*Regina’s POV*
Langit sudah berubah warna menjadi gelap saat aku meninggalkan Gyeongbokgung Palace dengan perasaan sakit yang sulit untuk dijabarkan. Rasanya aku masih tidak menyangka kalau Seo Hyun memilih untuk meninggalkanku setelah merencanakan banyak hal. Salah satunya adalah mengunjungi Chocolate Cafe terkenal di Myeongdong Market. Aku tidak sempat datang karena waktu itu hanya menginap selama seminggu dan hanya bisa pergi setelah Seo Hyun pulang kerja. Kedatanganku pertama kali ke Korea Selatan adalah untuk merayakan ulang tahun Seo Hyun dan memberikan kejutan. Sehingga tidak sempat berjalan-jalan.
Chocolate Cafe terletak di lokasi strategis dekat dengan beberapa restoran terkenal. Tidak mengherankan banyak yang datang ke sana. Selain karena desain dari kafe yang cukup menarik.
Aku berjalan di antara keramaian pengunjung Myeongdong Market. Banyak sekali stand toko kosmetik berjejer dan toko pakaian bermerk yang membuat siapa saja ingin mampir. Hal ini karena promosi yang banyak sekali setiap pembelian kosmetik di sana. Selain dikarenakan demam korea yang hampir menyebar ke seluruh dunia. Tidak salah jika banyak orang mengunjungi Korea Selatan karena makanannya atau kosmetik yang terkenal. Tentu saja selain tempat wisata yang jumlahnya tidak sedikit. Aku saja belum mengunjungi semua tempat. Meskipun hanya tinggal selama satu bulan, aku berharap bisa mengunjungi setiap tempat yang kami bicarakan dulu.
Aku berjalan di keramaian sambil sesekali memikirkan kenangan bersama Seo Hyun yang masih saja menghanyutkanku. Meskipun tahu sia-sia menunggunya untuk menghubungiku. Tetap saja jauh di dasar hatiku menginginkan sebuah pertemuan.
Suara lonceng berdenting saat aku memasuki chocolate cafe yang dipenuhi oleh pengunjung. Kebanyakan orang yang datang merupakan pasangan kekasih. Awalnya aku merasa sedikit minder. Namun jika kupikirkan baik-baik tidak heran kalau banyak pasangan datang ke kafe ini. Selain penempatan kursi yang dibuat seperti berada di rumah sendiri. Hadirnya patung cokelat besar di tengah-tengah ruangan membuat nama Chocolate Cafe semakin jelas maknanya. Tentunya selain pernak-pernik lain yang terbuat dari cokelat.
Aku bisa melihat di balik etalase terdapat banyak sekali jenis cokelat. Baik satu kotak cokelat dengan bentuk yang menggemaskan. Atau, dark chocolate yang rasanya tidak terlalu manis.
Setelah menunjuk ke salah satu dark chocolate berbentuk pohon natal, aku membayar sejumlah sepuluh ribu won. Tentu saja dengan tambahan segelas s**u cokelat hangat. Aku membawa nampan berisi pesananku dan duduk di tengah-tengah ruangan. Tidak jauh dari patung cokelat.
Aku mengambil ponsel di dalam tas selempang milikku. Lalu, membuka sekali lagi pesan yang ada di sana. Mengingat bagaimana Seo Hyun meminta untuk menghubungiku dan memutuskan secara sepihak. Aku sempat melayangkan protes dan mengatakan kalau keputusannya tidak berdasar. Walaupun begitu tetap saja Seo Hyun tidak mengabulkan permintaanku untuk kembali. Justru memblokir kontakku dan mengancam untuk mengganti nomor ponsel.
Kuhela napas panjang. Ternyata sangat sulit untuk menepiskan bayangan wajahnya. Walaupun aku berusaha sekeras mungkin. Ia tetap saja hadir di hati dan pikiranku. Walaupun awal mula pertengkaran kami adalah karena Seo Hyun ketahuan mengikuti kencan buta sehingga membuatku benar-benar marah.
Pada waktu itu Seo Hyun meminta maaf dan berjanji tidak mengulangnya lagi. Namun justru beberapa minggu setelahnya Seo Hyun memutuskan secara sepihak. Aku jadi berpikiran buruk kalau mungkin saja ia memiliki wanita lain di hatinya. Meskipun sempat memikirkan kemungkinan itu. Tetap saja aku memiliki perasaan yang besar terhadap pria itu. Seorang pria yang kucintai selama satu tahun. Mengisi hari-hariku dengan canda dan tawa. Walaupun sekarang aku tidak bisa benar-benar memastikan kalau ia memiliki perasaan yang sama terhadapku.
Aku memotong dark chocolate dan menikmatinya perlahan. Kulihat lelehan cokelat memenuhi piring kecil. Kemudian tersenyum tipis. Kurasa tidak ada salahnya menghabiskan waktu lebih lama di sini. Aku hanya membutuhkan sebuah tempat pelarian supaya bisa melupakan ketidakhadiran Seo Hyun bersamaku.
.+.+.+.+.+.
Jam sebelas malam. Sebelum pojangmacha tutup. Aku masih sempat menikmati satu porsi eomuk dan sebotol soju. Di saat sekarang yang kubutuhkan adalah sedikit alkohol untuk menghilangkan kesedihanku. Rasanya masih menyakitkan berapa kali pun mencoba melupakannya. Kalau Seo Hyun masih memenuhi relung hati terdalamku. Tidak ada gunanya untuk melupakannya. Karena sampai kapanpun pikiranku terjajah olehnya. Sebuah penyesalan seandainya aku tidak keras kepala dan menekannya untuk memberikan alasan.
Aku menuangkan minuman soju ke dalam cangkir sloki. Lalu, meminumnya dalam satu tegukan. Semua rasa pahit dan hangat menjalari tenggorokan. Dibarengi dengan efek sedikit pusing yang memabukkan. Kemudian tanganku mengambil oemuk dengan sumpit. Perlahan menghabiskannya. Sama halnya seperti fish cake lainnya. Dapat kurasakan aroma ikan yang cukup keras dari satu tusuk eomuk berukuran besar.
Setelah itu aku kembali meminum satu sloki soju dan lagi-lagi menghabiskan satu sloki. Ternyata perkataan temanku ada benarnya. Kalau menikmati alkohol sendirian dapat membuatmu terlihat menyedihkan. Bahkan, pengunjung yang datang bersama pasangan atau teman-temannya. Hal ini semakin membuatku merasa kesepian.
Di pojangmacha menjual tteokkbokki, twigim, bahkan soju. Itulah mengapa siapapun yang datang ke sini diwajibkan berumur dua puluh satu tahun. Karena di Korea Selatan seseorang bisa mendapatkan kartu identitas di umur ke dua puluh satu tahun. Itulah mengapa jarang menemukan anak kecil walaupun mereka menjual tteokkbokki.
“Seandainya kita dapat bertemu..” gumamku setengah sadar. Lalu, menghabiskan sisa soju yang tersisa di botol.
Aku memang tidak bisa menemui Seo Hyun. Namun, aku yakin kalau cepat atau lambat kami pasti bertemu. Walaupun sulit untuk membujuknya. Karena Seo Hyun memiliki sifat yang sangat keras kepala. Aku sampai kehilangan kepercayaan diriku. Seandainya Seo Hyun tidak muncul sampai hari terakhir. Mungkin lebih baik bagiku untuk tidak menghubunginya lagi. Selain karena berhubungan dengan harga diriku. Aku tidak ingin di anggap lemah olehnya. Karena dengan begitu. Mungkin saja Seo Hyun memperlakukanku seenaknya seperti saat memutuskanku secara sepihak.
Aku bangkit berdiri dengan sedikit terhuyung. Lalu, membayar makanan dan minuman yang tadi kuhabiskan. Lalu, berjalan keluar dari tenda pojangmacha yang dipenuhi warna oranye. Kuhirup napas dalam-dalam lalu berjalan perlahan. Menikmati keindahan malam dari kota tempat orang yang kucintai tinggal. Aku mengamati lampu-lampu yang bersinar terang dari gedung pencakar langit. Sambil sesekali memikirkan Seo Hyun yang entah berada di mana.
Dalam hati aku selalu berharap kalau mungkin saja Seo Hyun sedang mengawasiku. Mengikuti pergerakanku setelah sampai di Korea Selatan atau melihatnya dari postinganku di sosial media. Aku memang tidak tahu keberadaan Seo Hyun di mana. Setidaknya hatiku tahu kalau harus mengikutinya kemana. Meskipun sulit untuk melupakannya. Setidaknya aku berusaha menjalani hari-hari yang kami impikan bersama. Mengunjungi tempat-tempat bersejarah tersebut dan meninggalkan kenangan manis. Meskipun sekarang aku harus melewatinya sendiri. Mengukir setiap memori dengan harapan hadirnya Seo Hyun menemani setiap langkahku di sini.