Bab 2 : Random Feelings

1842 Kata
*Regina’s POV* Pagi hari setelah susah payah mengeluarkan barang-barang dari dalam koper dan memindahkannya ke lemari pakaian, aku turun ke lantai satu untuk bergegas sarapan di hotel. Hotel tempatku menginap adalah Sejong Hotel yang berada persis di belakang Myeongdong Market. Karena kemarin cukup kelelahan sesampainya di sini. Aku pun memilih untuk beristirahat penuh dan menikmati siaran televisi yang kutonton secara random. Aku hanya makan sedikit sarapan. Karena tidak terbiasa dengan makanan yang disajikan. Hampir semuanya adalah sashimi. Entahlah, aku membencinya karena makanan itu masih mentah dan teksturnya yang menurutku aneh saat mengunyahnya. Kakiku melangkah menuju salah satu kafe bernama Ediya Coffee. Mengeratkan coat karena pagi ini masih terasa dingin walaupun salju belum turun. Kalau tidak salah ingat sekitar delapan derajat celcius yang mampu menbuatku mengigil kedinginan. Sewaktu memasuki kafe yang terkesan sangat minimalis dengan meja-meja mungil dan kursinya yang terbatas, suara denting lonceng berbunyi. Aku menunduk memberikan salam kepada penjaga kafe dan melihat ke sekitar. Meskipun masih pagi, ada tiga orang pasangan yang datang ke tempat ini. Kalau pun berbalik arah dan kembali ke hotel rasanya percuma. Mereka sudah melihatku, dan aku tidak bisa kabur hanya karena merasa malu datang sendirian. Aku berjalan menuju kasir dan memesan secangkir hot chocolate yang sangat pas diminum sewaktu musim dingin seperti sekarang. Setelah membayar sebesar lima ribu won, aku mengambil tempat duduk di paling pojok. Memegang piringan hitam yang berisi tulisan nama dari cafe ini. Nantinya akan bergetar dan lampunya menyala saat pesanan telah selesai dan aku hanya perlu mengambilnya di meja kasir. Tanganku mengetukkan jari di atas meja kayu. Menatap gambar wallpaper ponsel yang masih menjadi favoritku selama ini. Sebuah tangan yang bertautan. Sangat kontras karena perbedaan warna kulit. Telapak tangan yang menggenggam dan lebih besar itu putih s**u. Sedangkan, jemari kecil yang digenggamnya sawo matang yang merupakan ciri khas kulit orang Indonesia. Ya, foto ini adalah foto pertama yang diambil sewaktu bertemu dulu. Di pulau Bali. Tangan itu begitu hangat. Membuatku melupakan segala kesedihan yang menimpaku selama ini. Mencairkan hatiku yang telah lama membeku. Sebelum ia akhirnya pergi meninggalkan luka lainnya di hati. Aku tersadar sewaktu merasakan getaran di tangan. Dan, bergegas menuju kasir untuk mengambil pesananku dan mengembalikan alat ini. Perlahan-lahan aku membawa secangkir hot chocolate yang wanginya begitu menggoda menuju mejaku. Aku menaruh nampan di kursi depanku. Melihat hal ini membuatku tersadar kalau aku benar-benar sendiri sekarang. Tanpa adanya seseorang yang mengisi tempat di hadapanku. Tanganku memeluk cangkir dan merasakan betapa hangatnya minuman yang baru saja kupesan. “Apakah hasilnya berbeda jika kau mengetahui keberadaanku di sini?” Aku bergumam sendiri. Mencoba larut dalam lagu-lagu klasik yang diputar secara acak di dalam kafe. Lalu, tanganku memegang kembali cangkir dan menyeruput hot chocolate. Rasa manisnya tidak berlebihan. Bahkan, kurasa pas dengan seleraku. Aku meminumnya sedikit lalu berpangkutangan. Memandangi lalu lalang kendaraan yang terlihat sibuk. Berbeda denganku. Masih mempunyai waktu untuk bersantai bahkan menikmati secangkir minuman kesukaannya. Aku tidak menyukai makanan atau minuman manis dan lebih memilih kopi americano yang pahitnya begitu kental. Alasanku memesan minuman kesukaannya adalah ingin memahami dirinya. Selama ini ia selalu berusaha memahamiku. Itulah salah satu alasan kami berpisah. Kali ini aku ingin lebih mengenalnya. Memikirkan apa yang disukai dan tidak disukainya. Aku mengerjapkan mata beberapa kali. Menahan untuk tidak terisak di tempat ramai seperti sekarang. Menarik napas dalam-dalam. Ternyata melupakan seseorang tidak semudah yang dibayangkan. Terutama berada di kota tempat tinggalnya, Seoul. Tanpa ada jarak ribuan kilometer yang membentang. Perasaan ini semakin terjebak di dalam masa lalu yang enggan untuk kembali. Dan, berusaha menerima semuanya. Tanpa ada genggaman tangan hangat. Atau, candaan yang membuatnya tersenyum lebar. Tidakkah ada cara untuk menggapainya lagi? .+.+.+.+.+. Aku termasuk orang yang cuek dalam memilih makanan. Untuk makan malam pun hanya membeli sebuah roti cokelat di minimarket dan sebotol s**u rasa melon. Akhir-akhir ini selera makanku berkurang. Walaupun banyak sekali kuliner yang menggugah selera di Myeongdong Market. Baik itu street food atau restoran yang menyajikan berbagai jenis masakan korea. Awalnya perutku keroncongan. Namun sesampainya di kamar hotel, aku hanya berpikir untuk berbaring di tempat tidur. Bukannya hendak menonton drama korea yang sedang hits atau penampilan dari boyband terkenal dari negeri ginseng ini. Aku menyisipkan earphone di telinga. Enggan melakukan aktivitas apapun selain mendengar lagu-lagu yang berputar secara random. Kutarik napas dalam-dalam. Berbaring menghadap meja rias di dalam hotel. Sebuah kaca besar terpampang di depannya. Hingga aku bisa melihat wajahku yang menyedihkan. Rambut cokelat panjangku terurai di bantal. Mataku masih mengawasi wajah yang terlihat jelas di dalam cermin. Tidak ada senyuman di sana. Rongga dadaku merasa sesak sewaktu salah satu lagu yang familiar terdengar. Sebuah lagu tentang mantan kekasih yang masih belum bisa dilupakan. Lagu itu penyanyinya adalah Minseo dengan judulnya Yes. Aku menghayati setiap bait dari liriknya. Tanpa sadar menangis dalam sunyi. Hanya air mata berjatuhan menjelaskan semua kesedihan yang selama ini kurasakan. Sebuah perasaan rindu tanpa bisa untuk bertemu. Bagaimana kabarnya pun aku masih meraba-raba. Entah untuk mengetahui kegiatannya atau apa yang dipikirkan olehnya. Park Seo Hyun tidak mempunyai sosial media. Ia sangat membenci itu. Satu-satunya aplikasi chat yang dimiliki hanyalah kakaotalk. Itulah alasan aku mempunyai akun tanpa seorang teman pun selain dirinya. Iseng aku membuka profil kakaotalk milikku. Hal pertama yang kulihat adalah background berwarna kuning dan tulisannya cokelat tua. Sebuah lambang khas dari aplikasi ini. Sewaktu membuka daftar teman. Aku hanya melihat foto profil berwarna abu-abu yang berarti kalau ia masih memblokir akunku. Karena terlalu marah atas pembelaanku waktu diputuskan secara sepihak, ia pun mengambil keputusan untuk memblokir dan mengancam akan mengganti nomor telepon jika aku masih nekat mencoba menghubunginya. Perasaan sedih yang menghinggapi di rongga d**a seakan mulai menunjukkan kehadirannya. Membuatku merasa sesak bahkan air mata yang tidak pernah berhenti menangisi kepergiannya. Dua minggu terakhir, kami masih bercanda. Bahkan saling ledek karena kalah dalam permainan. Tapi, sifatnya berubah di hari terakhir aku mempersiapkan semuanya. Satu hari sebelum aku berangkat ke Korea Selatan untuk menemuinya. Aku menggenggam begitu erat kedua telapak tanganku. Memanjatkan doa seandainya ia berubah pikiran dan mencoba bertemu denganku. Hanya satu kali saja. Aku ingin melihat wajahnya yang menenangkan. Suara beratnya merupakan salah satu pengantar tidurku. Atau, perasaan hangat sewaktu ia menggenggam tanganku begitu erat. Seakan tidak pernah melepaskan. Saat ini hal yang kuinginkan adalah berada di dalam pelukannya. Sehingga dapat menghentikan tangis penyesalan dariku. Tanpa tahu bahwa hal itu hanyalah angan belaka. .+.+.+.+.+. Cuaca pagi hari ini tidak begitu mendung. Tanda-tanda akan turun hujan salju pun nihil. Tadi aku melihat ramalan cuaca. Dikatakan bahwa hari ini cukup cerah walaupun suhu mencapai minus enam. Aku telah selesai bersiap-siap untuk pergi. Memakai sweater berwarna merah muda dan coat cokelat muda. Tidak lupa menggunakan sarung tangan rajutan wol berwarna biru. Sepatu boots hitam adalah yang kupilih untuk berpergian hari ini. Tanganku masih memeluk cangkir berisi chamomile tea yang kuseduh tadi. Meminumnya perlahan. Mencoba merilekskan pikiranku. Seseorang pernah berkata padaku. Jika pria akan berjuang mati-matian untuk bersama orang yang dicintainya. Seberapa berat pun rintangan pasti dihadapinya. Aku menjadi bimbang dengan yang kurasakan terhadap Seo Hyun. Apakah semua akan menjadi hal sia-sia? Atau, ia memang menungguku untuk menghubunginya duluan? Aku menaruh cangkir kosong di meja. Berjalan menuju jendela dan menyampirkan sedikit tirai sehingga pemandangan dari lantai tiga belas terlihat. Hanya beberapa gedung-gedung tinggi dan langit cerah yang sedikit membaik dari sebelumnya. Kusunggingkan senyum tipis. Setidaknya aku harus menikmati liburan selama di Korea Selatan. Merasa lebih baik, aku mengambil tas kulit berwarna merah muda. Dan, menyisipkan ponsel, paspor serta dompet di dalamnya. Kurasa aku hanya akan membawa ini. Sewaktu keluar kamar, aku melihat pasangan yang berpelukan. Sontak saja aku membalikkan badan. Menenangkan detak jantungku dan berjalan cepat-cepat untuk segera menaiki lift. Setelah berada di depan lift, aku menekan tombol hingga pintu terbuka. Dengan segera menekan lantai satu. Perasaanku kacau melihat pasangan barusan. Ternyata memang benar perkataan temanku yang pernah berkunjung ke Korea Selatan. Karena terlalu banyak pasangan yang menunjukkan kemesraan mereka secara terang-terangan di tempat umum. Contohnya saja, tadi. Setelah sampai di lantai satu, hotel lobby. Aku bergegas menuju pintu keluar. Tersenyum pada penjaga di depan pintu masuk dan menaiki taksi yang terparkir di depan hotel. Aku memandang keluar jendela setelah memberitahukan tujuanku. Sebuah tempat bersejarah tempat Raja jaman dulu di jaman joseon tinggal. Nama tempat itu adalah Gyeongbokgung Palace. Sebuah istana megah tempat Raja tinggal. Sebenarnya ada istana untuk Ratu dan lainnya. Tapi, aku hanya ingin kesana untuk menenangkan hatiku yang terlanjur teringat tentangnya. Kurasa mendatangi tempat-tempat wisata yang direncanakan dulu bersamanya bukanlah ide buruk. Hanya dengan begitu aku mungkin menghapuskan memori tentangnya. Sesampainya di depan gerbang Gyeongbokgung Palace. Aku membayar sebesar sepuluh ribu won. Setelah mengucapkan terima kasih, turun dan memandangi kemegahan dari tempat ini. Ada dua orang penjaga gerbang berdiri dengan sikap sempurnanya. Di kejauhan aku dapat melihat patung Raja Sejong yang terkenal di Korea Selatan. Berada di tengah-tengah lalu lintas kendaraan. Banyak orang yang memgambil foto di sana. Tapi, tujuanku hanya ingin berkunjung ke tempat ini. Setelah melewati gerbang awal, aku membeli tiket seharga sembilan belas ribu won di tempat pembelian tiket. Tempatnya di sebelah kanan dari pintu masuk. Mereka memberikanku tiket berwarna hijau dengan latar Gyeongbokgung Palace. Aku mengambil ponsel di tas. Dan mengabadikan foto gerbang kedua yang berada di dalam. Gerbang ini ada tiga pintu. Pintu di tengah hanya boleh dilewati oleh anggota kerajaan. Sedangkan para kasim atau pelayan istana akan melewati pintu kiri dan kanan. Aku tersenyum mengingat betapa antusiasnya Seo Hyun menceritakan mengenai hal ini kepadaku. Dan, berjanji untuk ke tempat ini bersama-sama. Sayangnya semua rencana yang dibuat bersama bagaikan hal mustahil untuk terwujud. Meskipun cuaca dingin seperti sekarang, masih banyak pengunjung datang. Kebanyakan dari mereka mengambil foto di depan gerbang kedua yang berada di dalam. Dan, mayoritas mereka menggunakan hanbok. Pakaian tradisional korea yang digemari banyak pengunjung yang datang ke korea. Waktu mengunjungi tempat lain pun tidak jarang kutemukan pengunjung memakai hanbok. Seo Hyun selalu berandai-andai jika aku menggunakan hanbok suatu hari nanti. Sayangnya semua percuma. Apapun yang kulakukan justru semakin mengingatkanku terhadapnya. Aku berjalan melewati pintu masuk di sebelah kiri dan melihat betapa luasnya istana ini dibuat. Apalagi jaman dulu tempat ini tidak mudah dikunjungi oleh semua orang. Hanya keluarga kerajaan, prajurit, dan pelayan yang terpilih mampu masuk ke tempat megah ini. Aku menarik napas perlahan. Rasanya sulit untuk melupakannya. Tanpa sadar kakiku sudah sampai di danau kehijauan yang biasa menjadi tempat syuting drama. Aku melihat ada beberapa ikan yang besar muncul menyapa para pengunjung. Ada gazebo besar yang tidak boleh diduduki di tengah-tengah danau. Biasanya Raja belajar di gazebo ini. Bahkan, berjalan-jalan dengan Ratu di tempat ini. Tanganku tidak henti-hentinya mengambil foto danau beserta gazebonya. Namun tidak tertarik untuk mengambil fotoku sendiri. Rasanya semua percuma. Tidak ada yang menarik minatku selain pemandangan yang indah. Langkahku kembali menuju ke utara. Tempat banyak sekali pepohonan yang tidak kutahu jenisnya. Berteduh di salah satu pohon yang hanya tertinggal rantingnya. Duduk di kursi kayu dipayungi oleh pohon besar tadi. Aku menengadah memandangi langit. Kenapa sulit sekali melupakannya? Meskipun ia telah berbuat salah dengan mengikuti kencan buta yang membuatku kehilangan akal. Sewaktu menoleh ke kiri. Aku menemukan seseorang tengah menatapku. Merasa risih, aku pun bergegas pergi. Kurasa hari-hari akan semakin berat karena teringat olehnya. Cinta pertama yang sulit kulupakan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN