Prolog
Hari ini aku mendapatkan berita buruk dalam waktu bersamaan. Kepergian teman sekolahku, Yuda. Ke sebuah tempat yang tidak mungkin aku jangkau. Sedih kurasakan, begitu juga teman-teman SMA yang mengunjungi rumahnya. Melihat tubuh itu terbujur kaku membuat kami mengingat masa-masa sewaktu sekolah sering membuat keonaran dan salah satunya adalah Yuda. Rasanya masih tidak percaya kalau ia pergi begitu saja. Secepat ini.
Sepulangnya aku dari kuburan. Melihat untuk terakhir kalinya kawanku dan mengantarkannya ke tempat peristirahatan terakhir juga memanjatkan doa untuknya. Ponselku terus saja berbunyi. Sewaktu melihat nama yang tertera di sana, aku merasa sedikit terhibur. Mulai membayangkan kalau hari-hari akan semakin membahagiakan karena nanti bertemu dengannya. Sebuah pengalaman lainnya saat aku menginjakkan kaki di tempat kelahiran kekasihku, Korea Selatan.
Aku mengangkat ponselku. Senyum tipis kusunggingkan. Karena kesibukan kami, sudah lama tidak berkomunikasi. Selama dua minggu tidak sempat berbincang banyak hal. Biasanya hal-hal yang sering kulakukan adalah mendengarkan keluhannya tentang pekerjaan dan sedikit candaanku membuatnya kembali bersemangat.
Kugeser tombol hijau di ponsel dan menempelkan di telinga. Selama beberapa detik aku terdiam. Mencoba mencerna apa yang terjadi. Selama ini hubungan kami baik-baik saja. Saling menjaga komunikasi meskipun sedang sibuk. Justru yang barusan kudengar kalau ia meminta untuk mengakhiri hubungan yang terjalin selama setahun. Belum sempat aku menjawab, telepon sudah dimatikan dan tanpa sadar bulir-bulir air mata menuruni wajahku. Perasaanku terasa hancur. Semua rencana menyenangkan yang kubayangkan bagaikan sebuah mimpi yang sulit untuk terwujud. Aku, benar-benar kecewa dan merasakan sebuah kepedihan setelah kehilangannya.