setelah banyak hal yang terjadi. Justru yang kutemukan adalah sebuah kekecewaan karena tidak mendapatkan jawaban atau keberadaan dari Seo Hyun. Bohong jika dibilang aku tidak kepikiran dengan yang terjadi di antara kami. Namun, aku berpura-pura tegar dengan mengatakan semua akan terlewati. Seperti sebuah perasaan yang masih kumiliki untuknya. Aku berjalan menuju meja di dekat kulkas mini dan cangkir yang ditaruh di lemari kecil. Pagi ini kurasa aku akan menikmati secangkir hot chocolate. Kemarin malam aku berjalan di sekitar Myeongdong Market. Kemudian, aku menemukan kemasan instan dari hot chocolate sehingga kepikiran untuk membeli beberapa. Aku memang kurang menyukai minuman yang manis. Namun, pengecualian karena akhir-akhir ini aku terbiasa menikmati sesuatu yang manis. Aku mengambil cangkir dan menuangkan isi dari kemasan. Lalu, menyeduh dengan air panas secukupnya. Aku mengaduk hot chocolate perlahan. Kemudian, kembali berjalan menuju meja kecil tadi. Menaruh hot chocolate dan mengecek ponselku. Sudah lama aku tidak mengabari sahabatku. Kemarin aku hanya mengirimkan sebuah pesan singkat kalau aku telah sampai di Korea Selatan dengan selamat. Meskipun tanpa kehadirannya di sisiku. ‘Halo,’ ucapku pada saat panggilan dengan aplikasi terhubung. Seseorang di seberang sana berdecak kesal. Karena ini bukan pertama kalinya aku menghilang tanpa kabar. Lalu, tiba-tiba menghubunginya. Kalau dilihat dari waktu sekarang. Baru menunjukkan jam setengah enam di pulau Bali. Karena perbedaan waktu lebih awal di Korea Selatan. ‘Hm, kau menghubungi pagi-pagi hanya ingin menggangguku?’ tanya Anggara dengan nada kesal. ‘Tidak juga. Aku memerlukan teman,’ ucapku memberikan pembelaan. Selama ini aku tidak terlalu dekat dengan orangtuaku. Itulah alasan sahabat baikku, Anggara yang selalu menempati jajaran orang yang paling sering kuganggu jika sesuatu terjadi di luar rencana. Contohnya saja, sekarang. Aku berniat mengabarinya tentang keadaanku yang semakin menyedihkan setelah sampai di Korea Selatan. Kalau sekalipun mantan kekasihku, Seo Hyun tidak pernah ada niatan untuk menghubungiku. Apalagi mengajak untuk bertemu. ‘Jika memang begitu. Bukankah seharusnya kau menghubungi lima hari lalu?’ tanya Anggara masih dengan nada ketus. Anggara Kusuma merupakan sahabatku. Ia memiliki ciri yang sangat disukai pria manapun. Rambutnya hitam panjang, kulit putih s**u, bibir tebal berwarna merah muda, dan tubuh yang mungil. Aku saja merasa sedikit iri dengan dirinya. Karena corak kulit kami yang berbeda. Meskipun begitu aku bangga memilikinya sebagai sahabat baik. ‘Banyak hal yang harus kuselesaikan. Termasuk perasaanku sendiri,’ ucapku lalu meminum perlahan hot chocolate yang tadi kuseduh. Aku memang belum bisa menyingkirkan perasaan tidak menentu setelah kepergian dari Seo Hyun di hidupku. Karena hal itu membuatku menutup diri dan menjauhkan diriku dari orang-orang sekitarku. Begitu juga dengan Anggara yang merupakan sahabat baikku dari dulu. Terdengar helaan napas panjang di seberang sana. ‘Kau masih belum bisa merelakannya?’ tanya Anggara dengan nada yang terkesan dingin. ‘Mustahil bagiku untuk melupakan dalam beberapa hari. Aku bahkan berusaha untuk membujuknya.’ Aku paham betul dengan konsekuensinya. Jika semua hal tidak berjalan sesuai rencana maka aku yang akan terluka. Bagaimana pun aku mencoba untuk melupakan Seo Hyun justru kembali mengingat memori yang telah kami lewati selama satu tahun. Aku hanya masih belum terbiasa melewati hari-hari tanpa kehadirannya. Dulu mendapatkan pesan singkat darinya merupakan hal yang kutunggu setiap pagi. Atau, sebelum tidur kami selalu berbicara melalui sambungan telepon. Aku merindukan masa-masa itu yang sampai sekarang rasanya mustahil untuk terulang. ‘Regina, dengarkan aku. Kau itu cantik. Masih banyak pria lain yang bisa kau kencani. Mengapa harus membujuknya yang bahkan tidak mengabarimu? Padahal kau berada di negaranya?’ Anggara terdengar cukup kesal. Kurasa hal ini karena sikapku yang keras kepala. Membuatku terus-menerus mengatakan kalau mustahil untuk melupakannya. Walaupun memang begitulah yang terjadi. Aku berusaha untuk menikmati hari-hariku di sini. Justru semakin teringat olehnya dan semua janji-janji yang pernah terucap dulu. ‘Aku tahu. Hanya saja untuk sekarang aku ingin berusaha semampuku.’ ‘Tapi, ingatlah. Kalau pun semua perjuanganmu sia-sia. Kau bisa mencurahkan isi hatimu kepadaku,’ ucap Anggara tulus. Aku tidak pernah meragukan sahabatku. Selama ini jika sesuatu hal buruk terjadi. Ia selalu ada di sampingku. Menemaniku sampai suasana hatiku membaik. Aku bahkan tidak tahu bagaimana hidupku tanpa kehadirannya. Kami berteman layaknya saudara yang sudah mengetahui kekurangan masing-masing. Namun, kami berusaha menutupi kekurangan tersebut dengan berjalan bersama dan memberikan semangat satu sama lain. ‘Terima kasih, Anggara. Kau selalu mengerti isi hatiku.’ ‘Jangan dipikirkan.’ Akhir-akhir ini aku berusaha untuk menemukan Seo Hyun. Dengan berjalan-jalan di tempat yang ingin kami kunjungi dulu. Atau, tempat favorit yang pernah diceritakan. Namun, tetap saja hasilnya nihil. Aku berusaha semampuku untuk menemuinya. Walaupun aku tidak tahu bagaimana isi hatinya sesungguhnya. Dalam hati aku selalu berdoa supaya dengan usahaku yang tidak sedikit dapat meluluhkan hatinya. Tidak mudah untuk datang ke Korea Selatan. Mengumpulkan keberanianku yang tersisa untuk tetap bersamanya. Kembali menjalin kasih yang rasanya mustahil. Seringkali aku bertanya pada hatiku. Mengenai perasaan yang kumiliki untuk Seo Hyun. Seandainya saja mungkin. Aku ingin berbicara serius padanya. Untuk kembali menjalin kasih. Walaupun tidak tahu kelanjutan hubungan ini. Aku tetap pada pendirianku. Berusaha semaksimal mungkin untuk menunjukkan kesungguhanku. Cinta pertama yang sampai kapanpun akan diperjuangkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN