*Regina’s POV*
Aku mendorong koper berukuran kecil dan menyampirkan sebuah tas kulit berwarna merah muda di pundakku. Berjalan melewati beberapa toko yang berada di dalam airport. Aku masuk ke dalam ruang tunggu setelah menunjukkan tiket pesawat dan passport. Duduk di sudut paling pojok sambil menyisipkan earphone di telinga. Lagu-lagu ballad berputar secara random dan menghanyutkan perasaanku. Karena merasa bosan aku mencoba melihat papan pengumuman yang menunjukkan gate dan nomor penerbangan.
Pesawat yang aku tumpangi masih belum berangkat. Memerlukan waktu dua jam lebih. Aku kembali berjalan-jalan di sekitar dan tertarik membeli dua buah bakpao untuk memenuhi keinginan memakan cemilan yang manis atau asin. Selama ini aku selalu memakan sesuatu setelah makan malam sebagai pencuci mulut. Entah itu cemilan atau permen. Aku membeli bakpao dengan isian cokelat dan daging ayam juga sebotol teh kemasan. Menghirup aromanya saja sudah membuat perutku kelaparan.
Kemudian aku mengedarkan pandangan ke sekitar untuk mencari tempat duduk dan menikmati bakpao yang barusan kubeli. Aku menaruh koper di hadapanku lalu menyampirkan tas selempang. Setelah membersihkan telapak tangan dengan tisu basah, aku memegang bakpao dan memakannya begitu lahap. Walaupun air conditioner terasa sangat dingin, bakpao di tanganku tetap hangat. Setidaknya mampu membuatnya tetap kaya rasa.
Karena sudah menghabiskan dua bakpao sekaligus, aku meminum teh kemasan dengan perlahan. Terasa menyegarkan di tenggorokan. Aku menyukai segala sesuatu yang berhubungan dengan teh. Terutama jika minuman dingin.
Aku duduk sambil menyisipkan earphone di telinga. Sebuah memori kembali berputar di dalam pikiranku. Sewaktu kami masih bersama. Herannya meskipun merasa sakit dan tidak berdaya. Aku justru semakin mengingat yang telah terjadi. Bagaimana kami menghabiskan waktu berdua. Aku masih mengingat pernyataan cintanya di Pantai Dreamland, Bali. Sejak saat itu kami berpacaran. Aku mencoba menenangkan hatiku. Karena tiba-tiba saja aku merasa sedih mengingat memori membahagiakan tersebut.
Seseorang pernah berkata kepadaku kalau setiap hal yang terjadi di dalam hidup seseorang sudah ada yang mengaturnya. Jika memang ditakdirkan bersama, hal sebesar apapun tidak dapat menghilangkan ikatan antara dua hati. Seakan ada rajutan benang merah kasat mata yang mengikat hati mereka. Setiap kali mengingat kata-kata itu membuat perasaanku semakin sedih. Mungkin kali ini adalah percobaan terakhirku. Karena aku percaya kalau bersungguh-sungguh pasti diberikan jalan. Termasuk berusaha memastikan hati seseorang yang sudah lama tidak bertemu. Karena ia memutuskanku secara sepihak dan aku berhak tahu alasannya berbuat demikian.
.+.+.+.+.+.
Penerbangan selama delapan jam tidak terlalu mempengaruhiku. Karena pesawat lepas landas tengah malam. Setelah melewati critical eleven, kebanyakan penumpang yang berada satu pesawat denganku pun tertidur pulas. Mungkin saja cemas atau memang sudah lelah. Untuk menempuh perjalanan ribuan kilometer ini aku sudah menyiapkan hati dan pikiranku.
Kalian tahu kan pepatah mengatakan bahwa jika berpikir positif maka alam akan merespon pikiran bawah sadarmu? Itulah yang kutanamkan semalam sebelum tidur dan terbangun di atas ketinggian hingga melihat langsung bagaimana indahnya pagi hari di antara awan-awan.
Yang membuatku berdecak kagum bukan hanya keindahan alam dari negara ini. Melainkan betapa luas Incheon International Airport. Sehingga aku memerlukan bantuan kereta listrik untuk sampai ke immigration checking dan luggage claim. Setelah menuruni banyaknya eskalator yang belum sempat kuhitung, kini aku berada di dalam kereta yang melaju begitu kencang sehingga hanya memerlukan waktu lima menit.
Aku mengeluarkan passport dan menyimpannya di bagian depan tasku. Mengikuti antrian untuk menunggu keluar dari wilayah imigrasi. Sembari menunggu tiba-tiba seorang wanita muda menghampiri dan memberikan guide book mengenai tempat wisata yang ada di Korea Selatan.
“Kamsahamnida,” ucapku menerimanya.
Aku kembali menyeret koperku saat tiba giliranku. Menyampirkan tas dan merogoh passport di bagian terdepan. Setelah menyerahkannya petugas mulai mengecek visaku. Lalu, mengarahkan untuk menaruh jari-jariku di mesin dan menghadap ke kamera. Tidak sampai satu menit, aku pun selesai diperiksa. Sebelum pergi aku membungkuk dan mengucapkan terima kasih.
Langkahku terhenti sewaktu melihat sepasang kekasih sedang mengambil foto di depan poster personil boyband Korea Selatan, BTS. Melihat mereka menyunggingkan senyum lebar membuatku tersenyum pahit. Aku merindukannya. Hanya saja hal itu tidak berarti sekarang.
Aku menuruni eskalator dengan perasaan yang rumit. Kakiku sudah menapaki lantai bandara yang licin. Kalau kembali sekarang bukankah namanya kalah sebelum berperang? Dengan melipat lengan, aku menunggu koper besar berwarna biru dongker muncul di antara sekian banyak koper berputar begitu cepat. Sebagian orang yang traveling ke tempat ini bersama keluarga. Bahkan, ada yang bersama kekasihnya. Sebagian lagi baru saja kembali dari negara lain. Salah satu yang kuketahui mengenai penduduk asli di sini adalah mereka senang berpergian.
Mataku melihat koper yang kutunggu dari tadi dan mengambilnya sewaktu berada di hadapanku. Membawa koper besar berwarna biru dongker di sebelah kiri, menyampirkan tas selempang di pundak, serta koper kecil di sebelah kanan. Memang sedikit kerepotan namun aku cukup tertolong karena salah satu sopir taksi bandara menghampiri dan menawarkan jasa untuk mengantarkan sampai ke penginapan tempatku tinggal.
Selama di perjalanan aku hanya memandangi lalu-lalang kendaraan melewati jembatan yang menghubungkan Incheon International Airport dengan kota-kota berdekatan. Aku terdiam memandangi sinar mentari pagi yang menyoroti kota Incheon. Perasaanku semakin berat mengingat semua tentangnya.
.+.+.+.+.+.
Selama tiga jam perjalanan di dalam taksi, aku kembali mengingat tujuanku untuk datang ke Korea Selatan. Semuanya dikarenakan keinginanku untuk berlibur ke tempat ini dan menghabiskan waktu kami bersama. Seperti pertemuan sebelumnya di Bali tahun lalu atau Korea Selatan pada bulan Juli tahun ini. Semuanya terlihat tidak ada perbedaan. Terkecuali cuaca yang berbeda dari terakhir kali aku datang. Waktu itu adalah musim panas. Sehingga tidak ada yang berbeda dengan Bali selain dalam beberapa hari terasa sangat lembab dan panas karena hujan turun. Namun sekarang musim dingin telah tiba. Sehingga semuanya berubah drastis.
Pada waktu itu aku datang tanpa berpikir panjang dan membuatnya terharu karena aku berhasil mengumpulkan tabungan untuk bersamanya selama seminggu. Walaupun aku harus ditinggalkan kerja dan baru bisa bertemu pada sore hari. Aku masih mengingatnya dengan jelas setiap memori tentangnya yang sulit untuk dilupakan. Bagaikan sebuah buku harian yang sudah mencapai akhirnya. Aku kembali mengulang memori-memori itu dalam ingatan dan menahan perasaanku agar tidak menangis di dalam taksi.
Aku membayar ongkos taksi setelah sampai di depan gedung bertingkat yang menjulang tinggi. Tertulis Sejong Hotel di atas atapnya yang begitu besar sehingga aku bisa melihatnya dengan jelas. Sopir taksi itu membantu untuk mengeluarkan koper dan membungkuk setelah menyerahkan semua barang-barangku. Aku menyeret koper dengan kedua tangan dan menyampirkan tas berwarna merah muda. Seorang penjaga membukakan pintu sambil tersenyum ramah dan mengarahkan menuju lobi.
Seorang resepsionis dengan ramah meminta pasporku dan nomor booking sewaktu memesan hotel. Kulihat ia sedang sibuk di depan komputer sebelum menjelaskan kalau waktu check in adalah jam dua siang. Masih ada waktu sekitar satu jam lagi. Aku pun memilih untuk duduk di lobby hotel sambil menunggu mereka menyiapkan kamar yang nantinya akan kutempati selama satu bulan.
Aku mengambil ponsel di dalam tas selempang milikku dan menyisipkan earphone untuk mendengarkan lagu. Satu jam bukanlah waktu yang lama. Hanya memerlukan waktu sebentar hingga membuatku tenggelam di dalam duniaku. Terhanyut dengan lagu yang berputar begitu nyaring di telingaku. Pernah suatu ketika aku mendengarkan lagu-lagu kesukaanku sampai melupakan waktu dan hanya berdiam diri di kamar karena begitu merindukannya.
Rasanya masih tidak percaya kalau aku menempuh jalan ini untuk menemuinya. Walaupun ia masih belum menghubungiku padahal aku sudah memposting foto kedatanganku pada sosial media. Mungkin terkesan kalau aku begitu tergila-gila padanya. Hal itu memang benar. Aku bahkan tidak bisa menyadarkan hatiku kalau mungkin saja hasilnya berakhir buruk. Kedatanganku ke sini adalah hal sia-sia. Apalagi ia adalah orang yang sulit untuk dibujuk. Setidaknya aku tidak bisa mundur karena sudah berada di sini.
Aku tersadar sewaktu salah satu pegawai hotel menyerahkan kartu yang merupakan kunci kamarku. Tertulis nomor 1315 pada kartu. Aku mengikuti pegawai yang membawa dua koperku menuju lift. Aku ingin segera beristirahat karena perjalanan semalam membuatku sedikit pening. Seperti ada yang menghantam kepalaku. Terasa berat dan menyakitkan.
Sesampainya di depan kamarku. Pegawai hotel menyerahkan koper dan meninggalkanku setelah memberi salam. Dengan hati yang kacau, membuka pintu. Menyeret kedua koperku dan menaruhnya di pojok ruangan dekat dengan lemari baju. Aku duduk di ranjang dan mulai terisak. Mungkin seharusnya aku memilih untuk kembali saja. Semuanya terlalu sulit untuk dilupakan. Bagaimana hari-hariku nanti akan dilewati tanpa kehadirannya.
“Aku merindukanmu..” gumamku di kesunyian kamar. Hanya terdengar deru mesin penghangat memecah kesunyian.
Tanganku meremas sprei dengan keras hingga telapak tanganku terasa sakit. Aku ingin melupakan segala rasa sakit ini. Mungkin saja aku bisa mencari pria lain. Tapi, semuanya tidak semudah yang orang lain katakan. Hubungan kami sudah berjalan selama satu tahun. Mustahil memori-memori indah itu terhapus dalam satu hari. Walaupun terkadang kami bertengkar kecil karena saling merindukan di balik tembok penghalang yang disebut jarak.
Perlu waktu delapan jam menggunakan pesawat untuk menemuinya. Atau, perjalanan ribuan kilometer yang melelahkan. Semua dapat kutempuh demi bersamanya. Yang tidak dapat kuterima adalah keputusannya yang tiba-tiba mengakhiri hubungan kami.
Lagi-lagi aku menangisi semua yang telah terjadi. Kepergian seseorang yang berarti di hidupku. Tanpa tahu alasan yang mendasari berbuat demikian. Inilah tujuanku ke tempat ini. Berharap kalau ada kesempatan untuk bertemu. Walaupun hasil akhirnya tidak kuketahui dengan pasti.
Tanpa bisa kutahan lagi pertahananku rubuh seketika mengingat memori membahagiakan kami. Hal yang dapat kulakukan hanya membuka folder foto kami. Memandangi seulas senyum lebarnya dan mata sipit yang menurutku begitu indah. Dulu ia selalu berkata kalau aku memiliki mata besar yang indah. Berbeda dengan pendapatnya. Justru aku lebih menyukai matanya karena terlihat sangat menggemaskan.
Aku menarik napas dalam-dalam. Menutup wajahku dengan telapak tangan dan mencoba untuk berhenti memikirkan hasil yang belum terlihat. Aku hanya berusaha untuk menerima kenyataan kalau misalkan ia telah berubah dan mencampakkanku begitu saja. Setidaknya hatiku harus siap meskipun rasanya sangat sulit.
Ingatan-ingatan manis itu kembali berputar di pikiranku bagaikan sebuah kaset usang. Tanganku terus-terusan menyeka air mata. Berharap kalau mungkin terjadi keajaiban sehingga ia datang ke sini dan menghiburku seperti sebelumnya. Sayangnya sekarang pun aku tidak bisa membaca hatinya. Seorang mantan kekasih yang masih memenuhi relung hatiku.